Awas! Jangan Lupa Mengatur Waktu Dalam Bulan Ramadhan

Hari-hari Ramadhan adalah rentang waktu berlipat pahala yang tidak ada batasnya. Jam-demi jamnya adalah rangkuman kasih sayang Allah Ta’ala kepada haba-hambanya. Menit demi menit adalah hembusan angin surga yang menyejukkan. Detik-demi detiknya adalah kesempatan yang tidak ternilai dalam bentangan umur kita.


Karena itu mengagendakan kegiatan selama Ramadhan menjadi sangat penting. Melalui hari-harinya dengan amal harus menjadi tekad kita semua. Berikut ini agenda yang bersifat usulan sekaligus nasehat bagaimana menata waktu-waktu kita di bulan Ramadhan.

Dari Sahur Sampai Subuh
Upayakan bangun sebelum fajar, sekitar pukul 04.00 pagi. Ini adalah waktu sepertiga akhir malam terakhir yang istimewa. Qiamullaillah meski hanya dua rakaat!. Jangan lupa bangunkan keluarga anda untuk shalat malam. Apabila Umar bin Khatthab baangun beliau segera membangunkan keluarganya untuk shalat. Ia berseru: “Shalat, shalat! Seraya membacakan ayat ini “Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezki kepadamu”(QS.Thaha:132)

Mungkin banyak di antara kita yang melalaikan waktu yang berharga ini dengan alasan malamnya sudah melaksanakan shalat tarawih. Padahal mestinya waktu-waktu sepertiga akhir malam harus tetap bisa dihidupkan lebih banyak dari pada bulan-bulan yang lain.
Setelah itu kita bersahur karena memang sahur adalah sunnah Rasulullah. Jangan lupa banyak beristghfar dan berdo’a sebab waktu-waktu ini adalah waktu istijabah.

Setelah Shalat Subuh
Berhati-hatilah dari terpaan rasa kantuk. Berusahalah tidak tidur dalam ruas waktu setelah subuh hingga terbit matahari. Para Salafus shalih sangat tidak menyukai tidur pada waktu itu.

Ibnul Qayyim dalam Madaarijus Salikin mengatakan, “di antara tidur yang tidak disukai menurut mereka adalah tidur antara shalat shubuh dan terbitnya matahari, karena waktu untuk memperoleh hasil bagi perjalanan ruhani, pada saat itu terdapat keistimewaan besar, sehingga andai merekapun melakukan perjalanan (kegiatan) semalam suntuk pun, belum tentu bisa menandinginya.”Karena itu duduklah berdzikir sesudah shalat subuh, dan bertahanlah dari rasa kantuk. Karena kebiasaan akan terbentuk setelah melalui tiga hari dengan ritme yang berbeda. Selanjutnya kita tidak lagi merasakan kantuk sedahsyat sebelumnya, insya Allah.

Setelah itu shalatlah dua rakaat begitu matahari terbit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,”Barang siapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian tetap duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia seakan-akan memperoleh pahala haji dan umrah (HR.Tirmizi, dishahihkan Al-Albani)

Saat Bekerja
Di antara kita banyak yang memiliki rutinitas mencari nafkah dan belajar di bulan Ramadhan. Bekerjalah dengan tetap bersemangat dan teliti. Selingilah waktu kerja-kerja kita dengan tetap berdzikir dan tidak meninggalkan shalat lima waktu berjamaah di masjid-masjid kaum muslimin. Teruslah berupaya menambah amal-amal sunnah yang bisa dilakukan saat bekerja. Seperti mengajak orang kepada kebaikan, bersedekah, ikut berkonstribusi dalam pelaksanaan kegiatan dakwah di masjid kantor pada bulan ramadhan. Atau kita aktif melarang kemungkaran, misalnya dengan mencegah orang berghibah,mengadu domba dll.

Pertengahan Siang
Berusahalah untuk tetap istirahat sekitar 15 hingga 30 menit menjelang atau sesudah Dzuhur. Istirahat atau tidur pada rentang waktu ini disebut dengan qailulah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para salafus shalih biasa melakukan qailulah ini. Qailulah ini adalah merupakan simpanan energi bagi mereka yang gemar melakukan qiamullail. Waktunya mungkin tidak lebih dari setengah jam, tapi manfaatnya sangat terasa ketika kita bangun qiamullail

Waktu Shalat Ashar
Shalatlah berjamaah di masjid. Ingatlah lipatan pahala di bulan ini. Bila usai shalat dan pekerjaan anda sudah selesai. Luangkanlah waktu anda membaca. Di sampaing membaca al-Qur’an tentunya, bacalah juga buku-buku islam dengan tema yang beragam. Misalnya tentang tema tazkiyatun nafs, sirah nabawiyah, pergerakan islam dll. Atau jika anda lelah tetaplah berusaha menambah ilmu anda dengan mendengar muhadharah ilmiah melaluai kaset-kaset atau alat rekaman lainnya. Lakukanlah hal ini sampai menjelang berbuka puasa. Menjelang buka jangan lupa membaca dzikir sore sambil tetap banyak berdo’a, sebab do’a orang yang berpuasa tidak tertolak.

Waktu Maghrib
Setelah seharian penuh kita menahan lapar dan dahaga, maka tibalah saatnya kita untuk berbuka. Bersyukurlah secara lebih mendalam kehadirat Allah Ta’ala karena kita diberikan karunia untuk dapat menyelesaikan hari dengan berpuasa. Jangan lupa berdo’a dengan khusyu’ ketika berbuka, berbukalah dengan tegukan-tegukan air manis diiringi dengan kesyukuran di dalam hati. Sebaiknya kita tidak segera berbuka dengan makanan berat, kerena kita akan melaksanakan shalat maghrib berjamaah di Masjid. Usai berjamaah, lanjutkan dengan makanan berat dan akan lebih baik bila kita menundanya usai shalat Tarawih berjamaah karena lebih memudahkan kita untuk menghindari ngantuk sehingga kita menjadi khusyu’ dalam shalat. Dan jangan lupa makanlah secukupnya saja.

Waktu Isya
Bersegera menunaikan shalat Isya dan Tarawih di Masjid, berusahalah untuk disiplin, apapun keadaaannya. Jika harus terhalangi oleh kegiatan yang sangat mendesak, lakukan shalat Tarawih segera setelah kegiatan kita selesai. Sebaiknya kita menyempurnakan shalat Tarawih bersama imam, agar kita termasuk orang-orang yang menghidupkan Ramadhan dengan shalat malam. Rasulullah Shallallahu a’laihi Wasallam bersabda, yang artinya :”Siapa saja yang shalat Tarawih bersama imam hingga selesai, akan ditulis baginya pahala shalat semalam suntuk.” (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah). Lakukanlah hal ini terus menerus sepanjang 20 hari pertama bulan Ramadhan. Untuk kaum Muslimah tentu saja agenda ini dapat dilakukan di rumah. Ingat juga, agar kita lebih banyak melakukan tilawah Al-Qur’an dan memprogramkan untuk hatam minimal sekali dalam bulan ini. (dikutip dari http://www.wahdah.co.id)

Tips Puasa Bagi Ibu Menyusui

 

Bagi Anda yang masih dalam masa menyusui, mungkin bertanya-tanya apakah ikut berpuasa di bulan Ramadhan ini aman bagi ibu maupun bayi yang disusui? Pasalnya, pada saat berpuasa, tubuh lebih banyak kehilangan cairan karena perubahan pola makan dan tidur.

Selain masalah keamanan, Anda mungkin juga penasaran dengan dampak puasa terhadap produksi ASI serta kesehatan ibu dan bayi. Kenyataannya, Anda tidak perlu terlalu khawatir. Pada dasarnya, puasa atau pun penurunan asupan kalori tidak akan memengaruhi produksi ASI. Jika terjadi penurunan berat badan saat berpuasa, kondisi ini hanya akan memengaruhi kandungan lemak dalam ASI, bukan jumlahnya.

Tips Bila Ibu Tetap Menyusui Saat Berpuasa

Jika Anda semakin tertarik untuk ikut menjalani ibadah puasa sembari menyusui Si Kecil, simak beberapa tips puasa bagi ibu menyusui di bawah ini.

  • Perhatikan Asupan Saat Sahur
    Sebelum menjalani ibadah puasa hingga adzan magrib berkumandang, umumnya umat muslim akan menjalani sahur. Pada saat ini, penting bagi Anda memerhatikan apa saja yang baik untuk Anda konsumsi. Karena makanan dan cairan yang Anda konsumsi saat sahur merupakan cadangan nutrisi dan kalori selama menjalankan ibadah puasa. Untuk itu, sahur sangatlah penting. Adapun pilihan makanan yang baik untuk ibu menyusui antara lain adalah brokoli, bayam, katuk, telur, ikan salmon, daging tanpa lemak, dan kacang merah. Ibu menyusui juga bisa menambahkan suplemen vitamin D saat sahur yang dikenal bagus untuk ibu menyusui.
  • Cegah Dehidrasi
    Puasa bagi ibu menyusui memang tidak berbahaya. Tapi, dehidrasi saat menyusui bisa berbahaya. Jika ibu menyusui mengalami gejala dehidrasi, seperti merasa haus, pusing, lemas, lelah, mulut kering dan lainnya, disarankan segera membatalkan puasa dengan mengonsumsi air atau cairan yang mengandung elektrolit untuk merehidrasi tubuh. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mengonsumsi cairan secukupnya ketika sahur dan juga berbuka puasa untuk menggantikan cairan yang hilang saat berpuasa. Ibu menyusui juga disarankan minum lebih banyak pada saat sahur, meski nutrisi dan kalori juga tidak kalah penting.
  • Persiapan dan menjalani puasa selagi menyusui
    puasa, menyusui  
    Sebagai ibu menyusui, Anda pasti tetap menjalankan tugas di rumah dan mungkin bekerja di kantor. Usahakan untuk melakukan tugas berat ketika sudah berbuka puasa. Dan pastikan Anda berada di tempat teduh serta beristirahat yang cukup selama menjalani puasa dan menyusui. Jika diperlukan, catat makanan dan minuman yang Anda konsumsi selama berpuasa. Ini akan membantu mengukur nutrisi dan cairan yang Anda konsumsi. Studi menunjukkan bahwa selama berpuasa kandungan potasium, magnesium, dan zinc yang terkandung di dalam ASI dapat berkurang. Siasatilah dengan mengonsumsi makanan yang mengandung ketiga nutrisi tersebut, atau Anda bisa menambahkan suplemen. Pahami apa yang dirasakan oleh tubuh, jika merasa tidak enak badan, segera konsultasikan dengan dokter.

Selain memerhatikan beberapa tips puasa bagi ibu menyusui di atas, perlu juga Anda ingat bahwa jika Anda benar-benar ingin menjalankan puasa, perhatikanlah cairan yang Anda konsumsi. Karena menyusui dapat membuat Anda mengalami dehidrasi akibat dari kehilangan cairan tubuh. Ketika dehidrasi menyerang, tubuh tidak hanya merasa haus tapi juga merasa lapar, cepat lelah, mengantuk, dan emosional. Pastikan untuk minum air secukupnya dan jika perlu tambahkan cairan yang mengandung elektrolit dan ion untuk mempercepat penggantian cairan tubuh yang hilang. Jadi, sebelum memutuskan untuk berpuasa sambil menyusui, pertimbangkan pula apakah Si Kecil masih di bawah 6 bulan atau sedang membutuhkan ASI eksklusif. Anda juga bisa bertanya pada dokter sebelum memutuskan ikut berpuasa.

by alodokter.com

Perbuatan yang Tidak Boleh Dilakukan Selama Puasa Romadhon

Larangan puasa merupakan hal-hal yang harus dihindari selama berpuasa. Larangan puasa itu akan membatalkan puasa jika dilakukan. Orang yang tengah berpuasa tidak hanya menahan diri dari makanan dan minuman. Namun, juga memuasakan seluruh anggota badan dari perbuatan dosa. Memuasakan lisan dari perkataan yang kotor dan keji sehingga jadilah diri kita sebagai pribadi dengan akhlak yang terpuji.

Larangan puasa itu sendiri sudah diatur dalam Alquran dan hadis Nabi saw.. Supaya puasa kita tidak sia-sia, kita perlu tahu hal-hal yang merupakan larangan puasa. Sebagaimana makan dan minum akan membatalkan puasa kita, perbuatan dosa juga akan membatalkan pahala puasa kita. Jadilah kita melakukan hal yang sia-sia.

Larangan Puasa

Makan dan Minum dengan Sengaja
Jauhi hal-hal yang dilarang selama berpuasa agar tidak menggugurkan pahala puasa kita. (sumber: lh4.googleusercontent.com)

Jika kita mendengar kata larangan, sudah pasti hal itu tidak boleh dilakukan. Larangan puasa apa saja yang harus kita hindari? Mari simak penjelasannya di bawah ini!

  1. Makan dan minum dengan sengaja di siang hari saat tengah menjalankan ibadah puasa. Jika kita melanggarnya sudah pasti puasa kita akan batal.
  2. Melakukan hubungan badan di siang hari. Jika hal ini dilakukan, yang bersangkutan harus membayar denda atau kifarat. Denda atau kifarat yang harus dibayarkan bagi suami istri yang melakukan hubungan badan di siang hari adalah memerdekakan seorang budak. Jika tidak mampu, hal itu dapat diganti dengan puasa selama dua bulan berturut-turut. Jika hal itu tidak mampu juga, yang bersangkutan diharuskan memberi makan enam puluh orang miskin. Jika tidak mampu juga, kifarat tersebut harus dilaksanakan sampai yang bersangkutan merasa mampu.
  3. Memasukkan makanan ke dalam perut. Hal yang termasuk dalam hal ini adalah suntikan yang mengenyangkan dan tranfusi darah bagi orang yang sedang berpuasa.
  4. Mengeluarkan mani dalam keadaan terjaga. Hal ini disebabkan sentuhan, ciuman, atau melakukan onani. Keluarnya mani karena sedang bermimpi tidak membatalkan puasa karena hal tersebut terjadi secara tidak sengaja.
  5. Muntah dengan sengaja. Sebagai contoh, memasukkan benda ke dalam tenggorokan hingga menjadikan muntah. Hal itu tidak boleh dilakukan selama berpuasa dan itu membatalkan puasa kita.
  6. Keluarnya darah haid dan nifas. Haid merupakan peristiwa rutin yang dialami seorang perempuan. Demikian pula dengan nifas. Hal itu akan dialami seorang perempuan usai melahirkan. Seorang perempuan jika mengalami haid maupun nifas, ia dilarang untuk melaksanakan puasa. Namun, perempuan yang mengalami haid maupun nifas wajib mengganti puasa di waktu yang lain.
  7. Bersaksi palsu. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam sahihnya dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak meninggalkan omongan dusta dan tidak pula meninggalkan perbuatan tercela dalam puasanya, tidak ada keperluan bagi Allah untuk dia meninggalkan makanan dan minumannya. (H.R. Bukhari, hadis ke 1.903)
  8. Melakukan perbuatan yang sia-sia. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw., “Bukannya puasa itu hanya meninggalkan puasa dan minum. Hanyalah yang dinamakan puasa itu ialah mereka yang meninggalkan perbuatan sia-sia dan juga meninggalkan omongan keji. Jika ada yang mencerca engkau atau berbuat dengan perbuatan bodoh terhadapmu, katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya aku dalam keadaan puasa.’” (H.R. Hakim dalam Mustadraknya jilid hlm. 430–431 dari Abi Hurairah)
  9. Murtad atau keluar dari agama Islam. Sudah pasti hal ini merupakan larangan puasa. Jika seseorang keluar dari agama Islam, dia tidak terkena kewajiban untuk menjalankan puasa. Namun, murtad merupakan dosa besar yang akan menghapuskan segala amal kebaikan.

Demikian hal-hal yang merupakan larangan puasa. Mari kita isi Ramadan kita kali ini dengan sebaik-baik perbuatan sebagai bekal menuju kehidupan kita di akhirat nanti. Insya Allah.