WAHAI ISTRI.. ENGKAULAH SUMBER SAKINAH ITU


Bismillah
Bagi orang-orang yang sedang di perjalanan akan merasa cemas dan khawatir dengan hujan deras yg disertai angin dan petir. Pastilah berharap agar hujan segera reda agar ia bisa segera sampai di rumah bertemu keluarga. Di sinilah baru terasa betapa tenangny hati ketika sampai di rumah.

Rumah (tempat tinggal) dalam bahasa arabny disebut سكن/مسكن (sakan/maskan) isim makan (tempat) yakni tempat ketenangan, yang masdarnya سكينة (sakinah) yg berarti ketenangan dan ketentraman.

Dalam rumah tangga sumber ketenangan itu dari istri bukan sebaliknya. Lihatlah betapa al-Qur’an telah menegaskan itu.

وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu (para suami) cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (Ar ruum: 21)”

Kata لتسكنوا_ “litaskunuu” (dhomir antum) kalian mendapat ketenangan itu untuk para suami, sedang إليها “ilaiha” kepadanya (dhomir perempuan) kembalinya kepada perempuan. Jadi suamilah yang mencari ketenangan dan ketentraman kepada istrinya.

Maka betapa bahagianya suami jika ia pulang dari hujan deras mendapati dua sumber ketenangan: rumah dan istri.

Wahai para istri janganlah menyalahkan suami jika rumah tangga tidak sakinah, karena sakinah itu bersumber dari dalam istri. Jangan menyalahkan suami jika anak-anak bandel karena tidak punya tauladan yang baik dari ayahny, karena kebaikan itu terletak pada ibunya.

Nabi Nuh tidak mendapatkan anak yang shalih karena istrinya tidak shalihah, tapi Asyiah bisa membesarkan nabi Musa meskipun bersuamikan fir’aun.

Jadilah sumber ketenangan yang meredam amarah, sebagaimana Asyiah meredam murka fir’aun ketika hendak mengambil Musa sebagai anaknya.
Besarkan hati suami dan tenangkanlah hatinya dari kegelisan, sebagai kata-kata indah Khadijah kepada Nabi Muhammad saat beliau berkeringat kecemasan dan ketakutan:

كلَّا أبشِرْ فواللهِ لا يُخزيك اللهُ أبدًا إنَّك لَتصِلُ الرَّحمَ وتصدُقُ الحديثَ وتحمِلُ الكَلَّ وتَقري الضَّيفَ وتُعينُ على نوائبِ الحقِّ

sekali-kali janganlah takut! Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Sungguh engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahmi, pemikul beban orang lain yang susah, pemberi orang yang miskin, penjamu tamu serta penolong orang yang menegakkan kebenaran.

Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon: 74)

Aamiin Yaa Robbal’alamiin

Copaz
Sehidup_Sesyurga_Bersamuuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *