Semangat Kurban; Manifestasi Keimanan dan Kepekaan Sosial

Waktu datang silih berganti, detik pergi tak kembali. Idul Fitri Usai, Idul Adha menghampiri.   Dalam momentum bulan Dzulhijjah yang mulia ini, setidaknya terangkum tiga syi’ar kaum muslimin se-dunia, yakni shalat Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji. Seluruh kaum muslimin menyambutnya dengan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan. Diantara nilai-nilai yang dapat kita ambil dari dalam momentum ini, adalah memahami esensi ibadah kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab, secara gramatikal merupakan isim mashdar (kata dasar) dari qaruba-yaqrubu-qurbaan, jama’ (plural)-nya qaraabiin. Secara etimologi, kurban bermakna dekat. Sedangkan makna secara terminologi artinya mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah tertentu, khususnya melalui sembelihan (azd-dzabaa’ih). Sedangkan, kurban dalam perspektif fikih -sebagaimana yang masyhur dipahami oleh masyarakat- adalah Udh-hiyyah yang artinya sebutan hewan yang disembelih pada waktu dhuha, yaitu ketika matahari naik sepenggalah, berupa onta, sapi, kambing dan domba pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (10-13 Dzulhijjah), lalu dibagikan kepada fakir miskin dan dhua’afa’, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hukum kurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah (yang sangat dianjurkan), seperti dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad. Hukum kurban ini berlaku untuk Muslim yang mukim, musafir, orang haji, laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Dasar hukum pensyari’atannya dapat kita lihat di dalam Al-Quran; “Sesungguhnya Kami telah memberimu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”. (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)

Ayat di atas, memerintahkan kita untuk men-tauhid-kan Allah Swt, melalui shalat dan berkurban, sebagai manifestasi rasa syukur, atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan kepada kita. Sehingga kemudian, kita berhak mendapatkan rahmat-Nya dan dimasukkan ke dalam telaga al-kautsar dan syurga-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a, dalam Kitab Majmu’ Fatawa-nya (jil.16/hal.531-532), ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Swt memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Swt, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Swt”.

 

Dalam hal kurban, Rasulullah Saw yang merupakan suri teladan terbaik kita, tidak hanya menganjurkan, tapi juga mengaplikasikannya langsung, bahkan menghadiahkan domba kepada beberapa kepala suku untuk menjadi contoh dan panutan bagi sukunya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw pernah berqurban dengan 100 ekor onta. Oleh karena itu Rasulullah Saw, mengecam keras kepada orang yang mampu, namun enggan berkurban; “Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, no.8256; Ibnu Majah, no.3123)

Selain dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt, keutamaan ibadah kurban akan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt, sehingga terbentuk pribadi yang bertaqwa. Allah Swt berfirman: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu…”. (QS. Al-Haj [22]: 37). Selain itu kurban termasuk ibadah yang paling utama, sehingga Al-Quran menggandengkan ibadah kurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua, sebagaimana dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

 

Sungguh beruntunglah orang yang memiliki kemampuan, lalu ia berkurban. Namun ironisnya, tidak sedikit orang yang digerogoti sifat kikir dan bakhil yang diselimuti oleh hawa nafsu, diperparah lagi dengan budaya kehidupan yang semakin berorientasi individualis dan materialis. Sehingga dimensi kemiskinan bukan hanya bermakna, kaum dhu’afa yang tidak memiliki harta. Justru mereka yang kaya harta, namun tak tergerak berkurban dan peduli terhadap sesama, hakikatnya jauh lebih miskin dan dhu’afa dalam hal kebaikan, sehingga jauh dari rahmat dan keberkahan Allah Swt.

 

Manifestasi Ketaatan dan Kepedulian

Secara historis, ibadah kurban mengingatkan kita mengenai nilai-nilai edukasi dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimussalam dalam ketaatan kepada perintah Allah Swt secara totalitas, tanpa berdalih dengan argumentasi yang menolak. Ketika Allah Swt memerintahkannya untuk menyembelih putra kesayangannya semata wayang yang beranjak remaja. Orang tua mana yang tidak berat dan sedih dalam menerima ujian berat seperti ini, namun inilah manifestasi (perwujudan) dari keimanan dan ketakwaan kepada Rabb semesta alam. Yang cukup menarik, terjadi dialog antara keduanya;  “Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”. (QS. Ash-Shaffat [37]: 102. Maka setelah teruji tekad Nabiyullah Ibrahim dan putranya, dalam melaksanakan perintah Sang Khalik, maka Allah Swt menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Karena ketaatan, perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim, maka Allah SWT memberinya gelar Khalilullah atau Khalilur Rahman, artinya Kekasih Allah Swt. Peristiwa tersebut menjadi tonggak dan teladan ibadah qurban yang kita lakukan sekarang ini.

 

Oleh karenanya, ibadah kurban memberikan pelajaran bagi kita, jika ingin diridhai dan dicintai oleh Allah Swt, maka harus buktikan pengorbanan dan perjuangan dalam ketaatan melaksanakan perintah-Nya, dengan sami’na wa-atha’na (kami mendengar dan kami taat) mengikuti syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw, tanpa keraguan dan keengganan.

 

Secara filosofis ibadah qurban sebagai simbol penyembelihan terhadap sifat-sifat hewani atau kebinatangan yang ada pada diri kita. Berupa sifat bakhil, rakus, egoisme, cinta berlebihan terhadap harta, jabatan, kekuasaan atau berburuk sangka, munafik, zhalim dan bermaksiat serta berbagai penyakit lainnya. Oleh karenanya, jangan hanya memaknai ibadah kurban sebatas seremonial rutinitas ritual formal. Semangat  kurban juga harus menjadi pemicu lahirnya pribadi dan bangsa berempati sosial yang tinggi, sehingga persoalan kemiskinan, kekurangan pangan, air, listrik dll, akan segera terentaskan.  Dengan berempati dan peduli, kita merasakan denyut penderitaan dan kesusahan orang lain. Sehingga terbentuklah kepribadian insan kamil, yang membangun keseimbangan hubungan kepada Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas), serta tumbuhnya ketajaman hati, pikiran dan perasaan sosial. Multidimensinya persoalan umat dan bangsa, jika berusaha mengimplentasikan syari’at Islam, sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah Swt, akan menjadi solusi kongret atas semua realitas.

 

Ibadah kurban juga, memberikan pelajaran kepada kita bahwasanya manusia tidak layak untuk dikorbankan. Oleh karenanya, Allah mengganti Ismail dengan hewan sembelihan. Hal ini memberikan makna, berarti manusia memiliki harkat dan martabat yang tinggi dan tidak pantas untuk dikorbankan, dalam pengertian dijajah, dijual, dihina atau segala perbuatan yang merendahkan derajat manusia. Merujuk kepada pembukaan UUD 1945, menyebutkan bahwa segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh karenanya, jangan ada penindasan antara yang satu dengan yang lain, apalagi berkesewenangan atas kekuasaan. Oleh karenanya pemerintah harus melindungi kemerdekaan rakyatnya, dengan mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran. Maka dengan momentum kurban, kita semua diharapkan mau berkorban untuk melawan segala egoisme dan mau berkorban untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara. Bukan justru mengorbankan orang lain, bangsa dan negara untuk kepentingan hawa nafsu pribadi dan kelompoknya.

 

Pada  akhirnya, dalam momentum Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji, yang merupakan syiar kebahagiaan kaum muslimin se-dunia, semakin menginternalisasikan nilai-nilai ketaatan kepada Allah Swt dalam manjalankan syariat Rasulullah Saw secara kaffah pada seluruh dimensi kehidupan. Serta semakin mengasah kepekaan sosial, meningkatkan bangunan ukhuwah Islamiyah, persatuan, kepedulian dan solidaritas umat, demi terwujudnya izzul Islam wal-muslimin. Sehingga dirasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin di muka bumi. (MZ)

Oleh : Muhammad Zaini, S.Kom.I

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta

Dewan Pengawas Forum Komunikasi Mahasiswa Kepulauan Riau (FORMAKRI) Jakarta

(Jum’at, 8 Dzulhijjah 1432 H/4 November 2011 M)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *