Pengaruh Makanan Halal Pada Perilaku Manusia

Suatu ketika Syeikh Muhammad Abduh mengunjungi Perancis. Beberapa mahasiswa menanyakan padanya tentang alasan ajaran Islam mengharamkan babi. “Umat Islam mengatakan babi itu haram karena memakan sampah yang mengandung cacing pita, mikroba, dan bakteri-bakteri berbahaya. Sekarang, semua itu sudah hampir tidak ada karena babi dipelihara di peternakan modern, kebersihannya terjamin, dan proses sterilisasi yang sudah memadai. Bagaimana mungkin babi-babi itu terjangkit cacing pita atau bakteri dan mikroba berbahaya?”

Muhammad Abduh tidak langsung menjawab. Dengan cerdik beliau minta dihadirkan 2 ekor ayam jantan dan 1 ekor ayam betina, serta 2 ekor babi jantan dan 1 ekor babi betina.

Mereka bertanya, “Untuk apa semua ini?”

“Penuhi apa yang saya minta, maka akan saya perlihatkan satu rahasia,” jawab Syeikh

Mereka memenuhi permintaan Muhammad Abduh. Pemikir Islam ini segera mengurung 2 ekor ayam jantan bersama 1 ekor ayam betina dalam 1 kandang. Apa yang terjadi? Dua ekor ayam jantan itu berkelahi dan saling membunuh untuk mendapatkan ayam betina. Setelah itu Muhammad Abduh melepas 2 ekor babi jantan dengan 1 ekor babi betina. Kali ini, mereka menyaksikan sebuah “keanehan”. Tidak ada sedikit pun perkelahian utk memperebutkan babi betina. Tanpa rasa cemburu dan harga diri, babi jantan yang satu justru membantu babi jantan lainnya melaksanakan hajat seksualnya. Mengapa hal ini terjadi? “

Saudara-saudariku semua, daging babi membunuh ‘ghirah’ orang yang memakannya. Itulah yang terjadi pada kalian.

Seorang lelaki dari kalian membiarkan istrinya bersama lelaki lain, tanpa rasa cemburu.

Seorang bapak di antara kalian melihat anak perempuannya bersama lelaki asing, tapi kalian membiarkannya tanpa rasa cemburu dan was-was.

Sesungguhnya, daging babi itu menularkan sifat-sifat buruk pada orang yang memakannya.

Muhammad Abduh kemudian memberikan contoh-contoh baik dalam syariat Islam. Misalnya, Islam mengharamkan beberapa jenis ternak dan unggas yang berkeliaran serta memakan kotorannya. Siapapun yang ingin menyembelihnya harus mengurungnya selama beberapa hari serta memberinya pakan yg sesuai. Mengapa? Agar perutnya terbebas dari kotoran-kotoran yang mengandung bakteri dan mikroba berbahaya yang bisa menular pada manusia. Itulah hukum Allah. Itulah perlindungan dan kasih sayang Al-Khaliq kepada manusia.

(Disalin dari buku “Haram Bikin Seram” karya Tauhid Nur Azhar)

(saifalbattar/arrahmah.com)

Wanita Dalam Pandangan Islam Dan Keistimewaannya

Wanita Dalam Pandangan Islam Dan Keistimewaannya – Betapa beruntungnya seorang wanita dalam Islam jika kita mengetahuinya keistimewaan-keistimewaannya. Dalam kesempatan ini, sikecillucu.com akan berbagi ilmu tentang wanita dalam pandangan Islam dan keistimewaannya. Memang tidak merujuk dari berbagai kitab shohih, namun diantaranya ada yang diambil dari kitab ‘Uqudul Jein, Riadhus Sholihin, artikel-artikel terkait dan bacaan-bacaan buku wanita lainnya.

Wanita Dalam Pandangan Islam

Islam memandang wanita  memiliki banyak keistimewaan dan lebih unggul dibandingkan laki-laki. Di dalam Al-Qur’an telah banyak memberitahukan kepada kita semua tentang kedudukan wanita dan emansipasinya dengan kaum laki-laki. Wanita memiliki esensi dan identitas yang sama dengan laki-laki. Bahkan satu surat di dalam Al-Qur’an mengandung nama perempuan yakni surat “An-Nisa“. Rasulullah SAW ketika ditanya siapa orang yang paling berhak untuk dihormati dan didahulukan, beliau menjawab “ibumu! ibumu! ibumu! kemudian ayahmu“. Subhanallah, begitu mulianya seorang wanita di dalam pandangan Islam.

Keistimewaan Wanita Dalam Islam

Jika kita menghitung-hitung berapa jumlah keistimewaan wanita dalam Islam, tak kan terhitung memang. Namun ada beberapa yang kita ketahui dari beberapa ilmu yang didapatkan. Kita saling berbagi dan saling memberi ilmu serta pendidikan bagi kaum muslimah khususnya. Ketahuilah, bahwa Islam telah memuliakan wanita. Lalu wanita yang seperti apa yang bisa mendapatkan keistimewaan itu?

Ini ada beberapa yang mungkin jika kita melakukannya dengan niat lillahita’ala, insyaaAllah, Allah tidak akan pernah mengingkari janji-janjiNya termasuk dalam memberikan kemuliaan pada seorang wanita. Berikut ini beberapa keistimewaan wanita dalam Islam diantaranya:

Wanita sholihah adalah tiangnya negara.

Sehingga jika wanitanya rusak, maka rusaklah negara tersebut, namun jika wanitanya baik maka baik pulalah negaranya. Wanita sholihah merupakan perhiasan dunia. Wanita memiliki inner beauty yang luar biasa, dan wanita identik dengan keindahan.

Seorang wanita sholihah lebih baik dari seribu laki-laki yang tidak sholeh.

Subhanallah, begitu mulianya Islam memandang seorang wanita yang keutamaan dan keistimewaannya itu lebih baik dari 1000 seribu laki-laki yang tidak seholeh.

Wanita sholihah itu lebih baik dari 70 wali.

Walaupun kita seorang muslimah yang tidak sesholihah Khadijah Al-Kubra, Siti Aisyah, Siti Hajar, dan lain sebagainya. Namun, paling tidak berusahalah untuk menjadi sholihah.

Seorang wanita sholihah lebih baik dari 70 orang sholih

MasyaAllah, betapa istimewanya wanita sholihah disisi Allah.

Doanya seorang wanita sholihah itu lebih maqbul atau terkabul.

Mengapa demikian? karena ketaatannya, kesabarannya, kedekatannya pada Allah serta sifat penyayangnya yang melebihi sifat penyayang seorang laki-laki. Oleh karenanya, doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.

Haidnya seorang wanita merupakan tebusan (kifarah) atas dosa-dosanya yang telah lalu.

Oleh karenanya, saat haidh seorang wanita muslimah yang sholihah akan selalu beristighfar untuk memohon ampunan kepada Allah dan Allah akan membebaskannya dari siksa neraka dan memudahkannya ketika melewatu jembatan shiratal mustaqim serta Allah akan mengangkat derajatnya seperti derajatnya 40 syuhada. Dan jika dilakukannya selama sedang haid (beristighfar).

Surga terletak dibawah kaki ibu.

Seorang anak wajib taat dan patuh pada ibunya, karena ridhonya seorang ibu adalah ridhonya Allah. Balasan terhadap apa yang telah ibu lakukan demi anak-anaknya, dari mulai mengandung, melahirkan, menyusui, membimbing, melindungi, menyayangi dan lain sebagainya. Oleh karenanya atas pengorbanan seorang ibu, maka Allah pantas berikan surga dibawah kakinya.

Ibu lebih didahulukan dan diutamakan.

Ketika ada yang memanggilmu (ayah dan ibumu), maka dahulukanlah ibumu.

Wanita sholihah akan dijamin masuk surga dari pintu mana saja yang ia mau.

Seorang wanita yang mengerjakan solat fardhu, puasa wajib dan memelihara kehormatannya serta taat dan patuh pada suaminya, maka niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.

Allah akan mendatanginya ketika di akhirat.

Semua orang kelak (di akhirat) akan dipanggil untuk melihat wajah Allah, akan tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya terlihat yakni memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

Mendapatkan pahala selama 12 tahun sholat.

Untuk wanita sholihah yang melayani suaminya dengan ikhlas tanpa ada khianat. Maka akan mendapat pahala selama 12 tahun sholat.

Akan mendapat pahala selama satu tahun sholat dan puasa. Jika memberikan ASI kepada anaknya yang menangis

Setiap rokaat dari sholatnya wanita yang sedang mengandung itu lebih utama dari wanita yang tidak mengandung.

Akan mendapatkan pahala sebanyak 70 tahun sholat dan puasa. Yakni saat mengalami rasa sakit saat melahirkan dan setiap urat yang terasa sakit akan diberi pahanyanya seperti pahala orang yang haji.

Wanita yang mati karena melahirkan akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang mati syahid.

Wanita sholihah yang mengandung akan diberi 1000 kebaikan dan dihapuskan 1000 kejahatan, dan malaikat akan beristighfar untuknya.

Wanita Dalam Pandangan Islam Dan Keistimewaannya
Wanita Dalam Pandangan Islam Dan Keistimewaannya

Wanita yang memberikan ASI sampai cukup umur pada anaknya (-+2 tahun), akan diberi Surga oleh Allah.

Orang yang berbuat ihsan atau berbuat baik dan mendidik anak perempuan, saudara perempuan atau istrinya dengan penuh taqwa serta penuh tanggung jawab maka Surga untuknya.

Wanita yang melayani suaminya dengan baik ketika pulang ke rumah, maka akan diberi pahala seperti pahalanya orang yang berjihad.

Ibu lebih berhak terhadap anak laki-lakinya. Seorang ibu lebih berhak terhadap anak laki-lakinya, meskipun telah berumah tangga.

Wanita akan terlebih dahulu masuk ke surga dari pada suaminya. Wanita atau istri yang sholihah akan lebih dulu masuk surga dari pada suaminya jika menolong suami dalam urusan agama.

Wanita yang menjaga anaknya yang sedang sakit, sehingga terkurangi waktu istirahat dan tidurnya, maka Allah akan memberi pahala seperti Allah membebaskan 20 orang hamba sahaya dan diampuni dosanya.

Wanita sholihah atau istri sholihah yang menyucikan pakaian suaminya akan dicatat baginya 1000 kebaikan dan diampuni 2000 kesalahannya serta diangkat derajatnya hingga 1000 derajat.

Istri yang membahagiakan dan menggembirakan hati suaminya siang malam, akan diberi ganjaran tiada henti.

Setiap wanita yang berkeringat demi suami dan anaknya, maka Allah akan menjadikan 7 parit antara dirinya dengan neraka, dan jarak diantara parit itu sejauh langit dan bumi. Jadi, jika seorang istri atau ibu yang mengeluarkan keringat ketika memasak untuk menghidangkan makanan bagi keluarganya, mencuci pakaiannya, membersihkan dan merapikan rumahnya dari segala kotoran, dan lain sebagainya sehingga keringatnya bercucuran akan dibalas oleh Allah dengan dibuatkannya sebuah parit sebagai penghalang dirinya dengan neraka.

Nah itulah beberapa keistimewaan seorang wanita sholihah. Dan masih banyak keistimewaan-keistimewaan lainnya. Begitu mulianya wanita dalam pandangan Islam. Dan begitu luar biasanya Allah memberikan kedudukan yang mulia bagi seorang wanita muslimah yang sholihah. Subhanallah.

By muslimah.com

Pahala Bagi Istri yang Ikhlas Menjalankan Tugas Rumah Tangga

Suatu ketika Rasulullah SAW melihat Fatimah r.a, puteri tercintanya itu sedang menggiling gandum sambil menangis. Rasulullah pun menghampirinya, seraya bertanya mengapa dia menggiling gandum sambil menangis. Dengan terbata-bata, Fatimah menuturkan kepada ayahandanya, bahwa pekerjaan menggiling gandum dan semua pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari membuat dirinya bosan. Makanya ia menangis.

Mendengar cerita puteri kesayangannya itu Nabi SAW pun segera mengambil penggilingan gandum tersebut sambil mengucapkan Bismillah. Ajaibnya, atas izin Allah SWT tiba-tiba penggilingan gandum itu berputar sendiri. Lalu terdengar dari penggilingan yang terbuat dari batu itu bertasbih sambil menggiling gandum yang dilemparkan Rasulullah SAW Tak begitu lama penggilingan itu berputar, Rasulullah SAW memintanya berhenti. Atas izin Allah SWT seketika penggilingan itu pun berhenti sendiri. Allahu Akbar..

Nabi SAW pun menoleh ke arah Fatimah, puteri tercintanya itu seraya bersabda, “Jika Allah menghendaki, penggilingan itu akan berputar sendiri untuk puteriku. Tapi itu terjadi karena Allah menghendaki beberapa kebaikan yang ditulis dan beberapa kesalahan yang dihapuskan dari Fatimah dan dinaikkan-Nya untuk puteri Nabi itu beberapa derajat lebih tinggi.”

Nabi SAW pun tak lupa menyelipkan nasehat kepada putrinya, Fatimah, dengan menjelaskan beberapa kebaikan (pahala) yang bakal diperoleh setiap wanita (isteri), jika dia ikhlas dengan penuh kesabaran menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan rumah tangganya. Nabi mengingatkan, “Jika seorang wanita melayani suaminya sehari semalam dengan baik, tulus, ikhlas serta dengan hati yang benar, Allah akan mengampuni segala dosanya dan akan dicatat untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya dengan seribu kebaikan dan dikaruniakan seribu pahala haji dan umroh.” (Hr. Abu Daud)
Rasulullah SAW bersabda kembali, “Ketika seorang suami pulang ke rumah, kemudian isteri menyambutnya dengan senyuman, dan bersegera mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan suaminya, maka dosa-dosa mereka berdua serta merta berguguran sebelum kedua tangan mereka dilepaskan.” (Hr. Abu Daud)

Allahu Akbar..
Subhanallah, walhamdulillah, betapa mudah jalan menuju surga bagi seorang isteri. Betapa mudah bagi seorang isteri mendapatkan ridha suaminya. Dengannya ridha Allah pun ia dapat.

Pesan Nabi kepada puterinya:

“Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”

“Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikana dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.”

“Fathimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”

“Fathimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum telaga kautsar pada hari kiamat nanti.”

“Fathimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fathimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.”

“Fathimah, bila wanita mengandung, malaikat akan memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah.

Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan.

Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah.”
“Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.”

“Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”

“Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga.

Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.”

Begitulah, nilai ketaatan isteri kepada suaminya. Pengorbanan yang diberikannya tak akan sia-sia. Semoga keluarga kita dihiasi dengan wanita-wanita mulia penghuni surga seperti Fatimah, yang akan dikumpulkan oleh Allah, di dunia dan akhirat. Aamiin

(Melda) harianterbit.com

 

Menyiapkan anak laki-laki mimpi basah ( Aqil Baligh)

Dear Parents…
Tahukah anda, bahwa anak laki-laki yang belum baligh dijadikan
sasaran tembak bisnis pornografi internasional ?
Mengapa demikian ?
Karena anak laki-laki cenderung menggunakan otak kiri dan alat
kemaluannya berada di luar. Di berbagai media (Komik, Games,
PS, Internet, VCD, HP), mereka menampilkan gambar-gambar
yang mengandung materi pornografi, melalui tampilan yang dekat
dan akrab dengan dunia anak-anak.
Dengan berbagai rangsangan yang cukup banyak dari media-
media tersebut, dan asupan gizi yang diterima anak-anak dari
makanannya, hormon testosterone di dalam tubuh bergerak 20
kali lebih cepat. Sehingga, testis mulai memproduksi sperma. Dan
kantung sperma menjadi penuh. Karena itu, anak laki-laki kita
dengan mudahnya mengeluarkan mani lebih cepat dari yang
lainnya dan kadang-kadang, dengan banyaknya ‘rangsangan’ dari
berbagai media tersebut, mereka tidak perlu dengan bermimpi !

Dear Parents…
Menyiapkan anak kita memasuki masa baligh adalah tantangan
besar bagi kita sebagai orang tua. Kelihatannya sepele, namun
sangat penting bagi mereka untuk mengatahui seputar masa
baligh agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki
seksualitas yang sehat, lurus dan benar. Memang banyak kendala
yang kita hadapi : tabu & saru, bagaimana harus memulainya,
kapan waktu yang tepat untuk memulai, sejauh mana yang harus
kita bicarakan, dan lain-lain. Memang tidak mudah untuk
mendobrak kendala-kendala tersebut, namun jika kita tidak
melakukannya sejak dini, bisa jadi mereka mendapatkan
informasi-informasi yang salah dari sumber yang tidak jelas.
Jadi, salah satu kewajiban orang tua adalah menyiapkan putra
putrinya memasuki masa puber / baligh. Biasanya anak
perempuan yang lebih sering dipersiapkan untuk memasuki masa
menstruasi. Jarang, para ayah yang menyiapkan anak laki-lakinya
menghadapi mimpi basah. Ini adalah tanggung jawab Ayah untuk
membicarakannya kepada mereka.
Mengapa harus ayah ? Karena anak laki-laki yang berusia di atas 7
tahun, membutuhkan waktu yang lebih banyak dengan ayahnya,
dari pada dengan ibunya. Dan jika bicara seputar mimpi basah,
ibu tentu tidak terlalu menguasai hal-hal seputar mimpi basah
dan tidak pernah mengalaminya bukan ? Namun, bila karena satu
hal, ayah tak sempat dan tidak punya waktu untuk itu, ibu-lah
yang harus mengambil tanggung jawab ini.

Tips Menyiapkan Anak Laki-laki Menghadapi Mimpi Basah
Untuk pertama kali, kita akan membicarakan tentang apa itu
mimpi basah, dan bedanya mani dengan madzi, dan apa yang
harus dilakukan jika keluar cairan tersebut. Agar anak bisa
membedakan antara mani dengan madzi, persiapkan terlebih
dahulu alat-alatnya :
– Untuk mani : Aduk kanji/tepung sagu dengan air, jangan terlalu
encer, hingga masih ada butir-butir kecilnya. Beri sedikit bubuk
kunyit, hingga menjadi agak kuning. Taruh di wadah/botol.
– Untuk madzi : Beli lem khusus, seperti lem UHU.
Berikutnya siapkan waktu khusus dengan anak untuk
membicarakannya. Apa saja yang harus disampaikan :
– Pertama, sampaikan kepada mereka bahwa saat ini mereka
telah tumbuh berkembang menjadi remaja, dengan adanya
perubahan-perubahan pada fisik mereka. Dan sebentar lagi
mereka akan memasuki masa puber / baligh.
Contoh : “Nak.. ayah lihat kamu sudah semakin besar saja ya..
Tuh coba lihat tungkai kakimu sudah semakin panjang, suaramu
sudah agak berat. Waah..anak ayah sudah mau jadi remaja nih.
Nah, ayah mau bicarain sama kamu tentang hal penting
menjelang seorang anak menjadi remaja atau istilahnya ia
memasuki masa puber / baligh”
– Di awal, mungkin mereka akan merasa jengah dan malu.
Namun, yakinkan kepada mereka, bahwa membicarakan masalah
tersebut merupakan tanggung jawab kita sebagai orang tua, yang
nanti akan ditanyakan oleh Allah di akhirat.
– Ketika berbicara dengan anak laki-laki yang belum baligh,
gunakan the power of touch.
Sentuh bahu atau kepala mereka. Hal ini telah dicontohkan oleh
Rosulullah Muhammad yang sering mengusap bahu atau kepala
anak laki-laki yang belum baligh.
Hal ini dapat menumbuhkan
keakraban antara ayah dengan anak. Jika sudah baligh, mereka
tidak akan mau kita sentuh.

– Gunakan juga jangkar emosi (panggilan khusus, yang bisa
mendekatkan hubungan kita dengan anak), misalnya: nak, buah
hati papa, jagoan ayah, dan lain-lain.
– Sampaikan kepada anak kita :
Tentang mimpi basah & mani
• Bahwa karena ia telah memiliki tanda-tanda / ciri-ciri memasuki
masa puber, maka pada suatu malam nanti, ia akan mengalami
mimpi sedang bermesraan dengan perempuan yang dikenal
ataupun tidak dikenal. Dan pada saat terbangun, ia akan
mendapatkan cairan yang disebut mani. (Kita beri tahukan kepada
mereka contoh cairannya, yaitu cairan tepung kanji yang telah kita
persiapkan). Peristiwa itu disebut mimpi basah.
• Jika seorang anak laki-laki telah mengalami mimpi basah,
tandanya ia sudah menjadi seorang remaja / dewasa muda. Dan
mulai saat itu, ia sudah bertanggung jawab kepada Tuhan atas
segala perbuatan yang ia lakukan, baik berupa kebaikan maupun
keburukan. Pahala dan dosa atas perbuatannya itu akan menjadi
tanggungannya. Dalam agama Islam, ia disebut sudah mukallaf.
• Beritahukan kewajiban yang harus dilakukan setelah mengalami
mimpi basah (sesuai dengan ajaran agama masing-masing).Dalam
Islam, orang yang mimpi basah diwajibkan untuk mandi besar /
mandi junub, yaitu :
1. Bersihkan kemaluan dari cairan sperma yang masih menempel.
2. Cuci kedua tangan.
3. Berniat untuk bersuci (“Aku berniat mensucikan diri dari
hadats besar karena Allah”). Minta ia untuk melafalkannya.
4. Berwudhu.
5. Mandi, minimal menyiram air ke bagian tubuh sebelah kanan
tiga kali, dan ke bagian sebelah kiri sebanyak tiga kali, hingga
seluruh anggota tubuh terkena air.
6. Cuci kaki sebanyak tiga kali.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Tentang madzi
• Jika ia melihat hal-hal / gambar-gambar yang tidak pantas dilihat
oleh anak (gambar yang tak senonoh), maka bisa jadi, ia akan
mengeluarkan cairan yang disebut madzi. (Kita beri tahukan
kepada mereka contoh cairannya, yaitu lem UHU).
• Cara membersihkannya cukup dengan : mencuci kemaluan,
mencuci tangan lalu berwudhu.
• Ingatkan kepadanya, jika ia tidak melakukannya, ia tidak bisa
sholat dan tidak bisa membaca Al Qur’an.
• Setelah kita terangkan, minta kepadanya untuk mengulangi apa
yang telah kita sampaikan.
Hal penting yang harus kita ingat sebelum membicarakan masalah
ini kepada anak adalah kita berlatih dahulu bagaimana cara
menyampaikannya. Mengapa ? Agar komunikasi yang akan kita
lakukan tidak tegang, dan berjalan dengan hangat. Agar anak
merasa nyaman dan ia dapat menerima pesan yang kita
sampaikan dengan baik.
Selamat mencoba …

-Elly Risman- —”” facebook.com

Hak-hak anak dalam pandangan Al-Quran

Berbicara tentang anak berarti berbicara tentang tanggung jawab orang tua dalam mengasuh anaknya. Menagasuh anak bukan sekedar membesarkannya untuk tumbuh sehat, namun anak juga mempunyai hak lain yang wajib dipenuhi oleh orang tua. Hak anak dalam keluarga adalah hak sebelum lahir dan hak sesudah lahir, yang pembahasannya adalah sebagai berikut.

Hak Anak Sebelum Lahir

Islam memperhatikan masalah anak tidak hanya setelah anak dilahirkan, tetapi bahkan sejak anak itu belum merupakan suatu bentuk. Syariat Islam memberikan perlindungan yang sangat besar terhadap janin yang berada dalam rahim ibu, baik perlindungan jasmaniah maupun rohaniyah sehingga janin tersebut dapat tumbuh dan berkembang dengan baik yang pada akhirnya lahir ke dunia dengan sempurna.

Allah SWT (dengan ke Maha Pemurahan-Nya) juga meringankan pelaksanaan  berbagai kewajiban bagi ibu hamil, seperti kewajiban berpuasa pada bulan Ramadhan, jika dengan mengerjakannya dapat menimbulkan madharat terhadap janin atau bayi (sesudah lahir). Akan tetapi dia wajib menggantinya setelah illatnya itu hilang.

Hak Anak Sesudah Lahir

Islam sangat serius dalam memberikan perlindungan kepada anak. Hal ini dibuktikan dengan pemberian  hak-hak yang begitu banyak demi menjamin petumbuhan dan perkembangan anak hingga menjadi manusia yang sempurna, baik jasmani maupun rohanai. Di antara hak-hak anak adalah sebagai berikut :

1. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengakuan dalam Silsilah Keturunan

Pengakuan dalam silsilah dan keturunan disebut juga dengan keabsahan. Keabsahan adalah sentral bagi pembentukan keluarga dalam Islam. Setiap anak muslim mempunyai hak atas legitimasi (keabsahan), yakni dipanggil menurut nama ayah yang diketahui.   Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 5.

Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan memakai nama bapakbapak mereka, itulah yang lebih adil pada sisi Allah dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka (panggilah mereka sebagai) saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

2. Hak Untuk Hidup

Hak hidup adalah suatu fithrah. Tiada suatu makhlukpun yang dapat memberikan kematian kepada yang lain, sebab itu hanya milik Allah sang pencipta, tidak ada perubahan dan pergantian bagi sunnah (ketetapan Allah).  Islam melarang penghilangan nyawa anak dengan alasan apapun,baik karena kemiskinan atau alasan lain. Sesuai dengan firman Allah swt dalam Al-Quran.

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka.” (Al- An Am :15)

Islam menyuruh seluruh umat manusia agar senantiasa menjaga hak hidup anak kecil atau bayi, baik yang orang tuanya muslim ataupun non muslim, makanya dalam setiap pertempuran, Islam melarang seluruh kaum muslim membunuh kaum hawa dan anak-anak.

3. Hak Mendapatkan Nama yang Baik

Syariat Islam mewajibkan kepada orang tua untuk memberikan nama yang baik bagi seorang anak, karena nama dalam pandangan Islam memiliki arti penting dan pengaruh besar bagi orang yang menyandangnya. Selain itu nama akan selalu melekat dan berhubungan erat dengan dirinya, baik semasa dia hidup maupun sesudah mati. Nama itu sendiri merupakan tali pengikat yang amat kuat dengan semua tali keturunannya

4. Hak Anak Untuk Menerima Tebusan (Aqiqah)

Syariat Islam sangat memperhatikan dalam melindungi anak, salah satunya adalah dengan mengajak pemeluknya untuk mengeluarkan harta sebagai pengungkapan rasa suka cita atas lahirnya seorang anak, yaitu dengan mengajak umat Islam untuk menyajikan tebusan dari anak yang baru saja lahir dan membatasinya dengan seekor kambing untuk anak perempuan  dan dua ekor kambing untuk anak laki-laki. Selanjutnya syariat Islam lebih mengutamakan agar aqiqah itu dilaksanakan pada hari ke tujuh dari tanggal kelahirannya.

Ada banyak ayat-ayat yang diperkuat oleh hadist rasul yang memberi petunjuk tentang disyariatkannya aqiqah. Salah satu hadits yang mensyariatkan aqiqah adalah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi yang Terjemahannya:

Hadis Ali bin Hujri mengabarkan kepada Ali bin Mushiri dari Ismail bin Muslim dari hasan dari Sumarah bekata: “Rasulullah SAW menyatakan bahwa” setiap anak tergadai dengan “aqiqah” yang harus disembelih pada hari ke tujuh (setelah kelahirannya) dan memberikan nama bersamaan dengan mencukur rambut”. (HR. Turmudzi).

5. Hak Akan Penyusuan

Bagaimanapun juga, mendapat ASI adalah hak tiap anak, mustahil seorang bayi meminta atau menuntut haknya yang satu ini. Karena bayi belum mempunyai kekuatan apapun. Orang tualah yang seharusnya menyadari bahwa memberikan ASI pada bayinya adalah sebuah kewajiban dan bentuk tanggung jawab.

Dalam Al-Qur’an  Allah SWT. Telah berfirman dalam surat Lukman :  14  sebagai berikut:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ ١٤

Terjemahannya: Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Menurut Abu Suja’, apabila seorang perempuan memberikan ASInya kepada seorang anak maka anak yang menyusui tersebut menjadi anaknya, tetapi harus memenuhi dua syarat yaitu 1) Apabila anak yang disusui tersebut berusia kurang dari dua tahun. 2) Apabila Anak telah menyusui lima kali secara terpisah-pisah

6. Hak Anak Untuk dijaga Kebersihannya

Dalam rangka melindungi kesehatan dan pertumbuhan anak, syariat Islam mengajak kepada para pemeluknya untuk melaksanakan sejumlah kegiatan yang diperkirakan mampu melindungi, menjaga dan menjamin keselamatan anak dari berbagai penyakit serta mencegah segala hal yang mampu mengganggu pertumbuhannya.

Apabila syariat Islam mengajak kepada kebersihan maka tak aneh bila menghilangkan kotoran dan penyakit dari anak itu merupakan suatu kewajiban. Sebagai contoh adalah berkhitan, mencukur rambut dan selalu menjaga kebersihan tubuh anak setiap saat. Menjaga Kebersihan Anak Yaitu menjaga kebersihan tubuh dan menghilangkan kotorankotoran pada tubuhnya.

7. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pengasuhan

Hak anak untuk mendapatkan pengasuhan disebut dengan hadhanah. Pengertian hadhanah menurut bahasa adalah mengumpulkan sesuatu kepada dekapan. Sedangkan hadhanah dalam ilmu fiqih adalah kewajiban terhadap anak untuk mendidik dan melaksanakan penjagaan serta menyusun perkaraperkara yang berkaitan dengannya apabila antara suami dan istri berpisah(bercerai) dan yang berhak merawat anak tersebut adalah pihak istri sampai umur 7 tahun, setelah itu anak disuruh memilih antara ayah dan ibunya.

8. Hak Anak Untuk Menerima Nafkah

Dalam hal ini syariat, Islam memerintahkan kepada setiap orang yang berkewajiban menunaikannya (memeberi nafkah) agar melaksanakan hal tersebut dengan sebaik-baiknya dan melarang dengan keras mangabaikan hak anak tersebut.

Orang tua di samping memberikan pendidikan mental spiritual atau kerohanian, orang tua juga berkewajiban memberikan makan dan minum (material) kepada anak-anaknya dengan makanan-makanan yang halal dan dihasilkan dari yang halal pula. Terjemahannya barang (dzatnya makanan itu) halal dan cara mendatangkan atau menghasilkannya juga dengan cara halal. Itulah kewajiban orang tua terhadap anak-anaknya, agar kelak menjadi generasi yang taqwa penuh tanggung jawab dan anak salih atau shahih. Makanan yang halal akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak, demikian juga makanan  haram akan mempengaruhi perkembangan tubuh anak.

Pemberian nafkah ini sesuai dengan kemampuan dari orang tua dan secukupnya, tidak boleh berlebih dan juga tidak boleh sebaliknya. Berlebilebihan dalam memberi nafkah kepada anak berpeluang untuk berperilaku menyimpang dari norma-norma agama. Kikir dalam memberi nafkah dapat menyebabkan anak berprilaku tidak terpuji, seperti mencuri.

9. Hak Anak Untuk Mendapatkan Pendidikan

Tanggung jawab mendidik anak sudah dimulai ketika seseorang memilih istri, sejak dalam kandungan hingga anak itu lahir sampai ia dewasa.  Menurut Ibnu Qoyyim, tangung jawab pendidikan itu dibebankan di atas pundak seorang ayah, baik di dalam rumah (keluarga) maupun di luar rumah, kaum bapaklah yang berkewajiban mendidik anak-anaknya.

Allah SWT. telah memerintahkan kepada setiap orang  tua untuk mendidik anak-anak mereka dan bertanggung jawab dalam pendidikannya, sebagaimana firman-Nya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٞ شِدَادٞ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ ٦

Terjemahannya: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS Al-Tahrim : 6)

Menurut Abudin Nata ayat tersebut berbicara tentang pentingnya membina keluarga agar tehindar dari siksaan api neraka ini tidak hanya hanya semata-mata di artikan api neraka yang ada di akhirat nanti, melainkan juga termasuk pula berbagai masalah dan bencana yang menyedihkan  dan merusak citra pribadi seseorang.

Penutup

Anaka memiliki hak yang sama di depan orang tua, mereka tidak boleh dibeda-bedakan. Ini anak yang tertua, ini anak yang kedua dan seterusnya hingga anak yang bungsu. Memberika hak-hak anak dalam bentuk yang berbeda akan membuat anak merasa kerdi di dalam keluarga dan akan berefek buruk krtika dia berada di masyarakat kelak.

Semua hak-hak anak wajib ditunaikan oleh orang tua, mereka adalah tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan, karena suatu saat akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat. Jika anak di abaikan, maka masa depannya akan menjadi suram. Wallahu a’lam.

By Media Al Balagh lensaalbalagh.com

Hak Dan Kewajiban Suami Istri Dalam Membina Rumah Tangga

Saat melakukan aqad nikah, dan ijab qabul telah terucap. Maka saat itulah kedua belah pihak sudah sah menjadi pasangan suami istri. Sejak itulah mereka telah memiliki hak dan kewajiban masing-masing. Hak dan kewajiban suami terhadap istri, hak dan kewajiban istri terhadap suaminya serta hak dan kewajiban bersama sebagai suami istri. Kehidupan dalam rumah tangga itu didasari dengan sikap kesetiaan, ketulusan, pengertian, saling mencintai satu sama lain dan saling menyayangi. Hal yang demikian tidak akan terwujud kecuali jika suami istri saling menunaikan kewajiban mereka masing-masing, dan saling bekerjasama dalam melaksanakan hak dan kewajiban mereka. Berikut akan dijelaskan masing-masing hak dan kewajiban sebagai suami istri.

Hak dan kewajiban suami istri ada 3 yaitu:

Pertama: Hak dan kewajiban suami terhadap istri

Kedua: Hak dan kewajiban istri terhadap suami

Ketiga: Hak dan kewajiban bersama.

Hak suami terhadap istri diantaranya:

1) Suami berhak untuk mendapatkan istri seutuhnya

2) Suami berhak untuk meminta hajatnya kepada istri kapan saja dia mau

3) Suami berhak untuk memberi izin dan melarang istri pergi

4) Suami berhak untuk menjaga dan melindungi istrinya

5) Suami berhak untuk memberi nasehat kepada istrinya

Kewajiban suami terhadap istri diantaranya:

1) Suami wajib membimbing istrinya dalam hal agama dan berumah tangga.

2) Suami wajib melindungi istrinya

3) Suami wajib memberikan nafkah lahir dan bathin kepada istrinya sesuai dengan kemampuannya.

4) Suami wajib memberikan pendidikan agama kepada istrinya.

5) Suami wajib memuliakan istrinya.

Hak istri terhadap suami diantaranya:

Artikel terkait : Hak Dan Kewajiban Suami Istri Dalam Membina Rumah Tangga

Pengertian Mukjizat, Karomah, Maunah, Irhas, Sihir Lengkap Contohnya
1. Pengertian Mukjizat Mukjizat iala …

Bolehkah Adik Menikah Mendahului Kakaknya Yang Perempuan?
Pernikahan merupakan hal yang sangat d …
1) Istri berhak menerima mahar dari suami

2) Istri berhak digauli dengan baik dan dimuliakan

3) Istri berhak menerima nafkah lahir dan batin dari suaminya

4) Istri berhak dibimbing dan diajarkan ilmu agama oleh suaminya

5) Istri berhak diberi keadilan diantara para istri apabila suaminya beristri lebih dari satu

Kewajiban istri terhadap suami diantaranya:

1) Istri wajib untuk taat dan patuh kepada suami

2) Istri wajib untuk mengurus suami dan rumah tangganya

3) Istri wajib menjaga harta dan kehormatan suami saat suami tidak ada di rumah

4) Istri wajib untuk selalu berhias dan bersolek untuk suami agar tampil cantik dihadapan suami

5) Istri wajib menghormati suami dan keluarga suami.

Hak dan kewajiban bersama suami istri diantaranya:

1) Suami dan istri berhak (dihalalkan) untuk melakukan hubungan seksual.

2) Suami dan istri berhak untuk saling menikmati satu sama lain.

3) Suami dan Istri berhak untuk saling mendapatkan waris akibat dari adanya ikatan pernikahan yang sah.

4) Suami dan Istri wajib memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka aib mereka kepada orang lain.
5) Suami dan istri wajib untuk Sabar dan rela atas kekurangan dan kelemahan masing-masing.

6) Suami dan istri wajib untuk saling menghormati orang tua dan keluarga kedua belah pihak.

Nah, itulah beberapa hak dan kewajiban sebagai suami istri. Jika diantara suami istri mengetahui dan menjalankan hak dan kewajiban mereka masing-masing, insya Allah kehidupan rumah tangga yang mereka bina akan menjadi kehidupan keluarga yang sakinah, mawaddah warahmah. Amiin Ya Rabbal ‘Alamiin…….

sumber http://www.akidahislam.com/2017/04/hak-dan-kewajiban-suami-istri-dalam_23.html

Ingat 6 Hal ini Dilarang dalam Islam ketika Suami-Istri Berhubungan!

ISLAM sudah dengan jelas mengatur tata cara berhubungan di tempat tidur antara suami-istri. Maka dari itu, sudah jelas kiranya bahwa ketika berhubungan, ada setidaknya yang tidak diperbolehkan antara suami dan istri. Apa saja?

1. Dilarang berhubungan tanpa membaca doa

Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang mereka akan menggauli istrinya, hendaklah ia membaca: ‘Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau karuniakan kepada kami’. Sebab jika ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya,” (Shahih Muslim No.2591).

Rasul sudah mengajarkan doa yang senantiasa dibaca ketika akan bermesraan. Jika belum hafal, maka bisa dibaca di bawah ini:

“Bismillah. Allahumma jannabnasyoithona wa jannabisyaithona maa rojaktanaa.”

Artinya : Dengan nama Allâh. Ya Allâh, hindarkanlah kami dari syetan dan jagalah apa yang engkau rizkikan kepada kami dari syetan

2. Dilarang berhubungan tanpa pendahuluan

Betapa pentingnya sebuah pendahuluan dalam berhubungan, utamanya untuk istri. Pendahuluan bisa berupa ucapan romantis, kecupan dan cumbu rayu. Hal ini sesuai dengan: Sabda Rasul Allâh SAW: “Siapa pun di antara kamu, janganlah menyamai isterinya seperti seekor hewan bersenggama, tapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Selanjutnya, ada yang bertanya: “Apakah perantaraan itu”? Rasul Allâh SAW bersabda, “Yaitu ciuman dan ucapan-ucapan romantis,” (HR. Bukhâri dan Muslim).

3. Dilarang berhubungan tanpa penutup/ selimut

“Dari ‘Atabah bin Abdi As-Sulami bahwa apabila kalian mendatangi istrinya (berjima’), maka hendaklah menggunakan penutup dan janganlah telanjang seperti dua ekor himar.” (HR Ibnu Majah).

Maksudnya adalah jangan bertelanjang seperti hewan yang kelihatan kemaluannya saat berhubungan. Tapi pakailah selimut sebagai penutup, atau bertelanjang dalam selimut.

4. Dilarang berhubungan melalui dubur/ anus

Dari Abi Hurairah Radhiallahu’anhu. bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Dilaknat orang yang menyetubuhi wanita di duburnya,” (HR Ahmad, Abu Daud dan An-Nasai).

Dubur atau anus—maaf—adalah tempat pembuangan kotoran, yang membahayakan kesehatan jika berhubungan suami-istri melaluinya.

5. Dilarang berhubungan saat istri haid

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah kotoran’. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari perempuan di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allâh kepadamu. Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri,” (QS. Al-Baqarah/2: 222).

6. Dilarang menyebarluaskan masalah hubungan

“Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari Kiamat adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya dan istrinya memberikan kepuasan kepadanya, kemudian menyebarkan rahasia istrinya,” Diriwayatkan oleh Imam Muslim (2597) dan Abu Dawud (4227). []

Dirangkum dari berbagai sumber.

By Adam Last updated Mar 30, 2018 islampos.com

Tata Cara Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam [PANDUAN]

POSISI HUBUNGAN INTIM SUAMI ISTRI – Dalam Islam, suami dan istri boleh melakukan berbagai gaya/posisi ketika berhubungan intim asalkan menuju ke “tempat” yang benar. Allah SWT berfirman dalam Surat Al Baqarah ayat 223 yang berbunyi:

“Istri-istrimu adalah (laksana) tanah tempat bercocok tanam bagimu, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu sebagaimana saja yang engkau kehendaki” (QS. Al Baqarah : 223)

Pernah suatu ketika Umar bin Khattab khawatir dan mengadu kepada Rasulullah. Umar bin Khattab mengadu bahwa ia baru saja berjimak dengan istrinya dengan posisi dari belakang. Saat itu Rasulullah hanya diam sampai Allah SWT menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 223 tersebut.

Imam Nawawi menjelaskan bahwa pada ayat tersebut diperbolehkan menyetubuhi istri dari arah depan maupun belakang, dengan posisi telungkup atau menindih. Tidak diperbolehkan menyetubuhi istri melalui dubur karena bukan merupakan lokasi untuk bercocok tanam.

Posisi Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam yang Terbaik

Posisi Hubungan Intim Suami Istri Menurut Islam
republika.co.id

Lalu bagaimana posisi hubungan suami istri menurut Islam yang terbaik?

Dalam Zaadul Ma’ad, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa posisi terbaik adalah suami berada di atas istri.

Menurut Ibnul Qayyim Al Jauziyah, posisi tersebut menunjukkan kepemimpinan suami terhadap istrinya. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 34 yang berbunyi

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita” (QS. An Nisa’ : 34)

dan juga dalam Surat Al-Baqarah ayat 187

“Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka” (QS. Al Baqarah : 187)

Berapa Kali Berhubungan Intim yang Dianjurkan menurut Islam?

Frekuensi Berhubungan Intim Suami Istri Menurut Islam
disinisaja.com

Dalam Islam, tidak diberikan batas berapa kali dalam seminggu sepasang suami istri untuk melakukan hubungan intim. Jadi, dalam perkara ini seseorang dapat melakukannya berapa kalipun sesuai dengna keadaan dan kemapuannya.

Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Qudamah dalam Al Mughni (7: 30),

“Hubungan seks wajib dilakukan oleh suami, yaitu ia punya kewajiban menyetubuhi istrinya selama tidak ada udzur. Demikian dikatakan oleh Imam Malik.”

Terdapat juga hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, ia berkata bahwa Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatinya,

“Wahai Abdullah, benarkan aku dapat kabar darimu bahwa engkau terus-terusan puasa dan juga shalat malam?” Abdullah bin Amr bin Al Ash menjawab, “Iya betul wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jangan lakukan seperti itu. Engkau boleh berpuasa, namun ada waktu tidak berpuasa. Engkau boleh shalat malam, namun ada waktu untuk istirahat tidur. Ingat, badanmu punya hak, matamu punya hak, istrimu juga punya hak yang mesti engkau tunaikan. Begitu pula tenggorokanmu pun memiliki hak.” (HR. Bukhari no. 1975).

Ibnu Hajar juga mengatakan,

 “Para ulama berselisih pendapat bolehkah suami meninggalkan menyetubuhi istrinya. Imam Malik berpandangan, “Jika tidak darurat melakukannya, suami bisa dipaksa berhubungan seks atau mereka berdua harus pisah.” Imam Ahmad juga berpendapat seperti itu. Sedangkan yang masyhur dari kalangan ulama Syafi’iyah, ia tidak wajib berhubungan intim. Ada pula yang berpandangan bahwa wajibnya sekali. Sebagian ulama salaf berpendapat, setiap empat malam, harus ada hubungan seks. Ulama lainnya berpandangan, setiap kali suci dari haidh, sekali hubungan seks.” (Idem)

Apabila suami melakukan perjalanan atau berpergian dengan tujuan yang disyari’atkan atau dengan alasan lainnya yang diperbolehkan, maka hendaknya ia tidak meninggalkan istrinya terlalu lama.

Adab dalam Melakukan Hubungan Suami Istri dalam Islam

dimana.com

Hubungan suami istri dalam Islam memiliki aspek estetika dan etika yang tujuannya untuk memberikan kepuasan raga serta kenikmatan jiwa. Ini dia adab dalam melakukan hubungan suami istri dalam Islam.

1. Melakukan Foreplay

Seorang suami hendaknya memulai hubungan suami istri dengan bersenda gurau, memeluk dan mencium istrinya. Terdapat hadits yang menjelaskan bahwa terdapat pahala yang besar untuk suami yang menggauli istrinya dengan baik

” Barangsiapa memegang tangan istri sambil merayunya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 1 kebaikan dan melebur 1 kejelekan serta mengangkat 1 derajat , Apabila merangkul , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 10 kebaikan melebur 10 kejelekan dan mengangkat 10 derajat , Apabila menciumnya , maka Alloh Swt , akan menulis baginya 20 kebaikan , melebur 20 kejelekan dan mengangkat 20 drajat , Apabila senggama dengannya , maka lebih baik daripada dunia dan isi-isinya “

Foreplay atau bisa disebut pemanasan bertujuan untuk menciptakan sebuah komunikasi positif antara suami istri. Dengan adanya pemanasan yang cukup dan benar, maka hubungan suami istri akan menjadi lebih menyenangkan dan memuaskan.

2. Berhias Diri

Para suami hendaknya membersihkan mulutnya agar tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Mulut yang wangi akan membuat istri semaki cinta. Begitu juga para istri diwajibkan untuk berhias mempercantik diri dan menggunakan parfum saat akan bertemu suaminya.

Nabi Muhammad SAW bersabda

” Sebaik-baiknya wanita adalah wanita yg harum baunya dan sedap masakannya “

3. Tidak Telanjang Bulat

Dalam melakukan hubungan suami istri hendaknya tidak telanjang bulat. Nabi Muhammad SAW bersabda

“Apabila kalian melakukan senggama dengan istrinya , maka jangan telanjang seperti telanjangnya himar.”

4. Melakukan Shalat Sunnah 2 Rakaat Sebelumnya

Dianjurkan untuk melakukan shalat sunnah 2 rakaat sebelum melakukan hubungan suami istri supaya mendapatkan rahmat Allah SWT dan terhindar dari godaan setan.

5. Melakukan Doa Sebelumnya

Selain melakukan shalat sunnah 2 rakaat, pasangan suami istri juga diharapkan untuk membaca doa supaya dijauhkan dari syetan. Bacaannya adalah sebagai berikut
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنِى الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

BISMILLAH ALLAHUMMA JANNIBNIS SYAITHAN WA JANNIBIS SYAITHAN MA RAZAQTANA

Artinya :
Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah syetan dari saya, dan jauhkanlah ia dari apa yang akan Engkau rizkikan kepada kami (anak, keturunan).

6. Tidak Berhubungan Saat Istri sedang Haid

Dalam Islam, tidak diperbolehkan melakukan hubungan suami istri di saat istri sedang haid walaupun beberapa dokter mengatakan bahwa melakukan hubungan saat sedang haid.

Diutamakan untuk memperhatikan aspek estetika serta etika saat berhubungan suami istri dengan tidak melupakan aspek indrawi yakni posisi dalam berhubungan serta teknik lainnya.

Hubungan sepasang suami istri yang benar merupakan suatu ibadah yang akan mendapatkan pahal dari Allah SWT sedangkan hubungan intim yang tidak benar akan mendapatkan dosa.

Itulah tadi posisi hubungan suami istri menurut Islam yang benar serta adab-adab dalam melakukannya. Semoga bermanfaat untuk Anda.

sumber May 8, 2017 by dzulfikar
islamedia.web.id

Wudhulah, Jika Hendak Mengulang

Salah satunya adalah berhubungan dengan pasangan yang sah dalam Islam merupakan ibadah juga. Karena ibadah,  maka hubungan juga hendaklah dilakukan dalam kondisi suci. Artinya tidak tengah menanggung hadats besar.

Masalahnya kemudian, bagaimanakah jika seseorang hendak berhubungan untuk yang kedua kali, padahal ia belum mandi untuk hubungan yang pertama? Bagaimana hukumnya? haruskah orang itu mandi terlebih dahulu kemudian hubungan untuk kedua kali?

Jika seseorang telah usai hubungan dan berkeinginan untuk mengulanginya lagi, hendaklah ia berwudhu terlebih dahulu. Karena jika tidak diselengi dengan wudhu hukumnya makruh. Maka hilangkanlah kemakruhan itu dengan istinja’ dan wudhu dan tidak harus mandi terlebih dahulu.
Bahkan disebutkan bahwa selagi kita belum mandi maka makruh hukumnya, makan, minum, demikian pula tidur. Jadi sekurang-kurang menghilangkan kemakruhan adalah wudhu.

Alhafidzul Iroqy mempunyai nadzam yang menerangkan beberapa hal dari pada tujuh puluh delapan perkara yang disunnatkan berwudhu. Diantaranya; “Dan sunnat wudhu jika orang yang junub itu memilih makan atau tidur, minum dan mengulang jima’ yang diperbaharui.”

Ini juga yang diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Abi Said dari Nabi saw beliau bersabda: “Barang siapa telah mempergauli istrinya, kemudian bermaksud mengulanginya lagi (untuk kedua kali) maka hendaklah ia berwudhu.”

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, menerangkan bahwa berwudhu sebelum jima’ dapat menambah semangat: “Bahwasannya wudhu itu dapat menambah semangat untuk mengulangi (jima’).”

Alhafidz selanjutnya menerangkan:
”Hal ini diperkuat dengan hadits Anas dalam Shahihain, bahwa Nabi sa. berkeliling mempergauli isteri-isterinya dengan mandi yang satu.” []
Demikianlah islam mengatur tata cara dalam hubungan suami isteri. Maka hendaknya kita mentaatinya

Sumber: Taudlihul Adillah/Karya: Muallim KH. Syafi’i Hadzami

islampos.com

Pengertian khitan / Sunat; Sejarah dan Hukumnya

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Khitan atau sunatan sudah sangat familiar dan biasa kita dengar. Di beberapa tempat, acara khitanan anak-anak bahkan dijadikan acara hajatan, undangan, dan hiburan yang meriah. Khitan, adalah bentuk mashdar (kata dasar) dari khatana, yang artinya memotong. Al-Khitaan, Al-Ikhtitaan, adalah isim (kata benda) dari fi’il (kata kerja) al-khaatin, atau sebutan tempat yang dikhitan, yaitu kulit yang tersisa setelah dipotong. (Al-Isawi, 2008). Menurut istilah khitan pada laki-laki adalah memotong kulit yang menutupi ujung kemaluan laki-laki yang disebut dengan Qulfah, agar tidak terhimpun kotoran di dalamnya, dan juga agar dapat menuntaskan air kencing, serta tidak mengurangi nikmatnya jima’ suami isteri.
Secara spesifik, beberapa ulama membagi khitan menjadi 2 jenis, yakni i’dzaar dan khafdh. Dan Imam Nawawi menyebutkan, bahwa i’dzaar itu khitan pada lelaki, sedangkan khafdh hanya khusus pada khitan wanita. Demikian pula, Al-Jauhari menyebutkan, bahwa kata khafdh memang dikhususkan untuk khitan pada wanita.

1. Sejarah Permulaan Khitan
Menurut Wikipedia, khitan sudah dilakukan sejak zaman prasejarah. Hal tersebut bisa diamati dari lukisan-lukisan yang terdapat dalam gua-gua prasejarah. Khitan adalah bagian dari syariat yang melekat pada kehidupan seorang Muslim. Khitan merupakan fitrah manusia. Fitrah, menurut Al-Baidhawi, adalah sunnah yang telah berlaku sejak dahulu, yang dipilih oleh Nabi, dan menjadi titik temu semua syariat, sehingga seakan-akan amalan tersebut diwariskan secara turun temurun.
Menurut riwayat yang shaheh (kuat), Nabi Ibrahim as melakukan khitan pada usia 80 tahun. Dalam riwayat lain yang juga shaheh beliau khitan pada usia 120. Tetapi antara dua hadis shaheh tersebut bisa dikompromikan dengan jalan menghamal hadis pertama kepada 80 tahun dari tahun kenabian sedangkan hadis yang mengatakan beliau khitan pada usia 120 tahun, maksudnya adalah dari tahun kelahiran beliau.
Laki-laki yang pertama kali melakukan khitan adalah Nabi Ibrahim as sedangkan, dari pihak wanita adalah siti Hajar. Nabi Adam as Allah ciptakan dalam keadaan telah terkhitan.
Diantara para Nabi yang terlahir telah terkhitan ada 13 orang yaitu: Nabi Syist, Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu`aib, yusuf, Musa, Sulaiman, Zakaria, Isa, dan Nabi kita Muhammad saw.

2. Hukum Khitan
Rasulullah saw bersabda tentang masalah fitrah berupa khitan ini: الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ Artinya : Fithrah itu ada lima : Khitan , mencukur rambut kemaluan ,mencabut bulu ketiak , memotong kuku , dan memotong kumis . ( HR. Bukhary dan Muslim ) .
Sebagai sebuah fitrah, khitan juga dilakukan oleh kaum terdahulu. Dari Abu Hurairah, Nabi saw. bersabda, “Nabi Ibrahim a.s. berkhitan setelah usianya mencapai delapan puluh tahun, dan ia berkhitan dengan kapak. Sedangkan Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk mengikuti agama Ibrahim, sebagaimana tercantum dalam firman yang artinya, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): ‘Ikutilah agama Ibrahim yang hanif.'” (QS. An-Nahl: 123).
Menurut sebagian ulama, hukum khitan untuk lelaki itu wajib. Sementara, menurut riwayat yang cukup terkenal dari imam Malik, beliau mengatakan khitan hukumnya sunnah.
Ibnu Qudamah dalam kitabnya, Mughni, mengatakan bahwa khitan bagi lelaki hukumnya wajib dan kemuliaan bagi perempuan. Meskipun ada perbedaan pendapat, karena hukum minimalnya adalah sunnah, khitan merupakan sebuah ajaran yang semestinya tidak ditinggalkan umat Islam.
Rasulullah saw. memerintahkan orang yang masuk islam untuk berkhitan sesuai sabdanya أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ Artinya: “Hilangkan darimu rambut kekafiran ( yang menjadi alamat orang kafir ) dan berkhitanlah.” (HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany).

3. Faidah Khitan dalam Tinjauan Syariah
Menurut Syaikh Abdullan Nasih Ulwaan dalam buku Kitab Tarbiyatul Aulaad fiil Islam, khitan memiliki faedah sebagai berikut:

Berkhitan merupakan fitrah terbesar, syiar dan ciri syariat Islam
Khitan merupakan salah satu tanda kesempurnaan dan lurusnya Syariat Allah yang disampaikan melalui lisan Nabi Ibrahim A.S.
Khitan merupakan pembeda antara seorang muslim dengan penganut agama lainnya.
Khitan merupakan salah satu bukti pengakuan seseorang sebagai hamba Allah, melaksanakan perintah-Nya dan tunduk terhadap aturan serta kekuasaan-Nya.

4. Waktu khitan

Terjadi khilaf pendapat para ulama tentang kapan seorang anak dikhitan. Menurut pendapat yang shaheh tidak wajib dikhitan sampai ia baligh dan disunatkan pada hari ketujuh kelahirannya, hal ini berlaku bila menurut perkiraan medis hal tersebut tidak akan berdampak negativ. Kalau tidak maka harus ditunggu sampai ia sanggup untuk dikhitan. Maka seorang yang sudah baligh wajib disegerakan untuk dikhitan dan bila ia enggan maka terhadap pemerintah wajib memaksanya untuk dikhitan.

Sebarkan !!! insyaallah bermanfaat.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”
Sumber:
http://www.solokhitan.com
http://lbm.mudimesra.com, dan telah diedit untuk keselarasan.