Seberapa Seringkah USG Boleh dilakukan?

 

Selama hamil, kamu harus menjalani pemeriksaan ultrasonografi alias USG untuk mengetahui perkembangan janin dalam rahimmu. Tapi, ternyata USG ini enggak boleh dilakukan terlalu sering lho. Lalu berapa kalikah USG kehamilan yang dianjurkan dokter? Yuk, simak penjelasannya di sini!

Ada beberapa kasus di mana ibu selalu meminta untuk USG saat kontrol kehamilan ke dokter. Padahal sebenarnya, USG  kehamilan yang merupakan alat bantu untuk mengetahui kondisi janin di dalam perut, hanya dilakukan kalau ada indikasi medis tertentu saja lho. Yang melakukannya pun harus dokter yang sudah bersertifikasi. Umumnya, dokter menganjurkan agar USG kehamilan dilakukan 3 kali, yaitu:

USG I: Usia Kehamilan 10-12 Minggu

source: http://www.newkidscenter.com/Ultrasound-in-Pregnancy.html

Jika kehamilan sehat dan lancar, maka USG kehamilan pertama kali dilakukan pada usia kehamilan 10-12 minggu. Tujuannya adalah sebagai skrining awal untuk mengetahui perkembangan janin. Di sini, bentuk wajah dan tubuh bayi di dalam rahim akan diperhatikan, apakah berkembang normal atau tidak. Di usia kehamilan 10-12 minggu, kelainan seperti Down Syndrome akan dideteksi dengan mengukur panjang tengkuk, tulang hidung dan jari-jari bayi.

ByMei F
July 15, 2017

Ternyata Cukup 3 Kali Melakukan USG Selama Kehamilan, Ini Penjelasannya, Moms!

USG II: Usia Kehamilan 20-22 Minggu

source: https://www.groupflorence.com/3-and-4-dimensional-ultrasound

USG kehamilan selanjutnya dilakukan pada usia 20-22 minggu, yang merupakan pemeriksaan lebih lengkap dibanding USG pertama. Pada USG kedua ini juga dilakukan untuk mendeteksi kelainan lain yang mungkin dialami bayi, kondisi cairan ketuban, posisi bayi, mengukur panjang dan berat bayi, perkiraan kelahiran, detak jantung hingga letak plasenta.

USG III: Usia Kehamilan 30-32 Minggu

source: https://obgynwc.com/how-many-kinds-of-ultrasounds-are-there/

Untuk mewaspadai kelainan atau gangguan yang kemungkinan muncul kepada calon bayi, maka USG kehamilan dilakukan kembali di usia 30-32 minggu. Selain untuk mengetahui kelainan, USG dilakukan untuk memantau perkembangan janin sebelum dilahirkan. Bagi ibu yang kehamilannya sehat dan lancar, USG ketiga ini merupakan yang terakhir, namun bagi yang dicurigai mengalami indikasi medis tertentu, maka akan dilakukan USG kehamilan kembali di usia kehamilan selanjutnya.

sumber mommyasia.id

Kisah Tsa”labah Binasa Akibat Harta

Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka, Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” [QS. At-Taubah (9): 75-78].

TSA’LABAH dengan nama lengkap Tsa’labah Ibnu Hathib Al-Ansyari adalah seorang lelaki Ansar, sosok manusia engkar yang hidup di zaman Rasulullah, yang tinggal di Kota Madinah, semula hidup ‘biasa-biasa’ saja, lalu meminta kepada Rasulullah untuk didoakan kepada Allah agar memiliki harta kekayaan melimpah, dan setelah Rasul mendoakan, jadilah ia sosok yang kaya raya dengan usaha peternakan (kambing) yang tiada tandingannya kala itu.

Lalu pemuda yang semula taat beribadah itu, setelah disibukkan dengan harta bendanya, seketika berbalik menjadi orang yang lalai beribadah dan engkar/tidak mau membayar zakat atas amanah harta yang Allah titipkan dari hasil usahanya itu.

Ulama Tafsir diantaranya Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri, menyebut bahwa ayat yang mulia ini [QS. At-Taubah (9): 75 – 78] diturunkan berkenaan dengan sikap Tsa’labah ibnu Hatib Al-Ansyari.

Menurut para mufassirin Asbabun Nuzul ayat ini yang dijelaskan dalam Al Hidayah [Al-Qur’an Tafsir per Kata, Hal.200], bahwa Abu Umamah mengatakan, suatu ketika Tsa’labah bin Hathib berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku harta berlimpah. ”Rasulullah menjawab,”Celaka kamu Tsa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit tetapi tetapi disyukuri lebih baik daripada harta yang banyak tetapi tidak kamu syukuri”.

Tsa’labah berkata,”Demi Allah, jika Allah memberiku harta berlimpah, aku pasti akan memenuhi hak atas harta itu”. Kemudian atas do’a beliau, kambing milik Tsa’labah berkembang dengan biak sangat pesat, hingga memenuhi dan membuat sempit kota Madinah. Akhirnya ia pindah dan menungsikan peternakan kambingnya jauh dari Madinah.

Akibat sibuk mengurus peternakannya, ia tidak lagi sholat berjamaah di masjid bersama Rasul dan para sahabat yang lain. Tak lama kemudian, turun ayat yang mewajibkan seorang muslim yang kaya untuk menunaikan zakatnya [QS. 9:103]. Kemudian Rasulullah mengutus dua orang sahabat kepada Tsa’labah agar membayar zakat. Atas hal itu turunlah keempat ayat ini yang secara tegas mengancam muslim yang ingkar membayar zakat.

Ibnu Jarir, ibnu Mardawiyah, dan Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ini juga menjelaskan, “bahwa seorang lelaki Ansar bernama Tsa’labah datang ke suatu majelis. Dia meminta kesaksian kepada mereka, seraya berkata,”Sekiranya Allah memberikan kepada ku sebagian dari karunia-Nya, niscaya aku memberikan kepada setiap orang yang berhak, bersedekah, dan menjadikan sebagiannya untuk kaum kerabat.”

Kemudia Allah mengujinya, maka dia memberikan sebgaian dari karunia-Nya kepadanya. Namun kemudian dia mengkhianati janjinya. Allah mengisahkan keadaannya dalam Al-Qur’an (ayat ini) [dikutib dari Kitab Tafsir Al-Maraghi, Asbabun Nuzul QS. At-Taubah: 75 – 78]

Kisah Tsa’labah ini juga diterangkan [dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir]; ketika peternakan Tsa’labah sudah berkembang pesat, ia pindah kesuatu lembah di pinggiran kota Madinah, sehingga ia hanya dapat menunaikan sholat berjama’ah pada waktu zuhur dan asyar, sedang sholat-sholat yang lain tidak. Kemuadian ternak kambingnya berkembang hingga bertambah banyak, lalu ia menjauh lagi dari Madinah, sehingga tidak sempat lagi shalat berjam’ah, kecuali hanya sholat jum’at.

Akhirnya karena ternaknya makin berkembang pesat, shalat Jum’at pun ia tinggalkan. Ketika sahabat menceritakan kepada Rasulullah semua yang dialami Tsa’labah, maka Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah”. Dan Allah SWT menurunkan firman-Nya,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka”. [At-Taubah (9): 103].

Kesudahan hidup Tsa’labah setelah dicap oleh Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana dinukilkan dalam Kitab Tafsir Jalalain, “Dan ketika ia (Tsa’labah) datang menghadap Rasulullah SAW sambil membawa zakatnya, akan tetapi Rasulullah berkata kepadanya,”Sesungguhnya Allah telah melarang aku menerima zakatmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW lalu menaburkan tanah diatas kepalanya. Setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. ia datang membawa zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, akan tetapi Khalifah tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a, iapun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Umar r.a. juga tidak mau menerimanya.

Dan ketika pemerintahan dijabat oleh Khalifah Ustman, Tsa’labah bin Hathib pun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Ustman pun tidak mau menerimanya. Dan nasib tragis menimpa Tsa’labah bin Hathib, hingga ia meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Usman r.a, hartanya tidak pernah dizakatkan.

Allah SWT telah mengancam orang-orang yang bakhil dari berzakat dengan ancaman adzab yang pedih sebagaimana firman-Nya “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu,” (Q.S. At-Taubah:34-35).

Maka berhati-hatilah! Semoga Allah merahmati kita dan terjauh dari sikap bakhill terhadap apa yang Allah wajibkan, dan bersegeralah menunaikan zakat harta-harta yang dimiliki jika telah sampai nisab dan haul-nya (telah sampai 1 tahun), sesuai dengan ketentuan syari’ah yang telah ditatapkan Allah dan Rasul-Nya (baik berupa emas, perak, harta perniagaan, ternak, hasil usaha pertanian/perkebunan, dan lainnya yang telah ditetapkan). []

By Saad Saefullah islampos.com

Umur Berapa Seharusnya Anak Berhenti Mengompol?

Si Kecil masih mengompol? Fase mengompol yang dialami anak adalah hal yang normal. Tapi sampai kapan?
Klikdokter.com, Jakarta Ketika si Kecil yang berusia 5 tahun terbangun dengan malu disertai pakaian basah dan bau pesing, Anda tak perlu kaget. Meski sebagian besar anak usia 2-4 tahun sudah lulus toilet training, beberapa anak mungkin saja masih tetap mengompol di malam hari, bahkan setelah memasuki usia sekolah.

Batasan usia mengompol yang normal
Mengompol yang dianggap normal biasanya terjadi di malam hari. Ini merupakan refleks berkemih yang tidak disadari ketika anak sedang tidur.

Pada usia 5 tahun, sebagian besar anak sudah tidak lagi mengompol. Namun, karena laju perkembangan anak berbeda-beda, batasan waktu dimana mengompol masih dianggap normal tidak bersifat saklek.

Faktanya, sekitar 16-20 persen anak yang berusia 5 tahun masih mengompol setidaknya 1 kali dalam seminggu. Pada tingkatan anak yang berusia 7 tahun, angka ini masih terjadi sekitar di angka 10 persen dan pada yang berusia 10 tahun sekitar 5 persen.

Sebagai patokan umum, mengompol sebelum usia 7 tahun dianggap tak masalah. Sebab pada usia tersebut kontrol kandung kemih anak di malam hari masih berkembang, sehingga wajar bila sesekali masih mengompol.

Penyebab anak masih mengompol
Setelah usia 7 tahun pun, biasanya tidak ada sesuatu yang serius bila anak masih sesekali mengompol. Meski demikian, hal ini kerap menimbulkan tantangan tersendiri bagi anak dan orang tua. Beberapa kemungkinan penyebabnya adalah:

Anak kerap tidur nyenyak (deep sleeper), sehingga tidak respon terhadap sinyal kandung kemih yang penuh.
Anak belum sepenuhnya terlatih untuk menahan dan mengosongkan urine dengan baik, sebab komunikasi antara otak dan kandung kemih membutuhkan waktu untuk berkembang.
Produksi urine di malam hari terlalu banyak. Kondisi ini bisa disebabkan oleh gangguan hormonal atau karena kebiasaan, misalnya terlalu banyak minum atau mengonsumsi minuman berkafein seperti teh sebelum tidur.
Anak mengalami konstipasi (sembelit), akibatnya usus yang penuh akan menekan kandung kemih.

Anak sedang sakit ringan, terlalu lelah atau mengalami stres akibat perubahan maupun peristiwa yang terjadi di rumah.
Ada riwayat keluarga dengan kebiasaan mengompol. Ditemukan bahwa salah satu atau kedua orang tua dari sebagian besar anak yang mengompol juga mengalami hal yang sama di masa kecil.
Ukuran kandung kemih anak masih kecil atau belum berkembang sepenuhnya untuk menampung urine di malam hari.

Anak memiliki penyakit tertentu seperti infeksi saluran kemih, diabetes, sleep apnea (mengorok dan henti nafas saat tidur), gangguan anatomi atau gangguan saraf pada saluran kemih.

Yang bisa Anda lakukan
Kebiasaan mengompol umumnya akan menghilang dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia anak. Bila si Kecil telah berhasil tidak mengompol di malam hari selama beberapa hari atau beberapa minggu lalu mulai mengompol kembali, silakan ulangi lagi toilet training di malam hari.

Secara spesifik, dorong si Kecil untuk rutin buang air kecil di waktu siang dan sebelum tidur malam. Frekuensi pipis normal kurang lebih sebanyak 4-7 kali sehari. Bila ia terbangun di malam hari, segera bawa ke toilet.

Sebelum tidur malam, batasi konsumsi air minum, minuman manis dan minuman berkafein. Bila si Kecil sudah berusia lebih dari 8 tahun, hindari menggunakan popok dan sejenisnya agar ia tidak malas bangun dari tempat tidurnya untuk buang air kecil.

Perlu diketahui bahwa mengompol bukan kesalahan atau keinginan si Kecil, sehingga ia tidak layak dihukum karenanya. Hindari pula mengejek atau membiarkan orang lain mengejek si Kecil yang masih mengompol.

Kapan harus ke dokter?

Pada sebagian kecil kasus, mengompol yang dialami anak merupakan tanda dari gangguan yang lebih serius. Oleh sebab itu, segera temui dokter anak Anda apabila si Kecil setelah usia 7 tahun tiba-tiba kembali mengompol setelah berhenti mengompol selama 6 bulan atau lebih.

Kondisi mengompol lainnya yang perlu diwaspadai juga adalah mengompol disertai rasa nyeri saat berkemih, rasa haus yang tidak biasa, urine yang berwarna kemerahan, BAB keras, atau mengorok saat tidur.

Bila si Kecil mengompol lebih dari usia yang sewajarnya, jangan langsung menghakimi. Mungkin memang kontrol kandung kemih si Kecil belum sepenuhnya berkembang atau mungkin ada yang salah dengan saluran kencingnya. Atasi kebiasaan mengompol anak dengan kesabaran dan pengertian, serta konsultasikan dengan dokter bila memang diperlukan.

[NP/ RVS]

dr. Fiona Amelia MPH klikdokter.com

Stop Bilang “Jangan Menangis” Kepada Anak

Mendidik anak memang tak mudah. Perkataan yang kelihatannya sepelepun bisa berdampak negatif pada psikologis anak.

Contohnya, saat si kecil asyik bermain kejar-kejaran, kakinya tidak sengaja menendang sesuatu yang membuatnya kesakitan dan menangis. Lantas, Moms mengatakan “Jangan menangis, Sayang…” untuk meredakan tangisan si kecil. Berhasilkah? Atau malah membuatnya semakin memperkeras tangisannya?

Berikut adalah beberapa perkataan yang sering orangtua ucapkan pada buah hatinya, namun perlu Moms hindari mulai sekarang:

Pergi sana! Jangan ganggu Mama!

Ketika sedang sibuk, si kecil datang menghampiri Moms untuk mengajak bermain. Tanpa memberikan penjelasan, Moms langsung menyuruhnya pergi dan mengatakan bahwa kehadirannya mengganggu Moms saat itu.

Ketahuilah bahwa Moms telah menyakiti hatinya dengan perkataan itu. Si kecil mungkin akan pergi menjauh dari Moms dengan rasa kecewa dan kesal. Hentikan mengatakan ini. Lebih baik Moms berusaha menjelaskan mengapa Moms tidak dapat menemaninya bermain saat ini dan meminta waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Moms.

Kamu sangat…

Memberikan label pada anak-anak akan membuat mereka berpikir demikian. Misalnya, saat orangtua memberikan label negatif pada anaknya mereka akan berpikir bahwa seperti itulah dirinya dan tak membuatnya jadi tidak percaya diri. Misalnya, “Kamu sangat nakal!” atau “Si Pemalu”. Dua hal ini secara tidak langsung akan menempel pada diri anak.

Si kecil yang diberikan label nakal oleh orangtuanya merasa itu adalah hal yang wajar jika dia melakukan kenakalan lagi. Sementara itu, si kecil yang diberikan label pemalu oleh orangtuanya akan sulit mengembangkan dirinya karena orang lain akan mengenalnya sebagai pemalu.

Jadi, saat dia melakukan sesuatu yang mengagumkan, orang akan berkata “Enggak disangka, si pemalu ini ternyata…”. Hal ini justru akan membuat kepercayaan dirinya sulit berkembang karena ekspektasi orang-orang menganggap dirinya tidak akan bisa.

Anak pintar!

Sama halnya seperti memberi label negatif, terlalu sering memuji anak dengan melabelinya anak paling pintar, paling cantik, dan sebagainya akan membuatnya haus akan pujian dan secara tidak sadar akan berpengaruh buruk bagi perkembangan mental anak kelak.

Tidak ada salahnya memuji anak, hal itu memang perlu, namun jangan terlalu sering memberikan pujian untuk hal-hal kecil. Ketika anak berhasil menghabiskan makanannya, jangan katakan “Anak pintar…”. Moms dapat mengucapkan terima kasih atau mengangkat ibu jari Moms sebagai simbol positif bahwa dia telah menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan sewajarnya.

Jangan menangis

Variasi lainnya adalah “Jangan sedih” atau “Jangan takut”. Ketahuilah bahwa perasaan sedih, takut, dan menangis adalah emosi wajar yang dapat dirasakan oleh manusia. Moms tidak dapat menyuruhnya untuk tidak menangis, tidak takut, dan tidak bersedih hanya dengan melarangnya. Moms dapat membahagiakannya dengan menghiburnya agar tidak menangis dan mengajarinya untuk berani agar tidak takut.

Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?

Sadarkah Moms, hal ini sering dilakukan orang tua? Hal ini sama seperti membandingkan anak dengan teman sebayanya. Misalnya, “Nak, lihat deh, dia saja sudah bisa memakai baju sendiri,” atau “Raka bisa dapat ranking di kelas. Kenapa kamu tidak?”.

Tidak salah jika orangtua berharap anaknya cepat mempelajari suatu hal dengan baik. Akan tetapi, membanding-bandingkan anak tidaklah baik. Jangan biarkan anak Moms tumbuh menjadi anak yang iri dan tertekan atas perkataan Moms. Lebih baik, ganti kalimat tersebut dengan “Wah, kamu sudah bisa memakai baju sendiri!”.

Memuji atau menyinggung perasaan anak secara berlebihan dapat mengganggu perkembangan mental mereka. Berhati-hatilah setiap berucap kepada anak Moms karena mereka akan bertumbuh sesuai apa yang Moms ajarkan.

Apakah Moms sering mengucapkan kata-kata tersebut kepada anak? Bagaimana respons anak saat mendengar ucapan tersebut?

sumber orami.co.id

Menyiapkan anak laki-laki mimpi basah ( Aqil Baligh)

Dear Parents…
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan
sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat
kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games,
PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar
yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat
dan akrab dengan dunia anak-anak.
Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-
media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari
makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20
kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan
kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita
dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang
lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari
berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan
besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun
sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa
baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki
seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala
yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya,
kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus
kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk
mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak
melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan
informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.
Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra
putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak
perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa
menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya
menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk
membicarakannya kepada mereka.
Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7
tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya,
dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah,
ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah
dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu
hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah
yang harus mengambil tanggung jawab ini.

Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah
Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu
mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang
harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa
membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih
dahulu alat-alatnya :
– Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu
encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk
kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.
– Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.
Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk
membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :
– Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka
telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya
perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi
mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya..
Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu
sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih.
Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting
menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia
memasuki masa puber / baligh”
– Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu.
Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah
tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang
nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.
– Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh,
gunakan the power of touch.
Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala
anak laki-laki yang belum baligh.
Hal ini dapat menumbuhkan
keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka
tidak akan mau kita sentuh.

– Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa
mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah
hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.
– Sampaikan kepada anak kita :
Tentang mimpi basah & mani
• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki
masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami
mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal
ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan
mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada
mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita
persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.
• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah,
tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan
mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas
segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun
keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi
tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.
• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami
mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam
Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar /
mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci (“Aku berniat mensucikan diri dari
hadats besar karena Allah”). Minta ia untuk melafalkannya.
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan
tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga
seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Tentang madzi
• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat
oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan
mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan
kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).
• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan,
mencuci tangan lalu berwudhu.
• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa
sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah
ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara
menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita
lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak
merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita
sampaikan dengan baik.
Selamat mencoba …

-Elly Risman- —”” facebook.com

Semangat Kurban; Manifestasi Keimanan dan Kepekaan Sosial

Waktu datang silih berganti, detik pergi tak kembali. Idul Fitri Usai, Idul Adha menghampiri.   Dalam momentum bulan Dzulhijjah yang mulia ini, setidaknya terangkum tiga syi’ar kaum muslimin se-dunia, yakni shalat Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji. Seluruh kaum muslimin menyambutnya dengan takbir, tahmid dan tahlil, sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan. Diantara nilai-nilai yang dapat kita ambil dari dalam momentum ini, adalah memahami esensi ibadah kurban.

Kurban berasal dari bahasa Arab, secara gramatikal merupakan isim mashdar (kata dasar) dari qaruba-yaqrubu-qurbaan, jama’ (plural)-nya qaraabiin. Secara etimologi, kurban bermakna dekat. Sedangkan makna secara terminologi artinya mendekatkan diri kepada Allah Swt melalui ibadah tertentu, khususnya melalui sembelihan (azd-dzabaa’ih). Sedangkan, kurban dalam perspektif fikih -sebagaimana yang masyhur dipahami oleh masyarakat- adalah Udh-hiyyah yang artinya sebutan hewan yang disembelih pada waktu dhuha, yaitu ketika matahari naik sepenggalah, berupa onta, sapi, kambing dan domba pada hari raya Idul Adha dan hari-hari tasyriq (10-13 Dzulhijjah), lalu dibagikan kepada fakir miskin dan dhua’afa’, dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Hukum kurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah (yang sangat dianjurkan), seperti dikemukakan oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad. Hukum kurban ini berlaku untuk Muslim yang mukim, musafir, orang haji, laki-laki dan perempuan, tua dan muda. Dasar hukum pensyari’atannya dapat kita lihat di dalam Al-Quran; “Sesungguhnya Kami telah memberimu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhan-mu dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”. (QS. Al-Kautsar [108]: 1-3)

Ayat di atas, memerintahkan kita untuk men-tauhid-kan Allah Swt, melalui shalat dan berkurban, sebagai manifestasi rasa syukur, atas banyak nikmat yang telah Allah Swt anugerahkan kepada kita. Sehingga kemudian, kita berhak mendapatkan rahmat-Nya dan dimasukkan ke dalam telaga al-kautsar dan syurga-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah r.a, dalam Kitab Majmu’ Fatawa-nya (jil.16/hal.531-532), ketika menafsirkan ayat kedua surat Al-Kautsar menguraikan: “Allah Swt memerintahkan beliau untuk mengumpulkan dua ibadah yang agung ini, yaitu shalat dan menyembelih qurban yang menunjukkan sikap taqarrub, tawadhu’, merasa butuh kepada Allah Swt, husnuzhan, keyakinan yang kuat dan ketenangan hati kepada Allah Swt”.

 

Dalam hal kurban, Rasulullah Saw yang merupakan suri teladan terbaik kita, tidak hanya menganjurkan, tapi juga mengaplikasikannya langsung, bahkan menghadiahkan domba kepada beberapa kepala suku untuk menjadi contoh dan panutan bagi sukunya. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Nabi Saw pernah berqurban dengan 100 ekor onta. Oleh karena itu Rasulullah Saw, mengecam keras kepada orang yang mampu, namun enggan berkurban; “Barangsiapa yang memiliki kemampuan namun tidak berkurban, maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, no.8256; Ibnu Majah, no.3123)

Selain dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt, keutamaan ibadah kurban akan mendapatkan keridhaan dari Allah Swt, sehingga terbentuk pribadi yang bertaqwa. Allah Swt berfirman: “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketaqwaan kamu…”. (QS. Al-Haj [22]: 37). Selain itu kurban termasuk ibadah yang paling utama, sehingga Al-Quran menggandengkan ibadah kurban dengan ibadah shalat yang merupakan rukun Islam kedua, sebagaimana dalam surat Al-Kautsar ayat 2.

 

Sungguh beruntunglah orang yang memiliki kemampuan, lalu ia berkurban. Namun ironisnya, tidak sedikit orang yang digerogoti sifat kikir dan bakhil yang diselimuti oleh hawa nafsu, diperparah lagi dengan budaya kehidupan yang semakin berorientasi individualis dan materialis. Sehingga dimensi kemiskinan bukan hanya bermakna, kaum dhu’afa yang tidak memiliki harta. Justru mereka yang kaya harta, namun tak tergerak berkurban dan peduli terhadap sesama, hakikatnya jauh lebih miskin dan dhu’afa dalam hal kebaikan, sehingga jauh dari rahmat dan keberkahan Allah Swt.

 

Manifestasi Ketaatan dan Kepedulian

Secara historis, ibadah kurban mengingatkan kita mengenai nilai-nilai edukasi dari keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Alaihimussalam dalam ketaatan kepada perintah Allah Swt secara totalitas, tanpa berdalih dengan argumentasi yang menolak. Ketika Allah Swt memerintahkannya untuk menyembelih putra kesayangannya semata wayang yang beranjak remaja. Orang tua mana yang tidak berat dan sedih dalam menerima ujian berat seperti ini, namun inilah manifestasi (perwujudan) dari keimanan dan ketakwaan kepada Rabb semesta alam. Yang cukup menarik, terjadi dialog antara keduanya;  “Ibrahim berkata: ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar’”. (QS. Ash-Shaffat [37]: 102. Maka setelah teruji tekad Nabiyullah Ibrahim dan putranya, dalam melaksanakan perintah Sang Khalik, maka Allah Swt menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar. Karena ketaatan, perjuangan dan pengorbanan Nabi Ibrahim, maka Allah SWT memberinya gelar Khalilullah atau Khalilur Rahman, artinya Kekasih Allah Swt. Peristiwa tersebut menjadi tonggak dan teladan ibadah qurban yang kita lakukan sekarang ini.

 

Oleh karenanya, ibadah kurban memberikan pelajaran bagi kita, jika ingin diridhai dan dicintai oleh Allah Swt, maka harus buktikan pengorbanan dan perjuangan dalam ketaatan melaksanakan perintah-Nya, dengan sami’na wa-atha’na (kami mendengar dan kami taat) mengikuti syari’at Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw, tanpa keraguan dan keengganan.

 

Secara filosofis ibadah qurban sebagai simbol penyembelihan terhadap sifat-sifat hewani atau kebinatangan yang ada pada diri kita. Berupa sifat bakhil, rakus, egoisme, cinta berlebihan terhadap harta, jabatan, kekuasaan atau berburuk sangka, munafik, zhalim dan bermaksiat serta berbagai penyakit lainnya. Oleh karenanya, jangan hanya memaknai ibadah kurban sebatas seremonial rutinitas ritual formal. Semangat  kurban juga harus menjadi pemicu lahirnya pribadi dan bangsa berempati sosial yang tinggi, sehingga persoalan kemiskinan, kekurangan pangan, air, listrik dll, akan segera terentaskan.  Dengan berempati dan peduli, kita merasakan denyut penderitaan dan kesusahan orang lain. Sehingga terbentuklah kepribadian insan kamil, yang membangun keseimbangan hubungan kepada Allah (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminannas), serta tumbuhnya ketajaman hati, pikiran dan perasaan sosial. Multidimensinya persoalan umat dan bangsa, jika berusaha mengimplentasikan syari’at Islam, sebagai bentuk ketaatan atas perintah Allah Swt, akan menjadi solusi kongret atas semua realitas.

 

Ibadah kurban juga, memberikan pelajaran kepada kita bahwasanya manusia tidak layak untuk dikorbankan. Oleh karenanya, Allah mengganti Ismail dengan hewan sembelihan. Hal ini memberikan makna, berarti manusia memiliki harkat dan martabat yang tinggi dan tidak pantas untuk dikorbankan, dalam pengertian dijajah, dijual, dihina atau segala perbuatan yang merendahkan derajat manusia. Merujuk kepada pembukaan UUD 1945, menyebutkan bahwa segala penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Oleh karenanya, jangan ada penindasan antara yang satu dengan yang lain, apalagi berkesewenangan atas kekuasaan. Oleh karenanya pemerintah harus melindungi kemerdekaan rakyatnya, dengan mengentaskan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran. Maka dengan momentum kurban, kita semua diharapkan mau berkorban untuk melawan segala egoisme dan mau berkorban untuk kepentingan agama, bangsa dan Negara. Bukan justru mengorbankan orang lain, bangsa dan negara untuk kepentingan hawa nafsu pribadi dan kelompoknya.

 

Pada  akhirnya, dalam momentum Hari Raya Idul Adha, ibadah Kurban dan ibadah Haji, yang merupakan syiar kebahagiaan kaum muslimin se-dunia, semakin menginternalisasikan nilai-nilai ketaatan kepada Allah Swt dalam manjalankan syariat Rasulullah Saw secara kaffah pada seluruh dimensi kehidupan. Serta semakin mengasah kepekaan sosial, meningkatkan bangunan ukhuwah Islamiyah, persatuan, kepedulian dan solidaritas umat, demi terwujudnya izzul Islam wal-muslimin. Sehingga dirasakan Islam sebagai agama yang rahmatan lil’alamin di muka bumi. (MZ)

Oleh : Muhammad Zaini, S.Kom.I

Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam As-Syafi’iyah Jakarta

Dewan Pengawas Forum Komunikasi Mahasiswa Kepulauan Riau (FORMAKRI) Jakarta

(Jum’at, 8 Dzulhijjah 1432 H/4 November 2011 M)

 

Mengapa Hewan Harus Disembelih? Ini Penjelasan Yusuf Qardhawi dan Hasil Penelitian EEG-ECG

Mengapa Islam mensyariatkan penyembelihan, bukan cara lain seperti mencekik, menembak atau membiusnya terlebih dahulu? Berikut hikmahnya menurut Syaikh DR Yusuf Qardhawi dan penelitian Hannover University dengan menggunakan Electro-Encephalograph (EEG)dan Electro Cardiograph (ECG):

Rahasia Penyembelihan dan Hikmahnya

Syaikh DR Yusuf Qardhawi dalam buku Halal dan Haram dalam Islam menjelaskan rahasia penyembelihan dan hikmahnya sebagai berikut:

Rahasia penyembelihan ini, menurut yang kami ketahui, adalah untuk melepaskan nyawa binatang dengan jalan yang paling cepat dan mudah, sehingga meringankan dan tidak menyakiti. Untuk itu maka disyaratkan alat yang dipakai harus tajam supaya lebih cepat.

Di samping itu dipersyaratkan juga, bahwa penyembelihan itu harus dilakukan pada leher, karena leher merupakan tempat yang lebih dekat untuk memisahkan kehidupan dengan mudah.

Rasulullah melarang menyembelih binatang dengan gigi dan kuku, karena penyembelihan semacam itu menyakiti binatang. Pada umumnya alat-alat tersebut hanya bersifat mencekik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk menajamkan pisau dan memudahkan penyembelihan. Beliau bersabda:


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik kepada segala sesuatu. Oleh karena itu jika kamu membunuh, maka perbaikilah cara membunuhnya. Apabila kamu menyembelih maka perbaikilah cara menyembelihnya; tajamkanlah pisaunya serta mudahkanlah sembelihannya.” (HR. Muslim)

Di antara tindakan yang baik adalah seperti apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bahwa Rasulullah memerintahkan menajamkan pisau dan tidak memperlihatkan proses penyembelihan kepada binatang-binatang lainnya yang akan disembelih. Beliau bersabda:


إِذَا ذَبَحَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجْهِزْ

“Apabila salah seorang di antara kamu menyembelih, lakukanlah dengan cepat.” (HR. Ibnu Majah)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, bahwa ada seorang laki-laki membaringkan seekor kambing sambil mengasah pisaunya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


أتريد أن تميتها موتات هلا حددت شفرتك قبل أن تضجعها

“Apakah engkau akan mematikannya beberapa kali? Mengapa tidak engkau asah pisaumu itu sebelum binatang tersebut engkau baringkan?” (HR. Hakim)

Umar Ibnul Khattab pernah juga melihat seorang laki-laki yang mengikat kaki seekor kambing dan diseretnya untuk disembelih, maka ia memperingatkan: “Celaka engkau! Giringlah dia kepada kematian dengan suatu cara yang baik.’ (HR. Abdurrazzaq).

Hasil Penelitian dengan EEG-ECG

Situs resmi Universitas Airlangga, unair.ac.id, melansir hasil penelitian
Penyembelihan Sapi dengan Stunning vs non Stunning Hannover University dengan judulsebagai berikut:

Disebutkan dua staf ahli peternakan dari Hannover University, sebuah universitas terkemuka di Jerman, yaitu Prof Dr Schultz dan koleganya Dr Hazim memimpin penelitian mengenai manakah yang lebih baik dan paling tidak sakit, penyembelihan secara Syariat Islam yang murni (tanpa proses pemingsanan) ataukah penyembelihan dengan cara Barat (dengan pemingsanan)?

Keduanya merancang penelitian sangat canggih, mempergunakan sekelompok sapi yang telah cukup umur (dewasa). Pada permukaan otak kecil sapi-sapi itu dipasang elektroda (microchip) yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Microchip EEG dipasang di permukaan otak yang menyentuh titik (panel) rasa sakit di permukaan otak, untuk merekam dan mencatat derajat rasa sakit sapi ketika disembelih.

Di jantung sapi-sapi itu juga dipasang Electro Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung saat darah keluar karena disembelih. Untuk menekan kesalahan, sapi dibiarkan beradaptasi dengan EEG maupun ECG yang telah terpasang di tubuhnya selama beberapa minggu.

Setelah masa adaptasi dianggap cukup, maka separuh sapi disembelih sesuai dengan Syariat Islam yang murni, dan separuh sisanya disembelih dengan menggunakan metode pemingsanan yang diadopsi Barat.

Dalam Syariat Islam, penyembelihan dilakukan dengan menggunakan pisau yang tajam, dengan memotong tiga saluran pada leher bagian depan, yakni saluran makanan, saluran nafas serta dua saluran pembuluh darah, yaitu arteri karotis dan vena jugularis.

Selama penelitian, EEG dan ECG pada seluruh ternak sapi itu dicatat untuk merekam dan mengetahui keadaan otak dan jantung sejak sebelum pemingsanan (atau penyembelihan) hingga ternak itu benar-benar mati.

Dari hasil penelitian yang dilakukan dan dilaporkan oleh Prof Schultz dan Dr Hazim di Hannover University Jerman itu dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

Penyembelihan menurut Syariat Islam

Hasil penelitian dengan menerapkan praktik penyembelihan menurut Syariat Islam menunjukkan:

Pertama, pada 3 detik pertama setelah ternak disembelih (dan ketiga saluran pada leher sapi bagian depan terputus), tercatat tidak ada perubahan pada grafik EEG. Hal ini berarti bahwa pada 3 detik pertama setelah disembelih itu, tidak ada indikasi rasa sakit.

Kedua, pada 3 detik berikutnya, EEG pada otak kecil merekam adanya penurunan grafik secara bertahap yang sangat mirip dengan kejadian deep sleep (tidur nyenyak) hingga sapi-sapi itu benar-benar kehilangan kesadaran. Pada saat tersebut, tercatat pula oleh ECG bahwa jantung mulai meningkat aktivitasnya.

Ketiga, setelah 6 detik pertama itu, ECG pada jantung merekam adanya aktivitas luar biasa dari jantung untuk menarik sebanyak mungkin darah dari seluruh anggota tubuh dan memompanya keluar. Hal ini merupakan refleksi gerakan koordinasi antara jantung dan sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah keluar melalui ketiga saluran yang terputus di bagian leher tersebut, grafik EEG tidak naik, tapi justru drop (turun) sampai ke zero level (angka nol). Hal ini diterjemahkan oleh kedua peneliti ahli itu bahwa: “No feeling of pain at all!” (tidak ada rasa sakit sama sekali).

Keempat, karena darah tertarik dan terpompa oleh jantung keluar tubuh secara maksimal, maka dihasilkan healthy meat (daging yang sehat) yang layak dikonsumsi bagi manusia. Jenis daging dari hasil sembelihan semacam ini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practise (GMP) yang menghasilkan Healthy Food.

Penyembelihan dengan cara Dipingsankan
Pertama, segera setelah dilakukan proses stunning (pemingsanan), sapi terhuyung jatuh dan roboh. Setelah itu, sapi tidak bergerak-gerak lagi, sehingga mudah dikendalikan. Oleh karena itu, sapi dapat pula dengan mudah disembelih tanpa meronta-ronta, dan tampaknya tanpa mengalami rasa sakit. Pada saat disembelih, darah yang keluar hanya sedikit, tidak sebanyak bila disembelih tanpa proses stunning (pemingsanan).

Kedua, segera setelah proses pemingsanan, tercatat adanya kenaikan yang sangat nyata pada grafik EEG. Hal itu mengindikasikan adanya tekanan rasa sakit yang diderita oleh ternak (karena kepalanya dipukul, sampai jatuh pingsan).

Ketiga, grafik EEG meningkat sangat tajam dengan kombinasi grafik ECG yang drop ke batas paling bawah. Hal ini mengindikasikan adanya peningkatan rasa sakit yang luar biasa, sehingga jantung berhenti berdetak lebih awal. Akibatnya, jantung kehilangan kemampuannya untuk menarik dari dari seluruh organ tubuh, serta tidak lagi mampu memompanya keluar dari tubuh.

Keempat, karena darah tidak tertarik dan tidak terpompa keluar tubuh secara maksimal, maka darah itu pun membeku di dalam urat-urat darah dan daging, sehingga dihasilkan unhealthy meat (daging yang tidak sehat), yang dengan demikian menjadi tidak layak untuk dikonsumsi oleh manusia.

Disebutkan dalam khazanah ilmu dan teknologi daging, bahwa timbunan darah beku (yang tidak keluar saat ternak mati/disembelih) merupakan tempat atau media yang sangat baik bagi tumbuh-kembangnya bakteri pembusuk, yang merupakan agen utama merusak kualitas daging.

Hasil penelitian Prof Schultz dan Dr Hazim juga membuktikan pisau tajam yang mengiris leher ternyata tidaklah “menyentuh” saraf rasa sakit. Oleh karenanya kedua peneliti ahli itu menyimpulkan bahwa sapi meronta-ronta dan meregangkan otot bukanlah sebagai ekspresi rasa sakit, melainkan sebagai ekspresi keterkejutan otot dan saraf saja yaitu pada saat darah mengalir keluar dengan deras.

Mengapa demikian? Hal ini tentu tidak terlalu sulit untuk dijelaskan, karena grafik EEG tidak membuktikan juga tidak menunjukkan adanya rasa sakit itu.

Subhanallah… demikianlah hikmah dan rahasia mengapa Islam mensyariatkan penyembelihan hewan. Wallahu a’lam bish shawab. [IK/bersamadakwah]

Source: http://www.bersamadakwah.com/2014/02/mengapa-hewan-harus-disembelih-ini.html

Akhir Cerita 12 Anak Thailand yang Terjebak dalam Gua

Tim sepak bola U-16 terperangkap di dalam gua Tham LuangTim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)

Meski telah ditemukan sejak Senin (2/7), 12 anak dan seorang pelatih sepak bolanya masih belum bisa dikeluarkan dari Gua Tham Luang, Thailand. Pasalnya saat ini gua tersebut masih dalam kondisi terendam banjir dan ketiga belas orang tersebut tidak bisa berenang maupun menyelam.
12 anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu telah terjebak di dalam gua yang berlokasi di provinsi Chiang Rai itu selama 12 hari, tepatnya sejak Sabtu (23/6) sore. Tim sepak bola itu memasuki gua tersebut usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak di dalam gua karena air hujan tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Lalu bagaimana jika banjir yang merendam gua tersebut tak kunjung surut? Apa cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa 12 bocah dan seorang pelatihnya itu?

Menurut Richard Black, penyelam gua sekaligus instruktur di Florida Dive Connection, AS, anak-anak tersebut membutuhkan pelatihan dasar teknik selam scuba (scuba diving) dengan cepat. Scuba diving sendiri merupakan kegiatan menyelam di bawah permukaan air menggunakan alat bantu pernapasan dengan tabung udara.
Jadi, menurut Black yang kini juga menjabat sebagai anggota dewan di ADM Exploration Foundation di Florida dan anggota tim penyelam Karst Underwater Research, kunci untuk menyelamatkan anak-anak Thailand itu adalah dengan mengajarkan mereka cara untuk menyelam.

Tidak mudah menyelam di dalam gua
Sialnya, untuk bisa menyelam di dalam gua bukanlah suatu hal yang mudah. Dilansir Live Science, cave diving adalah salah satu bentuk scuba diving yang lebih berbahaya dan lebih rumit. Cave Divers Association of Australia mencatat, ada 368 korban jiwa dilaporkan antara 1969 dan 2007 akibat melakukan kegiatan cave diving.
Dengan scuba diving biasa, “jika ada yang salah, Anda bisa langsung ke permukaan,” kata Black kepada Live Science. “Dalam cave diving, tidak seperti itu. Kamu berada di dalam terowongan yang dipenuhi air. (Pilihannya), Kamu harus melanjutkan (menyelam) atau kembali ke tempat kamu memulai.”
Banyak penyelam gua meninggal ketika mereka kehabisan oksigen atau tersesat atau terperangkap dalam sistem gua yang sempit.

Gua yang gelap
Selain karena berupa lorong sempit yang dipenuhi air, gua juga seperti labirin gelap sehingga mencari jalan keluar dari gua dengan menyelam bisa menjadi perkara yang rumit.
“Ketika kamu berada di dalam gua, kamu mengalami kegelapan seperti yang belum pernah kamu alami sebelumnya. Ini benar-benar kegelapan, itu artinya tidak adanya cahaya,” kata Black.
Selain itu, Gua Tham Luang baru-baru ini banjir sehingga airnya sangat keruh dan dipenuhi dengan lumpur, tambah Black. Itu berarti, bahkan dengan bantuan cahaya yang kuat, “pada dasarnya penglihatan seseorang (di dalam air) kini berkurang menjadi nol.”
Biasanya untuk mengatasi permasalahan ini, penyelam gua menggunakan tali panduan, biasanya hanya berupa tali tipis yang dipasang dari pintu masuk gua, yang kemudian mereka pegang agar bisa menjadi penunjuk arah saat kembali dari dalam gua.
Dalam situasi ini, tali yang tebal dan berat mungkin diperlukan agar 12 anak laki-laki yang terjebak di dalam gua dan baru akan merasakan pengalaman pertama kali menyelam, bisa memiliki sesuatu yang sangat jelas dan kuat untuk mereka genggam di dalam air yang deras, kata Black.

Tim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)
Perlu pakaian khusus
Selain alat bantu pernapasan dan tabung oksigen, anak-anak ini tampaknya juga perlu wet suit, pakaian khusus untuk menyelam. Sebab, suhu di bawah air akan menjadi masalah juga bagi orang-orang yang hendak menyelam
Meski Thailand yang berada di wilayah tropis memang memiliki suhu yang lebih hangat dari beberapa tempat lainnya, anak-anak tersebut nantinya tetap akan berada di bawah air.
“Anda kehilangan panas di bawah air, 25 kali lebih cepat daripada di udara. Jadi, anak-anak harus mengenakan wet suit agar tubuh mereka tetap hangat selama menuju jalan keluar,” kata Black.

Keuntungan menjadi anak-anak
Berdasarkan laporan berita, Black menuturkan bahwa tali jangkar sudah ditempatkan di mulut gua dan peralatan selam telah mulai diangkut ke dalam gua.
Black menganjurkan para penyelam berpengalaman untuk memberikan 12 anak laki-laki itu sebuah kursus kilat cepat cara menyelam. Kursus bisa dilakukan sesingkat 15 sampai 20 menit atau selama satu jam, tergantung pada seberapa nyaman anak-anak itu. Dan berdasarkan laporan Reuters, anak-anak itu memang akan mendapatkan kursus singkat penyelaman dalam gua.
Kuncinya, menurut Black, adalah mengajari mereka untuk tidak panik. “Mereka tidak membutuhkan semua keterampilan, mereka hanya perlu bernapas nyaman di bawah air,” katanya.

Menurut Black, adalah sebuah keuntungan bahwa yang terjebak di dalam gua itu anak-anak laki-laki yang mungkin tidak merasakan ketakutan yang sama seperti orang tua.
“Mereka adalah anak-anak berusia 13 tahun, mereka tidak memahami kematian mereka sendiri, mereka pikir mereka tak terkalahkan,” kata Black. “Itu akan menguntungkan mereka.”

sumber kumparanSAINS
Kamis 05 Juli 2018 – 20:02

Romantisme Kisah Cinta Legendaris Laila dan Majnun

Ilustrasi
Muslimahdaily – Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang bernama Qais. Ia anak tunggal dari seorang kepala suku yang terkemuka. Qais tampan, gagah dan dicintai semua orang. Ia juga memiliki segudang keterampilan, tetapi hanya syair yang paling ia gemari.

Setelah cukup umur, Qais bersekolah di sekolah yang paling prestisius di zamannya. Hanya mereka dari keluarga terpandang yang dapat bersekolah di sana, termasuk sang putri dari kepala suku tetangga, Laila. Cantik jelita, ramah mempesona. Banyak yang melamarnya, tapi hanya pulang dengan tangan hampa.

Takdir telah ditetapkan, Qais dan Laila ternyata teman sekelas. Mereka langsung saling mencinta sejak pandangan pertama. Percikan cinta berubah menjadi gelora membara, membuat sekolah yang mulanya tempat belajar menjadi jumpa sang kekasih.

Masyarakat menggunjing, perihal Qais dan Laila yang semakin menjadi-jadi. Dunia seakan milik berdua, menafikan segala eksistensi lain di sekitarnya. Orangtua Laila yang malu, menarik anaknya dari sekolah, menyisakan Qais yang hampa tanpa belahan jiwa. Ia menggila, meninggalkan rumah dan sekolah demi mencari sang pelita. Syair-syair mengiringi rasa rindu dan gundah, membuat orang-orang di sekitar berpikir, “Qais sudah gila (Majnun)!”

Majnun kini tinggal di puncak bukit, dekat desa Laila. Semuanya demi memuaskan rindu terhadap sang kekasih. Berbulan-bulan lamanya, ia kedatangan tamu juga, teman dekatnya. Mereka yang peduli terhadapnya, membantu Majnun untuk mempertemukannya dengan Laila.

Demi cinta, segalanya dilakukan, termasuk menyamar menjadi pelayan wanita dan menyusup ke dalam kediaman sang gadis tercinta. Laila yang merasakan getaran batin Majnun yang menggebu-gebu, segera menghias diri dengan pakaian indah nan menawan. Benar saja, ia akhirnya bertemu lagi dengan sang pangeran hati. Tak perlu kata, degup jantung sudah dapat berbicara. Kedua mata mereka saling merekam keindahan dari pelabuhan cintanya. Sayang, sang penjaga tiba-tiba datang dan memaksa mereka pulang. Orang tuanya pun memperketat penjagaan, menjauhkan sang malam dari rembulannya.

Majnun semakin gila. Orangtuanya berniat untuk menghiburnya dengan wanita-wanita cantik lainnya, tapi justru sia-sia. Majnun pun kabur dari rumah dan tinggal di alam bebas, demi hidupnya, demi cintanya. Di sebrang sana, Laila semakin gundah gulana. Terpenjara dalam kamar, hanya dapat bersahabat dengan sepi dan mencintai yang tak tampak.

Suatu ketika, seorang bangsawan yang terkemuka melihatnya di taman. Serta merta hatinya segera tunduk pada kecantikannya. Orangtua Laila yang mengetahuinya, segera melangsungkan pernikahan keduanya. Tentu, Laila menolak dengan sejuta alasan, tapi keputusan telah ditetapkan dan mereka berdua pun menikah.

Hati Majnun hancur, namun ia berhasil menguatkannya dengan ketulusan cinta. Ia menulis surat untuk Laila. Mendoakan pernikahannya dan hanya meminta satu tanda bukti cinta Laila kepadanya; mengingat nama Qais dalam hatinya. Laila semakin luluh, ia membalasnya dengan sepucuk surat cinta yang terdapat anting di dalamnya, sebagai tanda pengabdian jiwa kepada sang kasih.

Bertahun-tahun berlalu, Majnun masih tinggal bersama alam yang kian menemaninya siang dan malam. Sementara Laila yang sudah bersuami, tak juga menampakkan kegoyahan pada pendirianny. Hatinya tetap untuk Qais, padahal sang suami sudah berusaha membahagiakannya selama ini. Akhirnya, suami Laila jatuh sakit dan meninggal. Laila menangis sejadi-jadinya, tapi bukan suaminya yang ia tangisi, melainkan Majnun yang selama ini tidak juga ada kabarnya. Ia takut, kekasihnya sudah berpulang ke akhirat mendahuluinya.

Hal ini membuat Laila hidup secara tidak teratur; enggan makan, tidak pernah tidur dan banyak melamun. Kondisi kejiwaan Laila yang semakin parah membuatnya jatuh sakit. Hingga pada suatu malam di musim dingin, di tengah sakitnya, Laila meninggal dunia sambil terus bergumam, “Majnun,” berkali-kali.

Berita duka ini akhirnya sampai ke telinga Majnun. Betapa sedih hatinya, mengetahui kekasihnya sudah pergi mendahuluinya, sampai-sampai ia pingsan tak sadarkan diri selama berhari-hari. Setelah ia siuman, ia langsung bergegas menuju kuburan Laila. Di tengah perjalanan, karena lelah yang tak terkira, ia terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya tanpa henti sampai di tanah tempat Laila kekasihnya dikuburkan.

Demi menawar rindu, ia menempelkan kepalanya di atas tanah kubur Laila dan kembali tak sadarkan diri. Di saat itulah, malaikat maut menjemput ruhnya dan membawanya ke langit. Jasad Majnun ditemukan kurang dari setahun setelah kematian Laila. Kerabat yang menemukan jasad Majnun dapat segera mengenali karena keadaan tubuhnya yang sama sekali tidak membusuk, seolah baru meninggal kemarin. Ia pun dikuburkan di samping Laila. Kini, dua insan yang sejak bertahun-tahun lamanya terpisah oleh takdir, akhirnya berjumpa lagi di kehidupan yang selanjutnya.

By Mazza Fakkar Alam  July 19, 2016  muslimahdaily.com

Kisah Ummul Mundzir dan Khasiat Kurma Muda

Ilustrasi
Muslimahdaily – Ummul Mundzir merupakan satu dari sekian wanita yang masuk Islam di era awal dakwah. Wanita Anshar tersebut memeluk Islam begitu dakwah dikenalkan di kota nabi. Ia juga masih berkerabat dengan Rasulullah dari jalur ibu.

Nama lengkapnya yakni Ummul Mundzir binti Qais bin ‘Amr Al Anshariyyah An Najjariyyah. Ia satu keluarga dengan ibunda Rasulullah, Aminah, yakni dari Bani An Najjar. Karena itulah, ia memiliki hubungan dekat dengan Rasullah dan keluarga beliau.

Suatu hari, Rasulullah berkunjung ke rumah Ummul Mundzir Rhadiyyallahu ‘anha. Saat itu, beliau ditemani Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit. Di dalam rumah sang shahabiyyah tergantung setandan kurma muda yang segar. Rasulullah pun diberi sajian dengannya.

Nabiyullah begitu menikmati kurma muda milik Ummul Mundzir. Sampai-sampai Ali berkeinginan untuk memakannya pula. Ia pun menjulurkan tangannya untuk mengambil kurma muda tersebut.

Namun Rasulullah mencegah Ali seraya bersabda, “Tunggu Ali, engkau baru saja sembuh dari sakit.” Dengan perhatian, Rasulullah mencegah Ali untuk memakan kurma muda itu. Faedahnya, kurma muda tak baik disantap oleh seorang yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ali pun menuruti. Ia duduk dan menahan diri dari keinginan memakan kurma muda. Adapun Rasulullah masih memakan sajian kurma muda tersebut. Sementara itu, Ummul Mundzir tengah sibuk di dapur.

Begitu melihat Rasulullah dan Ali ada di rumahnya, Ummul Mundzir segera mengolah bahan makanan. Ia ingin menyajikan hidangan yang ia buat dengan tanggannya sendiri. Lalu dicampurnya gandum dengan sayuran lezat bernama silq. Hasilnya, hidangan lezat nan sehat pun tersedia di hadapan Rasulullah dan Ali.

(Nabi begitu senang melihat hidangan sajian Ummul Mundzir. Kepada Ali, beliau berkata, “Nah, ini cocok untukmu, Ali.” Dengan nikmat, Ali pun menyantap hidangan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir pun senang dapat menyajikan hidangan yang cocok dan disukai Rasulullah serta Ali bin Abi Thalib. Apalagi Rasulullah menyebutnya sangat cocok untuk Ali yang baru saja sehat setelah sakit. Sang shahabiyyah begitu gembira.

Shalat Bersama Rasulullah

Ummul Mundzir sangat menyukai shalat bersama Rasulllah. Ia sangat giat untuk turut serta dalam jamaah beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam. Saking giatnya, Ummul Mundzir juga mengalami momen berpindahnya arah kiblat. Ia menjadi saksi saat Rasulullah diberi wahyu untuk memindahkan arah shalat dari Baitul Maqdis di Yerusalem, ke arah Ka’bah di Makkah.

Itu terjadi di tahun kedua hijriyyah. Ummul Mundzir pun menjadi satu dari sekian shahabat yang menyaksikan dan mengabarkan peristiwa besar tersebut.

Keluarga Ummul Mundzir

Ummul Mundzir memiliki keluarga yang juga menjadi shahabat Rasullah. Mereka selalu melindungi dan mendukung dakwah nabi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih keutamaan pahala jihad karena turut serta di perang Badr.

Ialah Salith bin Qais, saudara kandung Ummul Mundzir, yang bergabung dengan pasukan muslimin menuju Badr. Dengan gagah berani, ia membela agama Allah dan berharap syahid di medan jihad. Bersama Ummul Mundzir, Salith menjadi salah dua shahabat Rasulullah yang dekat dengan beliau.

Adapun keluarga inti Ummul Mundzir yakni seorang suami bernama Qais bin Sha’sha’ah dan anaknya Al Mundzir. Karena itulah ia dikenal dengan nama kunyah Ummul Mundzir.

Suami Ummul Mundzir juga berasal dari Bani An Najjar. Artinya, ia juga berkerabat dengan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Keluarga Ummul Mundzir adalah penduduk asli Madinah dan menjadi shahabat Anshar yang terkenal sangat dermawan. Teringat firman Allah tentang kaum Anshar,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9).

Ummul Mundzir binti Qais, semoga Allah meridhainya dan memberikan kenikmatan surga bersama para shahabat Anshar dan Muhajirin yang lebih dahulu beriman.

By Afriza Hanifa  July 17, 2018 muslimahdaily.com