Kisah Islamnya Bapak Petrus Kepala Suku dan Dukun Terkenal di Mentawai

Ustadz M. Shiddieq bersama salah seorang kepala suku di Mentawai yang masuk Islam. (Foto: YMPM)

Muslim Obsession – Kisah tentang Bapak Petrus ini dapat ditemukan di sebaran tulisan di media sosial. Sumbernya adalah Ketua Yayasan Muslim Peduli Mentawai (YMPM), Muhammad Shiddieq Al Minangkabwy.

Bapak Petrus semula beragama Kristen Katolik. Ia tinggal di Dusun Tiop Desa Katurai Kecamatan Siberut Barat Daya, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Bapak Petrus merupakan kepala suku di kampungnya. Ia juga seorang Sikerei atau Dukun yang sangat terkenal di Mentawai. Kemasyhuran namanya dalam ilmu perdukunan tersiar baik di Pulau Siberut, Pulau Sipora, Sikakap bahkan keluar Mentawai.

Warga Mentawai sering datang untuk berobat kepadanya. Ia juga sering dipanggil untuk mengobati warga di seluruh Mentawai.

Tidak hanya warga Mentawai, bahkan masyarakat dari luar Mentawai juga sering datang berobat. Mereka datang dari Kota Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Pasaman, dan dari daerah lainnya.

Bapak Petrus juga pernah menjadi kepala desa di Mentawai dan merupakan salah seorang tokoh dan kepala suku di Mentawai.

“Ketokohan Bapak Petrus membuat kami ingin sekali untuk bisa berkenalan dan dekat dengannya. Alhamdulillah dengan izin Allah Swt. kami dipertemukan dan berkenalan dengan beliau,” tulis Muhammad Shiddieq.

Setelah berkenalan, YMPM banyak berdiskusi dengan Bapak Petrus, terutama dalam masalah pengobatan yang ia geluti.

“Masya Allah. Alangkah terkejutnya kami saat mendengarkan langsung keterangan Bapak Petrus, bahwa dalam mengobati pasien, ia menjalankannya dengan cara Islam. Doa atau zikir yang ia baca merupakan doa dan zikir yang terdapat dalam ajaran Islam. Sama sekali tidak ada ajaran dan tuntunan yang ada dalam ajaran agamanya,” paparnya.

Bapak Petrus membagi tata cara pengobatan menjadi tiga tahapan, yaitu sebelum mengobati, saat mengobati, dan di akhir pengobatan.

Sebelum memulai pengobatan Bapak Petrus membaca “Bismillahirrahmanirrahim,
La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim”.

Saat mengobati, ia juga membaca doa,
“Bismillahi Allahu Akbar,
Hasbunallah wani’mal wakil ni’mal maula wani’man nashir”.

Sementara di akhir pengobatan, ia akan membaca “Ilahi rabbi subhana rabbika rabbil ‘izzati ‘amma yasifun, wa salamun ‘alal mursalin wal hamdulillahi rabbil ‘alamin”.

Inilah bacaan yang dibaca Bapak Petrus. Meskipun doa dan zikir yang dibacanya masih sangat sedikit, namun dengan keyakinannya yang sangat bulat pada kebenaran doa dan zikir yang ia baca, dapat melambungkan namanya sehingga ia menjadi Sikerei atau dukun terkenal.

Ketika pihak YMPM bertanya, dari mana Bapak Petrus mendapatkan bacaan doa dan zikir tersebut, ia lalu bercerita.

“Dahulu, saat sedang asyik memancing ikan di tepi laut Mentawai, saya melihat ada satu buku yang hanyut. Seketika itu juga buku yang hanyut tersebut langsung saya ambil. Buku itu berjudul Doa dan Dzikir untuk Penyembuhan dalam Ajaran Islam,” kisahnya.

Karena beragama Nasrani, Bapak Petrus tidak pandai membaca doa atau dzikir dalam tulisan Arab. Ia hanya membaca doa dan dzikir itu dalam bahasa latin saja.

Meskipun dengan lidah yang tidak fasih, akhirnya doa dan dzikir singkat tersebut mampu dihafal olehnya.

Sejak saat itulah Bapak Petrus menjadi kepala desa, kepala suku, dan dukun terkenal di Mentawai.

Dalam perjalanan yang cukup panjang, lebih kurang tiga bulan lamanya, YMPM aktif dan rutin berdiskusi dengan Bapak Petrus. Bahasan diskusi lebih banyak soal pengobatan dalam ajaran Islam.

Berbekal sebagai praktisi Thibbun Nabawy (pengobatan dengan cara Nabi Muhammad Saw.) di Sumatera Barat, baik dalam bidang Ruqyah Syar’iyyah, Bekam, dan lainnya, aktivis YMPM berbagi ilmu dengan Bapak Petrus. Dengan jelas dan tegas mereka sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa doa dan dzikir yang sudah ia praktikkan selama ini masih teramat sedikit dan ia perlu meningkatkan terus kemampuannya untuk mengobati orang. Oleh karenanya ia perlu memperbanyak hafalan doa dan dzikir yang ada dalam ajaran Islam.

“Kami sampaikan kepada Bapak Petrus bahwa sedikit ilmu dan pengamalan Islam yang ia kerjakan, sekalipun Bapak Petrus beragama di luar Islam, telah terbukti membuatnya dipercaya banyak orang. Bayangkan kalau sekiranya ilmunya lebih banyak tentang Islam, pengamalan Islam semakin banyak pula dan apalagi kalau Bapak Petrus menjadi seorang Muslim, insya Allah ia akan semakin memberikan manfaat bagi banyak orang,” jelas Muhammad Shiddieq.

Sebagai seorang dai, ia pun berjanji akan mengajarkan ilmu Islam dan pengobatan Islam kepada Bapak Petrus sejauh yang ia mampu.

Mendengar itu, Bapak Petrus menjadi terharu dan tertegun, ia terus berfikir panjang. Selama tiga bulan YMPM terus berdiskusi membahas, mengkaji, dan mendalami ajaran Islam yang mulia dan rahmatan lil ‘alamin.

Akhirnya dengan limpahan hidayah dan kasih sayang dari Allah Swt., Bapak Petrus seorang kepala suku dan dukun terkenal tersebut mengikrarkan dua kalimat syahadat.

“Alhamdulillah, sekarang Bapak Petrus telah menjadi saudara kita seakidah dengan keinginannya sendiri, tanpa ada paksaan dan desakan dari siapapun,” ucap Muhammad Shiddieq.

Allahu Akbar… Nama yang semula Petrus berganti menjadi Umar Al-Faruq.
Sekarang ia disapa dengan nama Bapak Umar.

Namun demikian, Bapak Umar Al-Faruq belum sunat atau khitan. Ia konon merasa malu jika disunat di Mentawai.

Insya Allah sesudah Idul Fitri 1439 H/2018 M ini YMPM berencana akan membawa Bapak Umar untuk sunat di Kota Payakumbuh, sekretariat YMPM Sumbar, sekaligus akan mengikuti bimbingan atau pembinaan ajaran Islam.

“Di malam Ramadhan yang penuh berkah ini kami terus berdoa, semoga semakin banyak manusia yang mendapatkan hidayah. Amin Yaa Rabbal ‘Alamin…,” harap Muhammad Shiddieq.

Penyunting Vina Agustina muslimobsession.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *