Hukum Membunuh Cicak dalam Islam dan Dalilnya

Cicak adalah salah satu binatang yang sangat legendaris dalam sejarah agama Islam. Reptile merayap berkaki empat yang sering terlihat berkeliaran di dinding dan langit – langit rumah ini termasuk ke dalam binatang terkutuk hingga akhir zaman. Hal ini dikarenakan cicak di sebut – sebut sebagai binatang perantara setan yang memusuhi dakwah.

Kisah Cicak dalam Sejarah Pekembangan Islam

Kisah cicak yang legendaris ini terjadi saat Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke dalam kobaran api yang telah disiapkan oleh Namrud Ibn Kan’an, ia adalah seorang raja yang pertama kali mengaku-ngaku sebagai Tuhan dari kerajaan Babilonia atau yang sekarang dikenal dengan Negara Irak.

Dalam peristiwa ini dikisahkan terdapat dua ekor binatang yang turut berperan, yakni semut dan cicak. Jika semut berpihak pada Nabi Ibrahim as maka cicak malah berpihak kepada sang raja, Namrud Ibn Kan’an.

Dalam cerita itu semut dengan susah payah berlari-lari membawa butiran butiran air yang ada di mulutnya untuk memadamkan kobaran api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim as. Kemudian seekor burung berkata mewakili keheranan semua binatang yang menyaksikan peristiwa tersebut.

“Tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu.” sahut si burung.

Namun kemudian semut menjawab “Memang air ini tidak akan bisa memadamkan api itu, tapi ini kulakukan paling tidak semua akan melihat bahwa aku di pihak yang mana.”

Dari peristiwa tersebutlah akhirnya banyak hadis yang mengisahkan tentang bagaimana peranan cicak dalam mempersulit penyebaran Islam pada masa Nabi Ibrahim AS.

Di antaranya adalah dalam sebuah hadis muslim yang mengisahkan bahwa cicak adalah tersangka utama yang meniup dan memperbesar kobaran api sehingga membakar Nabi Ibrahim.“Dahulu, cicak-lah yang meniup dan memperbesar kobaran api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muslim).

Menyikapi hadis ini, Syekh Utsaimin menyebutkan bahwa tindakan cicak yang meniup untuk membesarkan kobaran api (yang membakar Nabi Ibrahim As) pertanda bahwa cicak adalah hewan yang memusuhi dakwah, ahli tauhid dan keikhlasan para pejuang (syarah Riyadhus Shalihin).

Sunahnya Membunuh Cicak dalam Islam

Hukum membunuh cicak dalam agama Islam adalah Sunah. Hal ini disebabkan oleh kisah cicak yang akhirnya berpihak kepada Namrud Ibn Kan’an untuk ikut membakar Nabi Ibrahim AS. Beberapa hadis bahkan sangat menganjurkan umat muslim untuk membunuh cicak yang mendapat gelar sebagai hewan fasiq dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Nawawi dalam syarah shahih Muslim menyebutkan ‘illat bahwa cicak digolongkan hewan yang fasiq karena ia merupakan hewan yang memberikan dampak mudharat dan mengganggu manusia.

Dikisahkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, bahwa Nabi Saw memerintahkan (umatnya) untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut (cicak) sebagai hewan fasiq (pengganggu).” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor cicak dengan satu pukulan dicatat baginya seratus kebaikan, dalam dua pukulan pahalanya kurang dari itu, dalam tiga pukulan pahalanya kurang dari itu.” (HR. Muslim).

Kemudian Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat tercela, sementara dulu, dia meniup api yang membakar Nabi Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir).

Tak hanya itu, sebuah hadis lain juga mengisahkan tentang Aisyah yang mengatakan, “Aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membunuh cicak maka Allah akan menghapus tujuh kesalahan atasnya.” (HR Thabrani)

Berlanjut dari hadis tersebut, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ia bertemu dengan Aisyah dan melihat di rumahnya terdapat sebuah tombak yang tergeletak. Dia pun bertanya kepada Aisyah, ”Wahai Ibu kaum mukminin apa yang engkau lakukan dengan tombak ini?” Aisyah menjawab,”Kami baru saja membunuh cecak-cecak. Sesungguhnya Nabi saw pernah memberitahu kami bahwa tatkala Ibrahim as dilemparkan ke dalam api tak satu pun binatang di bumi saat itu kecuali dia akan memadamkannya kecuali cecak yang meniup-niupkan apinya. Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya.” (HR Ibnu Majah)

Selain didasarkan pada kisah cicak yang memusuhi dakwah, anjuran untuk membunuh cicak dalam agama Islam juga didasarkan pada hal-hal logis seperti pengaruh negative cicak terhadap kesehatan manusia, setelah dilakukan penelitian panjang, diketahui bahwa cicak mengandung bakteri yang berbahaya yang dapat menyebabkan sakit perut dan meracuni makanan.

Selain itu, dalam kajian “al Asbah an Nazhoir” Imam Suyuthi menyebutkan bahwa Binatang – binatang itu terbagi menjadi empat macam. Yang pertama, adalah binatang yang didalamnya terdapat manfaat dan tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh maka ia tidak boleh dibunuh justru dianjurkan untuk dikonsumsi; Yang kedua, adalah binatang yang di dalamnya mengandung bahaya dan tidak bermanfaat bagi tubuh maka dianjurkan untuk dibunuh.

Contohnya adalah seperti : ular dan binatang-binatang yang berbahaya lainnya; kemudian yang ketiga adalah binatang yang di dalamnya mengandung manfaat positif bagi tubuh namun sekaligus juga berbahaya bagi manusia maka tidak dianjurkan dan tidak pula dimakruhkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti burung elang; terakhir yang ke empat adalah jenis Binatang yang tidak mengandung manfaat didalamnya dan tidak pula berbahaya bagi manusia maka ia tidak diharamkan dan tidak pula dianjurkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti ulat, serangga dan lainnya. Dari ke empat jenis binatang yang dijelaskan di atas maka jelaslah bahwa cicak yang terbukti dapat membahayakan manusia dan meracuni makanan ini sangat dianjurkan untuk dibunuh.

Pahala Membunuh Cicak

Sunah adalah perkara positif yang tidak wajib dilakukan oleh umat manusia akan tetapi jika dilakukan maka ia akan mendapatkan pahala dan manfaat lainnya. Dalam membunuh cicakpun sudah tentu akan ada pahala yang menyertainya.

Mengenai hal ini, Nabi Saw menjelaskan perihal pahala yang akan didapatkan dengan mengamalkan anjurannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa membunuh cicak maka pada awal pukulannya baginya ini dan itu dari kebaikan. Barangsiapa yang membunuhnya dalam pukulan kedua maka baginya ini dan itu yakni kebaikan yang berbeda dengan yang pertama. Jika dia membunuhnya pada pukulan ketiga maka baginya ini dan itu kebaikan yang berbeda dengan yang kedua.” (HR. Muslim).

Demikianlah pembahasan mengenai hokum membunuh cicak dalam agama Islam ini. Semoga pembahasan dalam artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan kita dan meningkatkan keimanan kita semua terhadap Allah Subhana Hua Ta’ala. Amin.

sumber dalamislam.com

 

Kisah Islamnya Bapak Petrus Kepala Suku dan Dukun Terkenal di Mentawai

Ustadz M. Shiddieq bersama salah seorang kepala suku di Mentawai yang masuk Islam. (Foto: YMPM)

Muslim Obsession – Kisah tentang Bapak Petrus ini dapat ditemukan di sebaran tulisan di media sosial. Sumbernya adalah Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM), Muhammad Shiddieq Al Minangkabwy.

Bapak Petrus semula beragama Kristen Katolik. Ia tinggal di Dusun Tiop Desa Katurai Kecamatan Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Bapak Petrus merupakan kepala suku di kampungnya. Ia juga seorang Sikerei atau Dukun yang sangat terkenal di Mentawai. Kemasyhuran namanya dalam ilmu perdukunan tersiar baik di Pulau Siberut, Pulau Sipora, Sikakap bahkan keluar Mentawai.

Warga Mentawai sering datang untuk berobat kepadanya. Ia juga sering dipanggil untuk mengobati warga di seluruh Mentawai.

Tidak hanya warga Mentawai, bahkan masyarakat dari luar Mentawai juga sering datang berobat. Mereka datang dari Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, dan dari daerah lainnya.

Bapak Petrus juga pernah menjadi kepala desa di Mentawai dan merupakan salah seorang tokoh dan kepala suku di Mentawai.

“Ketokohan Bapak Petrus membuat kami ingin sekali untuk bisa berkenalan dan dekat dengannya. Alhamdulillah dengan izin Allah Swt. kami dipertemukan dan berkenalan dengan beliau,” tulis Muhammad Shiddieq.

Setelah berkenalan, YMPM banyak berdiskusi dengan Bapak Petrus, terutama dalam masalah pengobatan yang ia geluti.

“Masya Allah. Alangkah terkejutnya kami saat mendengarkan langsung keterangan Bapak Petrus, bahwa dalam mengobati pasien, ia menjalankannya dengan cara Islam. Doa atau zikir yang ia baca merupakan doa dan zikir yang terdapat dalam ajaran Islam. Sama sekali tidak ada ajaran dan tuntunan yang ada dalam ajaran agamanya,” paparnya.

Bapak Petrus membagi tata cara pengobatan menjadi tiga tahapan, yaitu sebelum mengobati, saat mengobati, dan di akhir pengobatan.

Sebelum memulai pengobatan Bapak Petrus membaca “Bismillahirrahmanirrahim,
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim”.

Saat mengobati, ia juga membaca doa,
“Bismillahi Allahu Akbar,
Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir”.

Sementara di akhir pengobatan, ia akan membaca “Ilahi rabbi subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin”.

Inilah bacaan yang dibaca Bapak Petrus. Meskipun doa dan zikir yang dibacanya masih sangat sedikit, namun dengan keyakinannya yang sangat bulat pada kebenaran doa dan zikir yang ia baca, dapat melambungkan namanya sehingga ia menjadi Sikerei atau dukun terkenal.

Ketika pihak YMPM bertanya, dari mana Bapak Petrus mendapatkan bacaan doa dan zikir tersebut, ia lalu bercerita.

“Dahulu, saat sedang asyik memancing ikan di tepi laut Mentawai, saya melihat ada satu buku yang hanyut. Seketika itu juga buku yang hanyut tersebut langsung saya ambil. Buku itu berjudul Doa dan Dzikir untuk Penyembuhan dalam Ajaran Islam,” kisahnya.

Karena beragama Nasrani, Bapak Petrus tidak pandai membaca doa atau dzikir dalam tulisan Arab. Ia hanya membaca doa dan dzikir itu dalam bahasa latin saja.

Meskipun dengan lidah yang tidak fasih, akhirnya doa dan dzikir singkat tersebut mampu dihafal olehnya.

Sejak saat itulah Bapak Petrus menjadi kepala desa, kepala suku, dan dukun terkenal di Mentawai.

Dalam perjalanan yang cukup panjang, lebih kurang tiga bulan lamanya, YMPM aktif dan rutin berdiskusi dengan Bapak Petrus. Bahasan diskusi lebih banyak soal pengobatan dalam ajaran Islam.

Berbekal sebagai praktisi Thibbun Nabawy (pengobatan dengan cara Nabi Muhammad Saw.) di Sumatera Barat, baik dalam bidang Ruqyah Syar’iyyah, Bekam, dan lainnya, aktivis YMPM berbagi ilmu dengan Bapak Petrus. Dengan jelas dan tegas mereka sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa doa dan dzikir yang sudah ia praktikkan selama ini masih teramat sedikit dan ia perlu meningkatkan terus kemampuannya untuk mengobati orang. Oleh karenanya ia perlu memperbanyak hafalan doa dan dzikir yang ada dalam ajaran Islam.

“Kami sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa sedikit ilmu dan pengamalan Islam yang ia kerjakan, sekalipun Bapak Petrus beragama di luar Islam, telah terbukti membuatnya dipercaya banyak orang. Bayangkan kalau sekiranya ilmunya lebih banyak tentang Islam, pengamalan Islam semakin banyak pula dan apalagi kalau Bapak Petrus menjadi seorang Muslim, insya Allah ia akan semakin memberikan manfaat bagi banyak orang,” jelas Muhammad Shiddieq.

Sebagai seorang dai, ia pun berjanji akan mengajarkan ilmu Islam dan pengobatan Islam kepada Bapak Petrus sejauh yang ia mampu.

Mendengar itu, Bapak Petrus menjadi terharu dan tertegun, ia terus berfikir panjang. Selama tiga bulan YMPM terus berdiskusi membahas, mengkaji, dan mendalami ajaran Islam yang mulia dan rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya dengan limpahan hidayah dan kasih sayang dari Allah Swt., Bapak Petrus seorang kepala suku dan dukun terkenal tersebut mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Alhamdulillah, sekarang Bapak Petrus telah menjadi saudara kita seakidah dengan keinginannya sendiri, tanpa ada paksaan dan desakan dari siapapun,” ucap Muhammad Shiddieq.

Allahu Akbar… Nama yang semula Petrus berganti menjadi Umar Al-Faruq.
Sekarang ia disapa dengan nama Bapak Umar.

Namun demikian, Bapak Umar Al-Faruq belum sunat atau khitan. Ia konon merasa malu jika disunat di Mentawai.

Insya Allah sesudah Idul Fitri 1439 H/2018 M ini YMPM berencana akan membawa Bapak Umar untuk sunat di Kota Payakumbuh, sekretariat YMPM Sumbar, sekaligus akan mengikuti bimbingan atau pembinaan ajaran Islam.

“Di malam Ramadhan yang penuh berkah ini kami terus berdoa, semoga semakin banyak manusia yang mendapatkan hidayah. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin…,” harap Muhammad Shiddieq.

Penyunting Vina Agustina muslimobsession.com

Cara Melatih Anak hafal Quran Sejak Dalam Kandungan

Mungkin ada yang bertanya bagaimana mungkin bisa mengajari anak menghafal AlQuran sejak dari kandungan, padahal kita saja merasa kesulitan menghafalkan AlQuran. Kita semua telah tahu bahwa bayi yang masih dalam kandungan dapat mendengar suara apa saja dari dunia luar dan merekamnya di dalam otaknya. Ketika sang ibu setiap hari membaca Al Quran, secara otomatis bayi dalam kandungannya pun akan turut mendengarkan bacaan Al Quran tersebut. Sehingga pada saat lahir bayi sudah terbiasa dengan bacaan AlQuran yang diperdengarkan kepadanya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenalkan bacaan AlQuran terhadap anak yang masih berusia dini dimana otaknya sangat mudah untuk merekam berbagai macam hal, diantaranya adalah dengan membacakannya secara ‘talaqi” atau dengan bantuan media lain seperti memperdengarkan MP3 murotal dan sebagainya.

Cara ini pula yang pernah dilakukan oleh para shahabat dan telah menjadi tradisi mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Mereka memilki perhatian yang sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak. Sehingga kalau kita membaca kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang suksesnya para ulama dalam menghafalkan Al-Quran di usia sebelum mencapai sepuluh tahun. Sebut saja Imam Syafi’i, peletak Madzhab Asy-Syafi’iyyah, beliau berhasil menghafal Al-Quran 30 juz diusia 7 tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, diataranya tafsir jalalain dan tafsir Al-Durrul mantsur, belum genap delapan tahun usianya, beliau telah sukses menghafal Al-Quran 30 juz.

METODE/CARA MENGAJARI ANAK MENGHAFAL AL QUR’AN SEJAK USIA DINI.
1. BAYI (0-2 TAHUN)
– Bacakan Al Qur’an dari surat Al fatihah
– Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
– Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
– Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan cara yang sama
– Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1×2

2. DI ATAS 2 TAHUN
– Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya,dari 5 hari menjadi 7 hari
– Sering didengarkan murattal/

3. DI ATAS 4 TAHUN
– Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
– Ajari muraja’ah/mengulang-ulang sendiri
– Ajari menghafal sendiri
– Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
– Waktu menghafal 3-4x perhari

Selain itu ada hal lain yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan hafalan Al Quran putra-putri Anda yaitu:

Perdengarkan Ayat Al-Qur’an Setiap Hari
Perdengarkan ayat Al-Qur’an di rumah setiah hari. Tidak menjadi soal apakah Anda tenang mendengarkan atau sembari bermain dan melakukan aktivitas lainnya. Meski terlihat tidak memperhatikan, tetapi sebenarnya otak bawah sadarnya telah merekam bacaan ayat Al-Qur’an yang didengar. Sehingga seringkali anak akan hafal dengan sendirinya. Hal ini mirip dengan mendengarkan lagu-lagu lainnya, tanpa disadari anak akan hafal lirik lagu tanpa mempelajarinya.

Konsisten
Cara selanjutnya yaitu konsisten. Usahakan untuk konsisten dan jangan terputus-putus. Bila belajar Al-Qur’an dilakukan secara berkelanjutan bisa jadi ketika anak baru berusia 6 atau 7 tahun sudah bisa menghafal 30 jus Al-Qur’an. Karenanya konsisten menjadi kunci utama dari keberhasilan mengajari anak menghafal Al-Qur’an.

Menjadi Teladan Untuk Anak
Anak merupakan peniru hebat. Para orang tua pun seolah menjadi cerminan dari anak itu sendiri. Karenanya jadilah teladan baik untuk anak. Bila orang tua rajin membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, tentu anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Pada tahap permulaan mungkin anak masih banyak melakukan kesalahan pelafalan atau saat membaca. Namun, tidak perlu dimarahi karena semua merupakan tahapan belajar.

Berikan Hadiah Untuk Prestasi Hafalan Anak
Bila anak sudah berhasil menghafal ayat Al-Qur’an tidak ada salahanya selaku orang tua memberikan hadiah yang disukai anak. Selain itu, bisa juga menjanjikan hadiah lain dengan syarat anak menghafal ayat Al-Qur’an yang lainnya. Cara ini bisa diterapkan bagi anak yang sudah berusia 5 tahun ke atas. Pada rentang usia tersebut seringkali anak memiliki ketertarikan dan keinginan pada sesuatu. Jadi bila anak meminta sesuatu kepada orang tua, usahakan untuk memberikan apa yang diminta dengan syarat anak bisa menghafal ayat Al-Qur’an.
Sumber: http://www.cintaislami.com/

Inilah 9 Makna Penting Ramadhan

Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (infinitive) yang terambil dari kata ramidhayarmadhu yang pada mulanya berarti membakar, menyengat karena terik, atau sangat panas. Dinamakan demikian karena saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa, udara atau cuaca di Jazirah Arab sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering.

Selain itu, Ramadhan juga berarti ‘mengasah’ karena masyarakat Jahiliyah pada bulan itu mengasah alat-alat perang (pedang, golok, dan sebagainya) untuk menghadapi perang pada bulan berikutnya. Dengan demikian, Ramadhan dapat dimaknai sebagai bulan untuk ‘mengasah’ jiwa, ‘mengasah’ ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat ‘membakar’ sifat-sifat tercela dan ‘lemak-lemak dosa’ yang ada dalam diri kita.

Ramadhan yang setiap tahun kita jalani sangatlah penting dimaknai dari perspektif nama-nama lain yang dinisbatkan kepadanya. Para ulama melabelkan sejumlah nama pada Ramadhan.

Pertama, Syahr al-Qur’an (bulan Alquran), karena pada bulan inilah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Selain itu, kitab-kitab suci yang lain: Zabur, Taurat, dan Injil, juga diturunkan pada bulan yang sama.

Kedua, Syahr al-Shiyam (bulan pua sa wajib), karena hanya Ramadhan me ru pakan bulan di mana Muslim diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh. Dan hanya Ramadhan, satu-satunya, nama bulan yang disebut dalam Alquran. (QS al-Baqarah [2]: 185).

Ketiga, Syahr al-Tilawah (bulan membaca Alquran), karena pada bulan ini Jibril AS menemui Nabi SAW untuk melakukan tadarus Alquran bersama Nabi dari awal hingga akhir. Keempat, Syahr al-Rahmah (bulan penuh limpah an rahmat dari Allah SWT), karena Allah menurunkan aneka rahmat yang tidak dijumpai di luar Ramadhan. Pintu-pintu kebaikan yang mengantarkan kepada surga dibuka lebar-lebar.

Kelima, Syahr al-Najat (bulan pembebasan dari siksa neraka). Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa dan pembebesan diri dari siksa api neraka bagi yang berpuasa karena iman dan semata-mata mengharap ridha-Nya. Ke enam, Syahr al-’Id(bulan yang berujung/ berakhir dengan hari raya). Ramadhan disambut dengan kegembiraan dan diakhiri dengan perayaan Idul Fitri yang penuh kebahagiaan juga, termasuk para fakir miskin

Ketujuh, Syahr al-Judd (bulan kedermawanan), karena bulan ini umat Islam dianjurkan banyak bersedekah, terutama untuk meringankan beban fakir dan miskin. Nabi SAW memberi keteladanan terbaik sebagai orang yang paling dermawan pada bulan suci.

Kedelapan, Syahr al-Shabr (bulan kesabaran), karena puasa melatih seseorang untuk bersikap dan berperilaku sabar, berjiwa besar, dan tahan ujian.

Kesembilan, Syahr Allah (bulan Al lah), karena di dalamnya Allah melipatgandakan pahala bagi orang berpuasa.

Jadi, Ramadhan adalah bulan yang sangat sarat makna yang kesemuanya bermuara kepada kemenangan, yaitu: kemenangan Muslim yang berpuasa dalam melawan hawa nafsu, egositas, keserakahan, dan ketidakjujuran. Sebagai bulan jihad, Ramadhan harus dimaknai dengan menunjukkan prestasi kinerja dan kesalehan individual serta sosial.

Ahad 22 Juli 2012 11:45 WIB
Red: Heri Ruslan

Ramadhan (ilustrasi)
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhbib Abdul Wahab

 

Ada 5 Manfaat Puasa Untuk Anak dan Cara Mengajarkannya

Puasa adalah menahan lapar, haus dan segala perbuatan buruk yang dapat membatalkan pahala puasa dan puasa selama batas waktu yang ditentukan. Puasa diwajibkan bagi orang yang beriman. Macam-macam puasa di dalam islam sangat banyak ada yang hukumnya wajib seperti puasa pada bulan Ramadhan dan ada yang hukumnya sunnah seperti puasa pada hari senin dan hari kamis beserta manfaat puasa senin kamis dan juga manfaat puasa Daud, yang mana puasa dilakukan untuk satu hari dan pada hari berikutnya tidak menjalankan puasa begitu caranya seterusnya.

Puasa memiliki banyak manfaat berpuasa khususnya bagi anak. Bagi anak – anak yang sudah menginjak remaja maka hukum puasa adalah wajib. Tapi tidak sedikit juga anak yang menjalankan puasa setengah hari sebagai latihan pertama. Umunya mereka berusia 4 tahun sampai 8 tahun. Sebagai orang tua tugas orang tua adalah menanamkan pengertian anak tentang puasa dan lakukan pendekatan kepada anak dengan cara yang baik dan menyenangkan. Katakan kalimat motivasi sehingga mereka menjadi bersemangat dalam menjalankan ibadah puasa. Contohnya adalah dengan berpuasa menjadikan kita sehat selalu, tubuh yang sehat merupakan impian setiap orang. Menjalankan puasa dan rasakan manfaat taat kepada Allah SWT dan disayangi oleh Allah SWT.

Berikut ini adalah manfaat puasa untuk anak :

1. Puasa mendekatkan anak pada agama

Puasa adalah perintah dari Allah SWT. Sedari dini lakukan pendekatan kepada anak mengenai keindahan puasa untuk mendekatkan diri kepada Sang pencipta. Manfaat agama Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepadaNya. Sesuai dengan isi surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kamu bertakwa.

Ayat ini menjelaskan tentang hukum puasa yang diwajibkan bagi orang yang beriman. Sebagaimana orang-orang beriman yang terdahulu telah menjalankan puasa. Puasa mengajarkan banyak hal tentang kehidupan dan kesyukuran bagi anak. Latih anak sedari kecil untuk mengetahui apa pengertian puasa, ayat – ayat yang mewajibkan puasa dan bagaimana cara yang benar dalam menjalankan puasa mulai dari sahur niatnya sampai dengan berbuka puasa saat azan maghrib berkumandang di mesjid.

Anak diajarkan berpuasa agar melatih mereka menyadari keberadaan Sang pencipta pada diri mereka. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

2. Puasa mengajarkan kedisiplinan bagi anak

Dengan berpuasa anak akan diajarkan kedisiplinan soal waktu. Dalam berpuasa setiap hari anak juga akan diajarkan bangun pagi untuk makan sahur. Ajarkan juga anak untuk berdoa sebelum sahur sebagai niat menjalankan ibadah puasa. Bangun pagi ini akan menjadi kebiasaan bagi anak di pagi hari. Manfaat olahraga juga baik dilakukan pada pagi hari.

Begitu juga saat berbuka puasa ajarkan anak doa berbuka puasa. Berbuka puasa baiknya dengan manfaat sari kurma karena dianjurkan berbuka dengan rasa manis. Ajarkan juga anak untuk bersyukur bahwa mereka telah menyelesaikan puasa mereka dengan sungguh-sungguh. Kedisiplinan sangat penting diajarkan mulai sedini mungkin karena akan melatih anak disiplin dalam segala hal yang dikerjakannya saat sudah besar nanti.

3. Puasa mengajarkan rasa empati

Rasa empati dapat timbul dari kebiasaan salah satunya dengan berpuasa. Menjalankan puasa mengajarkan anak berempati menghargai setiap hal yang di dapatnya dalam skala kecil mulai dari makanan dan minuman. Berbagi manfaat air putih bersama temannya mengajarkan pada mereka bahwa di luar sana banyak anak yang mengalami nasib tidak seberuntung mereka. Rasa empati menjadikan anak peduli pada lingkungan sekitar.

4. Puasa menjadikan tubuh anak lebih sehat.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat puasa bagi kesehatan tubuh manusia. Puasa membantu pola makan anak menjadi teratur. Waktu makan dengan puasa sudah ditentukan yakni pada saat sahur dan berbuka puasa. Dalam berpuasa orang tua dapat memilihkan makanan yang mengandung gizi dan nutrisi manfaat buah-buahan yang diperlukan anak untuk masa pertumbuhannya.

Jadi orang tua tetap dapat memberikan makanan yang mencukupi gizi anak dalam masa pertumbuhan contohya manfaat nasi, manfaat ikan dori, manfaat susu, manfaat air kelapa muda dan manfaat teh hangat. Anak jadi sehat karena jarang jajan diluar tapi lebih sering berbuka puasa dirumah dengan kedua orang tua. Berbuka puasa bersama juga membuat kedekatan antara orang tua dan anak semakin baik. Komunikasi yang terjalin saat berbuka bersama menjadikan orang tua lebih peka akan kemauan sang anak.

5. Puasa megajarkan kejujuran bagi anak

Sikap jujur sudah sangat langka pada zaman sekarang ini. Dengan berpuasa sikap jujur sudah ditanamkan pada anak. Anak berpuasa melatih mereka untuk jujur pada orang tua, teman – teman dan juga diri mereka sendiri. Jujur pada diri sendiri didapat dengan mereka menyadari harus menahan rasa lapar, rasa haus dan sikap mereka. Ini karena anak sadar bahwa mereka sedang berpuasa. Puasa mengajarkan untuk menahan segala sesuatu yang dapat membatalkan pahala puasa. Anak akan menyadari itu sehingga membuat mereka cenderung menjauhi segala hal yang dapat membatalkan pahala puasa mereka.

Cara Mengajarkan Anak Berpuasa
Diusia anak 4 tahun sampai 8 tahun mereka masih dalam masa tumbuh dan sedang asik – asiknya bermain. ajarkan pengertian puasa pada mereka. Kemudian ajak mereka untuk lansung latihan puasa.
Melatih puasa bagi anak pada awal – awal latihan tidak harus sampai sehari penuh. Pastikan anak latihan puasa setengah hari dulu dan mereka berhasil. Beri motivasi terus sampai mereka dapat menyelesaikan puasa satu hari penuh. Beri anak pujian jika mereka dapat melakukannya ini akan menjadikan mereka bersemangat dalam menjalankan puasanya.
Temani anak dalam menjalankan puasa. Ajarkan juga mereka manfaat sholat dan manfaat zikir. Dengan adanya orang tua disamping mereka ini akan membuat anak tambah bersemangat dan termotivasi karena melihat orang tuanya yang juga berpuasa. Anak akan berpikir bagaimana orang tua mereka tetap dapat melakukan segala macam pekerjaan rumah dengan tetap menjalankan puasa.
Ajarkan anak tentang pahala puasa dan manfaat puasa. Anak – anak sangat senang mendengarkan cerita – cerita tentang puasa dari orang tua mereka. Ini menuntut orang tua untuk aktif dalam memberikan manfaat pendidikan karakter bagi anak berpuasa. Anak juga akan semakin kreatif karena sering mengajukan pertanyaan tentang puasa yang ingin mereka ketahui.
Dengan mengajarkan anak berpuasa sedari kecil sangat baik untuk kesehatan anak. Anak menjadi disiplin dan memiliki rasa empati terhadap teman – teman dan lingkungannya. Dan manfaat dari segi agama mereka akan tumbuh menjadi anak yang sholeh bagi orang tuanya.

sumber manfaat.co.id

Awas! Jangan Lupa Mengatur Waktu Dalam Bulan Ramadhan

Hari-hari Ramadhan adalah rentang waktu berlipat pahala yang tidak ada batasnya. Jam-demi jamnya adalah rangkuman kasih sayang Allah Ta’ala kepada haba-hambanya. Menit demi menit adalah hembusan angin surga yang menyejukkan. Detik-demi detiknya adalah kesempatan yang tidak ternilai dalam bentangan umur kita.


Karena itu mengagendakan kegiatan selama Ramadhan menjadi sangat penting. Melalui hari-harinya dengan amal harus menjadi tekad kita semua. Berikut ini agenda yang bersifat usulan sekaligus nasehat bagaimana menata waktu-waktu kita di bulan Ramadhan.

Dari Sahur Sampai Subuh
Upayakan bangun sebelum fajar, sekitar pukul 04.00 pagi. Ini adalah waktu sepertiga akhir malam terakhir yang istimewa. Qiamullaillah meski hanya dua rakaat!. Jangan lupa bangunkan keluarga anda untuk shalat malam. Apabila Umar bin Khatthab baangun beliau segera membangunkan keluarganya untuk shalat. Ia berseru: “Shalat, shalat! Seraya membacakan ayat ini “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezki kepadamu”(QS.Thaha:132)

Mungkin banyak di antara kita yang melalaikan waktu yang berharga ini dengan alasan malamnya sudah melaksanakan shalat tarawih. Padahal mestinya waktu-waktu sepertiga akhir malam harus tetap bisa dihidupkan lebih banyak dari pada bulan-bulan yang lain.
Setelah itu kita bersahur karena memang sahur adalah sunnah Rasulullah. Jangan lupa banyak beristghfar dan berdo’a sebab waktu-waktu ini adalah waktu istijabah.

Setelah Shalat Subuh
Berhati-hatilah dari terpaan rasa kantuk. Berusahalah tidak tidur dalam ruas waktu setelah subuh hingga terbit matahari. Para Salafus shalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu.

Ibnul Qayyim dalam Madaarijus Salikin mengatakan, “di antara tidur yang tidak disukai menurut mereka adalah tidur antara shalat shubuh dan terbitnya matahari, karena waktu untuk memperoleh hasil bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehingga andai merekapun melakukan perjalanan (kegiatan) semalam suntuk pun, belum tentu bisa menandinginya.”Karena itu duduklah berdzikir sesudah shalat subuh, dan bertahanlah dari rasa kantuk. Karena kebiasaan akan terbentuk setelah melalui tiga hari dengan ritme yang berbeda. Selanjutnya kita tidak lagi merasakan kantuk sedahsyat sebelumnya, insya Allah.

Setelah itu shalatlah dua rakaat begitu matahari terbit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,”Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia seakan-akan memperoleh pahala haji dan umrah (HR.Tirmizi, dishahihkan Al-Albani)

Saat Bekerja
Di antara kita banyak yang memiliki rutinitas mencari nafkah dan belajar di bulan Ramadhan. Bekerjalah dengan tetap bersemangat dan teliti. Selingilah waktu kerja-kerja kita dengan tetap berdzikir dan tidak meninggalkan shalat lima waktu berjamaah di masjid-masjid kaum muslimin. Teruslah berupaya menambah amal-amal sunnah yang bisa dilakukan saat bekerja. Seperti mengajak orang kepada kebaikan, bersedekah, ikut berkonstribusi dalam pelaksanaan kegiatan dakwah di masjid kantor pada bulan ramadhan. Atau kita aktif melarang kemungkaran, misalnya dengan mencegah orang berghibah,mengadu domba dll.

Pertengahan Siang
Berusahalah untuk tetap istirahat sekitar 15 hingga 30 menit menjelang atau sesudah Dzuhur. Istirahat atau tidur pada rentang waktu ini disebut dengan qailulah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para salafus shalih biasa melakukan qailulah ini. Qailulah ini adalah merupakan simpanan energi bagi mereka yang gemar melakukan qiamullail. Waktunya mungkin tidak lebih dari setengah jam, tapi manfaatnya sangat terasa ketika kita bangun qiamullail

Waktu Shalat Ashar
Shalatlah berjamaah di masjid. Ingatlah lipatan pahala di bulan ini. Bila usai shalat dan pekerjaan anda sudah selesai. Luangkanlah waktu anda membaca. Di sampaing membaca al-Qur’an tentunya, bacalah juga buku-buku islam dengan tema yang beragam. Misalnya tentang tema tazkiyatun nafs, sirah nabawiyah, pergerakan islam dll. Atau jika anda lelah tetaplah berusaha menambah ilmu anda dengan mendengar muhadharah ilmiah melaluai kaset-kaset atau alat rekaman lainnya. Lakukanlah hal ini sampai menjelang berbuka puasa. Menjelang buka jangan lupa membaca dzikir sore sambil tetap banyak berdo’a, sebab do’a orang yang berpuasa tidak tertolak.

Waktu Maghrib
Setelah seharian penuh kita menahan lapar dan dahaga, maka tibalah saatnya kita untuk berbuka. Bersyukurlah secara lebih mendalam kehadirat Allah Ta’ala karena kita diberikan karunia untuk dapat menyelesaikan hari dengan berpuasa. Jangan lupa berdo’a dengan khusyu’ ketika berbuka, berbukalah dengan tegukan-tegukan air manis diiringi dengan kesyukuran di dalam hati. Sebaiknya kita tidak segera berbuka dengan makanan berat, kerena kita akan melaksanakan shalat maghrib berjamaah di Masjid. Usai berjamaah, lanjutkan dengan makanan berat dan akan lebih baik bila kita menundanya usai shalat Tarawih berjamaah karena lebih memudahkan kita untuk menghindari ngantuk sehingga kita menjadi khusyu’ dalam shalat. Dan jangan lupa makanlah secukupnya saja.

Waktu Isya
Bersegera menunaikan shalat Isya dan Tarawih di Masjid, berusahalah untuk disiplin, apapun keadaaannya. Jika harus terhalangi oleh kegiatan yang sangat mendesak, lakukan shalat Tarawih segera setelah kegiatan kita selesai. Sebaiknya kita menyempurnakan shalat Tarawih bersama imam, agar kita termasuk orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan shalat malam. Rasulullah Shallallahu a’laihi Wasallam bersabda, yang artinya :”Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah). Lakukanlah hal ini terus menerus sepanjang 20 hari pertama bulan Ramadhan. Untuk kaum Muslimah tentu saja agenda ini dapat dilakukan di rumah. Ingat juga, agar kita lebih banyak melakukan tilawah Al-Qur’an dan memprogramkan untuk hatam minimal sekali dalam bulan ini. (dikutip dari http://www.wahdah.co.id)

Tips Puasa Bagi Ibu Menyusui

 

Bagi Anda yang masih dalam masa menyusui, mungkin bertanya-tanya apakah ikut berpuasa di bulan Ramadhan ini aman bagi ibu maupun bayi yang disusui? Pasalnya, pada saat berpuasa, tubuh lebih banyak kehilangan cairan karena perubahan pola makan dan tidur.

Selain masalah keamanan, Anda mungkin juga penasaran dengan dampak puasa terhadap produksi ASI serta kesehatan ibu dan bayi. Kenyataannya, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Pada dasarnya, puasa atau pun penurunan asupan kalori tidak akan memengaruhi produksi ASI. Jika terjadi penurunan berat badan saat berpuasa, kondisi ini hanya akan memengaruhi kandungan lemak dalam ASI, bukan jumlahnya.

Tips Bila Ibu Tetap Menyusui Saat Berpuasa

Jika Anda semakin tertarik untuk ikut menjalani ibadah puasa sembari menyusui Si Kecil, simak beberapa tips puasa bagi ibu menyusui di bawah ini.

  • Perhatikan Asupan Saat Sahur
    Sebelum menjalani ibadah puasa hingga adzan magrib berkumandang, umumnya umat muslim akan menjalani sahur. Pada saat ini, penting bagi Anda memerhatikan apa saja yang baik untuk Anda konsumsi. Karena makanan dan cairan yang Anda konsumsi saat sahur merupakan cadangan nutrisi dan kalori selama menjalankan ibadah puasa. Untuk itu, sahur sangatlah penting. Adapun pilihan makanan yang baik untuk ibu menyusui antara lain adalah brokoli, bayam, katuk, telur, ikan salmon, daging tanpa lemak, dan kacang merah. Ibu menyusui juga bisa menambahkan suplemen vitamin D saat sahur yang dikenal bagus untuk ibu menyusui.
  • Cegah Dehidrasi
    Puasa bagi ibu menyusui memang tidak berbahaya. Tapi, dehidrasi saat menyusui bisa berbahaya. Jika ibu menyusui mengalami gejala dehidrasi, seperti merasa haus, pusing, lemas, lelah, mulut kering dan lainnya, disarankan segera membatalkan puasa dengan mengonsumsi air atau cairan yang mengandung elektrolit untuk merehidrasi tubuh. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengonsumsi cairan secukupnya ketika sahur dan juga berbuka puasa untuk menggantikan cairan yang hilang saat berpuasa. Ibu menyusui juga disarankan minum lebih banyak pada saat sahur, meski nutrisi dan kalori juga tidak kalah penting.
  • Persiapan dan menjalani puasa selagi menyusui
    puasa, menyusui  
    Sebagai ibu menyusui, Anda pasti tetap menjalankan tugas di rumah dan mungkin bekerja di kantor. Usahakan untuk melakukan tugas berat ketika sudah berbuka puasa. Dan pastikan Anda berada di tempat teduh serta beristirahat yang cukup selama menjalani puasa dan menyusui. Jika diperlukan, catat makanan dan minuman yang Anda konsumsi selama berpuasa. Ini akan membantu mengukur nutrisi dan cairan yang Anda konsumsi. Studi menunjukkan bahwa selama berpuasa kandungan potasium, magnesium, dan zinc yang terkandung di dalam ASI dapat berkurang. Siasatilah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung ketiga nutrisi tersebut, atau Anda bisa menambahkan suplemen. Pahami apa yang dirasakan oleh tubuh, jika merasa tidak enak badan, segera konsultasikan dengan dokter.

Selain memerhatikan beberapa tips puasa bagi ibu menyusui di atas, perlu juga Anda ingat bahwa jika Anda benar-benar ingin menjalankan puasa, perhatikanlah cairan yang Anda konsumsi. Karena menyusui dapat membuat Anda mengalami dehidrasi akibat dari kehilangan cairan tubuh. Ketika dehidrasi menyerang, tubuh tidak hanya merasa haus tapi juga merasa lapar, cepat lelah, mengantuk, dan emosional. Pastikan untuk minum air secukupnya dan jika perlu tambahkan cairan yang mengandung elektrolit dan ion untuk mempercepat penggantian cairan tubuh yang hilang. Jadi, sebelum memutuskan untuk berpuasa sambil menyusui, pertimbangkan pula apakah Si Kecil masih di bawah 6 bulan atau sedang membutuhkan ASI eksklusif. Anda juga bisa bertanya pada dokter sebelum memutuskan ikut berpuasa.

by alodokter.com

Perbuatan yang Tidak Boleh Dilakukan Selama Puasa Romadhon

Larangan puasa merupakan hal-hal yang harus dihindari selama berpuasa. Larangan puasa itu akan membatalkan puasa jika dilakukan. Orang yang tengah berpuasa tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman. Namun, juga memuasakan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Memuasakan lisan dari perkataan yang kotor dan keji sehingga jadilah diri kita sebagai pribadi dengan akhlak yang terpuji.

Larangan puasa itu sendiri sudah diatur dalam Alquran dan hadis Nabi saw.. Supaya puasa kita tidak sia-sia, kita perlu tahu hal-hal yang merupakan larangan puasa. Sebagaimana makan dan minum akan membatalkan puasa kita, perbuatan dosa juga akan membatalkan pahala puasa kita. Jadilah kita melakukan hal yang sia-sia.

Larangan Puasa

Makan dan Minum dengan Sengaja
Jauhi hal-hal yang dilarang selama berpuasa agar tidak menggugurkan pahala puasa kita. (sumber: lh4.googleusercontent.com)

Jika kita mendengar kata larangan, sudah pasti hal itu tidak boleh dilakukan. Larangan puasa apa saja yang harus kita hindari? Mari simak penjelasannya di bawah ini!

  1. Makan dan minum dengan sengaja di siang hari saat tengah menjalankan ibadah puasa. Jika kita melanggarnya sudah pasti puasa kita akan batal.
  2. Melakukan hubungan badan di siang hari. Jika hal ini dilakukan, yang bersangkutan harus membayar denda atau kifarat. Denda atau kifarat yang harus dibayarkan bagi suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari adalah memerdekakan seorang budak. Jika tidak mampu, hal itu dapat diganti dengan puasa selama dua bulan berturut-turut. Jika hal itu tidak mampu juga, yang bersangkutan diharuskan memberi makan enam puluh orang miskin. Jika tidak mampu juga, kifarat tersebut harus dilaksanakan sampai yang bersangkutan merasa mampu.
  3. Memasukkan makanan ke dalam perut. Hal yang termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang yang sedang berpuasa.
  4. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga. Hal ini disebabkan sentuhan, ciuman, atau melakukan onani. Keluarnya mani karena sedang bermimpi tidak membatalkan puasa karena hal tersebut terjadi secara tidak sengaja.
  5. Muntah dengan sengaja. Sebagai contoh, memasukkan benda ke dalam tenggorokan hingga menjadikan muntah. Hal itu tidak boleh dilakukan selama berpuasa dan itu membatalkan puasa kita.
  6. Keluarnya darah haid dan nifas. Haid merupakan peristiwa rutin yang dialami seorang perempuan. Demikian pula dengan nifas. Hal itu akan dialami seorang perempuan usai melahirkan. Seorang perempuan jika mengalami haid maupun nifas, ia dilarang untuk melaksanakan puasa. Namun, perempuan yang mengalami haid maupun nifas wajib mengganti puasa di waktu yang lain.
  7. Bersaksi palsu. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sahihnya dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan omongan dusta dan tidak pula meninggalkan perbuatan tercela dalam puasanya, tidak ada keperluan bagi Allah untuk dia meninggalkan makanan dan minumannya. (H.R. Bukhari, hadis ke 1.903)
  8. Melakukan perbuatan yang sia-sia. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw., “Bukannya puasa itu hanya meninggalkan puasa dan minum. Hanyalah yang dinamakan puasa itu ialah mereka yang meninggalkan perbuatan sia-sia dan juga meninggalkan omongan keji. Jika ada yang mencerca engkau atau berbuat dengan perbuatan bodoh terhadapmu, katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya aku dalam keadaan puasa.’” (H.R. Hakim dalam Mustadraknya jilid hlm. 430–431 dari Abi Hurairah)
  9. Murtad atau keluar dari agama Islam. Sudah pasti hal ini merupakan larangan puasa. Jika seseorang keluar dari agama Islam, dia tidak terkena kewajiban untuk menjalankan puasa. Namun, murtad merupakan dosa besar yang akan menghapuskan segala amal kebaikan.

Demikian hal-hal yang merupakan larangan puasa. Mari kita isi Ramadan kita kali ini dengan sebaik-baik perbuatan sebagai bekal menuju kehidupan kita di akhirat nanti. Insya Allah.

Inilah Amalan Bulan Ramadhan Sesuai Sunnah (Ibadah Sunnah Ramadhan) dan Tuntunan Para Ulama

Bulan Ramadhan, kita sebagai muslim semua diperintahkan untuk menjalankan ibadah wajib puasa Ramadhan dan zakat fitrah sebagai sarana taat kepada Allah, dan Allah Ta’ala memberi ampunan-Nya untuk kita yang menunaikan ibadah tersebut ikhlas karenaNya.

Selain itu, bulan ramadhan adalah bulan yang penuh dengan kebaikan, setiap amal kebaikan dilipatgandakan, setiap dosa diampuni jika seorang hamba kembali kepada Allah (bertaubat), Ramadhan adalah bulan penuh ampunan.

Oleh karena itu, jangan sampai kita melewatkan bulan mulia ini, bulan penuh ampunan dan kesempatan terbaik untuk bertaubat. Tidak sedikit pula, seorang hamba yang tidak mendapatkan apa-apa dari berpuasa kecuali lapar dan haus, dalam hadits riwayat Ath-Tahbrani,

“Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya menahan lapar dan dahaga saja.” (HR. Ath-Thabrani)

Untuk itu, mari kita tunaikan ibadah puasa ramadhan dan amalan-amalan sunnah lainnya dengan sungguh-sungguh dengan ikhlas dan sebagai sarana ketaatan kita kepada Allah Swt.

Selain ibadah wajib dibulan ramadhan, amalan sunnah (ibadah sunnah) juga kita maksimalkan sebagai sarana taat dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Amalan-amalan sunnah ini bisa menjadi pelengkap atau penyempurna ibadah wajib kita di bulan Ramadhan.

Berikut amalan-amalan sunnah yang bisa kita laksanakan di bulan suci ini.

Amalan Bulan Ramadhan

Telah Allah Swt. sampaikan dalam firmanNya di surat Al Qadar, bahwasannya Al Quran Allah diturunkan pada saat Bulan Ramadhan tepatnya pada malam Lailatul Qadar,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadar)” (QS. Al-Qadar: 1).

Oleh karena peristiwa itu, Ramadhan juga dikenal sebagai bulan Al Quran. Berikut amalan-amalan yang berkenaan dengan bulan Al Quran dan amalan lain yang bisa kita kerjakan, semoga Allah Swt meridhoi kita semua.

1. Tadarrus Al Quran

Rasulullah dan para sahabat memiliki kebiasaan merutinkan dan melebihkan dalam bertadarrus Al-Quran. Menurut hadits riwayat Ibnu Abbas ra, beliau berkata,

“Rasulullah. adalah orang yang paling pemurah terlebih-lebih dalam bulan Ramadhan, bulan dimana beliau selalu ditemui Jibril. Jibril menemuinya setiap bulan Ramadhan untuk bertadarrus Al Quran.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ramadhan bisa dijadikan momen spesial  untuk merutinkan serta melebihkan dalam membaca Al-Quran, tertuama bagi kita yang jarang membaca Al Quran di bulan bulan lainnya.

Dengan datangnya Ramadhan ini, kita bisa lebih giat membacanya, jika perlu carilah guru untuk bisa mengajari memahami maknanya dan mengamalkannya.

Membaca Al-Quran didalamnya terdapat banyak sekali kebaikan, terlebih Allah akan melipat gandakan pahala berkali-kali lipat pada setiap amalan yang dilakukan ummat Islam di bulan suci Ramadhan.

Sebuah keutamaan yang tidak pernah Allah berikan kepada ummat Islam di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, begitu sangat rugi jika kita lalui Ramadhan hanya dengan rasa lapar dan dahaga tanpa amalan lain yang bisa mendekatkan kita kepada Allah di bulan Ramadhan.

2. Mengkhatamkan Al Quran

Amalan ini dicontohkan oleh para salafussholih, berikut dasar riwayatnya, “Imam Syafi’i rahimahullah mengkhatamkan Al Qur’an pada setiap bulan Ramadhan sebanyak 60 kali, dan setiap bulannya mengkhatamkan sebanyak 30 kali” (Ar’Rabi’ (murid Imam Syafi’i))

“Al-Rabi’ berkata : “Imam al-Syafi’i mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 60 kali. Aku bertanya : “Apakah didalam shalat pada bulan Ramadhan ?”. Ia menjawab : ”benar”.

Diriwayatkan oleh Al-Sayyid Al-Jalil Ahmad Al-Duraqi dengan sanadnya dari Manshur Zadan termasuk tabi’in, dimana ia mengkhatamkan al-Qur’an diantara Dhuhur dan ‘Ashar, –

Ia (Imam Syafi’i) juga mengkhatamkan al-Qur’an antara Maghrib dan ‘Isya’, dan mengkhatamkan Al-Qur’an antara Maghrib dan ‘Isya’ sebanyak 2 kali pada bulan Ramadhan, ia mengakhirkan Isya’ pada bulan Ramadhan sampai seperampat malam.

Bagi seorang yang sudah bisa membaca al quran dengan baik dan benar (tartil) mengenai hukum-hukum bacaan / tajwidnya, membaca al quran 1 juz / hari akan bisa diselesaikan dengan cepat tanpa memberatkan. Namun berbeda untuk seseorang yang masih dalam belajar.

Bilamana seseorang belum begitu lancar dalam membaca Al-Qur’an (karena masih belajar), tentunya ini akan memberatkan jika tidak dibarengi dengan manajemen waktu yang baik, terlebih seseorang yang memiliki kesibukan lebih seperti bekerja.

Dikhawatirkan, seseorang yang hanya mengejar target khatam Al-Qur’an namun dalam membacanya belum baik dan benar justru akan mengurangi nilai keberkahannya.

Karena jika hanya berfokus mengejar target menyelesaikan bacaan hingga khatam, dan dengan sengaja tidak mempedulikan kebenaraan bacaan hal tersebut bukanlah memuliakan al-quran, justru yang seperti itu adalah sebaliknya.

Kita semua diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan dengan benar, seperti firman Allah, dalam Al-Qur’an surat Al-Muzammil ayat 4, Allah Swt berfirman yang artinya,

“Dan bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil)” (Al-Muzzammil 4)

Sebaiknya, menyesuaikan keadaan. meskipun sedikit namun membacanya dengan baik dan benar tanpa terburu-buru dan dilakukan dengan istiqomah. Seperti yang disampaikan guru ngaji saya, membaca Al-Qur’an beda pengucapan panjang dan pendek dalam hukum tajwid sudah merubah makna.

Jadi kita perlu berhati-hati dalam membaca Al-Qur’an sebagai sarana memuliakan Al-Qur’an. Dan perlu difamani juga, tidak perlu takut atau khawatir dalam membaca al-quran jika kita belum lancar membacanya.

Seseorang yang belajar Al-Qur’an dengan ikhas ada banyak kebaikan dan pahala untuknya, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Seorang yang lancar membaca Al Quran akan bersama para malaikat yang mulia dan senantiasa selalu taat kepada Allah, adapun yang membaca Al Quran dan terbata-bata di dalamnya dan sulit atasnya bacaan tersebut maka baginya dua pahala” (HR. Muslim).

Bagaimanapun juga membaca Al-Qur’an mendatangkan kebaikan, syaratnya adalah dengan pula memuliakannya serta ikhlas karena Allah Swt. Jika sekiranya mampu, meskipun bacaan masih belum lancar. Sangat dianjurkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dibulan Ramadhan.

3. Menyegerakan Berbuka

Diantara sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam berpuasa ialah sahur dan ifthar (berbuka puasa). Kedua hal ini tidak pernah sama sekali ditinggalkan oleh beliau, bahkan sahur merupakan pembeda antara puasa nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya dengan puasa kalangan ahlul kitab.

Oleh karena itu kita dapati dalam banyak hadits yang menunjukan perhatian dan antusias beliau dalam bersahur dan berbuka.  Pembahsan ini akan menguraikan berkenaan dengan ifthar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni menyegerakan berbuka (ifthar).

Beliau berbuka setelah terbenam matahari dan sebelum shalat maghrib, (setelah masuk masuk waktu berbuka puasa). Menurut Abu Darda radhiyallahu ‘anhu hal ini meruapakan salah satu dari akhlak para Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Thabrani dalam al-Mu’jam al-kabir bahwa;

“Ada tiga perkara yang termasuk akhlaq para Nabi; menyegerakan ifthar, mengakhirkan makan sahur, dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri ketika (berdiri) dalam shalat” (Majma’ az Zawaid 2/150)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, mengabarkan tentang kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka terlebih dahulu sebelum menunaikan shalat maghrib.

Beliau, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka puasa sebelum melakukan sholat magrib dengan ruthob, jika tidak ada ruthob maka beliau berbuka tamar dan jika tidak ada tamar maka beliau meminum beberapa teguk air putih”. HR Abu Dawud (no. 2356)

Menyegerakan ifthar hal itu termasuk perkara kebaikan. Orang yang melakukannya sangat dicintai oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut;

Dari Sahal bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits Qudsi diterangkan bahwa Allah mencintai orang yang menyegerakan buka puasa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

Allah Ta’ala berfirman, “Sesunggunya hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling menyegerakan ifthar

Sunnah Nabi Saw dalam mengawali berbuka yaitu dengan Kurma 

“Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah),  jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air” HR. Abu Dawud (no. 2356)

4. Makan Sahur

Dalam makan sahur terdapat keberkahan, makan sahur adalah suatu hal yang disunnahkan dan dianjurkan untuk diakhirkan. Dari Anas bin Malik, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makan asalnya mubah (boleh). Namun jika makan seperti ini diniatkan untuk taqorrub (mendekatkan diri) pada Allah dan menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka bisa berubah menjadi hal yang disunnahkan.

Hadits ini menunjukkan dianjurkannya mengakhirkan makan sahur karena kata sahur dalam bahasa Arab dimaksudkan untuk akhir malam.

Kata ‘sahuur’ berbeda dengan kata ‘suhuur’. Sahuur berarti makanan yang dimakan di waktu sahur. Sedangkan suhuur bermakna aktivitas makan sahur. Jadi yang satu berarti makanan dan yang lain berarti (aktivitas) makan.

Semoga dengan menjalankan anjuran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan makan sahur ketika hendak berpuasa mendatangkan barokah dan anugerah dari Allah Swt.

5. Memberi Makan Orang Yang Berbuka

Seringkali ketika dalam suatu perjalanan saat Ramadhan kita menjumpai banyak sekumpulan orang sedang membagi-bagikan takjil atau nasi untuk berbuka puasa bagi para musafir yang sedang dalam perjalanan.

Hal itu mereka lakukan karena keutamaan yang didapat dari amalan itu seperti yang disabdakan oleh Nabi kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Artinya, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga,” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Al Munawi rahimahullah juga menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. (dari kitab Faidul Qodhir, 6/243)

6. Memperbanyak Bersedekah

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Islam sering menganjurkan ummatnya untuk memperbanyak sedekah. Dan bulan Ramadhan, amalan ini menjadi lebih dianjurkan lagi.

Demikianlah sepatutnya akhlak seorang mukmin, yaitu dermawan. Allah dan Rasul-Nya memerintahkan bahkan memberi contoh kepada umat Islam untuk menjadi orang yang dermawan serta pemurah. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.” (HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)

Tertulis dalam sebuah buku berjudul, “100 Hikmah Ramadhan Republika” Alm. Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub mengatakan bahwa Rasulullah lebih mendahulukan ibadah sosial (Ibadah Muta’addiyah) yakni infaq / bersedekah daripada ibadah-ibadah individual (Ibadah Qashiroh) seperti umroh, sholat, dsb, pada bulan Ramadhan.

Oleh karena itu, Rasulullah lebih memilih banyak bersedekah atau infaq.

Rasulullah ditanya: “Sedekah manakah yang paling utama? beliau menjawab: Sedekah di Bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi).

Sedekah juga bisa kita niatkan sebagi penggugur dosa.

Dengan bersedekah dilandasi ketaan kepada Allah dapat menghapuskan dosa-dosa bagi pelakunya. Seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

7. Sholat Qiyyamul Ramadhan (Sholat Tarawih)

Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyamul ramadhan). Dan yang paling penting diingat ialah shalat tarawain dapat dilakukan dirumah sekalipun.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib karena semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah.

Sholat tarawih adalah sholat yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dimalam bulan Ramadhan, Dalil mengenai sholat tarawih ini adalah sebagai berikut:

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam salat di masjid lalu para sahabat mengikuti salat Dia, kemudian pada malam berikutnya (malam kedua) Dia salat maka manusia semakin banyak (yang mengikuti salat nabi), kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau malam keempat. –

Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar pada mereka, lalu ketika pagi harinya Dia bersabda: ‘Sungguh aku telah melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku khawatir akan diwajibkan pada kalian,’ dan (peristiwa) itu terjadi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Terdapat beberapa praktik tentang jumlah raka’at dan jumlah salam pada salat Tarawih. Pada masa Nabi Muhammad salat Tarawih hanya dilakukan tiga atau empat kali saja, tanpa ada satu pun keterangan yang menyebutkan jumlah raka’atnya.

Pada zaman khalifah Umar salat Tarawih dihidupkan kembali dengan berjamaah, dengan jumlah 20 raka’at dilanjutkan dengan 3 raka’at witir.

Sejak saat itu umat Islam di seluruh dunia menjalankan salat Tarawih tiap malam-malam bulan Ramadhan dengan 20 raka’at. Empat mazhab yang berbeda, yaitu mazhab Al-Hanafiyah (8 rakaat), Al-Malikiyah (sebagian 8 atau 20 rakaat) , Asy-Syafi’iyah (20 rakaat) serta Al-Hanabilah (sebagian 8 atau 20 rakaat).

Sedangkan Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah dari Bani Umayyah di Damaskus menjalankan salat Tarawih dengan 36 raka’at. Dan Ibnu Taimiyah menjalankan 40 raka’at.

Lalu bagaimana cara kita menjalankan amal ini? sedangkan banyak perbedaan pendapat dalam menunaikannya. Baiknya adalah mengikuti ulama yang sudah memilih mazhab yang sesuai.

Baiknya ikutilah seorang ulama yang sudah jelas ilmunya, dan belajar kepada guru agar kita mendapatkan tuntunan yang benar. Seperti mayoritas masyarakat Indonesia mengikuti mazhab fiqh Imam Syafi’i, dan menjalankan sholat tarawih 20 rakaat.

8. I ’Tikaf di Masjid

I’tikaf menurut bahasa berarti menetap pada sesuatu. Sedangkan menurut istilah syar’i i’tikaf artinya menetap di masjid dengan tata cara khusus yang disertai niat.

Para ulama bersepakat bahwa hukum i’tikaf adalah sunnah bukan wajib, kecuali jika seseorang telah bernazar pada dirinya untuk beri’tikaf karena sesuatu hal.

Waktu i’tikaf afdhal nya adalah di akhir bulan ramadhan (10 hari terakhir) sebagaimana hadits yang disampaikan ummul mu’minin ‘Aisyah, ia berkata,

“Nabi salallahu ‘alaihi wassalam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan, hingga wafatnya kemudian istri-istri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nabi salallahu ‘alaihi wassalam beri ’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dengan menghindar dari segala kesibukan dunia, memperbanyak do’a dan berdzikir ketika itu. Hingga bisa berkonsentrasi penuh untuk bermunajat kepada Allah, dan memperoleh malam lailatul qadar,

I’tikaf hendaknya dilakukan di dalam masjid. Para ulama sepakat bahwa i’tikaf hanya sah jika dilakukan di dalam masjid, baik wanita maupun laki-laki. Imam Malik berpendapat bahwa i’tikaf boleh dilaksanakan di masjid manapun (asal dimasjid tersebut ditegakkan shalat lima waktu). Karena firman Allah dalam Q.S. Al Baqarah : 187

وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

“….sedang kamu beri’tikaf dalam masjid..”

Imam Syafi’i menambahkan syarat, yakni masjid tersebut harus didirikan juga sholat jum’at. Tujuannya supaya ketika pelaksanaan sholat jumat orang yang beri’tikaf tidak perlu berpindah masjid.

9. Perbanyak Berdzikir, Istigfar dan Memohon Ampunan Kepada Allah Swt

Amalan-amalan yang dapat menggugurkan dosa di bulan Ramadhan yang pertama adalah berdoa memohon ampunan dengan sungguh-sungguh. Allah telah berjanji dalam firman-Nya bahwa Ia akan mengabulkan doa dari para hamba-Nya, yaitu doa yang penuh dengan kesungguhan hati dan penuh pengharapan kepada Allah, terlebih doa yang dipanjatkan di bulan Ramadhan.

Berdoalah memohon ampunan dari-Nya atas segala dosa yang telah diperbuat. Insya Allah jika doa itu sungguh-sungguh, Allah akan mengampuninya.

Frima Allah SWT dalam (Q.S. al-Mu’min: 60).

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (Q.S. al-Mu’min: 60)

Dalam berdoa memohon ampunan kepada Allah, perhatikan adab dan ketentuan di dalam berdoa, agar Allah menerima doa kita dan mengabulkan apa yang menjadi doa kita.

Seperti berdoa dalam keadaan bersuci, tidak tergesa-gesa, selalu memanfaatkan waktu mulia dimana doa tidak tertolak dan diijabahi seperti pada waktu anatar azan dan iqomah, selesai sholat, sepertiga malam terkahir dan terlebih waktu-waktu bulan suci Ramadhan.

Mulailah berdoa dengan membaca pujian kepada Allah dan shalawat, dan menjauhkan diri dari perkara haram yang akan menjadi tirai/penghalang ketika berdoa antara hamba dan Rabb-Nya. Mohonlah ampunan dari Allah meskipun dosa yang telah kita perbuat sangatlah banyak.

Dalam hadits riwayat Anas bin Malik radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah Swt berfirman,

Wahai bani Adam, sesungguhnya selama engkau masih berdoa dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampunimu semua dosa yang ada padamu dan Aku tidak akan peduli. Wahai bani Adam, seandainya dosa-dosamu mencapai langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku, Aku akan mengampunimu dan Aku tidak peduli. –

-Wahai bani Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan seukuran bumi kemudian engkau datang menjumpai-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik atau menyekutukan-Ku dengan apapun juga, maka sungguh Aku akan datang kepadamu dengan membawa ampunan seukuran bumi juga,” (H.R. at-Tirmidzi).

Di waktu-waktu Ramadhan, perbanyak memohon ampunan kepada Allah Swt, perbanyak baca sholawat kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, juga dzikir-dzikir yang lainya seperti tasbih, tahmid, takbir untuk lebih mendekatkan hati, jiwa kita kepada Allah Swt.

10. Umroh di Bulan Ramadhan

Sebagaimana amalan ada yang memiliki keistimewaan jika dilakukan pada waktu tertentu, demikian pula ibadah umrah. Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat istimewa daripada umrah di bulan lainnya yaitu senilai dengan haji bahkan seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya pada seorang wanita,

مَا مَنَعَكِ أَنْ تَحُجِّى مَعَنَا

Apa alasanmu sehingga tidak ikut berhaji bersama kami?

Wanita itu menjawab, “Aku punya tugas untuk memberi minum pada seekor unta di mana unta tersebut ditunggangi oleh ayah fulan dan anaknya –ditunggangi suami dan anaknya-. Ia meninggalkan unta tadi tanpa diberi minum, lantas kamilah yang bertugas membawakan air pada unta tersebut. –

Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِذَا كَانَ رَمَضَانُ اعْتَمِرِى فِيهِ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ حَجَّةٌ

Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Dalam lafadz Muslim disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji.” (HR. Muslim no. 1256)

Dalam lafadz Bukhari yang lain disebutkan,

فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863).

Apa yang dimaksud senilai dengan haji?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Apakah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji yang wajib?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. –

Beliau mendapat pertanyaan, “Apakah umrah di bulan Ramadhan bisa menggantikan haji berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berumrah di bulan Ramadhan maka ia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah, “Umrah di bulan Ramadhan tidaklah bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadhan mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, –

Umrah Ramadhan senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain disebutkan bahwa umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu yang dimaksud adalah sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji.

– Orang yang berumrah di bulan Ramadhan masih memiliki kewajiban haji walau ia telah melaksanakan umrah Ramadhan, demikian pendapat seluruh ulama. Jadi, umrah Ramadhan senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala. Namun tetap tidak bisa menggantikan haji yang wajib.” (Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz)

Itulah 10 Amalan utama di bulan suci Ramadhan disamping Puasa Ramadhandan zakat fitrah, yang bisa kita amalkan untuk mendekatkan diri dan taat kepada Allah serta menghasi Ramadhan agar lebih bermakna.

Semoga kita selalu diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah Swt untuk bisa melaksanakan serangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini.

by gushaironfadly.com

Mengatur Pola Tidur Si Kecil Saat Berpuasa

 

BENAR. Pola tidur anak berubah selama menjalani puasa. Selain itu, lama tidur anak pun cenderung berkurang. Padahal kebutuhan tidur anak lebih besar dibanding orang dewasa. Sebaiknya kecukupan tidur anak jangan sampai berkurang selama berpuasa agar tidak mengganggu pertumbuhannya.

Saat tidur lelap, pertumbuhannya berkembang secara laju karena adanya hormon pertumbuhan (human-Growth Hormone, h-GH). Kekurangan tidur sedikit banyak mengurangi laju pengeluaran hormon itu.

Berpuasa berarti memindahkan jadwal makan dan jam tidur juga. Anak harus bangun lebih awal. Kekurangan tidur selagi dinihari tentu tidak selalu dapat dilunasi dengan menambah jam tidur siang harinya. Mengapa?

Kita tahu sepanjang masa tidur malam, ada dua fase berlangsung. Fase REM (rapid eye movement) dan fase NREM (non-rapid eye movement). Tidur yang sehat itu menempuh empat-lima kali fase REM. Jika fase REM tidak berlangsung, maka kualitas tidur menjadi tidak sehat. Orang merasa tidak cukup tidur, kendati masa tidurnya sudah terpenuhi.

Kebutuhan akan tercukupinya tidur fase REM menentukan kualitas tidur. Hal yang sama terjadi jika harus bangun untuk sahur. Namun tentu tidak selalu terjadi saat bangun sahur tepat pada saat fase REM sedang berlangsung. Oleh karena jadwal bangun, dan jadwal tidur berubah, maka pola tidur perlu ditata ulang agar tidak sampai kualitas tidur berkurang. Bukan lamanya tidur benar yang perlu diperhatikan, melainkan apakah fase REM terpenuhi sepanjang tidur itulah. Selama fase tidur REM orang merasakan tidurnya lelap. Pada fase ini mimpi lazimnya hadir.

Oleh karena sehabis sahur dianjurkan kembali tidur, paling tidak menambah kuantitas tidur. Ekstra tidur siang sungguh dibutuhkan. Anak sekolah dasar sekurang-kurangnya masih membutuhkan 8-10 jam tidur setiap harinya.

Upayakan tidur malam dipercepat bila biasanya pukul sepuluh, ajukan menjadi jam sembilan. Jika harus bangun sebelum pukul empat dini hari, dan bisa tidur satu-dua jam lagi sebelum siap bersekolah, maka kecukupan tidur anak harus dibayar sedikitnya dua jam waktu siang harinya. Tidur yang sehat itu selain cukup lama tidurnya, harus lelap pula. Maka suasana tidur siang harus diciptakan agar tidak mengganggu selama masa tidurnya. Untuk itu perlu dibangun suasana tenang, jauhkan dari suara gaduh, dan ciptakan kondisi nyaman (hawa ruangan), dan tempat tidur yang bersih.

by sahabatnestle.co.id