Kisah Tsa”labah Binasa Akibat Harta

Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka, Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” [QS. At-Taubah (9): 75-78].

TSA’LABAH dengan nama lengkap Tsa’labah Ibnu Hathib Al-Ansyari adalah seorang lelaki Ansar, sosok manusia engkar yang hidup di zaman Rasulullah, yang tinggal di Kota Madinah, semula hidup ‘biasa-biasa’ saja, lalu meminta kepada Rasulullah untuk didoakan kepada Allah agar memiliki harta kekayaan melimpah, dan setelah Rasul mendoakan, jadilah ia sosok yang kaya raya dengan usaha peternakan (kambing) yang tiada tandingannya kala itu.

Lalu pemuda yang semula taat beribadah itu, setelah disibukkan dengan harta bendanya, seketika berbalik menjadi orang yang lalai beribadah dan engkar/tidak mau membayar zakat atas amanah harta yang Allah titipkan dari hasil usahanya itu.

Ulama Tafsir diantaranya Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri, menyebut bahwa ayat yang mulia ini [QS. At-Taubah (9): 75 – 78] diturunkan berkenaan dengan sikap Tsa’labah ibnu Hatib Al-Ansyari.

Menurut para mufassirin Asbabun Nuzul ayat ini yang dijelaskan dalam Al Hidayah [Al-Qur’an Tafsir per Kata, Hal.200], bahwa Abu Umamah mengatakan, suatu ketika Tsa’labah bin Hathib berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku harta berlimpah. ”Rasulullah menjawab,”Celaka kamu Tsa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit tetapi tetapi disyukuri lebih baik daripada harta yang banyak tetapi tidak kamu syukuri”.

Tsa’labah berkata,”Demi Allah, jika Allah memberiku harta berlimpah, aku pasti akan memenuhi hak atas harta itu”. Kemudian atas do’a beliau, kambing milik Tsa’labah berkembang dengan biak sangat pesat, hingga memenuhi dan membuat sempit kota Madinah. Akhirnya ia pindah dan menungsikan peternakan kambingnya jauh dari Madinah.

Akibat sibuk mengurus peternakannya, ia tidak lagi sholat berjamaah di masjid bersama Rasul dan para sahabat yang lain. Tak lama kemudian, turun ayat yang mewajibkan seorang muslim yang kaya untuk menunaikan zakatnya [QS. 9:103]. Kemudian Rasulullah mengutus dua orang sahabat kepada Tsa’labah agar membayar zakat. Atas hal itu turunlah keempat ayat ini yang secara tegas mengancam muslim yang ingkar membayar zakat.

Ibnu Jarir, ibnu Mardawiyah, dan Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ini juga menjelaskan, “bahwa seorang lelaki Ansar bernama Tsa’labah datang ke suatu majelis. Dia meminta kesaksian kepada mereka, seraya berkata,”Sekiranya Allah memberikan kepada ku sebagian dari karunia-Nya, niscaya aku memberikan kepada setiap orang yang berhak, bersedekah, dan menjadikan sebagiannya untuk kaum kerabat.”

Kemudia Allah mengujinya, maka dia memberikan sebgaian dari karunia-Nya kepadanya. Namun kemudian dia mengkhianati janjinya. Allah mengisahkan keadaannya dalam Al-Qur’an (ayat ini) [dikutib dari Kitab Tafsir Al-Maraghi, Asbabun Nuzul QS. At-Taubah: 75 – 78]

Kisah Tsa’labah ini juga diterangkan [dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir]; ketika peternakan Tsa’labah sudah berkembang pesat, ia pindah kesuatu lembah di pinggiran kota Madinah, sehingga ia hanya dapat menunaikan sholat berjama’ah pada waktu zuhur dan asyar, sedang sholat-sholat yang lain tidak. Kemuadian ternak kambingnya berkembang hingga bertambah banyak, lalu ia menjauh lagi dari Madinah, sehingga tidak sempat lagi shalat berjam’ah, kecuali hanya sholat jum’at.

Akhirnya karena ternaknya makin berkembang pesat, shalat Jum’at pun ia tinggalkan. Ketika sahabat menceritakan kepada Rasulullah semua yang dialami Tsa’labah, maka Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah”. Dan Allah SWT menurunkan firman-Nya,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka”. [At-Taubah (9): 103].

Kesudahan hidup Tsa’labah setelah dicap oleh Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana dinukilkan dalam Kitab Tafsir Jalalain, “Dan ketika ia (Tsa’labah) datang menghadap Rasulullah SAW sambil membawa zakatnya, akan tetapi Rasulullah berkata kepadanya,”Sesungguhnya Allah telah melarang aku menerima zakatmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW lalu menaburkan tanah diatas kepalanya. Setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. ia datang membawa zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, akan tetapi Khalifah tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a, iapun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Umar r.a. juga tidak mau menerimanya.

Dan ketika pemerintahan dijabat oleh Khalifah Ustman, Tsa’labah bin Hathib pun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Ustman pun tidak mau menerimanya. Dan nasib tragis menimpa Tsa’labah bin Hathib, hingga ia meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Usman r.a, hartanya tidak pernah dizakatkan.

Allah SWT telah mengancam orang-orang yang bakhil dari berzakat dengan ancaman adzab yang pedih sebagaimana firman-Nya “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu,” (Q.S. At-Taubah:34-35).

Maka berhati-hatilah! Semoga Allah merahmati kita dan terjauh dari sikap bakhill terhadap apa yang Allah wajibkan, dan bersegeralah menunaikan zakat harta-harta yang dimiliki jika telah sampai nisab dan haul-nya (telah sampai 1 tahun), sesuai dengan ketentuan syari’ah yang telah ditatapkan Allah dan Rasul-Nya (baik berupa emas, perak, harta perniagaan, ternak, hasil usaha pertanian/perkebunan, dan lainnya yang telah ditetapkan). []

By Saad Saefullah islampos.com

Hak-hak anak dalam pandangan Al-Quran

Berbicara tentang anak berarti berbicara tentang tanggung jawab orang tua dalam mengasuh anaknya. Menagasuh anak bukan sekedar membesarkannya untuk tumbuh sehat, namun anak juga mempunyai hak lain yang wajib dipenuhi oleh orang tua. Hak anak dalam keluarga adalah hak sebelum lahir dan hak sesudah lahir, yang pembahasannya adalah sebagai berikut.

Hak Anak Sebelum Lahir

Islam memperhatikan masalah anak tidak hanya setelah anak dilahirkan, tetapi bahkan sejak anak itu belum merupakan suatu bentuk. Syariat Islam memberikan perlindungan yang sangat besar terhadap janin yang berada dalam rahim ibu, baik perlindungan jasmaniah maupun rohaniyah sehingga janin tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang pada akhirnya lahir ke dunia dengan sempurna.

Allah SWT (dengan ke Maha Pemurahan-Nya) juga meringankan pelaksanaan  berbagai kewajiban bagi ibu hamil, seperti kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan, jika dengan mengerjakannya dapat menimbulkan madharat terhadap janin atau bayi (sesudah lahir). Akan tetapi dia wajib menggantinya setelah illatnya itu hilang.

Hak Anak Sesudah Lahir

Islam sangat serius dalam memberikan perlindungan kepada anak. Hal ini dibuktikan dengan pemberian  hak-hak yang begitu banyak demi menjamin petumbuhan dan perkembangan anak hingga menjadi manusia yang sempurna, baik jasmani maupun rohanai. Di antara hak-hak anak adalah sebagai berikut :

1. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengakuan dalam Silsilah Keturunan

Pengakuan dalam silsilah dan keturunan disebut juga dengan keabsahan. Keabsahan adalah sentral bagi pembentukan keluarga dalam Islam. Setiap anak muslim mempunyai hak atas legitimasi (keabsahan), yakni dipanggil menurut nama ayah yang diketahui.   Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 5.

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapakbapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka (panggilah mereka sebagai) saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2. Hak Untuk Hidup

Hak hidup adalah suatu fithrah. Tiada suatu makhlukpun yang dapat memberikan kematian kepada yang lain, sebab itu hanya milik Allah sang pencipta, tidak ada perubahan dan pergantian bagi sunnah (ketetapan Allah).  Islam melarang penghilangan nyawa anak dengan alasan apapun,baik karena kemiskinan atau alasan lain. Sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Quran.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.” (Al- An Am :15)

Islam menyuruh seluruh umat manusia agar senantiasa menjaga hak hidup anak kecil atau bayi, baik yang orang tuanya muslim ataupun non muslim, makanya dalam setiap pertempuran, Islam melarang seluruh kaum muslim membunuh kaum hawa dan anak-anak.

3. Hak Mendapatkan Nama yang Baik

Syariat Islam mewajibkan kepada orang tua untuk memberikan nama yang baik bagi seorang anak, karena nama dalam pandangan Islam memiliki arti penting dan pengaruh besar bagi orang yang menyandangnya. Selain itu nama akan selalu melekat dan berhubungan erat dengan dirinya, baik semasa dia hidup maupun sesudah mati. Nama itu sendiri merupakan tali pengikat yang amat kuat dengan semua tali keturunannya

4. Hak Anak Untuk Menerima Tebusan (Aqiqah)

Syariat Islam sangat memperhatikan dalam melindungi anak, salah satunya adalah dengan mengajak pemeluknya untuk mengeluarkan harta sebagai pengungkapan rasa suka cita atas lahirnya seorang anak, yaitu dengan mengajak umat Islam untuk menyajikan tebusan dari anak yang baru saja lahir dan membatasinya dengan seekor kambing untuk anak perempuan  dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Selanjutnya syariat Islam lebih mengutamakan agar aqiqah itu dilaksanakan pada hari ke tujuh dari tanggal kelahirannya.

Ada banyak ayat-ayat yang diperkuat oleh hadist rasul yang memberi petunjuk tentang disyariatkannya aqiqah. Salah satu hadits yang mensyariatkan aqiqah adalah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi yang Terjemahannya:

Hadis Ali bin Hujri mengabarkan kepada Ali bin Mushiri dari Ismail bin Muslim dari hasan dari Sumarah bekata: “Rasulullah SAW menyatakan bahwa” setiap anak tergadai dengan “aqiqah” yang harus disembelih pada hari ke tujuh (setelah kelahirannya) dan memberikan nama bersamaan dengan mencukur rambut”. (HR. Turmudzi).

5. Hak Akan Penyusuan

Bagaimanapun juga, mendapat ASI adalah hak tiap anak, mustahil seorang bayi meminta atau menuntut haknya yang satu ini. Karena bayi belum mempunyai kekuatan apapun. Orang tualah yang seharusnya menyadari bahwa memberikan ASI pada bayinya adalah sebuah kewajiban dan bentuk tanggung jawab.

Dalam Al-Qur’an  Allah SWT. Telah berfirman dalam surat Lukman :  14  sebagai berikut:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤

Terjemahannya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Menurut Abu Suja’, apabila seorang perempuan memberikan ASInya kepada seorang anak maka anak yang menyusui tersebut menjadi anaknya, tetapi harus memenuhi dua syarat yaitu 1) Apabila anak yang disusui tersebut berusia kurang dari dua tahun. 2) Apabila Anak telah menyusui lima kali secara terpisah-pisah

6. Hak Anak Untuk dijaga Kebersihannya

Dalam rangka melindungi kesehatan dan pertumbuhan anak, syariat Islam mengajak kepada para pemeluknya untuk melaksanakan sejumlah kegiatan yang diperkirakan mampu melindungi, menjaga dan menjamin keselamatan anak dari berbagai penyakit serta mencegah segala hal yang mampu mengganggu pertumbuhannya.

Apabila syariat Islam mengajak kepada kebersihan maka tak aneh bila menghilangkan kotoran dan penyakit dari anak itu merupakan suatu kewajiban. Sebagai contoh adalah berkhitan, mencukur rambut dan selalu menjaga kebersihan tubuh anak setiap saat. Menjaga Kebersihan Anak Yaitu menjaga kebersihan tubuh dan menghilangkan kotorankotoran pada tubuhnya.

7. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengasuhan

Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan disebut dengan hadhanah. Pengertian hadhanah menurut bahasa adalah mengumpulkan sesuatu kepada dekapan. Sedangkan hadhanah dalam ilmu fiqih adalah kewajiban terhadap anak untuk mendidik dan melaksanakan penjagaan serta menyusun perkaraperkara yang berkaitan dengannya apabila antara suami dan istri berpisah(bercerai) dan yang berhak merawat anak tersebut adalah pihak istri sampai umur 7 tahun, setelah itu anak disuruh memilih antara ayah dan ibunya.

8. Hak Anak Untuk Menerima Nafkah

Dalam hal ini syariat, Islam memerintahkan kepada setiap orang yang berkewajiban menunaikannya (memeberi nafkah) agar melaksanakan hal tersebut dengan sebaik-baiknya dan melarang dengan keras mangabaikan hak anak tersebut.

Orang tua di samping memberikan pendidikan mental spiritual atau kerohanian, orang tua juga berkewajiban memberikan makan dan minum (material) kepada anak-anaknya dengan makanan-makanan yang halal dan dihasilkan dari yang halal pula. Terjemahannya barang (dzatnya makanan itu) halal dan cara mendatangkan atau menghasilkannya juga dengan cara halal. Itulah kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, agar kelak menjadi generasi yang taqwa penuh tanggung jawab dan anak salih atau shahih. Makanan yang halal akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak, demikian juga makanan  haram akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak.

Pemberian nafkah ini sesuai dengan kemampuan dari orang tua dan secukupnya, tidak boleh berlebih dan juga tidak boleh sebaliknya. Berlebilebihan dalam memberi nafkah kepada anak berpeluang untuk berperilaku menyimpang dari norma-norma agama. Kikir dalam memberi nafkah dapat menyebabkan anak berprilaku tidak terpuji, seperti mencuri.

9. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pendidikan

Tanggung jawab mendidik anak sudah dimulai ketika seseorang memilih istri, sejak dalam kandungan hingga anak itu lahir sampai ia dewasa.  Menurut Ibnu Qoyyim, tangung jawab pendidikan itu dibebankan di atas pundak seorang ayah, baik di dalam rumah (keluarga) maupun di luar rumah, kaum bapaklah yang berkewajiban mendidik anak-anaknya.

Allah SWT. telah memerintahkan kepada setiap orang  tua untuk mendidik anak-anak mereka dan bertanggung jawab dalam pendidikannya, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Al-Tahrim : 6)

Menurut Abudin Nata ayat tersebut berbicara tentang pentingnya membina keluarga agar tehindar dari siksaan api neraka ini tidak hanya hanya semata-mata di artikan api neraka yang ada di akhirat nanti, melainkan juga termasuk pula berbagai masalah dan bencana yang menyedihkan  dan merusak citra pribadi seseorang.

Penutup

Anaka memiliki hak yang sama di depan orang tua, mereka tidak boleh dibeda-bedakan. Ini anak yang tertua, ini anak yang kedua dan seterusnya hingga anak yang bungsu. Memberika hak-hak anak dalam bentuk yang berbeda akan membuat anak merasa kerdi di dalam keluarga dan akan berefek buruk krtika dia berada di masyarakat kelak.

Semua hak-hak anak wajib ditunaikan oleh orang tua, mereka adalah tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan, karena suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat. Jika anak di abaikan, maka masa depannya akan menjadi suram. Wallahu a’lam.

By Media Al Balagh lensaalbalagh.com

Ingat 6 Hal ini Dilarang dalam Islam ketika Suami-Istri Berhubungan!

ISLAM sudah dengan jelas mengatur tata cara berhubungan di tempat tidur antara suami-istri. Maka dari itu, sudah jelas kiranya bahwa ketika berhubungan, ada setidaknya yang tidak diperbolehkan antara suami dan istri. Apa saja?

1. Dilarang berhubungan tanpa membaca doa

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang mereka akan menggauli istrinya, hendaklah ia membaca: ‘Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’. Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya,” (Shahih Muslim No.2591).

Rasul sudah mengajarkan doa yang senantiasa dibaca ketika akan bermesraan. Jika belum hafal, maka bisa dibaca di bawah ini:

“Bismillah. Allahumma jannabnasyoithona wa jannabisyaithona maa rojaktanaa.”

Artinya : Dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarkanlah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan

2. Dilarang berhubungan tanpa pendahuluan

Betapa pentingnya sebuah pendahuluan dalam berhubungan, utamanya untuk istri. Pendahuluan bisa berupa ucapan romantis, kecupan dan cumbu rayu. Hal ini sesuai dengan: Sabda Rasul Allâh SAW: “Siapa pun di antara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Selanjutnya, ada yang bertanya: “Apakah perantaraan itu”? Rasul Allâh SAW bersabda, “Yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis,” (HR. Bukhâri dan Muslim).

3. Dilarang berhubungan tanpa penutup/ selimut

“Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar.” (HR Ibnu Majah).

Maksudnya adalah jangan bertelanjang seperti hewan yang kelihatan kemaluannya saat berhubungan. Tapi pakailah selimut sebagai penutup, atau bertelanjang dalam selimut.

4. Dilarang berhubungan melalui dubur/ anus

Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya,” (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai).

Dubur atau anus—maaf—adalah tempat pembuangan kotoran, yang membahayakan kesehatan jika berhubungan suami-istri melaluinya.

5. Dilarang berhubungan saat istri haid

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri,” (QS. Al-Baqarah/2: 222).

6. Dilarang menyebarluaskan masalah hubungan

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian menyebarkan rahasia istrinya,” Diriwayatkan oleh Imam Muslim (2597) dan Abu Dawud (4227). []

Dirangkum dari berbagai sumber.

By Adam Last updated Mar 30, 2018 islampos.com

Tata Cara Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam [PANDUAN]

POSISI HUBUNGAN INTIM SUAMI ISTRI – Dalam Islam, suami dan istri boleh melakukan berbagai gaya/posisi ketika berhubungan intim asalkan menuju ke “tempat” yang benar. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 223 yang berbunyi:

“Istri-istrimu adalah (laksana) tanah tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja yang engkau kehendaki” (QS. Al Baqarah : 223)

Pernah suatu ketika Umar bin Khattab khawatir dan mengadu kepada Rasulullah. Umar bin Khattab mengadu bahwa ia baru saja berjimak dengan istrinya dengan posisi dari belakang. Saat itu Rasulullah hanya diam sampai Allah SWT menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 223 tersebut.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pada ayat tersebut diperbolehkan menyetubuhi istri dari arah depan maupun belakang, dengan posisi telungkup atau menindih. Tidak diperbolehkan menyetubuhi istri melalui dubur karena bukan merupakan lokasi untuk bercocok tanam.

Posisi Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam yang Terbaik

Posisi Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam
republika.co.id

Lalu bagaimana posisi hubungan suami istri menurut Islam yang terbaik?

Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa posisi terbaik adalah suami berada di atas istri.

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, posisi tersebut menunjukkan kepemimpinan suami terhadap istrinya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 34 yang berbunyi

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa’ : 34)

dan juga dalam Surat Al-Baqarah ayat 187

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al Baqarah : 187)

Berapa Kali Berhubungan Intim yang Dianjurkan menurut Islam?

Frekuensi Berhubungan Intim Suami Istri Menurut Islam
disinisaja.com

Dalam Islam, tidak diberikan batas berapa kali dalam seminggu sepasang suami istri untuk melakukan hubungan intim. Jadi, dalam perkara ini seseorang dapat melakukannya berapa kalipun sesuai dengna keadaan dan kemapuannya.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (7: 30),

“Hubungan seks wajib dilakukan oleh suami, yaitu ia punya kewajiban menyetubuhi istrinya selama tidak ada udzur. Demikian dikatakan oleh Imam Malik.”

Terdapat juga hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya,

“Wahai Abdullah, benarkan aku dapat kabar darimu bahwa engkau terus-terusan puasa dan juga shalat malam?” Abdullah bin Amr bin Al Ash menjawab, “Iya betul wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jangan lakukan seperti itu. Engkau boleh berpuasa, namun ada waktu tidak berpuasa. Engkau boleh shalat malam, namun ada waktu untuk istirahat tidur. Ingat, badanmu punya hak, matamu punya hak, istrimu juga punya hak yang mesti engkau tunaikan. Begitu pula tenggorokanmu pun memiliki hak.” (HR. Bukhari no. 1975).

Ibnu Hajar juga mengatakan,

 “Para ulama berselisih pendapat bolehkah suami meninggalkan menyetubuhi istrinya. Imam Malik berpandangan, “Jika tidak darurat melakukannya, suami bisa dipaksa berhubungan seks atau mereka berdua harus pisah.” Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu. Sedangkan yang masyhur dari kalangan ulama Syafi’iyah, ia tidak wajib berhubungan intim. Ada pula yang berpandangan bahwa wajibnya sekali. Sebagian ulama salaf berpendapat, setiap empat malam, harus ada hubungan seks. Ulama lainnya berpandangan, setiap kali suci dari haidh, sekali hubungan seks.” (Idem)

Apabila suami melakukan perjalanan atau berpergian dengan tujuan yang disyari’atkan atau dengan alasan lainnya yang diperbolehkan, maka hendaknya ia tidak meninggalkan istrinya terlalu lama.

Adab dalam Melakukan Hubungan Suami Istri dalam Islam

dimana.com

Hubungan suami istri dalam Islam memiliki aspek estetika dan etika yang tujuannya untuk memberikan kepuasan raga serta kenikmatan jiwa. Ini dia adab dalam melakukan hubungan suami istri dalam Islam.

1. Melakukan Foreplay

Seorang suami hendaknya memulai hubungan suami istri dengan bersenda gurau, memeluk dan mencium istrinya. Terdapat hadits yang menjelaskan bahwa terdapat pahala yang besar untuk suami yang menggauli istrinya dengan baik

” Barangsiapa memegang tangan istri sambil merayunya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 1 kebaikan dan melebur 1 kejelekan serta mengangkat 1 derajat , Apabila merangkul , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 10 kebaikan melebur 10 kejelekan dan mengangkat 10 derajat , Apabila menciumnya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 20 kebaikan , melebur 20 kejelekan dan mengangkat 20 drajat , Apabila senggama dengannya , maka lebih baik daripada dunia dan isi-isinya “

Foreplay atau bisa disebut pemanasan bertujuan untuk menciptakan sebuah komunikasi positif antara suami istri. Dengan adanya pemanasan yang cukup dan benar, maka hubungan suami istri akan menjadi lebih menyenangkan dan memuaskan.

2. Berhias Diri

Para suami hendaknya membersihkan mulutnya agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Mulut yang wangi akan membuat istri semaki cinta. Begitu juga para istri diwajibkan untuk berhias mempercantik diri dan menggunakan parfum saat akan bertemu suaminya.

Nabi Muhammad SAW bersabda

” Sebaik-baiknya wanita adalah wanita yg harum baunya dan sedap masakannya “

3. Tidak Telanjang Bulat

Dalam melakukan hubungan suami istri hendaknya tidak telanjang bulat. Nabi Muhammad SAW bersabda

“Apabila kalian melakukan senggama dengan istrinya , maka jangan telanjang seperti telanjangnya himar.”

4. Melakukan Shalat Sunnah 2 Rakaat Sebelumnya

Dianjurkan untuk melakukan shalat sunnah 2 rakaat sebelum melakukan hubungan suami istri supaya mendapatkan rahmat Allah SWT dan terhindar dari godaan setan.

5. Melakukan Doa Sebelumnya

Selain melakukan shalat sunnah 2 rakaat, pasangan suami istri juga diharapkan untuk membaca doa supaya dijauhkan dari syetan. Bacaannya adalah sebagai berikut
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنِى الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNIS SYAITHAN WA JANNIBIS SYAITHAN MA RAZAQTANA

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah ia dari apa yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak, keturunan).

6. Tidak Berhubungan Saat Istri sedang Haid

Dalam Islam, tidak diperbolehkan melakukan hubungan suami istri di saat istri sedang haid walaupun beberapa dokter mengatakan bahwa melakukan hubungan saat sedang haid.

Diutamakan untuk memperhatikan aspek estetika serta etika saat berhubungan suami istri dengan tidak melupakan aspek indrawi yakni posisi dalam berhubungan serta teknik lainnya.

Hubungan sepasang suami istri yang benar merupakan suatu ibadah yang akan mendapatkan pahal dari Allah SWT sedangkan hubungan intim yang tidak benar akan mendapatkan dosa.

Itulah tadi posisi hubungan suami istri menurut Islam yang benar serta adab-adab dalam melakukannya. Semoga bermanfaat untuk Anda.

sumber May 8, 2017 by dzulfikar
islamedia.web.id

Wudhulah, Jika Hendak Mengulang

Salah satunya adalah berhubungan dengan pasangan yang sah dalam Islam merupakan ibadah juga. Karena ibadah,  maka hubungan juga hendaklah dilakukan dalam kondisi suci. Artinya tidak tengah menanggung hadats besar.

Masalahnya kemudian, bagaimanakah jika seseorang hendak berhubungan untuk yang kedua kali, padahal ia belum mandi untuk hubungan yang pertama? Bagaimana hukumnya? haruskah orang itu mandi terlebih dahulu kemudian hubungan untuk kedua kali?

Jika seseorang telah usai hubungan dan berkeinginan untuk mengulanginya lagi, hendaklah ia berwudhu terlebih dahulu. Karena jika tidak diselengi dengan wudhu hukumnya makruh. Maka hilangkanlah kemakruhan itu dengan istinja’ dan wudhu dan tidak harus mandi terlebih dahulu.
Bahkan disebutkan bahwa selagi kita belum mandi maka makruh hukumnya, makan, minum, demikian pula tidur. Jadi sekurang-kurang menghilangkan kemakruhan adalah wudhu.

Alhafidzul Iroqy mempunyai nadzam yang menerangkan beberapa hal dari pada tujuh puluh delapan perkara yang disunnatkan berwudhu. Diantaranya; “Dan sunnat wudhu jika orang yang junub itu memilih makan atau tidur, minum dan mengulang jima’ yang diperbaharui.”

Ini juga yang diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Abi Said dari Nabi saw beliau bersabda: “Barang siapa telah mempergauli istrinya, kemudian bermaksud mengulanginya lagi (untuk kedua kali) maka hendaklah ia berwudhu.”

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, menerangkan bahwa berwudhu sebelum jima’ dapat menambah semangat: “Bahwasannya wudhu itu dapat menambah semangat untuk mengulangi (jima’).”

Alhafidz selanjutnya menerangkan:
”Hal ini diperkuat dengan hadits Anas dalam Shahihain, bahwa Nabi sa. berkeliling mempergauli isteri-isterinya dengan mandi yang satu.” []
Demikianlah islam mengatur tata cara dalam hubungan suami isteri. Maka hendaknya kita mentaatinya

Sumber: Taudlihul Adillah/Karya: Muallim KH. Syafi’i Hadzami

islampos.com

kisah Zainab binti Jahsy -radhiallaahu ‘anha-

Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya’mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra’, namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, “Aku rela Zaid menjadi suamimu”. Maka Zainab berkata: “Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya.

Maka turunlah firman Allah (artinya): “Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta’at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.

Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: “Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah”.

Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar’i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya.

Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Al-Ahzab:37).

Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan ‘Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:”Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?”, Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.

Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu ‘anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:”Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya”. Dan dalam riwayat lain,”Allah telah menikahkanku di langit”. Dalam riwayat lain,”Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh”. Dan dalam sebagian riwayat lain,”Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh”.

Zainab radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah ‘Aisyah radliallâhu ‘anha tatkala berkata:”Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Beliau radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala ‘Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:”Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda”. Kemudian beliau berkata: “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: ‘Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…’ “.

Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi’. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.

sumber ahlulhadist.wordpress.com

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

M. Haromain,
Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri;
Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo

sumber nu.or.id

 

Hukum Membunuh Cicak dalam Islam dan Dalilnya

Cicak adalah salah satu binatang yang sangat legendaris dalam sejarah agama Islam. Reptile merayap berkaki empat yang sering terlihat berkeliaran di dinding dan langit – langit rumah ini termasuk ke dalam binatang terkutuk hingga akhir zaman. Hal ini dikarenakan cicak di sebut – sebut sebagai binatang perantara setan yang memusuhi dakwah.

Kisah Cicak dalam Sejarah Pekembangan Islam

Kisah cicak yang legendaris ini terjadi saat Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke dalam kobaran api yang telah disiapkan oleh Namrud Ibn Kan’an, ia adalah seorang raja yang pertama kali mengaku-ngaku sebagai Tuhan dari kerajaan Babilonia atau yang sekarang dikenal dengan Negara Irak.

Dalam peristiwa ini dikisahkan terdapat dua ekor binatang yang turut berperan, yakni semut dan cicak. Jika semut berpihak pada Nabi Ibrahim as maka cicak malah berpihak kepada sang raja, Namrud Ibn Kan’an.

Dalam cerita itu semut dengan susah payah berlari-lari membawa butiran butiran air yang ada di mulutnya untuk memadamkan kobaran api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim as. Kemudian seekor burung berkata mewakili keheranan semua binatang yang menyaksikan peristiwa tersebut.

“Tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu.” sahut si burung.

Namun kemudian semut menjawab “Memang air ini tidak akan bisa memadamkan api itu, tapi ini kulakukan paling tidak semua akan melihat bahwa aku di pihak yang mana.”

Dari peristiwa tersebutlah akhirnya banyak hadis yang mengisahkan tentang bagaimana peranan cicak dalam mempersulit penyebaran Islam pada masa Nabi Ibrahim AS.

Di antaranya adalah dalam sebuah hadis muslim yang mengisahkan bahwa cicak adalah tersangka utama yang meniup dan memperbesar kobaran api sehingga membakar Nabi Ibrahim.“Dahulu, cicak-lah yang meniup dan memperbesar kobaran api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muslim).

Menyikapi hadis ini, Syekh Utsaimin menyebutkan bahwa tindakan cicak yang meniup untuk membesarkan kobaran api (yang membakar Nabi Ibrahim As) pertanda bahwa cicak adalah hewan yang memusuhi dakwah, ahli tauhid dan keikhlasan para pejuang (syarah Riyadhus Shalihin).

Sunahnya Membunuh Cicak dalam Islam

Hukum membunuh cicak dalam agama Islam adalah Sunah. Hal ini disebabkan oleh kisah cicak yang akhirnya berpihak kepada Namrud Ibn Kan’an untuk ikut membakar Nabi Ibrahim AS. Beberapa hadis bahkan sangat menganjurkan umat muslim untuk membunuh cicak yang mendapat gelar sebagai hewan fasiq dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Nawawi dalam syarah shahih Muslim menyebutkan ‘illat bahwa cicak digolongkan hewan yang fasiq karena ia merupakan hewan yang memberikan dampak mudharat dan mengganggu manusia.

Dikisahkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, bahwa Nabi Saw memerintahkan (umatnya) untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut (cicak) sebagai hewan fasiq (pengganggu).” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor cicak dengan satu pukulan dicatat baginya seratus kebaikan, dalam dua pukulan pahalanya kurang dari itu, dalam tiga pukulan pahalanya kurang dari itu.” (HR. Muslim).

Kemudian Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat tercela, sementara dulu, dia meniup api yang membakar Nabi Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir).

Tak hanya itu, sebuah hadis lain juga mengisahkan tentang Aisyah yang mengatakan, “Aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membunuh cicak maka Allah akan menghapus tujuh kesalahan atasnya.” (HR Thabrani)

Berlanjut dari hadis tersebut, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ia bertemu dengan Aisyah dan melihat di rumahnya terdapat sebuah tombak yang tergeletak. Dia pun bertanya kepada Aisyah, ”Wahai Ibu kaum mukminin apa yang engkau lakukan dengan tombak ini?” Aisyah menjawab,”Kami baru saja membunuh cecak-cecak. Sesungguhnya Nabi saw pernah memberitahu kami bahwa tatkala Ibrahim as dilemparkan ke dalam api tak satu pun binatang di bumi saat itu kecuali dia akan memadamkannya kecuali cecak yang meniup-niupkan apinya. Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya.” (HR Ibnu Majah)

Selain didasarkan pada kisah cicak yang memusuhi dakwah, anjuran untuk membunuh cicak dalam agama Islam juga didasarkan pada hal-hal logis seperti pengaruh negative cicak terhadap kesehatan manusia, setelah dilakukan penelitian panjang, diketahui bahwa cicak mengandung bakteri yang berbahaya yang dapat menyebabkan sakit perut dan meracuni makanan.

Selain itu, dalam kajian “al Asbah an Nazhoir” Imam Suyuthi menyebutkan bahwa Binatang – binatang itu terbagi menjadi empat macam. Yang pertama, adalah binatang yang didalamnya terdapat manfaat dan tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh maka ia tidak boleh dibunuh justru dianjurkan untuk dikonsumsi; Yang kedua, adalah binatang yang di dalamnya mengandung bahaya dan tidak bermanfaat bagi tubuh maka dianjurkan untuk dibunuh.

Contohnya adalah seperti : ular dan binatang-binatang yang berbahaya lainnya; kemudian yang ketiga adalah binatang yang di dalamnya mengandung manfaat positif bagi tubuh namun sekaligus juga berbahaya bagi manusia maka tidak dianjurkan dan tidak pula dimakruhkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti burung elang; terakhir yang ke empat adalah jenis Binatang yang tidak mengandung manfaat didalamnya dan tidak pula berbahaya bagi manusia maka ia tidak diharamkan dan tidak pula dianjurkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti ulat, serangga dan lainnya. Dari ke empat jenis binatang yang dijelaskan di atas maka jelaslah bahwa cicak yang terbukti dapat membahayakan manusia dan meracuni makanan ini sangat dianjurkan untuk dibunuh.

Pahala Membunuh Cicak

Sunah adalah perkara positif yang tidak wajib dilakukan oleh umat manusia akan tetapi jika dilakukan maka ia akan mendapatkan pahala dan manfaat lainnya. Dalam membunuh cicakpun sudah tentu akan ada pahala yang menyertainya.

Mengenai hal ini, Nabi Saw menjelaskan perihal pahala yang akan didapatkan dengan mengamalkan anjurannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa membunuh cicak maka pada awal pukulannya baginya ini dan itu dari kebaikan. Barangsiapa yang membunuhnya dalam pukulan kedua maka baginya ini dan itu yakni kebaikan yang berbeda dengan yang pertama. Jika dia membunuhnya pada pukulan ketiga maka baginya ini dan itu kebaikan yang berbeda dengan yang kedua.” (HR. Muslim).

Demikianlah pembahasan mengenai hokum membunuh cicak dalam agama Islam ini. Semoga pembahasan dalam artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan kita dan meningkatkan keimanan kita semua terhadap Allah Subhana Hua Ta’ala. Amin.

sumber dalamislam.com

 

Kisah Islamnya Bapak Petrus Kepala Suku dan Dukun Terkenal di Mentawai

Ustadz M. Shiddieq bersama salah seorang kepala suku di Mentawai yang masuk Islam. (Foto: YMPM)

Muslim Obsession – Kisah tentang Bapak Petrus ini dapat ditemukan di sebaran tulisan di media sosial. Sumbernya adalah Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM), Muhammad Shiddieq Al Minangkabwy.

Bapak Petrus semula beragama Kristen Katolik. Ia tinggal di Dusun Tiop Desa Katurai Kecamatan Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Bapak Petrus merupakan kepala suku di kampungnya. Ia juga seorang Sikerei atau Dukun yang sangat terkenal di Mentawai. Kemasyhuran namanya dalam ilmu perdukunan tersiar baik di Pulau Siberut, Pulau Sipora, Sikakap bahkan keluar Mentawai.

Warga Mentawai sering datang untuk berobat kepadanya. Ia juga sering dipanggil untuk mengobati warga di seluruh Mentawai.

Tidak hanya warga Mentawai, bahkan masyarakat dari luar Mentawai juga sering datang berobat. Mereka datang dari Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, dan dari daerah lainnya.

Bapak Petrus juga pernah menjadi kepala desa di Mentawai dan merupakan salah seorang tokoh dan kepala suku di Mentawai.

“Ketokohan Bapak Petrus membuat kami ingin sekali untuk bisa berkenalan dan dekat dengannya. Alhamdulillah dengan izin Allah Swt. kami dipertemukan dan berkenalan dengan beliau,” tulis Muhammad Shiddieq.

Setelah berkenalan, YMPM banyak berdiskusi dengan Bapak Petrus, terutama dalam masalah pengobatan yang ia geluti.

“Masya Allah. Alangkah terkejutnya kami saat mendengarkan langsung keterangan Bapak Petrus, bahwa dalam mengobati pasien, ia menjalankannya dengan cara Islam. Doa atau zikir yang ia baca merupakan doa dan zikir yang terdapat dalam ajaran Islam. Sama sekali tidak ada ajaran dan tuntunan yang ada dalam ajaran agamanya,” paparnya.

Bapak Petrus membagi tata cara pengobatan menjadi tiga tahapan, yaitu sebelum mengobati, saat mengobati, dan di akhir pengobatan.

Sebelum memulai pengobatan Bapak Petrus membaca “Bismillahirrahmanirrahim,
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim”.

Saat mengobati, ia juga membaca doa,
“Bismillahi Allahu Akbar,
Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir”.

Sementara di akhir pengobatan, ia akan membaca “Ilahi rabbi subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin”.

Inilah bacaan yang dibaca Bapak Petrus. Meskipun doa dan zikir yang dibacanya masih sangat sedikit, namun dengan keyakinannya yang sangat bulat pada kebenaran doa dan zikir yang ia baca, dapat melambungkan namanya sehingga ia menjadi Sikerei atau dukun terkenal.

Ketika pihak YMPM bertanya, dari mana Bapak Petrus mendapatkan bacaan doa dan zikir tersebut, ia lalu bercerita.

“Dahulu, saat sedang asyik memancing ikan di tepi laut Mentawai, saya melihat ada satu buku yang hanyut. Seketika itu juga buku yang hanyut tersebut langsung saya ambil. Buku itu berjudul Doa dan Dzikir untuk Penyembuhan dalam Ajaran Islam,” kisahnya.

Karena beragama Nasrani, Bapak Petrus tidak pandai membaca doa atau dzikir dalam tulisan Arab. Ia hanya membaca doa dan dzikir itu dalam bahasa latin saja.

Meskipun dengan lidah yang tidak fasih, akhirnya doa dan dzikir singkat tersebut mampu dihafal olehnya.

Sejak saat itulah Bapak Petrus menjadi kepala desa, kepala suku, dan dukun terkenal di Mentawai.

Dalam perjalanan yang cukup panjang, lebih kurang tiga bulan lamanya, YMPM aktif dan rutin berdiskusi dengan Bapak Petrus. Bahasan diskusi lebih banyak soal pengobatan dalam ajaran Islam.

Berbekal sebagai praktisi Thibbun Nabawy (pengobatan dengan cara Nabi Muhammad Saw.) di Sumatera Barat, baik dalam bidang Ruqyah Syar’iyyah, Bekam, dan lainnya, aktivis YMPM berbagi ilmu dengan Bapak Petrus. Dengan jelas dan tegas mereka sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa doa dan dzikir yang sudah ia praktikkan selama ini masih teramat sedikit dan ia perlu meningkatkan terus kemampuannya untuk mengobati orang. Oleh karenanya ia perlu memperbanyak hafalan doa dan dzikir yang ada dalam ajaran Islam.

“Kami sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa sedikit ilmu dan pengamalan Islam yang ia kerjakan, sekalipun Bapak Petrus beragama di luar Islam, telah terbukti membuatnya dipercaya banyak orang. Bayangkan kalau sekiranya ilmunya lebih banyak tentang Islam, pengamalan Islam semakin banyak pula dan apalagi kalau Bapak Petrus menjadi seorang Muslim, insya Allah ia akan semakin memberikan manfaat bagi banyak orang,” jelas Muhammad Shiddieq.

Sebagai seorang dai, ia pun berjanji akan mengajarkan ilmu Islam dan pengobatan Islam kepada Bapak Petrus sejauh yang ia mampu.

Mendengar itu, Bapak Petrus menjadi terharu dan tertegun, ia terus berfikir panjang. Selama tiga bulan YMPM terus berdiskusi membahas, mengkaji, dan mendalami ajaran Islam yang mulia dan rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya dengan limpahan hidayah dan kasih sayang dari Allah Swt., Bapak Petrus seorang kepala suku dan dukun terkenal tersebut mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Alhamdulillah, sekarang Bapak Petrus telah menjadi saudara kita seakidah dengan keinginannya sendiri, tanpa ada paksaan dan desakan dari siapapun,” ucap Muhammad Shiddieq.

Allahu Akbar… Nama yang semula Petrus berganti menjadi Umar Al-Faruq.
Sekarang ia disapa dengan nama Bapak Umar.

Namun demikian, Bapak Umar Al-Faruq belum sunat atau khitan. Ia konon merasa malu jika disunat di Mentawai.

Insya Allah sesudah Idul Fitri 1439 H/2018 M ini YMPM berencana akan membawa Bapak Umar untuk sunat di Kota Payakumbuh, sekretariat YMPM Sumbar, sekaligus akan mengikuti bimbingan atau pembinaan ajaran Islam.

“Di malam Ramadhan yang penuh berkah ini kami terus berdoa, semoga semakin banyak manusia yang mendapatkan hidayah. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin…,” harap Muhammad Shiddieq.

Penyunting Vina Agustina muslimobsession.com

Cara Melatih Anak hafal Quran Sejak Dalam Kandungan

Mungkin ada yang bertanya bagaimana mungkin bisa mengajari anak menghafal AlQuran sejak dari kandungan, padahal kita saja merasa kesulitan menghafalkan AlQuran. Kita semua telah tahu bahwa bayi yang masih dalam kandungan dapat mendengar suara apa saja dari dunia luar dan merekamnya di dalam otaknya. Ketika sang ibu setiap hari membaca Al Quran, secara otomatis bayi dalam kandungannya pun akan turut mendengarkan bacaan Al Quran tersebut. Sehingga pada saat lahir bayi sudah terbiasa dengan bacaan AlQuran yang diperdengarkan kepadanya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengenalkan bacaan AlQuran terhadap anak yang masih berusia dini dimana otaknya sangat mudah untuk merekam berbagai macam hal, diantaranya adalah dengan membacakannya secara ‘talaqi” atau dengan bantuan media lain seperti memperdengarkan MP3 murotal dan sebagainya.

Cara ini pula yang pernah dilakukan oleh para shahabat dan telah menjadi tradisi mereka dalam mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak mereka. Mereka memilki perhatian yang sangat tinggi dalam mengajarkan Al-Quran. Demikian pula para tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai kiamat kelak. Sehingga kalau kita membaca kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab, banyak riwayat yang bercerita tentang suksesnya para ulama dalam menghafalkan Al-Quran di usia sebelum mencapai sepuluh tahun. Sebut saja Imam Syafi’i, peletak Madzhab Asy-Syafi’iyyah, beliau berhasil menghafal Al-Quran 30 juz diusia 7 tahun. Imam Suyuthi, penyusun beberapa kitab, diataranya tafsir jalalain dan tafsir Al-Durrul mantsur, belum genap delapan tahun usianya, beliau telah sukses menghafal Al-Quran 30 juz.

METODE/CARA MENGAJARI ANAK MENGHAFAL AL QUR’AN SEJAK USIA DINI.
1. BAYI (0-2 TAHUN)
– Bacakan Al Qur’an dari surat Al fatihah
– Tiap hari 4 kali waktu (pagi, siang, sore, malam)
– Tiap 1 waktu satu surat diulang 3x
– Setelah hari ke-5 ganti surat An Naas dengan cara yang sama
– Tiap 1 waktu surat yg lain-lain diulang 1×2

2. DI ATAS 2 TAHUN
– Metode sama dengan teknik pengajaran bayi. Jika kemampuan mengucapkan kurang, maka tambah waktu menghafalnya,dari 5 hari menjadi 7 hari
– Sering didengarkan murattal/

3. DI ATAS 4 TAHUN
– Mulai atur konsentrasi dan waktu untuk menghafal serius
– Ajari muraja’ah/mengulang-ulang sendiri
– Ajari menghafal sendiri
– Selalu dimotivasi supaya semangat selalu terjaga
– Waktu menghafal 3-4x perhari

Selain itu ada hal lain yang bisa Anda lakukan untuk meningkatkan hafalan Al Quran putra-putri Anda yaitu:

Perdengarkan Ayat Al-Qur’an Setiap Hari
Perdengarkan ayat Al-Qur’an di rumah setiah hari. Tidak menjadi soal apakah Anda tenang mendengarkan atau sembari bermain dan melakukan aktivitas lainnya. Meski terlihat tidak memperhatikan, tetapi sebenarnya otak bawah sadarnya telah merekam bacaan ayat Al-Qur’an yang didengar. Sehingga seringkali anak akan hafal dengan sendirinya. Hal ini mirip dengan mendengarkan lagu-lagu lainnya, tanpa disadari anak akan hafal lirik lagu tanpa mempelajarinya.

Konsisten
Cara selanjutnya yaitu konsisten. Usahakan untuk konsisten dan jangan terputus-putus. Bila belajar Al-Qur’an dilakukan secara berkelanjutan bisa jadi ketika anak baru berusia 6 atau 7 tahun sudah bisa menghafal 30 jus Al-Qur’an. Karenanya konsisten menjadi kunci utama dari keberhasilan mengajari anak menghafal Al-Qur’an.

Menjadi Teladan Untuk Anak
Anak merupakan peniru hebat. Para orang tua pun seolah menjadi cerminan dari anak itu sendiri. Karenanya jadilah teladan baik untuk anak. Bila orang tua rajin membaca Al-Qur’an dan menghafalnya, tentu anak akan meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Pada tahap permulaan mungkin anak masih banyak melakukan kesalahan pelafalan atau saat membaca. Namun, tidak perlu dimarahi karena semua merupakan tahapan belajar.

Berikan Hadiah Untuk Prestasi Hafalan Anak
Bila anak sudah berhasil menghafal ayat Al-Qur’an tidak ada salahanya selaku orang tua memberikan hadiah yang disukai anak. Selain itu, bisa juga menjanjikan hadiah lain dengan syarat anak menghafal ayat Al-Qur’an yang lainnya. Cara ini bisa diterapkan bagi anak yang sudah berusia 5 tahun ke atas. Pada rentang usia tersebut seringkali anak memiliki ketertarikan dan keinginan pada sesuatu. Jadi bila anak meminta sesuatu kepada orang tua, usahakan untuk memberikan apa yang diminta dengan syarat anak bisa menghafal ayat Al-Qur’an.
Sumber: http://www.cintaislami.com/