Inilah Kisah Pernikahan Nabi Muhammad SAW dan Aisyah ra

Nah, bagaimana sebenarnya kisah pernikahan nabi Muhammad SAW dan Aisyah binti Abu Bakar? Siapa sosok sahabat yang terlibat dalam ‘kisah’ mereka? Berikut ini kilasannya.

Aisyah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Aku bermimpi selama tiga malam. Malaikat datang kepadaku dengan membawa gambarmu dalam sepotong kain sutra seraya berkata, ‘Inilah istrimu.’ Lalu, aku buka kain penutup wajahmu, ternyata itu adalah gambarmu. Saat itu aku bergumam, jika ini kehendak Allah, maka pasti terlaksana.” (Muttafaq ‘alaih)

Ibnu Abu Mulaikah menyatakan bahwa Aisyah ra. berkata bahwa Jibril datang kepada Nabi saw. (dalam mimpi) dengan membawa gambarnya dalam sepotong kain sutra hijau seraya berkata, “Inilah istrimu di dunia dan akhirat.” (HR. Tirmidzi)

Aisyah ra. berkata, “Setelah Khadijah ra. meninggal dunia, Khaulah binti Hakim bin Al-Auqash, istri Utsman bin Mazh’un, berkata kepada Rasulullah saw. (saat itu masih di Makkah), “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak ingin lagi?” Rasulullah saw. balik bertanya, “Dengan siapa?” Khaulah menjawab, “Terserah kepadamu, apakah engkau mau menikah dengan seorang gadis atau seorang janda?” Beliau bertanya lebih jauh, “Jika gadis, siapa orangnya?” Khaulah menjawab, “Putri orang yang paling engkau cintai, Aisyah binti Abu Bakar.” Beliau bertanya lagi, “Jika janda, siapa orangnya?” Khaulah menjawab, “Saudah binti Zam’ah. la telah beriman kepadamu dan mengikuti ajaran agamamu.” Rasulullah saw. berkata, “Kalau begitu, pergilah dan sampaikan pinanganku kepada mereka berdua.” Khaulah inilah yang menjadi jembatan pernikahan Rasulullah dengan Aisyah kala itu.

Khaulah segera pergi menuju rumah Abu Bakar. Di sana, ia disambut oleh Ummu Ruman, ibu kandung Aisyah ra. seraya berkata, “Wahai Ummu Ruman, sungguh besar kebaikan dan berkah yang dilimpahkan Allah kepada kalian. Rasulullah saw. mengutusku untuk menyampaikan pinangannya kepada Aisyah!” Ummu Ruman terperanjat, ia segera menjawab, “Aku senang sekali mendengarnya. Tapi, tunggulah Abu Bakar, sebentar lagi dia akan datang.”

By Eneng Susanti islampos.com

Kisah Cinta Teromantis Manusia Pertama Nabi Adam as dan Siti Hawa

Terlempar dari surga, terpisah dengan belahan jiwa selama kurang lebih 300 tahun, dan Jabal Rahmah saksi pertemuan kisah cinta manusia pertama di muka bumi ini.

Jabal Rahmah saksi pertemuan kisah cinta manusia pertama di muka bumi ini.

Malaikat menjadi saksi atas pernikahan manusia pertama ini. Namun karena godaan Iblis, maka keduanya terlempar ke bumi. Dan inilah cikal bakal kisah cinta penduduk bumi selanjutnya. Beragam cinta yang kemudian akan tergores. Cinta yang memang dikaruniakan oleh Yang Maha Mencintai, atau malah nafsu yang sekedar mengatasnamakan cinta. Judulnya cinta. Tentu saja kisah manusia pertama ini adalah kisah cinta sejati yang terbalut dalam sebuah kesucian.

Karena melanggar perintah Allah, maka keduanya terlempar ke bumi. Menurut Ibnu Abbas, meriwayatkan Adam diturunkan di India, dan Hawa di Jeddah. Wow..luar biasa, secara geografis mereka terlempar masih di satu benua. Benua Asia. Hanya saja yang satu terlempar di Asia Selatan, dan yang satu di Asia Barat. Keduanya tentu saja sama-sama tidak tahu. Kira-kira apa yang mereka rasakan terpisah selama kurang lebih 300 tahun? Sedih, bingung tentu saja. Bertahun-tahun mereka hidup sendirian. Keduanya tidak saling mengetahui lokasi masing-masing hingga Allah memberikan petunjuk. Namun, satu sikap Nabi Adam A.S yang patut kita teladani, selama dalam keadaan terpisah tersebut beliau selalu memohon ampunan kepada Allah. Pertaubatan dengan sebenar-benarnya taubat, hingga Allah memberikan petunjuk dan ampunan.

Tanda-tanda kebesaran Allah pun nampak, setelah beratus-ratus tahun terpisah, keduanya bertemu di sebuah padang gersang-Padang Arafah. Dan lokasi tersebut dinamakan Jabal Rahmah. Yang jadi pertanyaan, apakah keduanya tahu akan saling bertemu di tempat tersebut? adakah logika yang bisa menjelaskan bagaimana perjuangan Nabi Adam A.S ini dalam mencari tulang rusuknya yang hilang? Tidak. Tidak ada penjelasan dari berbagai sumber yang saya dapatkan. Yang pastinya keduanya tidak tahu bagaimana kisah cinta mereka selanjutnya.

Mungkin begitulah manusia sekarang (anak turun Adam-Hawa) sama sekali tidak dapat menerka dengan siapa akan bertemu dengan tulang rusuk yang hilang, kapan, dan di mana pertemuan itu akan terjadi. Teladan yang bisa diambil oleh anak turun Adam di masa kini, perbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Sungguh kita-manusia-sama sekali tidak bisa menduga-duga bagaimana kisah cinta yang akan tergores nanti. Dan manusia sama sekali tidak bisa mengetahui di mana belahan jiwnya kini. Terpisah sekat geografis kah? antar kota, benua, samudra, atau mungkin dengan orang terdekat- sama sekali tidak tahu-. Dan pastinya, pertemuan anak turun Adam-Hawa dengan belahan jiwa masing-masing, semoga seindah dengan pertemuan moyangnya kelak. Semoga. Allahualambishowab

sumber puputsekar.blogspot.com

 

 

 

Pernikahan Abdullah Dengan Siti Aminah;Kisah Ayah Bunda Rosulullah SAW

USIA Abdul-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun atau lebih tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan. Pilihan Abd’l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd Manaf bin Zuhra, pemimpin suku Zuhra. ketika itu yang sesuai pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat.

Maka pergilah mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya. Sebagian penulis sejarah berpendapat, bahwa ia pergi menemui Uhyab, paman Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah meninggal dan dia di bawah asuhan pamannya. Pada hari perkawinan Abdullah dengan Aminah itu, Abd’l-Muttalib juga kawin dengan Hala, puteri pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan yang seusia dengan dia.

Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd’l-Muttalib. Tak seberapa lama kemudian Abdullah pun pergi dalam suatu usaha perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam keadaan hamil. setelah perkawinannya dengan Aminah itu hilanglah harapan yang lain walaupun untuk sementara.

Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi. Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam perjalanan. Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat saudara saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih dulu meninggalkan dia. merekalah yang menyampaikan berita sakitnya Abdullah itu kepada ayahnya di Mekah. Begitu berita sampai kepada Abd’l-Muttalib ia mengutus Harith – anaknya yang sulung ke Medinah, supaya membawa kembali bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia baru mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan pula.

Sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Mekah. Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa hati Abdul Muttalib, juga menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan hidupnya. Demikian juga Abd’l-Muttalib sangat sayang kepadanya sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.

Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri dari lima ekor unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan, yaitu Umm Ayman – yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda kekayaan; tapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di samping itu umur Abdullah yang masih dalam usia muda belia, sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada itu ia memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih hidup itu.

Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd’l Muttalib di Ka’bah, bahwa ia melahirkan seorang anak laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada. Cepat cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu lalu dibawanya ke Ka’bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa’d (Banu Sa’d), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum bangsawan Arab di Mekah.

Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah (570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh tahun.

Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya. Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab, sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.

Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan. Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.

Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai sur l’Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd’l-Muttalib.

Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd’l-Muttalib minta disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui bahwa anak itu diberi nama Muhammad , mereka bertanya-tanya mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. “Kuinginkan dia akan menjadi orang yang Terpuji,1 bagi Tuhan di langit dan bagi makhlukNya di bumi,” jawab Abd’l Muttalib. Aminah masih menunggu akan menyerahkan anaknya itu kepada salah seorang Keluarga Sa’d yang akan menyusukan anaknya, sebagaimana sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab di Mekah. Adat demikian ini masih berlaku pada bangsawan-bangsawan Mekah.

Pada hari kedelapan sesudah dilahirkan anak itu akan dikirimkan ke pedalaman dan baru kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh tahun. Di kalangan kabilah kabilah pedalaman yang terkenal dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa’d. Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya, Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, Hamzah yang kemudian disusukannya juga. Jadi mereka adalah saudara susuan.

Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya. Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia hijrah ke Medinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia menanyakan tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan. Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa anak itu juga sudah meninggal sebelum ibunya.

Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa’d yang akan menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari sang ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka harapkan.

Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua’ib yang pada mulanya menolak Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd’l-‘Uzza suaminya: “Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu dan akan kubawa juga.”

“Baiklah,” jawab suaminya. “Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita.” Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.

Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh Halimah dan diasuh oleh Syaima’, puterinya. Udara sahara dan kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan badannya.

Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih, Halimah membawa anak itu kepada ibunya, dibawa kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Agar supaya Muhammad lebih matang jika dibawa ke sahara, juga dikuatirkan dari adanya wabah.

Dalam perjalanan pulang ini Halimah dan beliau bertemu dengan beberapa orang Nasrani Abisinia yang memperhatikan Muhammad dan menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. lalu dilihat punggung beliau, dan mereka berkata: “Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami, di negeri kami. Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui keadaannya yang sebenarnya. ” Halimah lalu cepat-cepat menjauh menghindarkan diri dari mereka

Muhammad tinggal di sahara lagi, menikmati udara pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu ikatan jiwa dan materi. sebelum usianya mencapai tiga tahun, terjadi peristiwa yang banyak dikisahkan orang. ketika beliau sedang bersama dengan saudara sebayanya sesama anak-anak, sedang berada di belakang rumah di datangi 2 orang berpakaian putih, Muhammad dibawa olehnya ke suatu sumur, anak yang dari Keluarga Sa’d itu kembali pulang setelah melihat muhammad dibedah perut, lalu menemui orang tuanya dan berkata kepada ibu-bapanya: “Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan, perutnya dibedah, sambil di balik-balikan.”

Halimah dan suaminya berlari ketempat tersebut menjumpai Muhammad berdiri pucat pasi, Halimah pun bertanya: “Kenapa kau, nak?” Dia menjawab: “Aku didatangi oleh dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu aku apa yang mereka cari.”

sumber nurrudina.blogspot.com

khalifah Umar bin Khattab Sang ‘Singa Padang Pasir’

Merdeka.com – Umar bin Khattab bin Nufain bin Abdul Uzza, dari suku Quraisy golongan Bani Adi merupakan salah satu orang yang sangat memusuhi Islam, khususnya kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Umar sempat berniat untuk membunuh kekasih Allah SWT itu.

Dalam ceramah KH Zainuddin MZ beberapa tahun lalu yang berjudul Kisah Masuk Islam Umar bin Khattab, pada suatu hari dengan pedang terhunus, Umar menuju Darul Arkom, tempat baginda Rasulullah berkumpul dengan para sahabat. Melihat mukanya yang beringas, mata yang nanar, orang lain sudah menyangka dan mengerti ini tentu akan menjadi pembunuhan.

Dalam perjalanan menuju Darul Arkom, Umar bertemu dengan Nuaim bin Abdullah.
Nuaim bertanya “Ya Umar, mau kemana?”.

“Mau membunuh itu, si murtad itu,” jawab Umar tegas.

“Si murtad yang mana?” kata Nuaim.

“Yang mana lagi? Itu. Yang memecah belah kita. Yang menghina berhala-berhala kita. Yang menjelek-jelekkan nenek moyang dan keturunan kita. Siapa lagi kalau bukan Muhammad,” tegas Umar.

“Umar, apa tak salah? Apa kamu ngga malu? Kamu mau pergi membunuh Muhammad, sementara adik mu sendiri Fatimah, dia sudah termasuk salah seorang pengikut Muhammad,” jabar Nuaim.

Mendengar omongan Nuaim, Umar makin geram. Langkah Umar berbelok dari Darul Arkom, dia menuju rumah adiknya, Fatimah. Di rumah, Fatimah sedang berkumpul dengan suaminya Said bin Zaid dan seorang sahabat bernama Habab Ibnul Arots membaca Alquran dalam lembar suhuf.

Mendengar kedatangan pria yang dijuluki ‘Singa Padang Pasir’ itu, Habab langsung kabur. Suhuf Alquran disembunyikan Fatimah di belakang bajunya. “Fatimah, benar kau telah masuk Islam dan jadi pengikut Muhammad?” tanya Umar geram.

“Iya!” kata Fatimah. Tamparan pun mendarat di muka Fatimah hingga keluar darah dari hidungnya.

Melihat istrinya disakiti, Said mencoba melawan Umar. Namun, Umar langsung meraih leher Said dan membantingnya. Dada Said diinjak Umar. Fatimah membentak Umar, “Umar! Apakah engkau memukul orang yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah? Apakah engkau menganiaya seseorang yang terpanggil untuk mengikuti kebenaran? Manusia macam apa engkau Umar?!”.

Tiba-tiba Umar melihat suhuf yang disembunyikan Fatimah. “Apa yang kau sembunyikan dibalik baju mu Fatimah?” tegas Umar.

“Suhuf Al-quran,” kata Fatimah.

“Sini, saya mau lihat?” ujar Umar.

“Tak boleh. Kamu kotor, orang kotor tidak boleh memegang Al-quran. Kalau mau pegang, bersihkan dulu dirimu,” tegas Fatimah. Diturutinya permintaan adiknya itu.

Usai membersihkan diri, Umar membaca suhuf tersebut ayat pertama dari surah Thaha.

“Bismillahi rahmani rahim. Thaha. Tidaklah Aku turunkan Al-quran ini untuk bikin sukar manusia. Melainkan merupakan pengingat bagi orang-orang yang takut kepada Allah.” (Surah Thaha ayat 1-2)

Kemudian surah Thaha ayat 14-16,

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang, yang sengaja waktunya tidak Kami beritahukan kepada kamu semua untuk Kami balas segala setiap orang yang apa saja yang telah mereka lakukan dalam kehidupan dunia ini.”

Usai membaca ayat tersebut, jiwa Umar bergetar. Dalam hatinya, kalimat tersebut pasti bukan dari manusia.

“Hai, Fatimah beritahu aku dimana keberadaan Muhammad?” tanya Umar.

“Saya tidak akan memberitahu jika kamu hanya akan menyakiti Rasulullah!” kata Fatimah.

“Sama sekali saya tidak akan mencelakakan dia, Fatimah. Kasih tahu saja dimana dia?!” ujar Umar. Akhirnya Fatimah memberitahu lokasinya.

Umar bergegas menuju Darul Arkom. Kedatangan Umar selalu dianggap bencana bagi sahabat Rasulullah. Tapi baginda Nabi Muhammad SAW menenangkan sahabat, “Tenang, mudah-mudahan ada hikmahnya.”

Sayidina Hamzah bin Abdul Mutalib saat akan membukakan pintu berkata, “Kalau niatnya baik kita terima kalau niatnya tidak baik, saya paling depan,”. Usai pintu dibuka, Umar langsung masuk dan merangkul Rasulullah.

Umar bersyahadat, “Asyhadu an-laa ilaaha illallaah Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah.”

Sahabat pun bertakbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar. [ded]

Baca Juga:
Kisah Abu Bakar, sahabat Rasulullah paling kaya menjadi mualaf
Cerita remaja Quraisy tampan menjadi mualaf sampai ditampar ibunda
Biarawati jadi mualaf setelah kuliah ilmu perbandingan agama
Cerita Reni jadi mualaf karena ‘temukan’ Tuhan di Alquran
Kisah Virgoun menjadi mualaf karena baca terjemahan Alquran

Reporter : Dedi Rahmadi

kaligrafi muhammad. ©2017 wallpaperislami.com

 

Kisah Cinta Sejati Zainab Binti Rasulullah SAW: Keimanan Di Batas Ajal

Inilah salah satu kisah sangat langka dan jarang sekali diketahui di kalangan umat Islam. Kisah cinta sangat mengharukan Zainab binti Muhammad radhiallahu ‘anha – putri sulung Rasulullah SAW. Berkisah tentang kesetiaan suami istri yang dipisahkan oleh iman dan dipersatukan kembali oleh iman di batas ajalnya.

Zainab merupakan putri sulung Nabi yang terlahir dari rahim Siti Khadijah radhiallahu ‘anha. Zainab merupakan hiasan teramat berharga bagi suaminya, Abul Ash ibn Rabi’. Sosok Zainab menjadi cermin istri yang begitu setia dalam khidmat untuk suaminya. Cinta kasih sayangnya tidak lekang oleh keberpisahan karena perbedaan iman dan ketaatan memenuhi perintah ayahandanya –Rasullah SAW– untuk hijrah ke Madinah, meninggalkan suaminya tercinta.

Bagaimanakah kisah romantika suami istri yang sangat merawankan hati ini terjadi? Ketika Zainab menyampaikan berita risalah tauhid bahwa ayahandanya mendapat wahyu kenabian melalui malaikat Jibril, Abul Ash, suaminya mengingkari kenabian mertuanya Muhammad SAW. Abul Ash tidaklah menyangkal bahwa ayah mertuanya, yang telah mendapat gelar al Amin dari kalangan para pemuka Quraisy – sukunya – merupakan orang yang tidak pantas diingkari, tetapi demi alasan mengikuti ajaran nenek moyangnya lebih ia utamakan untuk menolak risalah kenabian tersebut.

Dalam perang Badar, Abul Ash melibatkan diri sebagai bagian dari 1.000 musyrikin Quraisy Makkah yang memerangi ayah mertuanya sendiri. Tidaklah terbayangkan kegalauan perasaan hati Zainab saat itu menghadapi peperangan diantara mertua dengan menantunya. Ia sangat berharap-harap cemas akan keselamatan ayahnya. Namun di saat yang sama, ia juga teramat gundah dengan nyawa suaminya dalam perang Badar.

Perang yang sangat menentukan nasib ayahnya dan risalah kenabian. Bagaimana tidak? Karena perang ini sangat tidak berimbang, 303 muslim generasi paling awal menghadapi kekuatan 1.000 orang musrik.

Makkah yang ingin melenyapkannya.

Namun akhirnya datang kabar berita ke dalam rumahnya bahwa 70 orang musyrikin Mekkah telah tertawan di Madinah, dan salah satu adalah Abul Ash. suaminya. Ayyuhai! Siapakah yang akan menebus suaminya sebagai tawanan kaum muslimin? Zainab sang istri yang akhirnya menebus pembebasannya.

Demikianlah kethaatan seorang istri yang beriman terhadap suaminya yang masih kafir, sementara belum ada perintah larangan Nabi untuk memisahkan suami istri yang berbeda iman. Belum turun wahyu dari Allah SWT yang memerintahkan seorang istri harus terpisah dari suaminya karena perbedaan iman.

Dari Makkah, Zainab mengirimkan tebusan untuk membebaskan suaminya sejumlah harta tebusan dan seuntai kalung batu Onyx Zafar pemberian ibundanya tercinta. Ini kalung teramat istimewa bagi Rasulullah karena mengingatkan akan istri tercintanya. Kalung itu juga hadiah pernikahan Zainab dari ibunya, Khadijah.

Ketika Nabi melihat kalung itu, ingatannya melayang ke masa lalunya pada cinta sejatinya, Khadijah. Nabi berseru pada kaum muslimin Madinah, jika mereka setuju Nabi meminta agar Abul Ash dibebaskan dan kalung itu dikembalikan ke Zainab, putri kesayangannya yang masih tertinggal di Mekkah. Begitulah adab Nabi, meski sebagai pemimpin yang berkuasa penuh namun dia masih meminta persetujuan umat menyangkut kemaslahatan keluarganya (terkait kalung tebusan tawanan).

Berita gembira kembalinya Abul Ash kepada istri yang sangat mencintainya, Zainab, ternyata juga membawa kabar yang sangat memiriskan hati pasangan suami istri tersebut. Nabi bersabda bahwa iman telah memisahkan mereka sebagai pasangan istri. Iman telah menjadi batas hubungan suami istri. Dan Zainab diminta berhijrah ke Madinah oleh Nabi.

Zainab harus berhijrah ke Madinah, menempuhi jarak 400 KM, karena kewajiban iman guna memenuhi perintah Rasulullah. Kala itu Zainab sedang mengandung buah cinta dengan Abul Ash dan kelak akhirnya keguguran karena terjatuh dari untanya. Keduanya, Zainab dan Abul Ash, harus berpisah dengan air mata menggenang. Demikianlah kethaatan Zainab kepada agamanya dan kesetiaan pada suaminya.

Sementara dalam masa yang sama, ada seorang laki-laki di Mekkah diriwayatkan melakukan hijrah ke Madinah karena ingin menemui wanita yang akan dinikahinya.

Beberapa waktu sebelum Fathul Makkah (penaklukan Mekkah), Abul Ash memimpin kafilah dagang dari Syam. Lagi-lagi, seluruh hartanya disita kaum muslimin. Ketika gelap malam merayapi kota Madinah, Abul Ash diam-diam menemui Zainab, setelah terpisah selama 6 tahun, dan meminta Zainab memberi perlindungan. Zainab pun menyanggupi permintaan suaminya.

Zainab pun berseru dari balik dinding masjid ketika Rasul dan kaum muslimin berdiri menegakkan shalat Subuh. “Wahai kaum muslimin, Abul Ash berada dalam perlindungan Zainab.”

Abul Ash dan hartanya pun selamat.

Dan ini klimaks dari kisah cinta sejati putri sulung Rasulullah SAW. Sepulang kembali ke Makkah dan menunaikan amanat orang Quraisy, Abul Ash berseru dan berikrar syahadat memasuki ke haribaan Islam.
Abul Ash pun dengan sangat segera menyusul istri yang sangat menyayanginya, Zainab binti Rasullah SAW, ke Madinah. Kembali kepada belahan jiwanya setelah 6 tahun berpisah karena iman. Abul Ash dan Zainab pun kembali bersatu cintanya juga karena iman. Berpisah dan bersatunya pasangan suami istri ini bukan karena cinta.

Maka sangat tercela apabila seorang muslim maupun muslimah terlalu mengagung-agungkan CINTA. Mendudukkan perasaan cinta di atas segala-galanya.

Cinta dan kasih sayang Zainab kepada suaminya akhirnya tergenapkan. Kerinduan sang istri agar berkas cahaya iman bersemayam di dada suaminya pun terpenuhi. Tak berselang lama, hanya setahun kemudian wafatlah Zainab binti Muhammad SAW.

Cinta Abul Ash, entah bagaimana, telah menyebabkan tangisannya begitu menyayat sehingga yang mendengarnya pun ikut menangis. Usai dimandikan, Nabi bersabda :
“Kafanilah ia dengan kain ini.”

Dalam perjalanannya ke negeri Syam, Abul Ash mengenang istri tercinta,
”Puteri Al-Amiin, semoga Allah membalasnya dengan kebaikan dan setiap suami akan memuji sesuai dengan yang diketahuinya.’

Demikianlah ridha suami telah dibawa serta oleh Zainab untuk menemaninya di alam kubur. Itu bayangan kecintaan Zainab, putri pemimpin para Nabi, kepada suaminya. []

Sumber: AspirasiMuslimah.com

Kisah Tsa”labah Binasa Akibat Harta

Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka, Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” [QS. At-Taubah (9): 75-78].

TSA’LABAH dengan nama lengkap Tsa’labah Ibnu Hathib Al-Ansyari adalah seorang lelaki Ansar, sosok manusia engkar yang hidup di zaman Rasulullah, yang tinggal di Kota Madinah, semula hidup ‘biasa-biasa’ saja, lalu meminta kepada Rasulullah untuk didoakan kepada Allah agar memiliki harta kekayaan melimpah, dan setelah Rasul mendoakan, jadilah ia sosok yang kaya raya dengan usaha peternakan (kambing) yang tiada tandingannya kala itu.

Lalu pemuda yang semula taat beribadah itu, setelah disibukkan dengan harta bendanya, seketika berbalik menjadi orang yang lalai beribadah dan engkar/tidak mau membayar zakat atas amanah harta yang Allah titipkan dari hasil usahanya itu.

Ulama Tafsir diantaranya Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri, menyebut bahwa ayat yang mulia ini [QS. At-Taubah (9): 75 – 78] diturunkan berkenaan dengan sikap Tsa’labah ibnu Hatib Al-Ansyari.

Menurut para mufassirin Asbabun Nuzul ayat ini yang dijelaskan dalam Al Hidayah [Al-Qur’an Tafsir per Kata, Hal.200], bahwa Abu Umamah mengatakan, suatu ketika Tsa’labah bin Hathib berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku harta berlimpah. ”Rasulullah menjawab,”Celaka kamu Tsa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit tetapi tetapi disyukuri lebih baik daripada harta yang banyak tetapi tidak kamu syukuri”.

Tsa’labah berkata,”Demi Allah, jika Allah memberiku harta berlimpah, aku pasti akan memenuhi hak atas harta itu”. Kemudian atas do’a beliau, kambing milik Tsa’labah berkembang dengan biak sangat pesat, hingga memenuhi dan membuat sempit kota Madinah. Akhirnya ia pindah dan menungsikan peternakan kambingnya jauh dari Madinah.

Akibat sibuk mengurus peternakannya, ia tidak lagi sholat berjamaah di masjid bersama Rasul dan para sahabat yang lain. Tak lama kemudian, turun ayat yang mewajibkan seorang muslim yang kaya untuk menunaikan zakatnya [QS. 9:103]. Kemudian Rasulullah mengutus dua orang sahabat kepada Tsa’labah agar membayar zakat. Atas hal itu turunlah keempat ayat ini yang secara tegas mengancam muslim yang ingkar membayar zakat.

Ibnu Jarir, ibnu Mardawiyah, dan Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ini juga menjelaskan, “bahwa seorang lelaki Ansar bernama Tsa’labah datang ke suatu majelis. Dia meminta kesaksian kepada mereka, seraya berkata,”Sekiranya Allah memberikan kepada ku sebagian dari karunia-Nya, niscaya aku memberikan kepada setiap orang yang berhak, bersedekah, dan menjadikan sebagiannya untuk kaum kerabat.”

Kemudia Allah mengujinya, maka dia memberikan sebgaian dari karunia-Nya kepadanya. Namun kemudian dia mengkhianati janjinya. Allah mengisahkan keadaannya dalam Al-Qur’an (ayat ini) [dikutib dari Kitab Tafsir Al-Maraghi, Asbabun Nuzul QS. At-Taubah: 75 – 78]

Kisah Tsa’labah ini juga diterangkan [dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir]; ketika peternakan Tsa’labah sudah berkembang pesat, ia pindah kesuatu lembah di pinggiran kota Madinah, sehingga ia hanya dapat menunaikan sholat berjama’ah pada waktu zuhur dan asyar, sedang sholat-sholat yang lain tidak. Kemuadian ternak kambingnya berkembang hingga bertambah banyak, lalu ia menjauh lagi dari Madinah, sehingga tidak sempat lagi shalat berjam’ah, kecuali hanya sholat jum’at.

Akhirnya karena ternaknya makin berkembang pesat, shalat Jum’at pun ia tinggalkan. Ketika sahabat menceritakan kepada Rasulullah semua yang dialami Tsa’labah, maka Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah”. Dan Allah SWT menurunkan firman-Nya,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka”. [At-Taubah (9): 103].

Kesudahan hidup Tsa’labah setelah dicap oleh Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana dinukilkan dalam Kitab Tafsir Jalalain, “Dan ketika ia (Tsa’labah) datang menghadap Rasulullah SAW sambil membawa zakatnya, akan tetapi Rasulullah berkata kepadanya,”Sesungguhnya Allah telah melarang aku menerima zakatmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW lalu menaburkan tanah diatas kepalanya. Setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. ia datang membawa zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, akan tetapi Khalifah tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a, iapun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Umar r.a. juga tidak mau menerimanya.

Dan ketika pemerintahan dijabat oleh Khalifah Ustman, Tsa’labah bin Hathib pun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Ustman pun tidak mau menerimanya. Dan nasib tragis menimpa Tsa’labah bin Hathib, hingga ia meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Usman r.a, hartanya tidak pernah dizakatkan.

Allah SWT telah mengancam orang-orang yang bakhil dari berzakat dengan ancaman adzab yang pedih sebagaimana firman-Nya “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu,” (Q.S. At-Taubah:34-35).

Maka berhati-hatilah! Semoga Allah merahmati kita dan terjauh dari sikap bakhill terhadap apa yang Allah wajibkan, dan bersegeralah menunaikan zakat harta-harta yang dimiliki jika telah sampai nisab dan haul-nya (telah sampai 1 tahun), sesuai dengan ketentuan syari’ah yang telah ditatapkan Allah dan Rasul-Nya (baik berupa emas, perak, harta perniagaan, ternak, hasil usaha pertanian/perkebunan, dan lainnya yang telah ditetapkan). []

By Saad Saefullah islampos.com

Kisah Ummul Mundzir dan Khasiat Kurma Muda

Ilustrasi
Muslimahdaily – Ummul Mundzir merupakan satu dari sekian wanita yang masuk Islam di era awal dakwah. Wanita Anshar tersebut memeluk Islam begitu dakwah dikenalkan di kota nabi. Ia juga masih berkerabat dengan Rasulullah dari jalur ibu.

Nama lengkapnya yakni Ummul Mundzir binti Qais bin ‘Amr Al Anshariyyah An Najjariyyah. Ia satu keluarga dengan ibunda Rasulullah, Aminah, yakni dari Bani An Najjar. Karena itulah, ia memiliki hubungan dekat dengan Rasullah dan keluarga beliau.

Suatu hari, Rasulullah berkunjung ke rumah Ummul Mundzir Rhadiyyallahu ‘anha. Saat itu, beliau ditemani Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit. Di dalam rumah sang shahabiyyah tergantung setandan kurma muda yang segar. Rasulullah pun diberi sajian dengannya.

Nabiyullah begitu menikmati kurma muda milik Ummul Mundzir. Sampai-sampai Ali berkeinginan untuk memakannya pula. Ia pun menjulurkan tangannya untuk mengambil kurma muda tersebut.

Namun Rasulullah mencegah Ali seraya bersabda, “Tunggu Ali, engkau baru saja sembuh dari sakit.” Dengan perhatian, Rasulullah mencegah Ali untuk memakan kurma muda itu. Faedahnya, kurma muda tak baik disantap oleh seorang yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ali pun menuruti. Ia duduk dan menahan diri dari keinginan memakan kurma muda. Adapun Rasulullah masih memakan sajian kurma muda tersebut. Sementara itu, Ummul Mundzir tengah sibuk di dapur.

Begitu melihat Rasulullah dan Ali ada di rumahnya, Ummul Mundzir segera mengolah bahan makanan. Ia ingin menyajikan hidangan yang ia buat dengan tanggannya sendiri. Lalu dicampurnya gandum dengan sayuran lezat bernama silq. Hasilnya, hidangan lezat nan sehat pun tersedia di hadapan Rasulullah dan Ali.

(Nabi begitu senang melihat hidangan sajian Ummul Mundzir. Kepada Ali, beliau berkata, “Nah, ini cocok untukmu, Ali.” Dengan nikmat, Ali pun menyantap hidangan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir pun senang dapat menyajikan hidangan yang cocok dan disukai Rasulullah serta Ali bin Abi Thalib. Apalagi Rasulullah menyebutnya sangat cocok untuk Ali yang baru saja sehat setelah sakit. Sang shahabiyyah begitu gembira.

Shalat Bersama Rasulullah

Ummul Mundzir sangat menyukai shalat bersama Rasulllah. Ia sangat giat untuk turut serta dalam jamaah beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam. Saking giatnya, Ummul Mundzir juga mengalami momen berpindahnya arah kiblat. Ia menjadi saksi saat Rasulullah diberi wahyu untuk memindahkan arah shalat dari Baitul Maqdis di Yerusalem, ke arah Ka’bah di Makkah.

Itu terjadi di tahun kedua hijriyyah. Ummul Mundzir pun menjadi satu dari sekian shahabat yang menyaksikan dan mengabarkan peristiwa besar tersebut.

Keluarga Ummul Mundzir

Ummul Mundzir memiliki keluarga yang juga menjadi shahabat Rasullah. Mereka selalu melindungi dan mendukung dakwah nabi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih keutamaan pahala jihad karena turut serta di perang Badr.

Ialah Salith bin Qais, saudara kandung Ummul Mundzir, yang bergabung dengan pasukan muslimin menuju Badr. Dengan gagah berani, ia membela agama Allah dan berharap syahid di medan jihad. Bersama Ummul Mundzir, Salith menjadi salah dua shahabat Rasulullah yang dekat dengan beliau.

Adapun keluarga inti Ummul Mundzir yakni seorang suami bernama Qais bin Sha’sha’ah dan anaknya Al Mundzir. Karena itulah ia dikenal dengan nama kunyah Ummul Mundzir.

Suami Ummul Mundzir juga berasal dari Bani An Najjar. Artinya, ia juga berkerabat dengan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Keluarga Ummul Mundzir adalah penduduk asli Madinah dan menjadi shahabat Anshar yang terkenal sangat dermawan. Teringat firman Allah tentang kaum Anshar,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9).

Ummul Mundzir binti Qais, semoga Allah meridhainya dan memberikan kenikmatan surga bersama para shahabat Anshar dan Muhajirin yang lebih dahulu beriman.

By Afriza Hanifa  July 17, 2018 muslimahdaily.com

Ummu Mahjan, Nenek Tua yang Dirindukan Rasulullah

Ilustrasi

Muslimahdaily – Di suatu pagi, Rasulullah nampak sibuk mencari seseorang. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam kehilangan sesosok nenek yang biasanya nampak di pelataran masjid. Ialah nenek tua bernama Ummu Mahjan yang dicari nabiyullah.

“Ia telah meninggal dan dikubur, wahai Rasulullah,” ujar shahabat.

“Mengapa kalian tak memberitahuku tentangnya?” sabda Rasulullah.

Para shahabat saling berpandangan bingung. Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan merupakan hal sepele.”

Para shahabat menganggap kematian seorang tua adalah perkara yang biasa dan lumrah terjadi sehingga Rasulullah tak perlu diberi kabar. Belum lagi, kematian Ummu Mahjan terjadi di malam hari saat Rasulullah tengah beristirahat.

“Kami telah mendatangi Anda dan kami dapatkan Anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah” ujar seorang hahabat.

“Mari kita pergi! Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya,” ajak Rasulullah bergegas menuju lokasi pemakaman Ummu Mahjan.

Sesampainya di sana, yakni di pemakanan Baqi Al Ghardad, Beliau berdiri hendak menunaikan shalat jenazah. Para shahabat lalu segera memosisikan diri sebagai jamaah. Rasulullah bersama sederet shaf shahabat pun menunaikan shalat dengan takbir empat kali tanpa ruku dan sujud.

Seusai shalat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

Masya Allah, kubur Ummu Mahjan diberi penerangan oleh Allah. Rasulullah memberikan hadiah spesial kepada si nenek tua. Apakah keutamaan Ummu Mahjan hingga Rasulullah merasa sangat kehilangan?

Beliau merupakan wanita Madinah yang berkulit hitam lagi miskin. Tak ada yang tahu siapa nama asli si nenek tua. Orag-orang memanggilnya dengan kunyah Ummu Mahjan.

Meski berislam di usia senja, Ummu Mahjan tetap mendapat perhatian Rasulullah. Hingga sang shahabiyyah merasa ingin turut serta melakukan sesuatu untuk agama. Tapi apa daya, tubuhnya sangat lemah seiring usianya yang telah renta. Ia tak bisa turut berkiprah untuk umat. Ia pula tak bisa turut belajar apalagi berjihad.

Namun kelemahan fisik tak serta merta menyurutkan semangat Ummu Mahjan untuk berbuat kebaikan dan mengambil kiprah di tengah umat. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Di lihatnya suatu hari, masjid kotor tak ada yang membersihkan. Ummu Mahjan pun bergegas membersihkannya. Ia membuang setiap kotoran hingga Masjid Rasulullah menjadi sangat bersih.

Sejak itu, Ummu Mahjan pun melakukannya setiap hari. Ia giat membersihkan masjid hingga Rasululah dan para shahabat merasakan kenyamanan karenanya. Ummu Mahjan telah selesai dari kegiatan rutinnya sebelum rumah Allah menjadi tempat beribadah, tempat belajar, tempat bermusyawarah, hingga tempat menjalankan pemerintahan Islam.

Pantaslah Rasulullah merasa kehilangan ketika Ummu Mahjan tak muncul seperti hari-hari biasa. Sifat sang nabi pula sangat pengasih kepada rakyat miskin dan orang tua. Ummu Mahjan hanyalah salah satu nenek yang diperhatikan dan dihormati Rasulullah.

Karena Rasulullah sangat menghormati yang lebih tua, para shahabat pun meniru sikap beliau. Ketika Ummu Mahjan meninggal, para shahabat mengurus jenazahnya dan menguburkannya dengan kasih sayang. Namun mereka enggan mengganggu Rasulullah hanya karena kematian seorang nenek tua.

Padahal di mata Rasulullah, setiap umat beliau, setiap rakyat beliau, harus dilayani dengan baik. Karena itulah Rasulullah pergi ke kubur Ummu Mahjan kemudian memberikan hadiah yang akan sangat disukai sang nenek. Yakni seberkas cahaya terang benderang di alam kubur. Semoga Allah meridhai setiap amal baik Ummu Mahjan radhiyallahu ‘anha.

Berperan Meski Sedikit

Dari kehidupan Ummu Mahjan, muslimah mendapati hikmah yang sangat berharga. Yakni tentang kiprah dan mengambil peran untuk umat. Tengoklah sikap Ummul Mahjan. Seorang nenek tua renta saja masih berkeinginan untuk mengambil peran di tengah umat.

Dengan tenaga terbatas, ia pun memilih caranya dengan membersihkan masjid. Jika nenek Mahjan saja sanggup, bagaimana dengan muslimah yang masih belia?

Di mana pun muslimah berada, carilah peran yang bisa dikerjakan untuk kebaikan orang lain meski itu nampak amat sangat ringan di mata manusia.

By Afriza Hanifa  July 2, 2018 muslimahdaily.com

Ja’far Bin Abi Thalib, Sang Politisi Terkenal

Setiap membuka lembar emas periode sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, selalu saja membuat hati tersentuh betapa mereka pribadi mulia yang gigih membela Islam. Hingga Rasul-Nya mewasiatkan umat Islam agar menjaga hak-hak mereka, mengetahui keutamaan mereka dan melarang mencela para sahabat.

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu berkata, “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam Sesungguhnya kedudukan salah seorang di antara mereka lebih baik dari amal kalian seluruhnya” (Ash Sharimul Maslul’ala Syatimir Rasul, hal : 570).

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dalam bab keutamaan-keutamaan para Sahabat, dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan, pent) infak mereka, tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, bab Fadhailush shahabahFathul Bari 7/21 hadits No. 3673 dan Muslim: Fadhailush shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222).

Diantara sosok yang lekat di hati beliau adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sangat mirip dengan  beliau. Ja’far bin Abi Thalib diasuh oleh Abu Bakar Ash Shidiq sebelum Rasulullahshallallahu’alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Saat intimidasi kafir Quraisy bertambah gencar, Ja’far bin Abi Thalib  bersama istrinya Asma’ binti ‘Umais serta serombongan kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Mereka mendapat perlindungan Raja Najasyi hingga dapat beribadah kepada Allah dengan tenang. Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keberadaan mereka, mereka mengutus ‘Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memprovokasi sang raja agar mengusir kaum muslimin. Berkat taufiknya serta kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib raja membenarkan keyakinan kaum muslimin.

Di hadapan majelis para pejabat dan uskup dengan percaya diri dan penuh kesopanan Ja’far berkata, “Tuanku, dahulu kami adalah suatu kaum yang bodoh, kami menyembah patung-patung berhala, memakan bangkai dan tidak segera melakukan berbagai kejahatan. Kami biasa memutus hubungan kekerabatan, tidak mau ambil peduli dengan kerepotan tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Dalam keadaan demikian, Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami kenal baik keramahan keluarganya serta terjamin kejujuran, ketulusan dan amanahnya. Kami diajak untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap batu-batu dan patung. Beliau menyuruh kami jujur dalam berbicara, menyampaikan amanah, menyambung tali persaudaraan dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami berbuat keji, menghindari pertumpahan darah, tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba atau berdusta. Beliau juga melarang memakai harta anak yatim atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dengan keburukan, mengabdi kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya kami percaya adanya dan mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan. Ketika kaum kami melihat kami beriman kepadanya, mereka menyiksa kami dengan sewenang-wenang untuk mengembalikan pada kebodohan, yaitu penyembahan berhala. Penindasan mereka semakin menjadi-jadi seiring keteguhan kami untuk membenarkan ajaran Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Tak ada satu pun mereka lewatkan untuk menganiaya kami. Bahkan mata pencaharian kami pun dihalang-halangi. Ketika sudah tidak tahan lagi dizalimi, ditindas dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini daripada lainnya, karena kami telah mendengar kebijaksanaan Anda. Kami berharap bisa bernaung di bawah pemerintah Tuan” (Dibawah Naungan PedangAbu Royhan, hal. 387 – 388).

Demikianlah untaian kata-kata Ja’far yang membuat Negus Ashamah kagum. Terlebih lagi ketika beliau membaca surat Maryam ayat 1-15, penguasa itu menangis terharu dan membenarkannya. Akhirnya ia melindungi kaum muslimin dan mereka tinggal di Habasyah dengan penuh kedamaian serta mampu melaksanakan ajaran Islam. Utusan Quraisy itupun akhirnya kembali dengan terhina dan semua hadiah dikembalikan.

Ada lagi keistimewaan Ja’far, beliau sangat penyayang dan menyantuni orang-orang miskin. Beliau pun mujahid tangguh yang berjihad dalam menegakkan kalimat tauhid hingga ke Roma. Mereka berhadapan dengan Raja Hercules yang memiliki tentara ± 200 ribu. Beliau bertempur habis-habisan hingga gugur sebagai syuhada. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: Sungguh aku melihat Ja’far bin Abu Thalib di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. (Sirah Sahabat, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, halaman: 424).

Demikianlah akhir kisah Ja’far, pribadi yang fasih tutur katanya, tepat argumentasinya dan sosok rendah hati yang juga sigap dalam berperang. Semoga kisah ini menginspirasi generasi muslim untuk lebih fokus meneladani para sahabat.

Isruwanti Ummu Nashifa July 2, 2018

sumber muslimah.or.id

kisah Zainab binti Jahsy -radhiallaahu ‘anha-

Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya’mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra’, namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, “Aku rela Zaid menjadi suamimu”. Maka Zainab berkata: “Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya.

Maka turunlah firman Allah (artinya): “Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta’at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.

Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: “Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah”.

Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar’i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya.

Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Al-Ahzab:37).

Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan ‘Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:”Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?”, Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.

Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu ‘anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:”Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya”. Dan dalam riwayat lain,”Allah telah menikahkanku di langit”. Dalam riwayat lain,”Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh”. Dan dalam sebagian riwayat lain,”Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh”.

Zainab radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah ‘Aisyah radliallâhu ‘anha tatkala berkata:”Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Beliau radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala ‘Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:”Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda”. Kemudian beliau berkata: “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: ‘Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…’ “.

Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi’. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.

sumber ahlulhadist.wordpress.com