Mengapa 12 Anak di Thailand Bisa Bertahan Hidup Begitu Lama dalam Gua?

kumparanSAINS
Rabu 04 Juli 2018 – 18:10
12 anak ditemukan di gua Thailand

Kabar berhasil ditemukannya 12 anak dan seorang pelatih bola di dalam Gua Tham Luang di Thailand merupakan berita yang menggembirakan sekaligus mengejutkan. Pasalnya, mereka semua berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah dinyatakan hilang selama 9 hari.
Dalam rekaman sebuah video yang menunjukkan detik-detik penemuan 12 anak dan pelatih bola itu, terlihat mereka yang memakai baju berwarna merah dan biru sedang duduk di tanah di samping hamparan air dalam gua.
Sebelumnya anak-anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu hilang pada Sabtu (23/6) sore setelah memasuki gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak air hujan yang tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Mereka pertama kali ditemukan dalam kondisi hidup oleh dua penyelam Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, pada Senin (2/7). Keesokan harinya, Selasa (3/7), satuan khusus Angkatan Laut Thailand, Navy Seals, mengunggah video penemuan 12 anak dan seorang pelatihnya itu.
Penemuan 12 anak dalam kondisi masih hidup setelah terjebak 9 hari di dalam gua itu menimbulkan pertanyaan tersendiri: mengapa dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama itu? Sebenarnya seberapa lama manusia bisa bertahan hidup di dalam gua?
Andrea Rinaldi, ahli biokimia di Universitas Cagliari di Italia yang pernah meneliti bagaimana manusia beradaptasi dan hidup di gua, mengatakan seberapa lama seseorang bisa bertahan hidup di dalam suatu gua adalah tergantung pada jenis dan lokasi gua tersebut.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Udara
Hal terpenting yang dibutuhkan manusia untuk bisa bertahan hidup adalah udara. Untungnya, biasanya manusia tetap bisa mendapatkan udara meski hidup di dalam gua bawah tanah.
“Oksigen biasanya berlimpah di gua, bahkan ratusan meter di bawah tanah,” kata Rinaldi, dikutip dari Live Science. Ia mengatakan, udara dapat mengalir melalui retakan di bebatuan, dan melalui batu kapur yang keropos.
Rinaldi menambahkan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, ada gua-gua yang memiliki bagian area yang menjadi tempat karbon dioksida menumpuk sehingga membuat oksigen tidak bisa mengalir. Namun menurutnya, area seperti itu sangat berbeda dengan area gua tempat ditemukannya tim sepak bola di Thailand itu.
Jika kondisi gua sangat kering, misalnya, bisa ada banyak debu di udara. Dan di beberapa gua tropis, pengendapan kotoran kelelawar dapat melepaskan uap amonia ke udara, dan mungkin juga menyebarkan spora jamur, yang jika terhirup dapat menyebabkan masalah pernapasan.
Namun “terlepas dari kasus-kasus khusus ini, bagaimanapun, udara di dalam gua benar-benar bisa digunakan untuk bernapas,” kata Rinaldi.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Air dan Makanan
Setelah udara, hal terpenting lainnya yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup adalah air dan makanan.
Manusia membutuhkan makanan dan air untuk bertahan hidup di mana pun. Dilaporkan, tim sepak bola itu masih punya sedikit makanan sebelum tim penyelamat tiba.
Namun jikapun mereka tidak memiliki makanan, mereka tetap masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Rinaldi mengatakan, “Seorang manusia dalam kesehatan yang baik bisa bertahan hidup berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tanpa makanan.”
Adapun terkait kebutuhan air, kebetulan di gua tempat terjebaknya anak-anak itu memang ada banyak air yang menggenang sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Namun begitu, menurut Rinaldi, jika orang-orang yang terdampar di gua tidak memiliki alat untuk menyaring air, akan “lebih bersih dan lebih aman” bagi mereka untuk menyesap air yang menetes dari langit-langit dan dinding gua.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Suhu
Selain kurangnya pasokan udara, air, dan makanan, hal lain yang bisa mengancam keselamatan nyawa manusia adalah suhu udara yang ekstrem. ketika manusia menghadapi suhu yang terlalu dingin bagi tubuhnya, maka ia bisa mengalami hipotermia dan akhirnya meninggal.
Hipotermia ini adalah kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Rinaldi mengatakan, “Hipotermia adalah musuh berbahaya lainnya.”
Akan tetapi menurutnya, karena dalam kasus di Thailand ini anak-anak tersebut terjebak di dalam gua tropis, maka kemungkinan besar suhu di dalam gua tersebut masih di atas 20 derajat Celcius. Tidak terlalu dingin bagi tubuh manusia.
Jadi, faktor-faktor itulah yang menjadi alasan mengapa 12 bocah dan seorang pelatih bolanya itu bisa bertahan hidup begitu lama di dalam gua tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *