Kisah Abu Nawas yang ingin memindahkan masjid

Mereka heran dan berpikir bagaimana bisa Abu Nawas menerima permintaan Baginda Raja Harun al Rasyid untuk memindahkan masjid.
Suatu hari Raja Harun al Rasyid berbicara di depan rakyatnya, “Setelah menghadiri shalat Jumat besok kalian jangan pulang ke rumah, saya akan membuat pengumuman yang sangat penting.”

Orang-orang yang hadir pun saling kasak-kusuk mencari tahu pengumuman apa yang akan diberikan oleh Raja Harun al Rasyid. Kegaduhan terjadi hingga akhirnya Raja Harun al Rasyid melanjutkan pengumumannya.

“Tempat di sekitar masjid kita ini sudah sangat ribut. Jadi saya akan memindahkan masjid kita ke lokasi lain. Siapa pun yang dapat memindahkan masjid ini akan saya beri hadiah sekarung emas.”

Tak seorang pun yang mengajukan dirinya menyanggupi permintaan Baginda Raja hingga Raja mengulangi pengumumannya beberapa kali. Harun al Rasyid memandang para rakyat yang datang. Ia menyisir mereka dengan matanya. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sosok yang ia cari-cari.

“Abu Nawas, bagaimana denganmu?” tanya Raja Harun al Rasyid. Abu Nawas terkejut, tapi akhirnya ia menjawab, “Saya akan memindahkan masjid, tapi saya punya satu syarat, Baginda.”

“Apa itu? katakanlah!” jawab Baginda Raja. “Sebelum saya memindahkan masjid ini Jumat depan, Baginda harus mengadakan pesta makan untuk kami,” terang Abu Nawas.

Semua orang yang hadir terdiam. Mereka heran dan berpikir bagaimana bisa Abu Nawas menerima permintaan Baginda Raja Harun al Rasyid untuk memindahkan masjid ini. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana bisa seorang pria dapat mengangkat dan membawa sebuah masjid besar dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hari yang ditunggu pun datang. Semua orang berkumpul di depan masjid. Mereka baru selesai menunaikan shalat Jumat. Mereka lalu mengikuti pesta yang menjadi syarat Abu Nawas itu. Selesai pesta dilakukan, mereka yang hadir menanti apa yang akan dilakukan Abu Nawas.

“Abu Nawas, kini saatnya kau melakukan pekerjaanmu!” kata Raja Harun al Rasyid. “Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang luar biasa hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang baru,” kata Raja Harun al Rasyid.

“Baik Baginda, masjid ini akan saya pikul di pundak saya,” kata Abu Nawas.

Orang-orang yang hadir pun terdiam, mereka menanti dengan penasaran apa yang akan dilakukan Abu Nawas. Abu Nawas melangkah ke depan, menuju orang-orang yang ada di hadapannya. Di berhenti, membungkuk, mengangkat celana panjangnya kemudian menggulung lengan kemejanya, lalu dia berjalan ke masjid. Ratusan orang, termasuk baginda Raja Harun al Rasyid, mengikutinya.

Ketika Abu Nawas sampai di sisi masjid, dia berhenti dan bergumam tanpa suara. Abu Nawas lalu berjalan lagi mendatangi orang-orang yang mengelilinginya dan berkata, “Saudara-saudaraku, biasanya ketika saya membawa sesuatu yang berat, saya akan meminta seseorang untuk meletakkannya di atas pundakku. Masjid ini sangat berat, jadi tolong bantu saya untuk mengangkat dan meletakkannya di atas pundakku.”

Semua orang yang hadir tekejut. Mereka saling berpandangan tanpa mengeluarkan suara. “Tuan-tuanku, jumlah kalian sanggat banyak, seluruhnya lebih dari dua ratus orang. Kalian baru saja mengadakan pesta besar, kalian harusnya kuat. Tolong bantu saya mengangkat masjid ini ke pundakku.”

Seorang warga pun berkata, “Abu, apa kau gila? Kami tidak akan dapat mengangkatnya!” Orang-orang lainnya secara bergantian juga menyerukan hal yang sama.

“Baginda, bukan salahku tidak memindahkan masjid, orang-orang tidak mau membantuku dengan mengangkatkan masjid ini ke pundakku,” kata Abu Nawas kepada Harun al Rasyid.

Raja pun tersenyum masam ketika mendengar kata-kata Abu Nawas. Tapi ia memberikan acungan jempol atas cara yang digunakan Abu Nawas untuk berkelit.

sumber kisahmuslimcom

Abu Nawas Menangkap dan Memenjarakan Angin

Al kisah…
Abu Nawas kaget bukan main saat seorang utusan Baginda Raja datang ke rumahnya.
Ia diharuskan menghadap Baginda secepatnya.
Pikiran Abu Nawas bertanya-tanya, permainan apalagi yang akan dihadapi kali ini.Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.
GR langsung tuh Abu Nawas…“Akhir-akhir ini aku sering mendapt gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku terkena serangan angin,” kata Baginda memulai pembicaraan.
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil,” tanya Abu Nawas.
“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya,” kata Baginda.Abu Nawas hanya diam.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Ia tidak memikirkan cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.

Karena angin tidak bisa dilihat.
Tida ada benda yang lebih aneh dari angin.
Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat.
Sedangkan angin tidak.

Parahnya lagi, Baginda hanya memberi waktu tidak lebih dari 3 hari.
Abu nawas pulang dengan membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja.
Namun Abu Nawas tidak begitu sedih.

Karena berpikir adalah sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan.
Ia yakin bahwa dengan berfikir akan terbentanglah jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi.
Dan dengan berfikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin.
Karena tak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.

Akan tetapi sudah 2 hari ini si Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya.
Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan oleh Baginda Raja.
Abu Nawas hampir putus asa.
Abunawas benar-benar tidak bisa tidur walaupun hanya sekejap.

Mungkin sudah takdir, kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda.
Ia berjalan gontai menuju istana.

Nah…
Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia teringat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
“Bukankah jin itu tidak terlihat?” guman Abu Nawas.
Ia langsung kegirangan dan segera berlari pulang.

Sesampainya di rumah, ia secepat mungkin segala sesuatunya kemudian menuju istana.
Di pintu gerbang istana, si Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.

Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.
“Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin hai Abu Nawas?” tanya Baginda.
“Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan wajah berseri-seri.

Abu Nawas kemudian mengeluarkan botol yang sudah disumbat.
Kemudian botol tersebut diserahkan kepada Baginda.
Baginda Raja menimang-nimang botol itu sebelum bertanya lebih lanjut.

“Mana angin itu hai Abunawas?” tanya Baginda.
“Di dalam, Tuanku yang mulia,” jawab Abu Nawas.
“Aku tak melihat apa-apa,” kata Baginda.
“Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, tetapi bila paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu,” kata Abu Nawas menjelaskan.

Setelah tutup botol dibuka, Baginda mencium bau busuk.
Bau busuk yang sangat menyengat hidung.
“Bau apa ini, hai Abu Nawas?” tanya Baginda marah.
“Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol.
Karena hamba takut, angin yang hamba buang itu keluar.
Maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol,” jelas Abu Nawas.

Akan tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal.
Untuk kesekian kalinya Abu Nawas selamat.

sumber kisahmuslim.com

MUHAMMAD AL-FATIH, PENAKLUK KONSTANTINOPEL

Muhammad al-Fatih adalah salah seorang raja atau sultan Kerajaan Utsmani yang paling terkenal. Ia merupakan sultan ketujuh dalam sejarah Bani Utsmaniah. Al-Fatih adalah gelar yang senantiasa melekat pada namanya karena dialah yang mengakhiri atau menaklukkan Kerajaan Romawi Timur yang telah berkuasa selama 11 abad.

Sultan Muhammad al-Fatih memerintah selama 30 tahun. Selain menaklukkan Binzantium, ia juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan kerajaan-kerajaan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa, dan termasuk jasanya yang paling penting adalah berhasil mengadaptasi menajemen Kerajaan Bizantium yang telah matang ke dalam Kerajaan Utsmani.

Karakter Pemimpin Yang Ditanamkan Sejak Kecil

Muhammad al-Fatih dilahirkan pada 27 Rajab 835 H/30 Maret 1432 M di Kota Erdine, ibu kota Daulah Utsmaniyah saat itu. Ia adalah putra dari Sultan Murad II yang merupakan raja keenam Daulah Utsmaniyah.

Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa!

Walaupun usianya baru seumur jagung, sang ayah, Sultan Murad II, mengamanati Sultan Muhammad memimpin suatu daerah dengan bimbingan para ulama. Hal itu dilakukan sang ayah agar anaknya cepat menyadari bahwa dia memiliki tanggung jawab yang besar di kemudian hari. Bimbingan para ulama diharapkan menjadi kompas yang mengarahkan pemikiran anaknya agar sejalan dengan pemahaman Islam yang benar.

Menjadi Penguasa Utsmani

Sultan Muhammad II diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Program besar yang langsung ia canangkan ketika menjabat sebagai khalifah adalah menaklukkan Konstantinopel.

Langkah pertama yang Sultan Muhammad lakukan untuk mewujudkan cita-citanya adalah melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya. Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Bizantium Romawi di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer.

Menaklukkan Bizantium

Sultan Muhammad II juga menyiapkan lebih dari 4 juta prajurit yang akan mengepung Konstantinopel dari darat. Pada saat mengepung benteng Bizantium banyak pasukan Utsmani yang gugur karena kuatnya pertahanan benteng tersebut. Pengepungan yang berlangsung tidak kurang dari 50 hari itu, benar-benar menguji kesabaran pasukan Utsmani, menguras tenaga, pikiran, dan perbekalan mereka.

Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak mula. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Bizantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Bizantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosporus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi. Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. 70 kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Tanduk Emas atau Golden Horn
Tanduk Emas atau Golden Horn, di Istanbul, Turki.

Peperangan dahsyat pun terjadi, benteng yang tak tersentuh sebagai simbol kekuatan Bizantium itu akhirnya diserang oleh orang-orang yang tidak takut akan kematian. Akhirnya kerajaan besar yang berumur 11 abad itu jatuh ke tangan kaum muslimin. Peperangan besar itu mengakibatkan 265.000 pasukan umat Islam gugur. Pada tanggal 20 Jumadil Awal 857 H bersamaan dengan 29 Mei 1453 M, Sultan al-Ghazi Muhammad berhasil memasuki Kota Konstantinopel. Sejak saat itulah ia dikenal dengan nama Sultan Muhammad al-Fatih, penakluk Konstantinopel.

Saat memasuki Konstantinopel, Sultan Muhammad al-Fatih turun dari kudanya lalu sujud sebagai tanda syukur kepada Allah. Setelah itu, ia menuju Gereja Hagia Sophia dan memerintahkan menggantinya menjadi masjid. Konstantinopel dijadikan sebagai ibu kota, pusat pemerintah Kerajaan Utsmani dan kota ini diganti namanya menjadi Islambul yang berarti negeri Islam, lau akhirnya mengalami perubahan menjadi Istanbul.

Selain itu, Sultan Muhammad al-Fatih juga memerintahkan untuk membangun masjid di makam sahabat yang mulia Abu Ayyub al-Anshari radhiallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wafat saat menyerang Konstantinopel di zaman Khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu.

Apa yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tentu saja bertentangan dengan syariat, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوْا يَتَّخِذُوْنَ قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُوْرَ مَسَاجِدَ، إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ.

“… Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan Nabi-Nabi mereka sebagai tempat ibadah, tetapi janganlah kamu sekalian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan perbuatan itu.” (HR. HR. Muslim no.532)

Kekeliruan yang dilakukan oleh Sultan Muhammad tidak serta-merta membuat kita menafikan jasa-jasanya yang sangat besar. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan kekhilafannya beliau rahimahullah.

Setelah itu rentetat penaklukkan strategis dilakukan oleh Sultan Muhammad al-Fatih; ia membawa pasukannya menkalukkan Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. bahkan ia telah mempersiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia, akan tetapi kematian telah menghalanginya untuk mewujudkan hal itu.

Peradaban Yang Dibangun Pada Masanya

Selain terkenal sebagai jenderal perang dan berhasil memperluas kekuasaan Utsmani melebihi sultan-sultan lainnya, Muhammad al-Fatih juga dikenal sebagai seorang penyair. Ia memiliki diwan, kumpulan syair yang ia buat sendiri.

Sultan Muhammad juga membangun lebih dari 300 masjid, 57 sekolah, dan 59 tempat pemandian di berbagai wilayah Utsmani. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Masjid Sultan Muhammad II dan Jami’ Abu Ayyub al-Anshari

Wafatnya Sang Penakluk

Pada bulan Rabiul Awal tahun 886 H/1481 M, Sultan Muhammad al-Fatih pergi dari Istanbul untuk berjihad, padahal ia sedang dalam kondisi tidak sehat. Di tengah perjalanan sakit yang ia derita kian parah dan semakin berat ia rasakan. Dokter pun didatangkan untuk mengobatinya, namun dokter dan obat tidak lagi bermanfaat bagi sang Sultan, ia pun wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M. Saat itu Sultan Muhammad berusia 52 tahun dan memerintah selama 31 tahun. Ada yang mengatakan wafatnya Sultan Muhammad al-Fatih karena diracuni oleh dokter pribadinya Ya’qub Basya, Allahu a’lam.

Tidak ada keterangan yang bisa dijadikan sandaran kemana Sultan Muhammad II hendak membawa pasukannya. Ada yang mengatakan beliau hendak menuju Itali untuk menaklukkan Roma ada juga yang mengatakan menuju Prancis atau Spanyol.

Sebelum wafat, Muhammad al-Fatih mewasiatkan kepada putra dan penerus tahtanya, Sultan Bayazid II agar senantiasa dekat dengan para ulama, berbuat adil, tidak tertipu dengan harta, dan benar-benar menjaga agama baik untuk pribadi, masyarakat, dan kerajaan.

Semoga Allah membalas jasa-jasamu wahai Sultan Muhammad al-Fatih…

Sumber: islamstory.com

Oleh Nurfitri Hadi
Artikel www.KisahMuslim.com

KIsah Abu Nawas Disuruh Bertelur

kisah Abu Nawas, seorang pujangga asal Bagdhad, Irak yang melegenda. Abu Nawas terkenal cerdik, dan pandai membohongi sang raja kala itu, Raja Harun Al Rasyid.

Seperti dihimpun merdeka.com dari berbagai sumber, al kisah, sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun Al Rasyid ingin mengalahkan Abu Nawas. Namun perangkap-perangkap yang selama ini dibuat semua bisa diatasi dengan cara-cara yang cemerlang oleh Abu Nawas. Baginda Raja tidak putus asa. Masih ada puluhan tipu muslihat untuk menjerat Abu Nawas.

Hingga suatu saat, Raja Harun Al Rasyid beserta para menteri sering mengunjungi tempat pemandian air hangat yang hanya dikunjungi para pangeran, bangsawan dan orang-orang terkenal. Suatu sore yang cerah ketika Baginda Raja beserta para menterinya berendam di kolam, beliau berkata kepada para menteri, “Aku punya akal untuk menjebak Abu Nawas.”

“Apakah itu wahai Paduka yang mulia ?” tanya salah seorang menteri.

“Kalian tak usah tahu dulu. Aku hanya menghendaki kalian datang lebih dini besok sore. Jangan lupa datanglah besok sebelum Abu Nawas datang karena aku akan mengundangnya untuk mandi bersama-sama kita,” kata Baginda Raja memberi pengarahan. Baginda Raja memang sengaja tidak menyebutkan tipuan
apa yang akan digelar besok.

Abu Nawas diundang untuk mandi bersama Baginda Raja dan para menteri di pemandian air hangat yang terkenal itu. Seperti yang telah direncanakan, Baginda Raja dan para meriteri sudah datang lebih dahulu. Baginda membawa sembilan belas butir telur ayam. Delapan belas butir dibagikan kepada para menterinya. Satu butir untuk dirinya sendiri. Kemudian Baginda memberi pengarahan singkat tentang apa yang telah direncanakan untuk menjebak Abu Nawas.

Ketika Abu Nawas datang, Baginda Raja beserta para menteri sudah berendam di kolam. Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas harap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi. Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi tenggang
waktu untuk berpikir.

Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata, “Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami.”

“Permainan apakah itu Paduka yang mulia ?” tanya Abu Nawas belum mengerti.

“Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang. Sebagai manusia kita mesti bisa dengan cara kita masing-masing,” kata Baginda sambil tersenyum.

“Hamba belum mengerti Baginda yang mulia,” kata Abu Nawas agak ketakutan.

“Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barang siapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum,” kata Baginda.

Abu Nawas tidak berkata apa-apa. Wajahnya nampak murung. la semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.

“Nah sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing-masing,” perintah Baginda Raja.

Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu dengan menanting sebutir telur ayam. Abu Nawas masih di dalam kolam. Ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam. Kini Abu Nawas tahu kalau Baginda Raja dan para menteri telah mempersiapkan telur masing-masing satu butir. Karena belum ada seorang manusia pun yang bisa bertelur dan tidak akan pernah ada yang bisa.

Karena dadanya mulai terasa sesak. Abu Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan kemudian naik ke atas. Baginda Raja langsung mendekati Abu Nawas.

Abu Nawas nampak tenang, bahkan ia berlaku aneh, tiba-tiba saja ia mengeluarkan suara seperti ayam jantan berkokok, keras sekali sehingga Baginda dan para menterinya merasa heran.

“Ampun Tuanku yang mulia. Hamba tidak bisa bertelur seperti Baginda dan para menteri,” kata Abu Nawas sambil membungkuk hormat.

“Kalau begitu engkau harus dihukum,” kata Baginda bangga.

“Tunggu dulu wahai Tuanku yang mulia,” kata Abu Nawas memohon.

“Apalagi hai Abu Nawas,” kata Baginda tidak sabar.

“Paduka yang mulia, sebelumnya ijinkan hamba membela diri. Sebenarnya kalau hamba mau bertelur, hamba tentu mampu. Tetapi hamba merasa menjadi ayam jantan maka hamba tidak bertelur. Hanya ayam betina saja yang bisa bertelur. Kuk kuru yuuuuuk!” kata Abu Nawas dengan membusungkan dada.

Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa. Wajah Baginda dan para menteri yang semula cerah penuh kemenangan kini mendadak berubah menjadi merah padam karena malu. Sebab mereka dianggap ayam betina.

Abu Nawas memang licin, malah kini lebih licin dari pada belut. Karena merasa malu, Baginda Raja Harun Al Rasyid dan para menteri segera berpakaian dan kembali ke istana tanpa mengucapkan sapatah kata pun.

Memang Abu Nawas yang tampaknya bloon itu sebenarnya diakui oleh para ilmuwan sebagai ahli mantiq atau ilmu logika. Gampang saja baginya untuk membolak-balikkan dan mempermainkan kata-kata guna menjatuhkan mental lawan-lawannya. [war]