Umur Berapa Seharusnya Anak Berhenti Mengompol?

Si Kecil masih mengompol? Fase mengompol yang dialami anak adalah hal yang normal. Tapi sampai kapan?
Klikdokter.com, Jakarta Ketika si Kecil yang berusia 5 tahun terbangun dengan malu disertai pakaian basah dan bau pesing, Anda tak perlu kaget. Meski sebagian besar anak usia 2-4 tahun sudah lulus toilet training, beberapa anak mungkin saja masih tetap mengompol di malam hari, bahkan setelah memasuki usia sekolah.

Batasan usia mengompol yang normal
Mengompol yang dianggap normal biasanya terjadi di malam hari. Ini merupakan refleks berkemih yang tidak disadari ketika anak sedang tidur.

Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak sudah tidak lagi mengompol. Namun, karena laju perkembangan anak berbeda-beda, batasan waktu dimana mengompol masih dianggap normal tidak bersifat saklek.

Faktanya, sekitar 16-20 persen anak yang berusia 5 tahun masih mengompol setidaknya 1 kali dalam seminggu. Pada tingkatan anak yang berusia 7 tahun, angka ini masih terjadi sekitar di angka 10 persen dan pada yang berusia 10 tahun sekitar 5 persen.

Sebagai patokan umum, mengompol sebelum usia 7 tahun dianggap tak masalah. Sebab pada usia tersebut kontrol kandung kemih anak di malam hari masih berkembang, sehingga wajar bila sesekali masih mengompol.

Penyebab anak masih mengompol
Setelah usia 7 tahun pun, biasanya tidak ada sesuatu yang serius bila anak masih sesekali mengompol. Meski demikian, hal ini kerap menimbulkan tantangan tersendiri bagi anak dan orang tua. Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah:

Anak kerap tidur nyenyak (deep sleeper), sehingga tidak respon terhadap sinyal kandung kemih yang penuh.
Anak belum sepenuhnya terlatih untuk menahan dan mengosongkan urine dengan baik, sebab komunikasi antara otak dan kandung kemih membutuhkan waktu untuk berkembang.
Produksi urine di malam hari terlalu banyak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan hormonal atau karena kebiasaan, misalnya terlalu banyak minum atau mengonsumsi minuman berkafein seperti teh sebelum tidur.
Anak mengalami konstipasi (sembelit), akibatnya usus yang penuh akan menekan kandung kemih.

Anak sedang sakit ringan, terlalu lelah atau mengalami stres akibat perubahan maupun peristiwa yang terjadi di rumah.
Ada riwayat keluarga dengan kebiasaan mengompol. Ditemukan bahwa salah satu atau kedua orang tua dari sebagian besar anak yang mengompol juga mengalami hal yang sama di masa kecil.
Ukuran kandung kemih anak masih kecil atau belum berkembang sepenuhnya untuk menampung urine di malam hari.

Anak memiliki penyakit tertentu seperti infeksi saluran kemih, diabetes, sleep apnea (mengorok dan henti nafas saat tidur), gangguan anatomi atau gangguan saraf pada saluran kemih.

Yang bisa Anda lakukan
Kebiasaan mengompol umumnya akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia anak. Bila si Kecil telah berhasil tidak mengompol di malam hari selama beberapa hari atau beberapa minggu lalu mulai mengompol kembali, silakan ulangi lagi toilet training di malam hari.

Secara spesifik, dorong si Kecil untuk rutin buang air kecil di waktu siang dan sebelum tidur malam. Frekuensi pipis normal kurang lebih sebanyak 4-7 kali sehari. Bila ia terbangun di malam hari, segera bawa ke toilet.

Sebelum tidur malam, batasi konsumsi air minum, minuman manis dan minuman berkafein. Bila si Kecil sudah berusia lebih dari 8 tahun, hindari menggunakan popok dan sejenisnya agar ia tidak malas bangun dari tempat tidurnya untuk buang air kecil.

Perlu diketahui bahwa mengompol bukan kesalahan atau keinginan si Kecil, sehingga ia tidak layak dihukum karenanya. Hindari pula mengejek atau membiarkan orang lain mengejek si Kecil yang masih mengompol.

Kapan harus ke dokter?

Pada sebagian kecil kasus, mengompol yang dialami anak merupakan tanda dari gangguan yang lebih serius. Oleh sebab itu, segera temui dokter anak Anda apabila si Kecil setelah usia 7 tahun tiba-tiba kembali mengompol setelah berhenti mengompol selama 6 bulan atau lebih.

Kondisi mengompol lainnya yang perlu diwaspadai juga adalah mengompol disertai rasa nyeri saat berkemih, rasa haus yang tidak biasa, urine yang berwarna kemerahan, BAB keras, atau mengorok saat tidur.

Bila si Kecil mengompol lebih dari usia yang sewajarnya, jangan langsung menghakimi. Mungkin memang kontrol kandung kemih si Kecil belum sepenuhnya berkembang atau mungkin ada yang salah dengan saluran kencingnya. Atasi kebiasaan mengompol anak dengan kesabaran dan pengertian, serta konsultasikan dengan dokter bila memang diperlukan.

[NP/ RVS]

dr. Fiona Amelia MPH klikdokter.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *