Semangat Kurban; Manifestasi Keimanan dan Kepekaan Sosial

Waktu datang silih berganti, detik pergi tak kembali. Idul Fitri Usai, Idul Adha menghampiri.   Dalam momentum bulan Dzulhijjah yang mulia ini, setidaknya terangkum tiga syi’ar kaum muslimin se-dunia, yakni shalat Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji. Seluruh kaum muslimin menyambutnya dengan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan. Diantara nilai-nilai yang dapat kita ambil dari dalam momentum ini, adalah memahami esensi ibadah kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab, secara gramatikal merupakan isim mashdar (kata dasar) dari qaruba-yaqrubu-qurbaan, jama’ (plural)-nya qaraabiin. Secara etimologi, kurban bermakna dekat. Sedangkan makna secara terminologi artinya mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah tertentu, khususnya melalui sembelihan (azd-dzabaa’ih). Sedangkan, kurban dalam perspektif fikih -sebagaimana yang masyhur dipahami oleh masyarakat- adalah Udh-hiyyah yang artinya sebutan hewan yang disembelih pada waktu dhuha, yaitu ketika matahari naik sepenggalah, berupa onta, sapi, kambing dan domba pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (10-13 Dzulhijjah), lalu dibagikan kepada fakir miskin dan dhua’afa’, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hukum kurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah (yang sangat dianjurkan), seperti dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad. Hukum kurban ini berlaku untuk Muslim yang mukim, musafir, orang haji, laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Dasar hukum pensyari’atannya dapat kita lihat di dalam Al-Quran; “Sesungguhnya Kami telah memberimu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”. (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)

Ayat di atas, memerintahkan kita untuk men-tauhid-kan Allah Swt, melalui shalat dan berkurban, sebagai manifestasi rasa syukur, atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan kepada kita. Sehingga kemudian, kita berhak mendapatkan rahmat-Nya dan dimasukkan ke dalam telaga al-kautsar dan syurga-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a, dalam Kitab Majmu’ Fatawa-nya (jil.16/hal.531-532), ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Swt memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Swt, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Swt”.

 

Dalam hal kurban, Rasulullah Saw yang merupakan suri teladan terbaik kita, tidak hanya menganjurkan, tapi juga mengaplikasikannya langsung, bahkan menghadiahkan domba kepada beberapa kepala suku untuk menjadi contoh dan panutan bagi sukunya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw pernah berqurban dengan 100 ekor onta. Oleh karena itu Rasulullah Saw, mengecam keras kepada orang yang mampu, namun enggan berkurban; “Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, no.8256; Ibnu Majah, no.3123)

Selain dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt, keutamaan ibadah kurban akan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt, sehingga terbentuk pribadi yang bertaqwa. Allah Swt berfirman: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu…”. (QS. Al-Haj [22]: 37). Selain itu kurban termasuk ibadah yang paling utama, sehingga Al-Quran menggandengkan ibadah kurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua, sebagaimana dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

 

Sungguh beruntunglah orang yang memiliki kemampuan, lalu ia berkurban. Namun ironisnya, tidak sedikit orang yang digerogoti sifat kikir dan bakhil yang diselimuti oleh hawa nafsu, diperparah lagi dengan budaya kehidupan yang semakin berorientasi individualis dan materialis. Sehingga dimensi kemiskinan bukan hanya bermakna, kaum dhu’afa yang tidak memiliki harta. Justru mereka yang kaya harta, namun tak tergerak berkurban dan peduli terhadap sesama, hakikatnya jauh lebih miskin dan dhu’afa dalam hal kebaikan, sehingga jauh dari rahmat dan keberkahan Allah Swt.

 

Manifestasi Ketaatan dan Kepedulian

Secara historis, ibadah kurban mengingatkan kita mengenai nilai-nilai edukasi dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimussalam dalam ketaatan kepada perintah Allah Swt secara totalitas, tanpa berdalih dengan argumentasi yang menolak. Ketika Allah Swt memerintahkannya untuk menyembelih putra kesayangannya semata wayang yang beranjak remaja. Orang tua mana yang tidak berat dan sedih dalam menerima ujian berat seperti ini, namun inilah manifestasi (perwujudan) dari keimanan dan ketakwaan kepada Rabb semesta alam. Yang cukup menarik, terjadi dialog antara keduanya;  “Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”. (QS. Ash-Shaffat [37]: 102. Maka setelah teruji tekad Nabiyullah Ibrahim dan putranya, dalam melaksanakan perintah Sang Khalik, maka Allah Swt menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Karena ketaatan, perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim, maka Allah SWT memberinya gelar Khalilullah atau Khalilur Rahman, artinya Kekasih Allah Swt. Peristiwa tersebut menjadi tonggak dan teladan ibadah qurban yang kita lakukan sekarang ini.

 

Oleh karenanya, ibadah kurban memberikan pelajaran bagi kita, jika ingin diridhai dan dicintai oleh Allah Swt, maka harus buktikan pengorbanan dan perjuangan dalam ketaatan melaksanakan perintah-Nya, dengan sami’na wa-atha’na (kami mendengar dan kami taat) mengikuti syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw, tanpa keraguan dan keengganan.

 

Secara filosofis ibadah qurban sebagai simbol penyembelihan terhadap sifat-sifat hewani atau kebinatangan yang ada pada diri kita. Berupa sifat bakhil, rakus, egoisme, cinta berlebihan terhadap harta, jabatan, kekuasaan atau berburuk sangka, munafik, zhalim dan bermaksiat serta berbagai penyakit lainnya. Oleh karenanya, jangan hanya memaknai ibadah kurban sebatas seremonial rutinitas ritual formal. Semangat  kurban juga harus menjadi pemicu lahirnya pribadi dan bangsa berempati sosial yang tinggi, sehingga persoalan kemiskinan, kekurangan pangan, air, listrik dll, akan segera terentaskan.  Dengan berempati dan peduli, kita merasakan denyut penderitaan dan kesusahan orang lain. Sehingga terbentuklah kepribadian insan kamil, yang membangun keseimbangan hubungan kepada Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas), serta tumbuhnya ketajaman hati, pikiran dan perasaan sosial. Multidimensinya persoalan umat dan bangsa, jika berusaha mengimplentasikan syari’at Islam, sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah Swt, akan menjadi solusi kongret atas semua realitas.

 

Ibadah kurban juga, memberikan pelajaran kepada kita bahwasanya manusia tidak layak untuk dikorbankan. Oleh karenanya, Allah mengganti Ismail dengan hewan sembelihan. Hal ini memberikan makna, berarti manusia memiliki harkat dan martabat yang tinggi dan tidak pantas untuk dikorbankan, dalam pengertian dijajah, dijual, dihina atau segala perbuatan yang merendahkan derajat manusia. Merujuk kepada pembukaan UUD 1945, menyebutkan bahwa segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh karenanya, jangan ada penindasan antara yang satu dengan yang lain, apalagi berkesewenangan atas kekuasaan. Oleh karenanya pemerintah harus melindungi kemerdekaan rakyatnya, dengan mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran. Maka dengan momentum kurban, kita semua diharapkan mau berkorban untuk melawan segala egoisme dan mau berkorban untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara. Bukan justru mengorbankan orang lain, bangsa dan negara untuk kepentingan hawa nafsu pribadi dan kelompoknya.

 

Pada  akhirnya, dalam momentum Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji, yang merupakan syiar kebahagiaan kaum muslimin se-dunia, semakin menginternalisasikan nilai-nilai ketaatan kepada Allah Swt dalam manjalankan syariat Rasulullah Saw secara kaffah pada seluruh dimensi kehidupan. Serta semakin mengasah kepekaan sosial, meningkatkan bangunan ukhuwah Islamiyah, persatuan, kepedulian dan solidaritas umat, demi terwujudnya izzul Islam wal-muslimin. Sehingga dirasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin di muka bumi. (MZ)

Oleh : Muhammad Zaini, S.Kom.I

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta

Dewan Pengawas Forum Komunikasi Mahasiswa Kepulauan Riau (FORMAKRI) Jakarta

(Jum’at, 8 Dzulhijjah 1432 H/4 November 2011 M)

 

Mengapa Hewan Harus Disembelih? Ini Penjelasan Yusuf Qardhawi dan Hasil Penelitian EEG-ECG

Mengapa Islam mensyariatkan penyembelihan, bukan cara lain seperti mencekik, menembak atau membiusnya terlebih dahulu? Berikut hikmahnya menurut Syaikh DR Yusuf Qardhawi dan penelitian Hannover University dengan menggunakan Electro-Encephalograph (EEG)dan Electro Cardiograph (ECG):

Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

Syaikh DR Yusuf Qardhawi dalam buku Halal dan Haram dalam Islam menjelaskan rahasia penyembelihan dan hikmahnya sebagai berikut:

Rahasia penyembelihan ini, menurut yang kami ketahui, adalah untuk melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling cepat dan mudah, sehingga meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam supaya lebih cepat.

Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena leher merupakan tempat yang lebih dekat untuk memisahkan kehidupan dengan mudah.

Rasulullah melarang menyembelih binatang dengan gigi dan kuku, karena penyembelihan semacam itu menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan memudahkan penyembelihan. Beliau bersabda:


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu. Oleh karena itu jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuhnya. Apabila kamu menyembelih maka perbaikilah cara menyembelihnya; tajamkanlah pisaunya serta mudahkanlah sembelihannya.” (HR. Muslim)

Di antara tindakan yang baik adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah memerintahkan menajamkan pisau dan tidak memperlihatkan proses penyembelihan kepada binatang-binatang lainnya yang akan disembelih. Beliau bersabda:


إِذَا ذَبَحَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجْهِزْ

“Apabila salah seorang di antara kamu menyembelih, lakukanlah dengan cepat.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada seorang laki-laki membaringkan seekor kambing sambil mengasah pisaunya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أتريد أن تميتها موتات هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها

“Apakah engkau akan mematikannya beberapa kali? Mengapa tidak engkau asah pisaumu itu sebelum binatang tersebut engkau baringkan?” (HR. Hakim)

Umar Ibnul Khattab pernah juga melihat seorang laki-laki yang mengikat kaki seekor kambing dan diseretnya untuk disembelih, maka ia memperingatkan: “Celaka engkau! Giringlah dia kepada kematian dengan suatu cara yang baik.’ (HR. Abdurrazzaq).

Hasil Penelitian dengan EEG-ECG

Situs resmi Universitas Airlangga, unair.ac.id, melansir hasil penelitian
Penyembelihan Sapi dengan Stunning vs non Stunning Hannover University dengan judulsebagai berikut:

Disebutkan dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof Dr Schultz dan koleganya Dr Hazim memimpin penelitian mengenai manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syariat Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?

Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih.

Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu.

Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof Schultz dan Dr Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Penyembelihan menurut Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktik penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Pertama, pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali).

Keempat, karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan dengan cara Dipingsankan
Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan roboh. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia.

Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Hasil penelitian Prof Schultz dan Dr Hazim juga membuktikan pisau tajam yang mengiris leher ternyata tidaklah “menyentuh” saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras.

Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Subhanallah… demikianlah hikmah dan rahasia mengapa Islam mensyariatkan penyembelihan hewan. Wallahu a’lam bish shawab. [IK/bersamadakwah]

Source: http://www.bersamadakwah.com/2014/02/mengapa-hewan-harus-disembelih-ini.html

Akhir Cerita 12 Anak Thailand yang Terjebak dalam Gua

Tim sepak bola U-16 terperangkap di dalam gua Tham LuangTim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)

Meski telah ditemukan sejak Senin (2/7), 12 anak dan seorang pelatih sepak bolanya masih belum bisa dikeluarkan dari Gua Tham Luang, Thailand. Pasalnya saat ini gua tersebut masih dalam kondisi terendam banjir dan ketiga belas orang tersebut tidak bisa berenang maupun menyelam.
12 anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu telah terjebak di dalam gua yang berlokasi di provinsi Chiang Rai itu selama 12 hari, tepatnya sejak Sabtu (23/6) sore. Tim sepak bola itu memasuki gua tersebut usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak di dalam gua karena air hujan tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Lalu bagaimana jika banjir yang merendam gua tersebut tak kunjung surut? Apa cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa 12 bocah dan seorang pelatihnya itu?

Menurut Richard Black, penyelam gua sekaligus instruktur di Florida Dive Connection, AS, anak-anak tersebut membutuhkan pelatihan dasar teknik selam scuba (scuba diving) dengan cepat. Scuba diving sendiri merupakan kegiatan menyelam di bawah permukaan air menggunakan alat bantu pernapasan dengan tabung udara.
Jadi, menurut Black yang kini juga menjabat sebagai anggota dewan di ADM Exploration Foundation di Florida dan anggota tim penyelam Karst Underwater Research, kunci untuk menyelamatkan anak-anak Thailand itu adalah dengan mengajarkan mereka cara untuk menyelam.

Tidak mudah menyelam di dalam gua
Sialnya, untuk bisa menyelam di dalam gua bukanlah suatu hal yang mudah. Dilansir Live Science, cave diving adalah salah satu bentuk scuba diving yang lebih berbahaya dan lebih rumit. Cave Divers Association of Australia mencatat, ada 368 korban jiwa dilaporkan antara 1969 dan 2007 akibat melakukan kegiatan cave diving.
Dengan scuba diving biasa, “jika ada yang salah, Anda bisa langsung ke permukaan,” kata Black kepada Live Science. “Dalam cave diving, tidak seperti itu. Kamu berada di dalam terowongan yang dipenuhi air. (Pilihannya), Kamu harus melanjutkan (menyelam) atau kembali ke tempat kamu memulai.”
Banyak penyelam gua meninggal ketika mereka kehabisan oksigen atau tersesat atau terperangkap dalam sistem gua yang sempit.

Gua yang gelap
Selain karena berupa lorong sempit yang dipenuhi air, gua juga seperti labirin gelap sehingga mencari jalan keluar dari gua dengan menyelam bisa menjadi perkara yang rumit.
“Ketika kamu berada di dalam gua, kamu mengalami kegelapan seperti yang belum pernah kamu alami sebelumnya. Ini benar-benar kegelapan, itu artinya tidak adanya cahaya,” kata Black.
Selain itu, Gua Tham Luang baru-baru ini banjir sehingga airnya sangat keruh dan dipenuhi dengan lumpur, tambah Black. Itu berarti, bahkan dengan bantuan cahaya yang kuat, “pada dasarnya penglihatan seseorang (di dalam air) kini berkurang menjadi nol.”
Biasanya untuk mengatasi permasalahan ini, penyelam gua menggunakan tali panduan, biasanya hanya berupa tali tipis yang dipasang dari pintu masuk gua, yang kemudian mereka pegang agar bisa menjadi penunjuk arah saat kembali dari dalam gua.
Dalam situasi ini, tali yang tebal dan berat mungkin diperlukan agar 12 anak laki-laki yang terjebak di dalam gua dan baru akan merasakan pengalaman pertama kali menyelam, bisa memiliki sesuatu yang sangat jelas dan kuat untuk mereka genggam di dalam air yang deras, kata Black.

Tim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)
Perlu pakaian khusus
Selain alat bantu pernapasan dan tabung oksigen, anak-anak ini tampaknya juga perlu wet suit, pakaian khusus untuk menyelam. Sebab, suhu di bawah air akan menjadi masalah juga bagi orang-orang yang hendak menyelam
Meski Thailand yang berada di wilayah tropis memang memiliki suhu yang lebih hangat dari beberapa tempat lainnya, anak-anak tersebut nantinya tetap akan berada di bawah air.
“Anda kehilangan panas di bawah air, 25 kali lebih cepat daripada di udara. Jadi, anak-anak harus mengenakan wet suit agar tubuh mereka tetap hangat selama menuju jalan keluar,” kata Black.

Keuntungan menjadi anak-anak
Berdasarkan laporan berita, Black menuturkan bahwa tali jangkar sudah ditempatkan di mulut gua dan peralatan selam telah mulai diangkut ke dalam gua.
Black menganjurkan para penyelam berpengalaman untuk memberikan 12 anak laki-laki itu sebuah kursus kilat cepat cara menyelam. Kursus bisa dilakukan sesingkat 15 sampai 20 menit atau selama satu jam, tergantung pada seberapa nyaman anak-anak itu. Dan berdasarkan laporan Reuters, anak-anak itu memang akan mendapatkan kursus singkat penyelaman dalam gua.
Kuncinya, menurut Black, adalah mengajari mereka untuk tidak panik. “Mereka tidak membutuhkan semua keterampilan, mereka hanya perlu bernapas nyaman di bawah air,” katanya.

Menurut Black, adalah sebuah keuntungan bahwa yang terjebak di dalam gua itu anak-anak laki-laki yang mungkin tidak merasakan ketakutan yang sama seperti orang tua.
“Mereka adalah anak-anak berusia 13 tahun, mereka tidak memahami kematian mereka sendiri, mereka pikir mereka tak terkalahkan,” kata Black. “Itu akan menguntungkan mereka.”

sumber kumparanSAINS
Kamis 05 Juli 2018 – 20:02

Romantisme Kisah Cinta Legendaris Laila dan Majnun

Ilustrasi
Muslimahdaily – Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang bernama Qais. Ia anak tunggal dari seorang kepala suku yang terkemuka. Qais tampan, gagah dan dicintai semua orang. Ia juga memiliki segudang keterampilan, tetapi hanya syair yang paling ia gemari.

Setelah cukup umur, Qais bersekolah di sekolah yang paling prestisius di zamannya. Hanya mereka dari keluarga terpandang yang dapat bersekolah di sana, termasuk sang putri dari kepala suku tetangga, Laila. Cantik jelita, ramah mempesona. Banyak yang melamarnya, tapi hanya pulang dengan tangan hampa.

Takdir telah ditetapkan, Qais dan Laila ternyata teman sekelas. Mereka langsung saling mencinta sejak pandangan pertama. Percikan cinta berubah menjadi gelora membara, membuat sekolah yang mulanya tempat belajar menjadi jumpa sang kekasih.

Masyarakat menggunjing, perihal Qais dan Laila yang semakin menjadi-jadi. Dunia seakan milik berdua, menafikan segala eksistensi lain di sekitarnya. Orangtua Laila yang malu, menarik anaknya dari sekolah, menyisakan Qais yang hampa tanpa belahan jiwa. Ia menggila, meninggalkan rumah dan sekolah demi mencari sang pelita. Syair-syair mengiringi rasa rindu dan gundah, membuat orang-orang di sekitar berpikir, “Qais sudah gila (Majnun)!”

Majnun kini tinggal di puncak bukit, dekat desa Laila. Semuanya demi memuaskan rindu terhadap sang kekasih. Berbulan-bulan lamanya, ia kedatangan tamu juga, teman dekatnya. Mereka yang peduli terhadapnya, membantu Majnun untuk mempertemukannya dengan Laila.

Demi cinta, segalanya dilakukan, termasuk menyamar menjadi pelayan wanita dan menyusup ke dalam kediaman sang gadis tercinta. Laila yang merasakan getaran batin Majnun yang menggebu-gebu, segera menghias diri dengan pakaian indah nan menawan. Benar saja, ia akhirnya bertemu lagi dengan sang pangeran hati. Tak perlu kata, degup jantung sudah dapat berbicara. Kedua mata mereka saling merekam keindahan dari pelabuhan cintanya. Sayang, sang penjaga tiba-tiba datang dan memaksa mereka pulang. Orang tuanya pun memperketat penjagaan, menjauhkan sang malam dari rembulannya.

Majnun semakin gila. Orangtuanya berniat untuk menghiburnya dengan wanita-wanita cantik lainnya, tapi justru sia-sia. Majnun pun kabur dari rumah dan tinggal di alam bebas, demi hidupnya, demi cintanya. Di sebrang sana, Laila semakin gundah gulana. Terpenjara dalam kamar, hanya dapat bersahabat dengan sepi dan mencintai yang tak tampak.

Suatu ketika, seorang bangsawan yang terkemuka melihatnya di taman. Serta merta hatinya segera tunduk pada kecantikannya. Orangtua Laila yang mengetahuinya, segera melangsungkan pernikahan keduanya. Tentu, Laila menolak dengan sejuta alasan, tapi keputusan telah ditetapkan dan mereka berdua pun menikah.

Hati Majnun hancur, namun ia berhasil menguatkannya dengan ketulusan cinta. Ia menulis surat untuk Laila. Mendoakan pernikahannya dan hanya meminta satu tanda bukti cinta Laila kepadanya; mengingat nama Qais dalam hatinya. Laila semakin luluh, ia membalasnya dengan sepucuk surat cinta yang terdapat anting di dalamnya, sebagai tanda pengabdian jiwa kepada sang kasih.

Bertahun-tahun berlalu, Majnun masih tinggal bersama alam yang kian menemaninya siang dan malam. Sementara Laila yang sudah bersuami, tak juga menampakkan kegoyahan pada pendirianny. Hatinya tetap untuk Qais, padahal sang suami sudah berusaha membahagiakannya selama ini. Akhirnya, suami Laila jatuh sakit dan meninggal. Laila menangis sejadi-jadinya, tapi bukan suaminya yang ia tangisi, melainkan Majnun yang selama ini tidak juga ada kabarnya. Ia takut, kekasihnya sudah berpulang ke akhirat mendahuluinya.

Hal ini membuat Laila hidup secara tidak teratur; enggan makan, tidak pernah tidur dan banyak melamun. Kondisi kejiwaan Laila yang semakin parah membuatnya jatuh sakit. Hingga pada suatu malam di musim dingin, di tengah sakitnya, Laila meninggal dunia sambil terus bergumam, “Majnun,” berkali-kali.

Berita duka ini akhirnya sampai ke telinga Majnun. Betapa sedih hatinya, mengetahui kekasihnya sudah pergi mendahuluinya, sampai-sampai ia pingsan tak sadarkan diri selama berhari-hari. Setelah ia siuman, ia langsung bergegas menuju kuburan Laila. Di tengah perjalanan, karena lelah yang tak terkira, ia terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya tanpa henti sampai di tanah tempat Laila kekasihnya dikuburkan.

Demi menawar rindu, ia menempelkan kepalanya di atas tanah kubur Laila dan kembali tak sadarkan diri. Di saat itulah, malaikat maut menjemput ruhnya dan membawanya ke langit. Jasad Majnun ditemukan kurang dari setahun setelah kematian Laila. Kerabat yang menemukan jasad Majnun dapat segera mengenali karena keadaan tubuhnya yang sama sekali tidak membusuk, seolah baru meninggal kemarin. Ia pun dikuburkan di samping Laila. Kini, dua insan yang sejak bertahun-tahun lamanya terpisah oleh takdir, akhirnya berjumpa lagi di kehidupan yang selanjutnya.

By Mazza Fakkar Alam  July 19, 2016  muslimahdaily.com

Kisah Ummul Mundzir dan Khasiat Kurma Muda

Ilustrasi
Muslimahdaily – Ummul Mundzir merupakan satu dari sekian wanita yang masuk Islam di era awal dakwah. Wanita Anshar tersebut memeluk Islam begitu dakwah dikenalkan di kota nabi. Ia juga masih berkerabat dengan Rasulullah dari jalur ibu.

Nama lengkapnya yakni Ummul Mundzir binti Qais bin ‘Amr Al Anshariyyah An Najjariyyah. Ia satu keluarga dengan ibunda Rasulullah, Aminah, yakni dari Bani An Najjar. Karena itulah, ia memiliki hubungan dekat dengan Rasullah dan keluarga beliau.

Suatu hari, Rasulullah berkunjung ke rumah Ummul Mundzir Rhadiyyallahu ‘anha. Saat itu, beliau ditemani Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit. Di dalam rumah sang shahabiyyah tergantung setandan kurma muda yang segar. Rasulullah pun diberi sajian dengannya.

Nabiyullah begitu menikmati kurma muda milik Ummul Mundzir. Sampai-sampai Ali berkeinginan untuk memakannya pula. Ia pun menjulurkan tangannya untuk mengambil kurma muda tersebut.

Namun Rasulullah mencegah Ali seraya bersabda, “Tunggu Ali, engkau baru saja sembuh dari sakit.” Dengan perhatian, Rasulullah mencegah Ali untuk memakan kurma muda itu. Faedahnya, kurma muda tak baik disantap oleh seorang yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ali pun menuruti. Ia duduk dan menahan diri dari keinginan memakan kurma muda. Adapun Rasulullah masih memakan sajian kurma muda tersebut. Sementara itu, Ummul Mundzir tengah sibuk di dapur.

Begitu melihat Rasulullah dan Ali ada di rumahnya, Ummul Mundzir segera mengolah bahan makanan. Ia ingin menyajikan hidangan yang ia buat dengan tanggannya sendiri. Lalu dicampurnya gandum dengan sayuran lezat bernama silq. Hasilnya, hidangan lezat nan sehat pun tersedia di hadapan Rasulullah dan Ali.

(Nabi begitu senang melihat hidangan sajian Ummul Mundzir. Kepada Ali, beliau berkata, “Nah, ini cocok untukmu, Ali.” Dengan nikmat, Ali pun menyantap hidangan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir pun senang dapat menyajikan hidangan yang cocok dan disukai Rasulullah serta Ali bin Abi Thalib. Apalagi Rasulullah menyebutnya sangat cocok untuk Ali yang baru saja sehat setelah sakit. Sang shahabiyyah begitu gembira.

Shalat Bersama Rasulullah

Ummul Mundzir sangat menyukai shalat bersama Rasulllah. Ia sangat giat untuk turut serta dalam jamaah beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam. Saking giatnya, Ummul Mundzir juga mengalami momen berpindahnya arah kiblat. Ia menjadi saksi saat Rasulullah diberi wahyu untuk memindahkan arah shalat dari Baitul Maqdis di Yerusalem, ke arah Ka’bah di Makkah.

Itu terjadi di tahun kedua hijriyyah. Ummul Mundzir pun menjadi satu dari sekian shahabat yang menyaksikan dan mengabarkan peristiwa besar tersebut.

Keluarga Ummul Mundzir

Ummul Mundzir memiliki keluarga yang juga menjadi shahabat Rasullah. Mereka selalu melindungi dan mendukung dakwah nabi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih keutamaan pahala jihad karena turut serta di perang Badr.

Ialah Salith bin Qais, saudara kandung Ummul Mundzir, yang bergabung dengan pasukan muslimin menuju Badr. Dengan gagah berani, ia membela agama Allah dan berharap syahid di medan jihad. Bersama Ummul Mundzir, Salith menjadi salah dua shahabat Rasulullah yang dekat dengan beliau.

Adapun keluarga inti Ummul Mundzir yakni seorang suami bernama Qais bin Sha’sha’ah dan anaknya Al Mundzir. Karena itulah ia dikenal dengan nama kunyah Ummul Mundzir.

Suami Ummul Mundzir juga berasal dari Bani An Najjar. Artinya, ia juga berkerabat dengan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Keluarga Ummul Mundzir adalah penduduk asli Madinah dan menjadi shahabat Anshar yang terkenal sangat dermawan. Teringat firman Allah tentang kaum Anshar,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9).

Ummul Mundzir binti Qais, semoga Allah meridhainya dan memberikan kenikmatan surga bersama para shahabat Anshar dan Muhajirin yang lebih dahulu beriman.

By Afriza Hanifa  July 17, 2018 muslimahdaily.com

Ummu Mahjan, Nenek Tua yang Dirindukan Rasulullah

Ilustrasi

Muslimahdaily – Di suatu pagi, Rasulullah nampak sibuk mencari seseorang. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam kehilangan sesosok nenek yang biasanya nampak di pelataran masjid. Ialah nenek tua bernama Ummu Mahjan yang dicari nabiyullah.

“Ia telah meninggal dan dikubur, wahai Rasulullah,” ujar shahabat.

“Mengapa kalian tak memberitahuku tentangnya?” sabda Rasulullah.

Para shahabat saling berpandangan bingung. Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan merupakan hal sepele.”

Para shahabat menganggap kematian seorang tua adalah perkara yang biasa dan lumrah terjadi sehingga Rasulullah tak perlu diberi kabar. Belum lagi, kematian Ummu Mahjan terjadi di malam hari saat Rasulullah tengah beristirahat.

“Kami telah mendatangi Anda dan kami dapatkan Anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah” ujar seorang hahabat.

“Mari kita pergi! Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya,” ajak Rasulullah bergegas menuju lokasi pemakaman Ummu Mahjan.

Sesampainya di sana, yakni di pemakanan Baqi Al Ghardad, Beliau berdiri hendak menunaikan shalat jenazah. Para shahabat lalu segera memosisikan diri sebagai jamaah. Rasulullah bersama sederet shaf shahabat pun menunaikan shalat dengan takbir empat kali tanpa ruku dan sujud.

Seusai shalat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

Masya Allah, kubur Ummu Mahjan diberi penerangan oleh Allah. Rasulullah memberikan hadiah spesial kepada si nenek tua. Apakah keutamaan Ummu Mahjan hingga Rasulullah merasa sangat kehilangan?

Beliau merupakan wanita Madinah yang berkulit hitam lagi miskin. Tak ada yang tahu siapa nama asli si nenek tua. Orag-orang memanggilnya dengan kunyah Ummu Mahjan.

Meski berislam di usia senja, Ummu Mahjan tetap mendapat perhatian Rasulullah. Hingga sang shahabiyyah merasa ingin turut serta melakukan sesuatu untuk agama. Tapi apa daya, tubuhnya sangat lemah seiring usianya yang telah renta. Ia tak bisa turut berkiprah untuk umat. Ia pula tak bisa turut belajar apalagi berjihad.

Namun kelemahan fisik tak serta merta menyurutkan semangat Ummu Mahjan untuk berbuat kebaikan dan mengambil kiprah di tengah umat. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Di lihatnya suatu hari, masjid kotor tak ada yang membersihkan. Ummu Mahjan pun bergegas membersihkannya. Ia membuang setiap kotoran hingga Masjid Rasulullah menjadi sangat bersih.

Sejak itu, Ummu Mahjan pun melakukannya setiap hari. Ia giat membersihkan masjid hingga Rasululah dan para shahabat merasakan kenyamanan karenanya. Ummu Mahjan telah selesai dari kegiatan rutinnya sebelum rumah Allah menjadi tempat beribadah, tempat belajar, tempat bermusyawarah, hingga tempat menjalankan pemerintahan Islam.

Pantaslah Rasulullah merasa kehilangan ketika Ummu Mahjan tak muncul seperti hari-hari biasa. Sifat sang nabi pula sangat pengasih kepada rakyat miskin dan orang tua. Ummu Mahjan hanyalah salah satu nenek yang diperhatikan dan dihormati Rasulullah.

Karena Rasulullah sangat menghormati yang lebih tua, para shahabat pun meniru sikap beliau. Ketika Ummu Mahjan meninggal, para shahabat mengurus jenazahnya dan menguburkannya dengan kasih sayang. Namun mereka enggan mengganggu Rasulullah hanya karena kematian seorang nenek tua.

Padahal di mata Rasulullah, setiap umat beliau, setiap rakyat beliau, harus dilayani dengan baik. Karena itulah Rasulullah pergi ke kubur Ummu Mahjan kemudian memberikan hadiah yang akan sangat disukai sang nenek. Yakni seberkas cahaya terang benderang di alam kubur. Semoga Allah meridhai setiap amal baik Ummu Mahjan radhiyallahu ‘anha.

Berperan Meski Sedikit

Dari kehidupan Ummu Mahjan, muslimah mendapati hikmah yang sangat berharga. Yakni tentang kiprah dan mengambil peran untuk umat. Tengoklah sikap Ummul Mahjan. Seorang nenek tua renta saja masih berkeinginan untuk mengambil peran di tengah umat.

Dengan tenaga terbatas, ia pun memilih caranya dengan membersihkan masjid. Jika nenek Mahjan saja sanggup, bagaimana dengan muslimah yang masih belia?

Di mana pun muslimah berada, carilah peran yang bisa dikerjakan untuk kebaikan orang lain meski itu nampak amat sangat ringan di mata manusia.

By Afriza Hanifa  July 2, 2018 muslimahdaily.com

Qasidah Man Ana

 

Maka anak kecil itu ke depan dan saat habibana lewat anak itu melambaikan tangan. Dari kejauhan habibana sudah melihat anak kecil itu dan tersenyum kepada anak kecil itu, seakan memberikan sambutan untuk anak kecil itu, sepertinya habibana mengucapkan, “MARHABAAN!” sambil tersenyum. Perkataan memang tak terdengar, tapi saya memperhatikan mulut beliau mengucapkan itu.
Setelah habibana lewat, anak kecil itu berkata kepada saya,
“Ingin sekali Bang cium tangan habib!”
Lalu saya berkata, “Cukup dari jauh habibana sudah tau!”
Kemudian ibunya bilang kepada saya, “Abang crew?”
Saya menjawab, “Bukan Bu, saya hanya bantu majelis.”
“Makasih ya Bang sudah memperbolehkan anak saya agak maju tadi.” berkata ibu itu kepada saya, “anak saya sampai sakit rindu
terhadap beliau Bang dan hari ini seharusnya dia ke rumah sakit tapi nangis ingin ke majelis…”

Masya Allah..

هذه القصيدة من أنا
*************************
Qosidah Man Ana, Qosidah Al-Imam Umar Muhdhor Bin Abdurrahman Assegaf

من أنا من أنا لولاكم ، كيف ما حبكم كيف ما أهواكم

Man ana man ana laulaakum , kaifa maa hubbukum kaifa maa ahwaakum
Siapa gerangan diriku, siapakah diriku kalau tiada bimbingan kalian ( guru ), Bagaimana aku tidak mencintai kalian dan bagaimana aku tak menginginkan tuk bersama kalian

ما سوى ولا غيركم سواكم ، لا ومن في المحبة علي ولاكم

Maa siwaaya wa laa ghoirokum siwaakum , Laa wa man fiil mahabbah ‘alayya wulaakum
Tiada selain ku juga tiada selainnya terkecuali engkau, tiada siapapun di dalam cinta selain engkau dalam hatiku

أنتم أنتم مرادي وأنتم قصدي ، ليس أحد في المحبة سواكم عندي

Antum antum muroodii wa antum qoshdii , Laisa ahadun fiil mahabbati siwaakum ‘indii
Kalianlah, kalianlah dambaanku dan yang ku inginkan, tiada seorangpun dalam cintaku selain engkau di sisiku

كلما زادنى فى هواكم وجدي ، قلت يا سادتي محجتي تفداكم

Kullamaa zaadanii fii hawaakum wajdii , qultu yaa saadatii muhjatii tafdaakum
Setiap kali bertambah rasa cinta dan rinduku pada mu, maka berkata hatiku wahai tuanku semangatku telah siap menjadi tumbal keselamatan dirimu

لو قطعتم وريدي بحد ماضي ، قلت والله أنا فى هواكم راضي

Lau qotho’tum wariidii bihaddi maadlii , qultu wallaahi ana fii hawaakum roodlii
Jika engkau menyembelih urat nadiku dengan pisau berkilauan tajam, kukatakan Demi Allah aku rela gembira demi cintaku pada mu

أنتم فتنتي فى الهوا ومرادي ، ما رضاي سوى كل ما يرضاكم

Antum fitnatii fiil hawaa wa muroodii , maa ridlooya siwaa kullu maa yardlookum
Engkaulah yang menyibukkan segala hasrat dan tujuanku, tiada ridho yang ku inginkan kecuali segala sesuatu yang membuat mu ridho

كلما رمت إليكم نهو من أسلك ، عوقتني عوائق أكاد أن أهلك

Kullamaa rumtu ilaikum nahau man aslak , ‘awaqotnii ‘awaa-iq akaad an ahlik
Setiap kali bergejolak cintaku pada mu selalu terhalang untuk ku melangkah, mereka mengganjalku dengan perangkap yang banyak hampir saja aku hancur

فادركوا عبدكم مثلكم من أدرك ، وارحموا بالمحبة قتيل بلواكم

Fadrikuu ‘abdakum mitslukum man adrok , warhamuu bil mahabbah qotiil balwaakum
Maka tolonglah budak kalian ini, dan yang seperti kalianlah golongan yang suka menolong, dan kasihanilah kami dengan cinta kalian, maka cinta kalian membunuh dan memusnahkan musibahku

**********
Mohon maaf jika ada kesalahan arti dan penulisan mohon dikoreksi
*)Sumber note: Cahaya Cinta Habib Munzier Almusawa

Mengapa 12 Anak di Thailand Bisa Bertahan Hidup Begitu Lama dalam Gua?

kumparanSAINS
Rabu 04 Juli 2018 – 18:10
12 anak ditemukan di gua Thailand

Kabar berhasil ditemukannya 12 anak dan seorang pelatih bola di dalam Gua Tham Luang di Thailand merupakan berita yang menggembirakan sekaligus mengejutkan. Pasalnya, mereka semua berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah dinyatakan hilang selama 9 hari.
Dalam rekaman sebuah video yang menunjukkan detik-detik penemuan 12 anak dan pelatih bola itu, terlihat mereka yang memakai baju berwarna merah dan biru sedang duduk di tanah di samping hamparan air dalam gua.
Sebelumnya anak-anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu hilang pada Sabtu (23/6) sore setelah memasuki gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak air hujan yang tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Mereka pertama kali ditemukan dalam kondisi hidup oleh dua penyelam Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, pada Senin (2/7). Keesokan harinya, Selasa (3/7), satuan khusus Angkatan Laut Thailand, Navy Seals, mengunggah video penemuan 12 anak dan seorang pelatihnya itu.
Penemuan 12 anak dalam kondisi masih hidup setelah terjebak 9 hari di dalam gua itu menimbulkan pertanyaan tersendiri: mengapa dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama itu? Sebenarnya seberapa lama manusia bisa bertahan hidup di dalam gua?
Andrea Rinaldi, ahli biokimia di Universitas Cagliari di Italia yang pernah meneliti bagaimana manusia beradaptasi dan hidup di gua, mengatakan seberapa lama seseorang bisa bertahan hidup di dalam suatu gua adalah tergantung pada jenis dan lokasi gua tersebut.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Udara
Hal terpenting yang dibutuhkan manusia untuk bisa bertahan hidup adalah udara. Untungnya, biasanya manusia tetap bisa mendapatkan udara meski hidup di dalam gua bawah tanah.
“Oksigen biasanya berlimpah di gua, bahkan ratusan meter di bawah tanah,” kata Rinaldi, dikutip dari Live Science. Ia mengatakan, udara dapat mengalir melalui retakan di bebatuan, dan melalui batu kapur yang keropos.
Rinaldi menambahkan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, ada gua-gua yang memiliki bagian area yang menjadi tempat karbon dioksida menumpuk sehingga membuat oksigen tidak bisa mengalir. Namun menurutnya, area seperti itu sangat berbeda dengan area gua tempat ditemukannya tim sepak bola di Thailand itu.
Jika kondisi gua sangat kering, misalnya, bisa ada banyak debu di udara. Dan di beberapa gua tropis, pengendapan kotoran kelelawar dapat melepaskan uap amonia ke udara, dan mungkin juga menyebarkan spora jamur, yang jika terhirup dapat menyebabkan masalah pernapasan.
Namun “terlepas dari kasus-kasus khusus ini, bagaimanapun, udara di dalam gua benar-benar bisa digunakan untuk bernapas,” kata Rinaldi.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Air dan Makanan
Setelah udara, hal terpenting lainnya yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup adalah air dan makanan.
Manusia membutuhkan makanan dan air untuk bertahan hidup di mana pun. Dilaporkan, tim sepak bola itu masih punya sedikit makanan sebelum tim penyelamat tiba.
Namun jikapun mereka tidak memiliki makanan, mereka tetap masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Rinaldi mengatakan, “Seorang manusia dalam kesehatan yang baik bisa bertahan hidup berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tanpa makanan.”
Adapun terkait kebutuhan air, kebetulan di gua tempat terjebaknya anak-anak itu memang ada banyak air yang menggenang sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Namun begitu, menurut Rinaldi, jika orang-orang yang terdampar di gua tidak memiliki alat untuk menyaring air, akan “lebih bersih dan lebih aman” bagi mereka untuk menyesap air yang menetes dari langit-langit dan dinding gua.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Suhu
Selain kurangnya pasokan udara, air, dan makanan, hal lain yang bisa mengancam keselamatan nyawa manusia adalah suhu udara yang ekstrem. ketika manusia menghadapi suhu yang terlalu dingin bagi tubuhnya, maka ia bisa mengalami hipotermia dan akhirnya meninggal.
Hipotermia ini adalah kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Rinaldi mengatakan, “Hipotermia adalah musuh berbahaya lainnya.”
Akan tetapi menurutnya, karena dalam kasus di Thailand ini anak-anak tersebut terjebak di dalam gua tropis, maka kemungkinan besar suhu di dalam gua tersebut masih di atas 20 derajat Celcius. Tidak terlalu dingin bagi tubuh manusia.
Jadi, faktor-faktor itulah yang menjadi alasan mengapa 12 bocah dan seorang pelatih bolanya itu bisa bertahan hidup begitu lama di dalam gua tersebut.

10 Tokoh Dunia Penyandang Disabilitas yang Sangat Menginspirasi

Disability via msecnd.net

Keterbatasan fisik seseorang sering dianggap sebagai suatu hal yang aneh. Padahal dari keterbatasan serta kekurangan pasti Tuhan mengirimkan kelebihan bagi setiap orang. Tak terkecuali bagi para penyandang disabilitas yang ternyata mampu memberikan inspirasi bagi semua orang bahkan bagi orang-orang yang dianggap memiliki fisik lebih sempurna dibandingkan para penyandang disabilitas tersebut. Berikut ini akan dijelaskan 10 tokoh dunia yang merupakan penyandang disabilitas dan bisa menjadi motivasi bagi Anda.

Nick Vujicic

nick vujicic

nick vujicic


Pria ini terlahir tanpa memiliki tangan dan kaki, namun hal ini justru tak membuat Nick merasa putus asa. Bahkan saat ini Nick menjadi salah satu motivator dunia yang sangat terkenal dan aktif pula dalam kegiatan sosial keagamaan. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, Nick juga tak mengabaikan pendidikannya hingga jenjang Sarjana.

Xu Yuehua

xu-yuehua

Xu-yuehua via beranigagal.com


Xu Yueha terlahir sebagai anak yatim piatu, namun pada usia 13 tahun ia mengalami kecelakaan yang mengakibatkan ia harus kehilangan kedua kakinya. Meskipun begitu, Xu Yuehua tak berputus asa bahkan hingga saat ini ia selalu aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan menghabiskan waktunya untuk bekerja di panti asuhan untuk merawat 130 anak. Dengan sepasang bangku kecil, Xu Yuehua berjuang membesarkan anak-anak tersebut.

Anthony Robles

Anthony Robles

Anthony Robles via Anthonyrobles.com


Pria ini lahir dengan satu kaki, namun ia memiliki prestasi yang luar biasa dalam olahraga gulat. Bagi Anthony, menjadi seseorang penyandang cacat bukan menjadi penghalang baginya untuk mengejar impian menjadi seorang atlit kelas dunia.

Vinod Thakur

Vinod Thakur

Vinod Thakur via artistprovider.com


Pria ini lahir tanpa kedua kaki dan menghabiskan waktunya menjadi tukang servis. Dengan kegigihannya ia memberanikan diri untuk mengikuti sebuah ajang Show got talent dan belajar menari hingga akhirnya ia berhasil membawa pulang hadiah 500 juta.

Italo Romano

Italo Romano via metrouk2.files.wordpress.com


Itali Romano adalah skateboard profesional, namun tidak memiliki kedua kaki akibat kecelakaan yang dialaminya ketika remaja. Meskipun mengalami kertebatasna, namun pria ini tak menyerah untuk menunjukkan bakatnya.

Kevln Connolly

Kevin Connolly

Kevin Connolly via forum.static6.com


Pria yang lahir tanpa memiliki dua kaki ini ternyata menjadi seorang photograper alam yang sangat terkenal di dunia. Meskipun banyak pengalaman buruk karena fisiknya, namun hal ini tak membuat Kevin merasa putus asa.

Bethany Hamilton

Bethany hamilto

Bethany hamilton via nbcnews.com


Bethany merupakan seorang atlit selancar yang berhasil meraih juara di ajang Nasional The Explore Woman Division of The NSSA padahal salah satu tangganya harus diamputasi akibat serangan Hiu ketika ia berusia 13 tahun.

Hugh Herr

Hugh herr

Hugh herr via robohub.org


Akibat terjatuh saat panjat tebing, pria ini harus kehilangan kedua kakinya dan menggunakan bantuan kaki prosthese. Akan tetapi hal ini tak menyurutkan keinginannya untuk berlatih panjat tebing hingga membawanya menjadi anggota proyek teknologi amputasi.

Qian Hongyan

Qian Hongyan

Qian Hongyan via chinahush.com


Akibat kecelakaan yang dialaminya, remaja putri ini harus rela kehilangan kedua kaki. Akan tetapi ia tetap bersemangat untuk menjadi atlit renang hingga mengikuti Paraolimpic di tahun 2012, namun ia tak memperoleh gelar juara, namun kisahnya menginspirasi banyak orang.

Irma Suryati

Irma Suryati

Irma Suryati via kabarinews.com


Meskipun terlahir sebagai penyandang disabilitas, namun Irma Suryati membuktikan, bahwa ia mampu mandiri dan membuka usaha hingga memiliki 2500 karywan.

Itulah penjelasan mengenai 10 tokoh dunia penyandang disabilitas yang sangat menginspirasi bagi siapa saja. Berdasarkan penjelasan di atas, semoga Anda bisa mengambil banyak hikmah agar tak beputus asa menjalani hidup.

sumber meenta.net

Lakukan Ini Jika Anak Terlambat Bicara

Orang tua mana yang tidak senang jika melihat anaknya bisa berkembang tanpa adanya hambatan yang berarti. Sayangnya, tidak semua orang tua memiliki pengalaman yang sama. Terkadang Anda harus dihadapkan dengan beragam hambatan dalam proses perkembangan si kecil. Salah satunya, anak terlambat bicara.

Ada dua kategori keterlambatan bicara pada anak, yaitu nonfungsional dan fungsional. Kategori nonfungsional biasanya disertai dengan adanya kelainan neurologis bawaan, austisme, kecacatan pada wajah, infeksi otak, gangguan anatomis telinga, dan gangguan mata.

Sedangkan kategori fungsional, umumnya kemampuan bicara baru akan berkembang setelah anak menginjak ke usia 2 tahun. Anak kategori ini hanya mengalami fungsi ekspresif dimana si kecil menjadi malas bicara. Biasa ini terjadi karena si kakak lebih aktif bicara atau tinggal di rumah bilingual.

Sebaiknya anak yang mengalami keterlambatan bicara harus segera mendapat penanganan yang tepat. Sebab jika tidak, kondisi ini akan berdampak buruk pada si kecil. Mulai dari memukul kepala karena tidak bisa mengutarakan keinginan mereka, hingga alami stres.

Untuk kategori fungsional, Anda bisa meningkatkan kemampuan bicara ekspresif anak dengan cara mengajak anak membacakan cerita atau mengajaknya bernyanyi bersama. Cara ini akan mendorong anak untuk membeo, dan perlahan si kecil akan menggunakan kata-kata yang sering mereka dengar tersebut.

Jangan lupa untuk sering memperkenalkan kata-kata baru yang ada di sekitar mereka. Lalu, berikan si kecil kesempatan berbicara, jangan disela. Anda cukup membetulkan dan memperjelas kata-kata yang si kecil salah ucapkan saja.

Untuk melatih otot wajah dan mulut, Anda juga bisa mengajak anak untuk berlatih meniup kapas dengan sedotan di meja. Atau jika tidak, coba letakan benda kesayangan si anak di luar jangkauan. Trik ini akan memancing anak berbicara untuk meminta bantuan Anda mengambilkannya. Jangan lupa untuk selalu memberikan apresiasi terhadap apapun usaha yang si kecil sudah lakukan.

Sedangkan untuk keterlambatan nonfungsional, stimulasi sejak dini perlu diberikan dengan bantuan tenaga profesional yang disesuaikan dengan kebutuhan si kecil. Semakin cepat Anda bertindak, maka makin tinggi pula keberhasilan yang akan dicapai.

Dengan tip mengatasi anak terlambat bicara yang tepat, maka perkembangan bicara si kecil pun akan semakin optimal.(AA)

sumber Ipoel – Kamis, 9 April 2015 | 07:52 WIB nakita.grid