MENDETEKSI POTENSI KECERDASAN ANAK MELALUI RAPOR SEKOLAH

Tips bagi orangtua cara membaca Raport sekolah

Bulan Desember adalah penerimaan raport buat para putra-putri kita. Saya ikut bahagia di hari yang penuh ceria ini, dan ijinkan saya berbagi tips buat bapak ibu semua.

Tips berikut barangkali memiliki sudut pandang yang mungkin berbeda. Namun jika perspektifnya sama, Alhamdulillah.
Yang utama semoga bermanfaat untuk kita semua.

Raport adalah Progress Report Pembelajaran, laporan perkembangan ananda selama satu semester dalam menempuh seperangkat materi pelajaran dan BUKAN hasil akhir.

Oleh karenanya, saat menerima raport lakukan hal-hal berikut :

Tutup Raport terlebih dulu !. Tanyakan kepada ananda, Pelajaran apa yang ia sukai dan siapakah guru yang ia sukai.
Ini akan berpengaruh terhadap nilai di dalam raport.

Belajar adalah hasil kerja mental emosional (EQ) yg kemudian mengarahkan kemampuan kognitif nya (IQ) untuk meresponnya untuk memperoleh nilai-nilai belajar.Buka Raport.
Fokus kepada nilai TERTINGGI yang ada di raport.

Coba cek, adakah signifikansi dengan pelajaran yg diminati anak dan guru nya yg dia sukai.

Sekali lagi
FOKUSlah kepada NILAI TERTINGGI karena disitulah KELEBIHAN ananda. Itulah Anugerah terindah dari Tuhan Alloh yg diberikan. Terima dan Syukuri !

Berikan senyuman dan ucapan dengan kalimat yg berisi pujian, apresiasi dan penghargaan dg tulus kpd ananda atas prestasinya.Perhatikan nilai nilai yg tertinggi dan nilai nilai pelajaran yg rendah.

Perhatikan pembagian secara sederhana untuk memudahkan memetakan OKa (otak kanan) dan OKi (otak kiri)

Kelompok pelajaran:
Otak Kiri (matematika, IPA/sains, fisika, kimia, biologi, teknik dll).
Otak Kanan (bahasa, seni, IPS, dll)

Jika Ananda dominannya di OKi, maka arahkan nantinya ke jurusan sesuai bidang Otak kiri. Demikian sebaliknya.

Raport ini juga bermanfaat untuk deteksi kecerdasan sekaligus penjurusan !!!

Jangan sekali-kali memaksakan anak yg dominan di pelajaran otak kanan, misalnya, untuk kuliah / sekolah menengah di jurusan golongan otak kiri, semisal Matematika, IPA , kedokteran, teknik dll .

Selain kasihan kepada anak, karena akan menjadi beban, juga kecerdasan anak memang bukan disitu. Akhirnya hasil / prestasinya menjadi kurang maksimal.

Tanyakan kepada ananda, nilai pelajaran apa yg rendah, mengapa bisa terjadi dan bagaimana solusinya untuk selanjutnya !

Ini sekaligus berguna bagi penguatan fondasi jiwa dan mental anak.

Melatih anak agar ia menerima diri apa adanya. Memaafkan diri dan ikhlas atas kekurangan kita sebagai hamba Alloh yg lemah, kurang, sehingga memotivasi diri untuk memperbaiki.

Kecerdasan spiritual (SQ) dan keimanan yg kokoh dibangun dengan melihat diri bahwa manusia memiliki sekian banyak KELEBIHAN sekaligus KELEMAHANNYA…!

Maka latihlah ananda untuk belajar menerima diri apa adanya.

Jangan sekali-kali MEMBANDING BANDINGKAN dengan anak lain!
Karena anak anda adalah unik, berbeda dan HANYA SATU DI DUNIA tidak ada duanya.

Alloh sdh memberi Fitroh terbaik !
Bakat, minat, kecerdasan, modalitas belajar dan potensi yg khas, berbeda dengan anak lain.

So… Jangan dibandingkan !!! Karena putra putri Anda Tidak ada bandingannya.

Tulisan dari berikut ini juga layak untuk diperhatikan :

BERHENTILAH anda memamerkan ranking puta-putri anda!

Yang TERPENTING dari Pendidikan itu BUKAN ranking.

Hakekat dari pendidikan itu adalah menjadikan anak anda:
• Mencintai aktivitas membaca untuk mencari pengetahuan
• Bisa berpikir Logis
• Tahu nilai-nilai benar & salah
• Mampu mengembangkan bakatnya, dan
• Punya semangat juang untuk mewujudkan apa yang dia inginkan secara disiplin & konsisten.

BERHENTILAH anda menjadikan ranking putra-putri sebagai kunci dari keberhasilan !
Ketika kita menjadikan ranking sebagai bukti keberhasilan pada anak kita, dampak terbesar adalah pada titik itulah kita berfokus. Kenyataannya TIDAK !!

Saat anak anda mencintai membaca maka mereka menguasai banyak pengetahuan, tidak peduli apakah mereka punya ranking baik atau buruk.

Saat anak anda bisa bepikir logis maka mereka akan mampu membangun visi dan impian mereka.
Visi dan impian mereka itu tidak bisa dinilai per semester untuk diperbandingkan antara anak satu dengan anak lainnya.

Saat anak anda tahu mana nilai yang benar dan mana yang salah maka mereka akan punya integritas

Saat mereka mengenal bakat mereka yang sesungguhnya maka mereka akan mampu menghasilkan karya dan dedikasi yang terbaik

Saat anak anda punya semangat juang maka itulah kunci sejatinya kesuksesan hidup.
Dan ini semua tidak bisa diranking.

Jika anda fokus pada ranking, maka anda akan kehilangan nilai-nilai yang hakiki dalam pendidikan.

Kalau anda harus kompromi dengan sistem pendidikan sekolah maka “kompromi” anda adalah: usahakan anak anda SELALU naik kelas dan bergairah menjalani aktivitas sekolahnya.

Terakhir,
Maknailah nilai raport anak anda HANYA sebagai SALAH SATU indikator untuk tahu mana titik lemahnya dan mana titik unggulnya.

Semoga dengan raportan yg bapak ibu terima, semakin memotivasi untuk tumbuh kembangnya potensi dan kecerdasan serta bakat minat ananda !

Raportan bukan Raport Amal Baik dan Buruk Hari Akhir, bukan…?

Buku Raport ananda bukan catatan amal baik dan buruk hari akhir nanti, yg tidak bisa diperbaiki.

Raport bukan hasil akhir, ia adalah catatan hasil belajar ananda yg masih bisa dievaluasi dan diperbaiki !

Semoga Alloh menganugerahkan kesolehan dan berkenan mencerdaskan anak kita semua, yg mana kecerdasannya itu dijaga oleh Nya

Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin…

Semoga bermanfaat…..

sumber copas akun Zulfa Hana facebook

Kisah Seekor Burung Pipit

Ketika musim kemarau baru saja mulai, seekor Burung Pipit mulai merasakan tubuhnya kepanasan, lalu mengumpat pada lingkungan yang dituduhnya tidak lagi bersahabat.

Kemudian dia memutuskan untuk meninggalkan tempat yang sejak dahulu menjadi habitatnya.
Terbanglah dia jauh ke utara yang konon kabarnya, udaranya selalu dingin dan sejuk.

Benar, pelan-pelan dia merasakan kesejukan udara, makin ke utara makin sejuk, dia semakin bersemangat memacu terbangnya lebih ke utara lagi.

Terbawa oleh nafsu, dia tak merasakan sayapnya yang mulai tertempel salju, makin lama makin tebal, dan akhirnya dia jatuh ke tanah karena tubuhnya terbungkus salju.

Sampai ke tanah, salju yang menempel di sayapnya justru bertambah tebal.
Si Burung pipit tak mampu lagi berbuat apa apa, menyangka bahwa riwayatnya telah tamat.

Dia merintih menyesali nasibnya. Mendengar suara rintihan, seekor Kerbau yang kebetulan lewat datang menghampirinya.
Namun si Burung kecewa mengapa yang datang hanya seekor Kerbau, dia menghardik si Kerbau agar menjauh dan mengatakan bahwa makhluk yang tolol tak mungkin mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.

Si Kerbau tidak banyak bicara, dia hanya berdiri, kemudian kencing tepat diatas burung tersebut.
Si Burung Pipit semakin marah dan memaki maki si Kerbau.
Lagi-lagi Si kerbau tidak bicara, dia maju satu langkah lagi, dan mengeluarkan kotoran ke atas tubuh si burung.

Seketika itu si Burung tidak dapat bicara karena tertimbun kotoran kerbau. Si Burung mengira lagi bahwa mati karena tak lagi bisa bernapas.

Namun perlahan lahan, dia merasakan kehangatan, salju yang membeku pada bulunya pelan pelan meleleh oleh hangatnya tahi kerbau, dia dapat bernapas lega dan melihat kembali langit yang cerah.

Si Burung Pipit berteriak kegirangan, bernyanyi keras sepuas-puasnyanya.

Mendengar ada suara burung bernyanyi, seekor anak kucing menghampiri sumber suara, mengulurkan tangannya, mengais tubuh si burung dan kemudian menimang-nimang, menjilati, mengelus dan membersihkan sisa-sisa salju yang masih menempel pada bulu si burung.

Begitu bulunya bersih, Si Burung bernyanyi dan menari kegirangan, dia mengira telah mendapatkan teman yang ramah dan baik hati. Namun apa yang terjadi kemudian, seketika itu juga dunia terasa gelap gulita bagi si Burung, dan tamatlah riwayat si Burung Pipit ditelan oleh si Anak Kucing.

Refleksi Hikmah :

  1. Halaman tetangga yang nampak lebih hijau, belum tentu cocok dan baik buat kita.
  2. Baik dan buruknya penampilan, jangan dipakai sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.
  3. Apa yang pada mulanya terasa pahit dan tidak enak, kadang-kadang bisa berbalik membawa hikmah yang menyenangkan, dan demikian pula sebaliknya.
  4. Ketika kita baru saja mendapatkan kenikmatan, jangan lupa dan jangan terburu nafsu, agar tidak kebablasan.
  5. Waspadalah terhadap Orang yang memberikan janji yang berlebihan

copas dari status akun Zulfa Hana

5 Langkah Mengajarkan Konsep Cita-cita pada Anak

kecenderungan untuk fokus dalam menjalani hidup. Mereka akan tumbuh jadi pribadi yang punya semangat juang tinggi. Karena itu juga, tidak ada salahnya jika Moms mulai mengenalkan konsep cita-cita kepada Si Kecil.

Memasuki usia 4 tahun, Si kecil sudah bisa dikenalkan dengan konsep cita-cita. Di usia itu, Si Kecil umumnya sudah punya cita-cita saat dewasa nanti.

Dikutip dari Biglifejournal.com, ada beberapa langkah yang perlu Moms lakukan untuk membantu Si Kecil mengenal konsep cita-cita. Seperti apa langkahnya? Cari tahu yuk Moms!
Biarkan Mereka Memilih Tujuan atau Cita-cita
Moms bisa mulai bertanya soal tujuan atau cita-cita Si Kecil untuk jangka pendek dan jangka panjang. Moms jangan terlalu ikut campur untuk urusan ini.

Biarkan Mereka Memilih Tujuan atau Cita-cita

Moms bisa mulai bertanya soal tujuan atau cita-cita Si Kecil untuk jangka pendek dan jangka panjang. Moms jangan terlalu ikut campur untuk urusan ini.

Biarkan Si Kecil memilih sendiri tujuan dan cita-citanya. Dengan memilih sendiri, dia tentu punya alasan untuk mewujudkannya.

Moms bisa membantu Si Kecil untuk menentukan tujuan dan cita-cita yang realistis. Tapi ingat lho Moms, hanya membantu mengarahkan, bukan memilihkan.

Diskusikan Tujuan atau Cita-cita Itu

Jika Si Kecil sudah punya tujuan atau cita-cita, Moms bisa mengajaknya berdiskusi.

Tanyakan apa yang membuatnya memilih tujuan atau cita-cita itu, apa keuntungannya nanti, bagaimana dampaknya pada kehidupan nanti, dan apakah tujuan dan cita-cita tersebut bisa jadi cara untuk menolong banyak orang.

 

Urai Tujuan atau Cita-cita itu jadi Langkah-Langkah Kecil

Setelah Si Kecil mantap dengan tujuannya, Moms bisa membantunya untuk mengurainya jadi langkah-langkah kecil untuk sampai ke tujuan tersebut.

Buatlah gambaran langkah apa saja yang harus mereka lakukan untuk bisa sampai ke tujuan atau cita-cita itu.

Diskusikan Hambatan yang Mungkin Muncul

Diskusikan juga hambatan yang mungkin muncul saat Si Kecil mengejar tujuan atau cita-citanya itu.

Moms juga bisa membantu Si Kecil membuat daftar hambatan yang mungkin terjadi dan diskusikan solusi apa yang bisa diambil untuk mengatasi hambatan tersebut.

Hargai Setiap Usaha yang Telah Dilakukan

Ketika Si Kecil mulai punya tujuan atau cita-cita dan mulai berusaha untuk mencapainya, Moms harus berikan penghargaan.

Moms bisa bilang bahwa usaha yang dilakukannya sudah baik atau yang lainnya. Hal itu akan membuat Si Kecil semakin termotivasi karena mendapat dukungan dari Moms.

Anak-anak tentunya memiliki cita-cita yang beragam, oleh sebab itu Moms harus bisa mendukung cita-cita Si Kecil. Selamat mencoba!

(AND)

8 Cara Memotivasi Anak Agar Rajin Belajar

Anak-anak di usia dini memang terkadang sedikit sulit untuk disuruh belajar. Hal itu terjadi karena mereka belum mengetahui apa sebenarnya manfaat dari belajar itu sendiri.

Namun, jika kesulitan tersebut terjadi pada anak-anak yang seharusnya sudah mengerti manfaat belajar, di sinilah orang tua berperan. Orang tua harus memiliki berbagai cara agar dapat mendongkrak semangat anak untuk belajar.

Anak-anak yang sulit untuk belajar dapat berubah jika orang tua dapat mendidiknya atau memotivasinya dengan benar. Bagaimana caranya? Berikut ini 8 cara memotivasi anak agar rajin belajar yang bisa Anda coba mulai dari sekarang.

1. Berikan waktu anak untuk melakukan hobi

Belajar memang penting, tetapi melakukan hal yang disukai juga tak kalah penting. Sekolah, les, dan pekerjaan rumah memang membuat tekanan pada diri anak.

Jika Anda memforsir dia untuk belajar dan belajar setiap hari maka anak Anda bisa stres. Hal ini sangat disayangkan karena usia dia masih muda.

Salah satu cara memotivasi anak agar rajin belajar adalah memberikan dia waktu untuk melakukan hobinya karena dengan keseimbangan antara hobi dan studi dapat membuat keefektifan belajar semakin meningkat.

2. Buat struktur belajar yang baik

Agar anak dapat termotivasi untuk belajar dengan rajin, maka Anda dapat menerapkan pola disiplin, misalnya saja membuat jadwal belajar. Untuk memulai kebiasaan baru yang baik kuncinya hanya satu, yaitu disiplin.

Ketika berada dalam waktu belajar Anda harus membuat tidak ada kegiatan lain selain belajar. Sebagai contoh, Anda Anda tidak boleh bermain game atau berinternet ria saat belajar.

Tak hanya itu, sebaiknya Anda juga memberikan contoh yang baik. Ketika jam belajar, Anda juga jangan bermain HP saja. Hal ini tentu membuat anak Anda semakin termotivasi.

3. Beri pujian

Agar anak Anda semangat untuk belajar, maka Anda bisa memberikan sesuatu, seperti hadiah atau pujian ketika dia berprestasi. Jangan sering memberikan anak hadiah tanpa ada usaha untuk rajin belajar. Hal tersebut akan menyebabkan anak Anda manja dan gampang merengek.

Anak yang mendapat reward ketika berprestasi pasti akan termotivasi dan akan lebih giat ke depannya. Ketika belajar sudah menjadi kebiasaan tanpa disuruh, lambat laun dia akan menemukan apa arti dan manfaat belajar itu sendiri.

4. Lakukan terapi

Apa Anda pernah dengar yang namanya terapi hypnosleep? Hypnosleep menghipnotis anak melalui kata-kata yang kita ucapkan ketika anak tidur. Kata-kata tersebut bisa berupa doa, kata-kata bijak yang memotivasi, atau pujian Anda terhadap anak Anda.

Untuk melakukan terapi hypnosleep ini, pastikan anak Anda telah berada di fase tidur nyenyak. Alam bawah sadarnya akan menangkap kata-kata yang Anda ucapkan.

Walaupun terapi hypnosleep ini masih diperdebatkan, tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

5. Tidak fokus ke nilai

Mengajari anak geografi

Setiap anak itu berbeda-beda. Mereka mempunyai skill dan kecerdasan di bidang yang berbeda pula. Oleh karena itu, jangan langsung memarahi dan menghakimi anak ketika nilai matematikanya jelek.

Mungkin saja dia memang memiliki kesulitan berhitung tapi kecerdasannya tinggi di bidang ilmu sosial. Misalnya, dia lebih suka bahasa, geografi, atau ekonomi.

Jika Anda memarahi anak karena salah satu mata pelajarannya jelek, maka hal ini dapat membuat anak merasa putus asa. Alih-alaih, Anda sebagai orang tua harus turun tangan. Bantulah anak ketika dia kesulitan matematika dan pantaulah terus bagaimana perkembangan dia.

Pendek kata, untuk memotivasi anak agar rajin belajar, jangan fokus pada nilai tinggi. Namun, fokuslah pada perkembangan cara belajar anak Anda.

6. Masuk ke kehidupannya

Ada banyak alasan kenapa anak Anda malas belajar, mungkin saja mereka kesulitan untuk menerima pelajaran. Untuk itu, jangan langsung memarahi anak ketika dia malas belajar.

Anda sebagai orang tua harus bisa masuk ke kehidupannya. Cari tahu mengapa dia tidak suka pelajaran A, B, dan C. Apakah ada masalah dengan gurunya atau kesulitan tertentu? Jika ya, maka Anda dapat mencari solusi agar masalah tersebut dapat teratasi.

7. Beri dukungan

Dukungan mungkin adalah hal sederhana. Meski demikian, dukungan mempunyai pengaruh besar terhadap pola pikir anak. Oleh karena itu, dukunglah apa pun yang anak Anda lakukan dalammeraih cita-citanya.

Jika Anda memberikan dukungan penuh pada anak, maka secara alamiah anak akan termotivasi untuk belajar atau mendalami hobinya dengan rajin.

Selain itu, akan timbul rasa tanggung jawab dalam diri anak sehingga tanpa perlu Anda suruh pun dia akan belajar dengan sendirinya.

8. Jelaskan manfaat belajar

Jika anak Anda masih malas belajar, maka Anda sebagai orang tua bisa menyampaikan kepada anak apa sebenarnya manfaat dari belajar. Anda jangan menyampaikannya dengan bentakan. Sampaikanlah dengan lembut, penuh pengertian, dan santai.

Berbincang ringan mengenai manfaat belajar dan fungsinya untuk masa depan dapat membuka pikiran anak Anda. Informasikanlah bahwa dengan belajar kita bisa meraih dan mendapatkan apa yang dicita-citakan.

Penutup

Demikianlah 8 cara memotivasi anak agar rajin belajar. Sebagai orang tua Anda perlu memiliki trik khusus atau cara mendidik anak agar tidak malas belajar.

Anda dapat mencoba satu persatu cara di atas yang sekiranya cocok. Semoga artikel ini bermanfaat dan masalah Anda dapat segera teratasi.
sumber tipspengembangandiri.com

5 Cara Menghukum Anak Yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam

Mendidik dan membesarkan anak bukanlah perkara yang mudah. Sebagai orang tua, tentu ada saatnya Abi dan Ummi merasa perlu untuk menghukum anak agar ia mengerti bahwa yang dilakukannya tidak benar. Oleh karena itu, orang tua perlu mengetahui cara menghukum anak yang tepat agar tidak menyakiti si anak. Di dalam agama Islam, kita diajarkan untuk selalu bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang kepada anak-anak. Namun, ada saatnya orang tua harus bertindak tegas. Tegas bukan berarti galak atau kasar. Tegas di sini adalah orang tua mengatakan dengan jelas hal yang tidak disuka dari anaknya dengan menatap mata anak karena mata adalah jendela hati. Dengan begitu, anak akan mengerti yang dimaksud oleh Abi dan Ummi.

Islam adalah agama yang rinci. Adab dalam mendidik anak pun dijabarkan dalam Islam, di antaranya adalah cara menghukum anak. Berikut akan kami berikan 5 cara menghukum anak yang tidak dibenarkan dalam Islam. Semoga kita tidak termasuk orang yang melakukannya.

1. Memukul Wajah

memukul wajah merupakan cara menghukum anak yang tidak dibenarkan dalam Islam
Memukul wajah tidak dibenarkan dalam Islam (http: dolmanlaw.com)

Rasulullah saw. bersabda, “Jika salah seorang dari kalian memukul, hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah,” (H.R. Abu Dawud). Dalam hal ini, bukan berarti kita bebas memukul siapa pun asal tidak mengenai wajah, melainkan hadis ini menegaskan bahwa jika suatu saat kita memerlukan pukulan sebagai hukuman/pendidikan pada orang yang kita kasihi, tidak dibenarkan memukul wajah.

Pemukulan dilakukan pada orang yang memiliki akal, yang mengerti bahwa pukulan tersebut adalah akibat tindakan yang tidak baik sehingga ia tidak akan mengulanginya lagi.

2. Memukul yang Terlalu Keras sehingga Berbekas

Memukul terlalu keras atau menggunakan benda keras dan mengakibatkan tanda/bekas juga tidak diperbolehkan. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa makna dari “pukullah” adalah “fadhribuuhunna ghairu mubarrih”, yaitu pukullah dia dengan tanpa membahayakan, seperti bengkak atau berbekas (H.R Muslim).

caramenghukum anak dalam Islam - Parenting Islami
Pukullah di bagian kaki dengan tidak menggunakan benda yang berbahaya.
(http://www.telegraph.co.uk)

3. Memukul dalam Keadaan Sangat Marah

Memukul dalam keadaan marah atau sangat marah juga dilarang. Jika hal ini dilakukan, dikhawatirkan akan lepas kontrol sehingga memukul secara berlebihan. Kemungkinan lepas kontrol dalam keadaan sangat marah terjadi karena kita tengah dikuasai emosi.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut karena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat kepadaku, ternyata dia adalah Rasulullah saw. dan beliaulah yang berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’

Aku pun segera melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada kamu terhadap budak ini.’ Aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini,’” (H.R. Muslim)father and son

Jangan membentak dalam keadaan sangat marah karena akan melukai perasaan anak (http://2.bp.blogspot.com/)

4. Bersikap Terlalu Keras dan Kasar

Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang merupakan sebab datangnya kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.“Barang siapa yang terhalang dari (sifat) lemah lembut, (sungguh) dia akan terhalang dari (mendapat) kebaikan,” (H.R.Muslim).

Dari Anas bin Malik, “Aku membantu Nabi selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku. Tidak pernah beliau berkata, ‘Mengapa engkau melakukan demikian?’ atau ‘Mengapa tidak engkau melakukan demikian?’” (H.R. Ahmad, Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud).

Dengan bersikap keras dan kasar kepada anak, justru kita sedang mengajarkan anak untuk menjadi kasar dan pembangkang. Meskipun masih anak-anak, sebenarnya anak sudah dapat diajak berdiskusi dan mengerti hal yang diinginkan orang tua jika hal tersebut disampaikan dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, dan bertukar pikiran.

angry mom
Saat anak melakukan kesalahan, beritahukan kesalahan tersebut dengan cara baik-baik (http://www.mypermatahati.com/)

 5. Menampakkan Kemarahan yang Sangat

Menampakkan kemarahan yang sangat juga dilarang karena bertentangan dengan petunjuk Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda, “Bukanlah orang yang kuat itu (diukur) dengan (kekuatan) bergulat (berkelahi), melainkan orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah,” (H.R. Bukhori dan Muslim). Ketika melihat orang tua marah besar, ada kemungkinan anak menjadi takut pada orang tuanya atau menjadi seorang yang tertutup. Bahkan, anak  akan meniru perilaku orang tua, yaitu menjadi anak yang mudah mengumbar amarah.

angry
Jangan membiarkan diri dikendalikan oleh amarah (http://intisari-online.com//)

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kita dan tidak salah dalam menggunakan cara menghukum anak sehingga tidak menyakiti anak. Aamiin.

ssumber abiummi.com

Stop Bilang “Jangan Menangis” Kepada Anak

Mendidik anak memang tak mudah. Perkataan yang kelihatannya sepelepun bisa berdampak negatif pada psikologis anak.

Contohnya, saat si kecil asyik bermain kejar-kejaran, kakinya tidak sengaja menendang sesuatu yang membuatnya kesakitan dan menangis. Lantas, Moms mengatakan “Jangan menangis, Sayang…” untuk meredakan tangisan si kecil. Berhasilkah? Atau malah membuatnya semakin memperkeras tangisannya?

Berikut adalah beberapa perkataan yang sering orangtua ucapkan pada buah hatinya, namun perlu Moms hindari mulai sekarang:

Pergi sana! Jangan ganggu Mama!

Ketika sedang sibuk, si kecil datang menghampiri Moms untuk mengajak bermain. Tanpa memberikan penjelasan, Moms langsung menyuruhnya pergi dan mengatakan bahwa kehadirannya mengganggu Moms saat itu.

Ketahuilah bahwa Moms telah menyakiti hatinya dengan perkataan itu. Si kecil mungkin akan pergi menjauh dari Moms dengan rasa kecewa dan kesal. Hentikan mengatakan ini. Lebih baik Moms berusaha menjelaskan mengapa Moms tidak dapat menemaninya bermain saat ini dan meminta waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Moms.

Kamu sangat…

Memberikan label pada anak-anak akan membuat mereka berpikir demikian. Misalnya, saat orangtua memberikan label negatif pada anaknya mereka akan berpikir bahwa seperti itulah dirinya dan tak membuatnya jadi tidak percaya diri. Misalnya, “Kamu sangat nakal!” atau “Si Pemalu”. Dua hal ini secara tidak langsung akan menempel pada diri anak.

Si kecil yang diberikan label nakal oleh orangtuanya merasa itu adalah hal yang wajar jika dia melakukan kenakalan lagi. Sementara itu, si kecil yang diberikan label pemalu oleh orangtuanya akan sulit mengembangkan dirinya karena orang lain akan mengenalnya sebagai pemalu.

Jadi, saat dia melakukan sesuatu yang mengagumkan, orang akan berkata “Enggak disangka, si pemalu ini ternyata…”. Hal ini justru akan membuat kepercayaan dirinya sulit berkembang karena ekspektasi orang-orang menganggap dirinya tidak akan bisa.

Anak pintar!

Sama halnya seperti memberi label negatif, terlalu sering memuji anak dengan melabelinya anak paling pintar, paling cantik, dan sebagainya akan membuatnya haus akan pujian dan secara tidak sadar akan berpengaruh buruk bagi perkembangan mental anak kelak.

Tidak ada salahnya memuji anak, hal itu memang perlu, namun jangan terlalu sering memberikan pujian untuk hal-hal kecil. Ketika anak berhasil menghabiskan makanannya, jangan katakan “Anak pintar…”. Moms dapat mengucapkan terima kasih atau mengangkat ibu jari Moms sebagai simbol positif bahwa dia telah menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan sewajarnya.

Jangan menangis

Variasi lainnya adalah “Jangan sedih” atau “Jangan takut”. Ketahuilah bahwa perasaan sedih, takut, dan menangis adalah emosi wajar yang dapat dirasakan oleh manusia. Moms tidak dapat menyuruhnya untuk tidak menangis, tidak takut, dan tidak bersedih hanya dengan melarangnya. Moms dapat membahagiakannya dengan menghiburnya agar tidak menangis dan mengajarinya untuk berani agar tidak takut.

Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?

Sadarkah Moms, hal ini sering dilakukan orang tua? Hal ini sama seperti membandingkan anak dengan teman sebayanya. Misalnya, “Nak, lihat deh, dia saja sudah bisa memakai baju sendiri,” atau “Raka bisa dapat ranking di kelas. Kenapa kamu tidak?”.

Tidak salah jika orangtua berharap anaknya cepat mempelajari suatu hal dengan baik. Akan tetapi, membanding-bandingkan anak tidaklah baik. Jangan biarkan anak Moms tumbuh menjadi anak yang iri dan tertekan atas perkataan Moms. Lebih baik, ganti kalimat tersebut dengan “Wah, kamu sudah bisa memakai baju sendiri!”.

Memuji atau menyinggung perasaan anak secara berlebihan dapat mengganggu perkembangan mental mereka. Berhati-hatilah setiap berucap kepada anak Moms karena mereka akan bertumbuh sesuai apa yang Moms ajarkan.

Apakah Moms sering mengucapkan kata-kata tersebut kepada anak? Bagaimana respons anak saat mendengar ucapan tersebut?

sumber orami.co.id

Menyiapkan anak laki-laki mimpi basah ( Aqil Baligh)

Dear Parents…
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan
sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat
kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games,
PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar
yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat
dan akrab dengan dunia anak-anak.
Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-
media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari
makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20
kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan
kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita
dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang
lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari
berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan
besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun
sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa
baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki
seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala
yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya,
kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus
kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk
mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak
melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan
informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.
Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra
putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak
perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa
menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya
menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk
membicarakannya kepada mereka.
Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7
tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya,
dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah,
ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah
dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu
hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah
yang harus mengambil tanggung jawab ini.

Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah
Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu
mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang
harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa
membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih
dahulu alat-alatnya :
– Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu
encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk
kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.
– Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.
Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk
membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :
– Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka
telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya
perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi
mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya..
Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu
sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih.
Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting
menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia
memasuki masa puber / baligh”
– Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu.
Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah
tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang
nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.
– Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh,
gunakan the power of touch.
Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala
anak laki-laki yang belum baligh.
Hal ini dapat menumbuhkan
keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka
tidak akan mau kita sentuh.

– Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa
mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah
hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.
– Sampaikan kepada anak kita :
Tentang mimpi basah & mani
• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki
masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami
mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal
ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan
mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada
mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita
persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.
• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah,
tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan
mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas
segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun
keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi
tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.
• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami
mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam
Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar /
mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci (“Aku berniat mensucikan diri dari
hadats besar karena Allah”). Minta ia untuk melafalkannya.
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan
tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga
seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Tentang madzi
• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat
oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan
mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan
kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).
• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan,
mencuci tangan lalu berwudhu.
• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa
sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah
ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara
menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita
lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak
merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita
sampaikan dengan baik.
Selamat mencoba …

-Elly Risman- —”” facebook.com

Hak-hak anak dalam pandangan Al-Quran

Berbicara tentang anak berarti berbicara tentang tanggung jawab orang tua dalam mengasuh anaknya. Menagasuh anak bukan sekedar membesarkannya untuk tumbuh sehat, namun anak juga mempunyai hak lain yang wajib dipenuhi oleh orang tua. Hak anak dalam keluarga adalah hak sebelum lahir dan hak sesudah lahir, yang pembahasannya adalah sebagai berikut.

Hak Anak Sebelum Lahir

Islam memperhatikan masalah anak tidak hanya setelah anak dilahirkan, tetapi bahkan sejak anak itu belum merupakan suatu bentuk. Syariat Islam memberikan perlindungan yang sangat besar terhadap janin yang berada dalam rahim ibu, baik perlindungan jasmaniah maupun rohaniyah sehingga janin tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang pada akhirnya lahir ke dunia dengan sempurna.

Allah SWT (dengan ke Maha Pemurahan-Nya) juga meringankan pelaksanaan  berbagai kewajiban bagi ibu hamil, seperti kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan, jika dengan mengerjakannya dapat menimbulkan madharat terhadap janin atau bayi (sesudah lahir). Akan tetapi dia wajib menggantinya setelah illatnya itu hilang.

Hak Anak Sesudah Lahir

Islam sangat serius dalam memberikan perlindungan kepada anak. Hal ini dibuktikan dengan pemberian  hak-hak yang begitu banyak demi menjamin petumbuhan dan perkembangan anak hingga menjadi manusia yang sempurna, baik jasmani maupun rohanai. Di antara hak-hak anak adalah sebagai berikut :

1. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengakuan dalam Silsilah Keturunan

Pengakuan dalam silsilah dan keturunan disebut juga dengan keabsahan. Keabsahan adalah sentral bagi pembentukan keluarga dalam Islam. Setiap anak muslim mempunyai hak atas legitimasi (keabsahan), yakni dipanggil menurut nama ayah yang diketahui.   Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 5.

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapakbapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka (panggilah mereka sebagai) saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2. Hak Untuk Hidup

Hak hidup adalah suatu fithrah. Tiada suatu makhlukpun yang dapat memberikan kematian kepada yang lain, sebab itu hanya milik Allah sang pencipta, tidak ada perubahan dan pergantian bagi sunnah (ketetapan Allah).  Islam melarang penghilangan nyawa anak dengan alasan apapun,baik karena kemiskinan atau alasan lain. Sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Quran.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.” (Al- An Am :15)

Islam menyuruh seluruh umat manusia agar senantiasa menjaga hak hidup anak kecil atau bayi, baik yang orang tuanya muslim ataupun non muslim, makanya dalam setiap pertempuran, Islam melarang seluruh kaum muslim membunuh kaum hawa dan anak-anak.

3. Hak Mendapatkan Nama yang Baik

Syariat Islam mewajibkan kepada orang tua untuk memberikan nama yang baik bagi seorang anak, karena nama dalam pandangan Islam memiliki arti penting dan pengaruh besar bagi orang yang menyandangnya. Selain itu nama akan selalu melekat dan berhubungan erat dengan dirinya, baik semasa dia hidup maupun sesudah mati. Nama itu sendiri merupakan tali pengikat yang amat kuat dengan semua tali keturunannya

4. Hak Anak Untuk Menerima Tebusan (Aqiqah)

Syariat Islam sangat memperhatikan dalam melindungi anak, salah satunya adalah dengan mengajak pemeluknya untuk mengeluarkan harta sebagai pengungkapan rasa suka cita atas lahirnya seorang anak, yaitu dengan mengajak umat Islam untuk menyajikan tebusan dari anak yang baru saja lahir dan membatasinya dengan seekor kambing untuk anak perempuan  dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Selanjutnya syariat Islam lebih mengutamakan agar aqiqah itu dilaksanakan pada hari ke tujuh dari tanggal kelahirannya.

Ada banyak ayat-ayat yang diperkuat oleh hadist rasul yang memberi petunjuk tentang disyariatkannya aqiqah. Salah satu hadits yang mensyariatkan aqiqah adalah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi yang Terjemahannya:

Hadis Ali bin Hujri mengabarkan kepada Ali bin Mushiri dari Ismail bin Muslim dari hasan dari Sumarah bekata: “Rasulullah SAW menyatakan bahwa” setiap anak tergadai dengan “aqiqah” yang harus disembelih pada hari ke tujuh (setelah kelahirannya) dan memberikan nama bersamaan dengan mencukur rambut”. (HR. Turmudzi).

5. Hak Akan Penyusuan

Bagaimanapun juga, mendapat ASI adalah hak tiap anak, mustahil seorang bayi meminta atau menuntut haknya yang satu ini. Karena bayi belum mempunyai kekuatan apapun. Orang tualah yang seharusnya menyadari bahwa memberikan ASI pada bayinya adalah sebuah kewajiban dan bentuk tanggung jawab.

Dalam Al-Qur’an  Allah SWT. Telah berfirman dalam surat Lukman :  14  sebagai berikut:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤

Terjemahannya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Menurut Abu Suja’, apabila seorang perempuan memberikan ASInya kepada seorang anak maka anak yang menyusui tersebut menjadi anaknya, tetapi harus memenuhi dua syarat yaitu 1) Apabila anak yang disusui tersebut berusia kurang dari dua tahun. 2) Apabila Anak telah menyusui lima kali secara terpisah-pisah

6. Hak Anak Untuk dijaga Kebersihannya

Dalam rangka melindungi kesehatan dan pertumbuhan anak, syariat Islam mengajak kepada para pemeluknya untuk melaksanakan sejumlah kegiatan yang diperkirakan mampu melindungi, menjaga dan menjamin keselamatan anak dari berbagai penyakit serta mencegah segala hal yang mampu mengganggu pertumbuhannya.

Apabila syariat Islam mengajak kepada kebersihan maka tak aneh bila menghilangkan kotoran dan penyakit dari anak itu merupakan suatu kewajiban. Sebagai contoh adalah berkhitan, mencukur rambut dan selalu menjaga kebersihan tubuh anak setiap saat. Menjaga Kebersihan Anak Yaitu menjaga kebersihan tubuh dan menghilangkan kotorankotoran pada tubuhnya.

7. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengasuhan

Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan disebut dengan hadhanah. Pengertian hadhanah menurut bahasa adalah mengumpulkan sesuatu kepada dekapan. Sedangkan hadhanah dalam ilmu fiqih adalah kewajiban terhadap anak untuk mendidik dan melaksanakan penjagaan serta menyusun perkaraperkara yang berkaitan dengannya apabila antara suami dan istri berpisah(bercerai) dan yang berhak merawat anak tersebut adalah pihak istri sampai umur 7 tahun, setelah itu anak disuruh memilih antara ayah dan ibunya.

8. Hak Anak Untuk Menerima Nafkah

Dalam hal ini syariat, Islam memerintahkan kepada setiap orang yang berkewajiban menunaikannya (memeberi nafkah) agar melaksanakan hal tersebut dengan sebaik-baiknya dan melarang dengan keras mangabaikan hak anak tersebut.

Orang tua di samping memberikan pendidikan mental spiritual atau kerohanian, orang tua juga berkewajiban memberikan makan dan minum (material) kepada anak-anaknya dengan makanan-makanan yang halal dan dihasilkan dari yang halal pula. Terjemahannya barang (dzatnya makanan itu) halal dan cara mendatangkan atau menghasilkannya juga dengan cara halal. Itulah kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, agar kelak menjadi generasi yang taqwa penuh tanggung jawab dan anak salih atau shahih. Makanan yang halal akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak, demikian juga makanan  haram akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak.

Pemberian nafkah ini sesuai dengan kemampuan dari orang tua dan secukupnya, tidak boleh berlebih dan juga tidak boleh sebaliknya. Berlebilebihan dalam memberi nafkah kepada anak berpeluang untuk berperilaku menyimpang dari norma-norma agama. Kikir dalam memberi nafkah dapat menyebabkan anak berprilaku tidak terpuji, seperti mencuri.

9. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pendidikan

Tanggung jawab mendidik anak sudah dimulai ketika seseorang memilih istri, sejak dalam kandungan hingga anak itu lahir sampai ia dewasa.  Menurut Ibnu Qoyyim, tangung jawab pendidikan itu dibebankan di atas pundak seorang ayah, baik di dalam rumah (keluarga) maupun di luar rumah, kaum bapaklah yang berkewajiban mendidik anak-anaknya.

Allah SWT. telah memerintahkan kepada setiap orang  tua untuk mendidik anak-anak mereka dan bertanggung jawab dalam pendidikannya, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Al-Tahrim : 6)

Menurut Abudin Nata ayat tersebut berbicara tentang pentingnya membina keluarga agar tehindar dari siksaan api neraka ini tidak hanya hanya semata-mata di artikan api neraka yang ada di akhirat nanti, melainkan juga termasuk pula berbagai masalah dan bencana yang menyedihkan  dan merusak citra pribadi seseorang.

Penutup

Anaka memiliki hak yang sama di depan orang tua, mereka tidak boleh dibeda-bedakan. Ini anak yang tertua, ini anak yang kedua dan seterusnya hingga anak yang bungsu. Memberika hak-hak anak dalam bentuk yang berbeda akan membuat anak merasa kerdi di dalam keluarga dan akan berefek buruk krtika dia berada di masyarakat kelak.

Semua hak-hak anak wajib ditunaikan oleh orang tua, mereka adalah tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan, karena suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat. Jika anak di abaikan, maka masa depannya akan menjadi suram. Wallahu a’lam.

By Media Al Balagh lensaalbalagh.com

Ini Manfaat Anak Suka Bermain Peran

Anak mana yang tidak suka bermain? Setiap anak menganggap tak ada yang lebih menyenangkan daripada bermain. Salah satu permainan yang disukai anak-anak dan mungkin pernah juga Anda alami saat kecil dulu, adalah bermain peran atau bermain ‘pura-pura’.

Saat bermain peran, anak-anak seakan masuk ke dalam dunianya sendiri, yang penuh keajaiban, dan petualangan seperti yang dialami oleh karakter favoritnya di TV. Dan tak jarang kita, para orang tua, diajak ikut masuk ke dalamnya.

Jika anak mengajak bermain peran, jangan buru-buru merasa malas dan menolaknya, Ma. Sebab, menurut banyak ahli, bermain peran bukanlah permainan tanpa makna, namun justru penting bagi perkembangan emosional, mental, intelektual, bahkan fisik anak. Nah, di bawah ini ada beberapa manfaat dari bermain peran yang perlu diketahui:

1. Membangun kepercayaan diri                                                                                     Dengan berpura-pura menjadi apapun yang anak inginkan, misalnya putri atau superhero, dapat membuat anak dapat “merasakan” sensasi menjadi karakter-karakter tadi sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.

2. Mengembangkan kemampuan bahasa                                                                    Saat bermain peran, anak pastinya akan berbicara seperti karakter atau orang yang diperankannya. Hal ini dapat memperluas kosakata anak dan melatihnya berpidato. Sering mengulangi dialog yang biasa ia dengar dari sebuah adegan dapat membuat anak lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri.

3. Meningkatkan dan kreativitas akal
Saat bermain peran, kreativitas anak akan terbawa keluar, sehingga anak menjadi banyak akal saat mencoba membangun dunia impiannya. Misalnya, kardus-kardus dibuat menjadi istana, bayangan-bayangan dari jari-jarinya yang bermain menjadi bentuk hewan, dan sebagainya.

4. Membuka kesempatan untuk memecahkan masalah
Pada situasi tertentu saat bermain peran, pikiran anak akan terlatih untuk menemukan solusi jika ada masalah terjadi. Misalnya, ketika boneka bayinya ditidurkan, anak akan menyadari bahwa bayi butuh selimut untuk tetap hangat. Denga memecahkan msalah saat bermain dapat membantu membangun kepercayaan diri anak saat nantinya harus mengatasi masalah di kehidupan nyata.

5. Membangun kemampuan sosial dan empati
Dalam bermain peran, anak sedang menempatkan dirinya dalam pengalaman menjadi orang lain. Menghidupkan kembali sebuah adegan bisa membantu dia menghargai perasaan orang lain sehingga dapat membantunya mengembangkan empati. Selain itu, karena bermain peran lebih menyenangkan dilakukan bersama teman, anak dapat belajar berkomunikasi, bergiliran, dan berbagi peralatan atau mainan bersama temannya.

6. Memberi mereka pandangan positif
Anak-anak memiliki imajinasi yang tidak terbatas. Bermain peran dapat membantu anak bermimpi dan berusaha mencapai mimpi dan cita-citanya.

sumber parenting.co.id

Wajib Coba! 5 Permainan Seru untuk Mengasah Kreativitas Anak

Pada zaman modern ini, jenis-jenis permainan untuk anak memang semakin beragam dan canggih. Semakin banyak anak usia dini yang pandai mengoperasikan gawai dan senang memainkan games. Hal ini wajar, Mam karena pada kenyataannya kita sekarang hidup dalam zaman digital. Namun, alangkah baiknya jika Mam juga melengkapi jenis-jenis permainan untuk anak dengan yang simpel, spontan, dan tidak perlu melibatkan teknologi.

Permainan kreatif untuk anak tidak harus yang mahal atau canggih, Mam. Hal terpenting adalah permainan tersebut dapat membuat anak gembira serta merangsang kemampuan motorik, emosional, sosial, bicara, dan daya berpikirnya.

Alat permainan edukatif terbagi menjadi dua, yang bersumber dari pabrik dan dari lingkungan. Alat yang kedua tidak harus berupa mainan. Benda-benda di sekitar atau barang yang sudah tidak terpakai, bisa dijadikan alat permainan untuk anak.

Tahukah Mam? Setidaknya ada lima manfaat permainan bagi perkembangan anak:

  • Melatih motorik kasar dan halus anak sehingga otot-otot tubuhnya akan terbentuk secara baik, sehat, dan seimbang.
  • Melatih sosio-emosional anak karena ia memiliki teman. Permainan juga dapat mendekatkan hubungan dengan orang tua dan merangsang si Kecil untuk berkomunikasi dua arah.
  • Melatih kemampuan kognitif anak. Melalui permainan, si Kecil akan belajar, mengenal, berkomunikasi, dan mengalami objek baru.
  • Melatih kepribadian. Dengan bermain, anak dapat berinteraksi dengan teman sebayanya. Interaksi dengan teman akan melatih si Kecil untuk bersikap jujur, sportif, dan ramah agar dapat diterima dan bekerja sama dengan mereka.
  • Melatih kreativitas. Melalui permainan, si Kecil akan memiliki ruang untuk berimajinasi, mengeksplorasi, dan memanipulasi alat permainannya. Eksplorasi ini secara perlahan akan mengasah kemampuan dan kreativitas si Kecil.

Berikut lima ide permainan untuk anak yang bukan hanya seru, melainkan juga dapat mengasah kreativitas si Kecil:

1. Tebak Suara

Alat yang dibutuhkan:

Kertas berisi daftar gambar dari sumber suara yang akan dicari oleh si Kecil. Mam dapat membuatnya berdasarkan tema tertentu, misalnya kendaraan atau hewan.

Cara bermain:

  • Ajak si Kecil berjalan-jalan di sekitar rumah. Minta ia untuk mendengarkan dengan saksama suara yang didengarnya.
  • Bila si Kecil bilang mendengar suara tertentu, misalnya burung, minta ia untuk memberi centang pada gambar sesuai sumber suara tersebut di kertas gambar yang sudah Mam buat sebelumnya.
  • Ulangi proses ini sampai seluruh gambar telah tercentang.

2. Es Pelangi

Alat yang dibutuhkan:

Cetakan es batu, air, beberapa pewarna makanan cair.

Cara bermain:

  • Ajak si Kecil menuang air di cetakan es batu hingga setengah penuh di setiap kotaknya.
  • Setelah semua kotak terisi, minta si Kecil untuk meneteskan aneka pewarna makanan di setiap kotak. Aduk setiap kotak dengan telunjuk hingga warnanya menjadi rata. Simpan cetakan di freezer selama 1-2 jam.
  • Keluarkan cetakan es batu dari freezer dan biarkan si Kecil bermain dengan es warna-warni hasil karyanya.

3. Gelembung Ular

Alat yang dibutuhkan:

Botol plastik kecil bekas, handuk kecil atau kaus kaki, 1 karet gelang, beberapa pewarna makanan, sabun cuci piring cair, air, gunting, wadah kecil.

Cara bermain:

  • Gunting bagian bawah botol hingga bolong.
  • Tutupi alas botol yang bolong dengan handuk atau kaus kaki. Lilitkan dengan karet gelang agar handuk tidak copot.
  • Teteskan pewarna makanan beraneka warna secara melingkar pada handuk yang kini telah menjadi alas botol.
  • Tuang sedikit air dan sabun cuci piring di wadah, aduk.
  • Celupkan bagian alas botol yang sudah ditutupi handuk ke dalam wadah, lalu angkat.
  • Lepaskan tutup botol, lalu tiup kencang, dan keluar lah gelembung ularnya.

4. Goresan Rahasia

Permainan ini tidak  membutuhkan alat khusus.

Cara bermain:

  • Minta si Kecil duduk memunggungi Mam. Lalu, buat goresan di punggungnya menggunakan tangan atau alat tertentu, seperti alat pemijat atau spidol (tidak dibuka). Mam bisa menggoreskan angka, huruf, atau bentuk. Minta si Kecil untuk menebak goresan apa yang Mam buat.
  • Selain di punggungnya anak, Mam juga bisa memainkan permainan ini di lengan, telapak tangan, telapak kaki, atau paha anak.

5. Bermain Pura-pura

Permainan ini tidak membutuhkan alat khusus dan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat di rumah, Mam bisa mengajak si Kecil untuk berpura-pura menjadi penyanyi, dokter, guru, dan sebagainya. Botol losion atau remote televisi dapat dijadikan mikrofon, dan ia dapat berdiri di atas bangku yang ceritanya adalah panggung.

Mam bisa juga melakukan permainan ini saat sedang berbelanja di supermarket. Sambil memilih-milih belanjaan, si Kecil dapat berpura-pura menjadi penjual yang menawarkan barang jualannya kepada Mam. Selain mengasah kreativitas karena ia belajar bermain dengan memanfaatkan benda yang ada di sekelilingnya, permainan ini juga dapat membangun kekompakan antara Mam dan anak.

Selain kelima permainan di atas, masih ada banyak ide lain tentang berbagai permainan untuk membangkitkan sensorik anak, mengasah akal pintarnya, serta membuatnya aktif bergerak. Tak hanya bermanfaat mendukung kepintaran si Kecil, permainan untuk anak tersebut juga baik untuk meningkatkan kedekatan Mam dengannya.

sumber wyethnutrition.co.id