KECERDIKAN ABUNAWAS MENJEBAK PENCURI

Alkisah, seorang saudagar kaya mengalami nasib sial. suatu malam, pencuri berhasil menggondol 100 keping lebih uang emasnya. karena merasa kehilangan maka keesokan harinya dia segera lapor kepada tuan hakim dan berharap pencuri itu bisa di tangkap. lebih penting lagi, uang emas itu kembali dengan utuh .

Hari berlalu dan seminggu pun terlampaui. tetapi tuan hakim tidak bisa menangkap si pencuri. padahal dia telah berusaha keras dengan berbagai cara. Saudagar sedih, kecewa dan nyaris putus asa. tak mau kehilangan uangnya, dia lalu membuat pengumuman “siapa saja yang mencuri hartanya, dia merelakan separuh jumlah itu menjadi milik si pencuri bila bersedia mengembalikannya”.
Anehnya, meski sudah diiming-imingi separuh hasil curian, pencuri itu lebih memilih diam seribu bahasa. saudagar tambah pusing. Akhirnya, Saudagar itu mengadakan sayembara “barangsiapa berhasil meringkus pencuri itu ia berhak memiliki seluruh harta tersebut.”

Tidak sedikit orang kampung yang mengikuti sayembara. Tetapi semua kandas. Pencuri itu pun merasa aman karena tidak ada satu pun orang yang bisa menangkap dirinya. yang lebih menjengkelkan, ternyata dia sendiri pura-pura ikut sayembara.
setelah semua cara gagal seseorang mengusulkan kepada tuan hakim,”kenapa tidak minta bantuan kepada Abu Nawas?” Sayang.Abu Nawas saat itu sedang bertugas. ia mendapat undangan dari pangeran Damaskus dan baru kembali kemesir tiga hari kemudian.
Tiga hari kemudian, saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Abu Nawas kembali dari Damaskus Hati si pencuri berdebar tak karuan mendengar Nama Abu Nawas disebut-sebut. ia resah. sebab selama ini Abu Nawas di kenal amat cerdik. karena itu, Dia berencana ingin meninggalkan kampung. tetapi setelah dipikir-pikir, dia membatalkannya karena tindakan itu sama dengan membuka kedoknya sendiri. ia memutuskan tetap tinggal di kampung dan menerima apapun yang akan terjadi.

Esoknya,tuan hakim meminti kepada semua penduduk berkunoul di depan gedung pengadilan Abu Nawas hadir dengan membawa tongkat dalam jumlah bayak. tongkat-tongkat itu mempunyai ukuran yang sama panjangnya yang kemudian di bagi-bagikan. setelah semua penduduk mendapat tongkat, Abu Nawas berpidato,”Tongkat-tongkat itu telah Aku beri mantra. Besok pagi kalian kembali kesini membawa tongkat itu. jangan khawatir, tongkat yang dipegang oleh pencuri akan bertambah panjang satu jari telunjuk. sekarang, pulanglah!”

Orang-orang yang tidak merasa mencuri, tetu tidak mempunyai pikiran apa-apa sebbaliknya, sang pencuri ditikam resah. sampai larut malam ia tidak bisa memejamkan mata. ia terus berpikir keras bagaimana supaya tongkatnya tidak bertambah panjang. Akhirnya, ia memutuskan memotong tongkatnya satu jari telunjuk dengan demikian, tongkat yang dibawanya itu akan kelihatan seperti ukuran semula.
Pagi harinya semua penduduk berkumpul lagi didepan pengadilan. si pencuri merasa tenang karena merasa yakin tongkatnya tidak akan bisa diketahui karena dia telah memotong sepanjang satu jari tulunjuk. Dalam hati, ia memuji akalnya krena kali ini dapat mengelabui Abu Nawas.

Antrian panjangpun mulai terbentuk. setelah Abu Nawas datang, segera ia memeriksa satu per satu tongkat yang di bagikan kemarin tiba datang giliran si pencuri, Abu Nawas segera tahu bahwa orang inilah yang selama ini dicari-cari. sebab tongkat yang di bawanya telah berkurang satu jari telunjuk sang pencuri itu telah memotong tongkatnya karena takut bertambah panjang satu jari telunjuk.

Akhirnya, pencuri itu diadili dan di hukum sesuai dengan kesalahannya. seratus keping lebih uang emas kini ber pindah ke tangan Abu Nawas. Tetapi dia bijaksana. sebagai dari hadiah itu di serahkan kembali kepada keluarga si pencuri, sebagian lagi kepada orang-orang miskin dan sisanya untuk keluarga Abu Nawas

sumber deidari.blogspot.com

Hukum Membunuh Cicak dalam Islam dan Dalilnya

Cicak adalah salah satu binatang yang sangat legendaris dalam sejarah agama Islam. Reptile merayap berkaki empat yang sering terlihat berkeliaran di dinding dan langit – langit rumah ini termasuk ke dalam binatang terkutuk hingga akhir zaman. Hal ini dikarenakan cicak di sebut – sebut sebagai binatang perantara setan yang memusuhi dakwah.

Kisah Cicak dalam Sejarah Pekembangan Islam

Kisah cicak yang legendaris ini terjadi saat Nabi Ibrahim as dilempar hidup-hidup ke dalam kobaran api yang telah disiapkan oleh Namrud Ibn Kan’an, ia adalah seorang raja yang pertama kali mengaku-ngaku sebagai Tuhan dari kerajaan Babilonia atau yang sekarang dikenal dengan Negara Irak.

Dalam peristiwa ini dikisahkan terdapat dua ekor binatang yang turut berperan, yakni semut dan cicak. Jika semut berpihak pada Nabi Ibrahim as maka cicak malah berpihak kepada sang raja, Namrud Ibn Kan’an.

Dalam cerita itu semut dengan susah payah berlari-lari membawa butiran butiran air yang ada di mulutnya untuk memadamkan kobaran api yang membakar tubuh Nabi Ibrahim as. Kemudian seekor burung berkata mewakili keheranan semua binatang yang menyaksikan peristiwa tersebut.

“Tidak mungkin setetes air yang ada di mulutmu mampu memadamkan kobaran api yang sangat besar itu.” sahut si burung.

Namun kemudian semut menjawab “Memang air ini tidak akan bisa memadamkan api itu, tapi ini kulakukan paling tidak semua akan melihat bahwa aku di pihak yang mana.”

Dari peristiwa tersebutlah akhirnya banyak hadis yang mengisahkan tentang bagaimana peranan cicak dalam mempersulit penyebaran Islam pada masa Nabi Ibrahim AS.

Di antaranya adalah dalam sebuah hadis muslim yang mengisahkan bahwa cicak adalah tersangka utama yang meniup dan memperbesar kobaran api sehingga membakar Nabi Ibrahim.“Dahulu, cicak-lah yang meniup dan memperbesar kobaran api yang membakar Ibrahim.” (HR. Muslim).

Menyikapi hadis ini, Syekh Utsaimin menyebutkan bahwa tindakan cicak yang meniup untuk membesarkan kobaran api (yang membakar Nabi Ibrahim As) pertanda bahwa cicak adalah hewan yang memusuhi dakwah, ahli tauhid dan keikhlasan para pejuang (syarah Riyadhus Shalihin).

Sunahnya Membunuh Cicak dalam Islam

Hukum membunuh cicak dalam agama Islam adalah Sunah. Hal ini disebabkan oleh kisah cicak yang akhirnya berpihak kepada Namrud Ibn Kan’an untuk ikut membakar Nabi Ibrahim AS. Beberapa hadis bahkan sangat menganjurkan umat muslim untuk membunuh cicak yang mendapat gelar sebagai hewan fasiq dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.

Imam Nawawi dalam syarah shahih Muslim menyebutkan ‘illat bahwa cicak digolongkan hewan yang fasiq karena ia merupakan hewan yang memberikan dampak mudharat dan mengganggu manusia.

Dikisahkan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, bahwa Nabi Saw memerintahkan (umatnya) untuk membunuh cicak, dan beliau menyebut (cicak) sebagai hewan fasiq (pengganggu).” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seekor cicak dengan satu pukulan dicatat baginya seratus kebaikan, dalam dua pukulan pahalanya kurang dari itu, dalam tiga pukulan pahalanya kurang dari itu.” (HR. Muslim).

Kemudian Al-Munawi mengatakan, “Allah memerintahkan untuk membunuh cicak karena cicak memiliki sifat tercela, sementara dulu, dia meniup api yang membakar Nabi Ibrahim sehingga (api itu) menjadi besar.” (Faidhul Qadir).

Tak hanya itu, sebuah hadis lain juga mengisahkan tentang Aisyah yang mengatakan, “Aku mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membunuh cicak maka Allah akan menghapus tujuh kesalahan atasnya.” (HR Thabrani)

Berlanjut dari hadis tersebut, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis yang mengisahkan bahwa ia bertemu dengan Aisyah dan melihat di rumahnya terdapat sebuah tombak yang tergeletak. Dia pun bertanya kepada Aisyah, ”Wahai Ibu kaum mukminin apa yang engkau lakukan dengan tombak ini?” Aisyah menjawab,”Kami baru saja membunuh cecak-cecak. Sesungguhnya Nabi saw pernah memberitahu kami bahwa tatkala Ibrahim as dilemparkan ke dalam api tak satu pun binatang di bumi saat itu kecuali dia akan memadamkannya kecuali cecak yang meniup-niupkan apinya. Maka Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya.” (HR Ibnu Majah)

Selain didasarkan pada kisah cicak yang memusuhi dakwah, anjuran untuk membunuh cicak dalam agama Islam juga didasarkan pada hal-hal logis seperti pengaruh negative cicak terhadap kesehatan manusia, setelah dilakukan penelitian panjang, diketahui bahwa cicak mengandung bakteri yang berbahaya yang dapat menyebabkan sakit perut dan meracuni makanan.

Selain itu, dalam kajian “al Asbah an Nazhoir” Imam Suyuthi menyebutkan bahwa Binatang – binatang itu terbagi menjadi empat macam. Yang pertama, adalah binatang yang didalamnya terdapat manfaat dan tidak berbahaya bagi kesehatan tubuh maka ia tidak boleh dibunuh justru dianjurkan untuk dikonsumsi; Yang kedua, adalah binatang yang di dalamnya mengandung bahaya dan tidak bermanfaat bagi tubuh maka dianjurkan untuk dibunuh.

Contohnya adalah seperti : ular dan binatang-binatang yang berbahaya lainnya; kemudian yang ketiga adalah binatang yang di dalamnya mengandung manfaat positif bagi tubuh namun sekaligus juga berbahaya bagi manusia maka tidak dianjurkan dan tidak pula dimakruhkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti burung elang; terakhir yang ke empat adalah jenis Binatang yang tidak mengandung manfaat didalamnya dan tidak pula berbahaya bagi manusia maka ia tidak diharamkan dan tidak pula dianjurkan untuk membunuhnya. Contohnya adalah seperti ulat, serangga dan lainnya. Dari ke empat jenis binatang yang dijelaskan di atas maka jelaslah bahwa cicak yang terbukti dapat membahayakan manusia dan meracuni makanan ini sangat dianjurkan untuk dibunuh.

Pahala Membunuh Cicak

Sunah adalah perkara positif yang tidak wajib dilakukan oleh umat manusia akan tetapi jika dilakukan maka ia akan mendapatkan pahala dan manfaat lainnya. Dalam membunuh cicakpun sudah tentu akan ada pahala yang menyertainya.

Mengenai hal ini, Nabi Saw menjelaskan perihal pahala yang akan didapatkan dengan mengamalkan anjurannya. Disebutkan dalam sebuah hadis, Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa membunuh cicak maka pada awal pukulannya baginya ini dan itu dari kebaikan. Barangsiapa yang membunuhnya dalam pukulan kedua maka baginya ini dan itu yakni kebaikan yang berbeda dengan yang pertama. Jika dia membunuhnya pada pukulan ketiga maka baginya ini dan itu kebaikan yang berbeda dengan yang kedua.” (HR. Muslim).

Demikianlah pembahasan mengenai hokum membunuh cicak dalam agama Islam ini. Semoga pembahasan dalam artikel ini dapat menambahkan khazanah keilmuan kita dan meningkatkan keimanan kita semua terhadap Allah Subhana Hua Ta’ala. Amin.

sumber dalamislam.com

 

Kisah Abu Nawas “Dukun Dadakan”

Tidak akan pernah habis akal busuk Abudahi untuk mencelakai Abunawas. Entah apa yang diinginkan oleh Abudahi dengan memfitnah Abunawas kali ini. Siang itu, Abudahi menghadap raja dan mengatakan bahwa Abunawas menjadi dukun dadakan. Tentu saja, raja sangat heran dengan cerita Abudahi. Bahkan sepulang dari menghadap raja, Abudahi terus menceritakan perihal Abunawas kepada semua orang yang dijumpainya. “Abunawas kini menjadi dukun yang perbuatannya ke arah tidak mempercayai Tuhan,” kata Abudahi meyakinkan orang.
“Dalam waktu singkat rakyat akan membencinya,” kata Abudahi dalam hati. Fitnah yang dilontarkan Abudahi disambut dengan gembira oleh orang-orang yang tidak menyukai Abunawas. Maka dengan geram mereka mendatangi Abunawas. Semula Abunawas terkejut. Setelah mendengar dirinya kini terkenal sebagai dukun, ia langsung mencari akal.
“Jadi, apa yang kalian minta dariku?’ tanya Abunawas pada mereka. Bermacam-macam permintaan diutarakan orang. Ada yang minta kesaktian, kekebalan menjadi gagah, menjadi kaya raya, dan sebagainya. “Tuan Abunawas telah memberi beberapa jimat kepada orang lain. Mengapa kepada kami, tidak?” desak mereka.
“Menurut arwah nenek moyang yang masuk ke dalam tubuhku, hanya malam hari jimat-jimat itu boleh kuberikan. Datanglah tengah malam, akan kuberikan jimat-jimat itu pada kalian,” kata Abunawas meyakinkan mereka. Orang-orang itu gembira menerima janji Abunawas. Tepat tengah malam, orang-orang itu sudah bebondong-bondong datang. Abunawas duduk bersila di ruang tamu. Satu per satu orang maju menghadap Abunawas yang berlagak dukun, lalu ia menyerahkan batu kerikil hitam. Sebelumnya, Abunawas mengatakan kepada mereka bahwa batu kali itu batu pemberian arwah nenek moyangnya untuk jimat.
“Siapa yang mau kaya, cantik, gagah, banyak rejeki, kebal senjata tajam, dan sakti mandraguna maka cukup simpan baik-baik batu hitam yang nanti kubagikan,” jelas Abunawas lantang. Dengan gaya yang ‘sok dukun beneran’, Abunawas benar-benar membuat banyak orang yang datang ke rumahnya percaya. “Nah, hadirin, tidak akan lama lagi akan muncul seseorang yang mengaku dukun pintar selain hamba. Itulah saat yang tepat bagi tuan-tuan untuk memanfaatkan batu jimat pemberian hamba ini,” kata Abunawas lagi. “Memanfaatkannya bagaimana, Pak Dukun Abu?” tanya mereka penasaran.
“Datangi dia dan lemparkan batu itu padanya. Lalu katakan, apa keinginan kalian. Begini caranya, yang berniat ingin kaya, lemparkan pada dukun itu dan katakan aku ingin kaya raya! Nah, gampang ‘kan? Setelah melempar batu itu, kalian akan menjadi kaya raya,” jelas Abunawas sambil tersenyum.
Bergembiralah orang-orang itu. Kerikil hitam di tangan lalu digenggam erat-erat. Sebelum pergi, beberapa orang sempat menyodorkan amplop berisi uang sebagai ucapan terima kasih kepada Abunawas. Tentu saja Abunawas menolaknya. Setelah orang-orang itu pulang, Abunawas terus saja berpikir siapa yang memfitnah dirinya menjadi dukun.Ia mondar-mandir mencari akal untuk menjebak orang yang telah memfitnahnya. “Akan kuberi pelajaran. Barang siapa yang menggali lubang, dia sendiri yang akan terperosok ke dalamnya”, kata Abunawas dalam hati.
Dari hari ke hari, Abunawas makin terkenal menjadi dukun. Ia selalu dikunjungi banyak orang. Orang-orang yang datang selalu memberi uang padanya. Tentu saja Abunawas menolak sambil mengatakan bahwa bahwa ia selalu mendapat uang sekeranjang setiap harinya.
Hamba sekarang kaya raya melebihi raja! Bayangkan, sekeranjang uang emas hamba dapatkan dari pekerjaan hanya menjadi dukun,” kata Abunawas kepada setiap orang yang dijumpainya. Perihal Abunawas mendapat sekeranjang emas setiap harinya sampai juga ke telinga Abudahi. Hatinya makin panas.
“Kurang ajar! Maksudku memfitnah Abunawas agar dijauhi rakyat dan Baginda Raja, malah menjadi kaya,” geram Abudahi dalam hati. Lalu, timbullah pikiran liciknya. “Aku juga bisa melakukannya. Kekayaannya akan kuambil alih,” katanya pula. Kemudian, ia memerintahkan orang-orangnya untuk keluar masuk kampung guna menyampaikan kabar bahwa Abudahi menjadi dukun hebat.
Mendengar kabar itu, orang-orang yang menyimpan batu-batu jimat pemberian Abunawas langsung bersiap-siap. Ketika Abudahi muncul di halaman rumahnya dengan pakaian ala dukun, datanglah mereka secara berbondong-bondong. Abudahi tampak gembira dan menyambut mereka dengan senyum berkepanjangan. Namun betapa terkejutnya lelaki jahat itu ketika secara bersamaan orang-orang yang datang tersebut mengeluarkan batu-batu hitam dan melemparkannya ke arah Abudahi disertai dengan permintaan.
“Aku ingin kaya! Aku ingin kebal! Saya ingin gagah dan tampan!” teriak mereka. “Ya, ya, ya, ya, ya!” sahut Abudahi sambil mengelak dari lemparan batu. Ia langsung mengambil langkah seribu dan masuk rumah. Tapi orang-orang itu terus saja melempari rumah Abudahi sambil berteriak-teriak.
Setelah puas, orang-orang itu pulang ke rumah masing-masing dengan wajah berbinar. Tinggallah Abudahi yang tidak habis pikir, mengapa orang-orang itu melemparinya. Abunawas yang melihat kejadian itu hanya tersenyum kecut. Ia bukan senang melihat Menteri Abudahi dilempari batu, tapi ia ingin menyadarkan sifat buruk si hitam itu.
sumber pendidikan60detik.blogspot

Kisah Abu Nawas Mengalahkan Gajah

Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan Massa. Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.

“Ada kerumunan apa di sana?” Tanya Abu Nawas.

“Pertunjukan keliling yang melibatkan gajah ajaib.”

“Apa maksudmu dengan gajah ajaib?” kata Abu Nawas ingin tahu.

“Gajah yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan adalah gajah itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya.” kata kawan Abu Nawas menambahkan.

Abu Nawas makin tertarik. Ia tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu.

Kini, Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukan itu, sang pemilik gajah dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang sanggup membuat gajah itu mengangguk-angguk.

Tidak heran bila banyak diantara penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengan cara untuk membuat gajah itu mengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Gajah itu tetap menggeleng-gelengkan kepala.

Melihat kegigihan gajah itu. Abu Nawas semakin penasaran. Hingga ia maju untuk mencoba. Setelah berhadapan dengan binatang itu. Abu Nawas bertanya;
” Tahukah engkau siapa aku?” Gajah itu menggeleng.

“Apakah engkau tidak takut kepadaku?” tanya Abu Nawas lagi. Namun Gajah itu tetap menggeleng.

“Apakah engkau takut kepada tuanmu?” tanya Abu Nawas memancing. Gajah itu mulai ragu.

“Bila engkau tetap diam, maka akan aku laporkan kepada tuanmu.” lanjut Abu Nawas mulai mengancam. Akhirnya Gajah itu terpaksa mengangguk-angguk.

Atas keberhasilan Abu Nawas membuat Gajah itu mengangguk-angguk, maka ia mendapat hadiah berupa uang yang banyak. Bukan main marah pemilik Gajah itu hingga ia memukuli binatang yang malang itu. Pemilik gajah itu malu bukan kepalang.

Hari berikutnya, ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia melatih gajahnya mengangguk-angguk. Bahkan ia mengancam akan menghukum berat gajahnya bila sampai bisa dipancing penonton untuk menggeleng-gelengkan kepala, terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan.

Saat-saat yang dinantikan tiba. Kini para penonton yang ingin mencoba, harus sanggup membuat gajah itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka, seperti hari sebelumnya, banyak penonton tidak sanggup memaksa gajah itu menggeleng-gelengkan kepala. Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya, Abu Nawas maju. Ia mengulang-ngulang pertanyaan yang sama.

“Tahukah engkau siapa daku?” Gajah itu mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepadaku?” Gajah itu tetap mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?” pancing Abu Nawas. Gajah itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas.

Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsem super panas.

“Tahukah engkau apa guna balsem ini?” Gajah itu tetap mengangguk.

“Baiklah, bolehkah kugosok selangkangmu dengan balsem?” Gajah itu mengangguk.

Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu saja gajah itu merasa agak kepanasan dan mulai panik.

Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan ini juga berisi balsem.

“Maukah engkau bila balsem ini kuhabiskan untuk menggosok selangkangmu?” Abu Nawas mulai mengancam. Gajah itu mulai ketakutan. Dan rupanya ia lupa ancaman tuannya, sehingga ia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah.

Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkan sayembara meruntuhkan kegigihan gajah yang dianggap cerdik.

Ah, Jangankan seekor gajah, manusia paling pandai saja bisa dikecoh Abu Nawas!!

sumber deritadongenganak.com

Kisah Menakjubkan Istri Shalihah yang Dimadu

Dahulu di Baghdad ada seorang laki-laki penjual kain yang kaya. Tatkala dia sedang berada di tokonya, datanglah seorang gadis muda mencari-cari sesuatu yang hendak dibeli. Ketika sedang berbicara, tiba-tiba gadis itu menyingkap wajahnya di sela-sela perbincangan tersebut sehingga laki-laki terrebut terkesima dan berkata, “Demi Allah, aku terpana dengan apa yang kulihat.”

Gadis itupun berkata, “Kedatanganku bukan untuk membeli apapun. Selama beberapa hari ini aku keluar masuk pasar untuk mencari seorang pria yang menarik hatiku dan bersedia menikah denganku. Dan engkau telah membuatku tertarik. Aku memiliki harta. Apakah engkau mau menikah denganku?”

Laki-laki itu berkata, “Aku telah menikahi sepupuku, dialah istriku. Aku telah berjanji kepadanya untuk tidak membuatnya cemburu dan aku juga telah mempunyai seorang anak darinya.”

Wanita itu mengatakan, “Aku rela jika engkau hanya mendatangiku dua kali dalam seminggu.” Akhirnya laki-laki itupun setuju lalu bangkit bersamanya. Akad nikah pun dilakukan. Kemudian dia pergi menuju rumah gadis tersebut dan berhubungan dengannya.

Setelah itu, si pedagang kain pulang ke rumahnya lalu berkata kepada istrinya, “Ada teman yang memintaku tinggal semalam di rumahnya.” Dia pun pergi dan bermalam bersama istri barunya.

Setiap hari setelah zhuhur dia mengunjungi istri barunya. Hal ini berlangsung selama delapan bulan, hingga akhirnya istrinya yang pertama mulai merasa aneh dengan keadaannya. Dia berkata kepada pembantunya, “Jika suamiku keluar, perhatikanlah ke mana dia pergi.”

Si pembantu pun membuntuti suami majikannya pergi ke toko, namun ketika tiba waktu zhuhur dia pergi lagi. Si pembantu terus membuntuti tanpa diketahui hingga tibalah suami majikannya itu di rumah istri yang baru. Pembantu itu mendatangi tetangga-tetangga sekitar dan bertanya, “Rumah siapakah ini?” Mereka menjawab, “Rumah milik seorang wanita yang telah menikah dengan seorang penjual kain.”

Pembantu itu segera pulang menemui majikannya lalu menceritakan hal tersebut. Majikannya berpesan, “Hati-hati, jangan sampai ada seorang pun yang lain mengetahui hal ini.” Dan istri lama si pedagang kain juga tetap bersikap seperti biasa terhadap suaminya.

Si pedagang kain menjalani kehidupan bersama istrinya yang baru selama satu tahun. Lalu dia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia dengan meninggalkan warisan sebanyak delapan ribu dinar. Maka istri yang pertama membagi harta warisan yang berhak diterima oleh putranya, yaitu tujuh ribu dinar. Sementara sisanya yang berjumlah seribu dinar ia bagi menjadi dua. Satu bagian ia letakkan di dalam kantong, kemudian ia berkata kepada pembantunya, “Ambillah kantong ini dan pergilah ke rumah wanita itu. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah meninggal dengan mewariskan uang sebesar delapan rib dinar. Putranya telah mengambil tujuh ribu dinar yang menjadi haknya, dan sisanya seribu dinar aku bagi denganmu, masing-masing memperoleh setengah. Inilah bagian untukmu. Dan sampaikan salamku juga untuknya.”

Si pembantu pun pergi ke rumah istri kedua si pedagang kain, kemudian mengetuk pintu. Setelah masuk, disampaikannyalah berita tentang kematian si pedagang kain, dan pesan dari istri pertamanya. Wanita itupun menangis, lalu membuka kotak miliknya dan mengeluarkan secarik kertas seraya berkata kepada si pembantu, “Kembalilah kepada majikanmu dan sampaikan salamku untuknya. Beritahukan kepadanya bahwa suaminya telah menceraikanku dan telah menulis surat cerai untukku. Maka kembalikanlah harta ini kepadanya karena sesungguhnya aku tidak berhak mendapatkan harta warisannya sedikitpun.” (Shifatus Shofwah, 2/532)

Subhanallah…….

Dinukil dari: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, dalam artikel “Mutiara Berkilau para Wanita Shalihah” oleh Syaikh Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim hafizhahullah, hal. 68-69.

VIRAL! PENEMU 4G 

PENEMU 4G
.
Siapa yang HP nya sudah 4G ?
Tau ga siapa penemu 4G ?
Sekarang tuh 4G lagi BOOMING banget ngalahin harga cabe yang lagi booming. 😉
.
Yupppp Dialah Khoirul Anwar sang penemu 4G.
.
Sebelumnya Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.
.
Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.
.
Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.
.
Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.
.
FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.
.
Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.
.
Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.
.
Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.
.
Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.
.
Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.
.
Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.
.
Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.
.
Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.
.
************
Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.
.
Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.
.
Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.
.
Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.
.
Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.
.
Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.
.
Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.
.
Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.
.
“Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.
.
Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.
.
Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.
.
Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan.
.
“Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.
.
Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.
.
Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.
.
Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.
.
Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.
.
Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu.
.
************
Teruslah bermimpi dan berusaha mewujudkannya. Jangan dengarkan cemohan orang, Yakin dan Percaya bahwa mimpi-mimpi kita bisa terwujud. “MAN JADDA WAJADA”.
Semangat 💪 💪

Sumber @kisah semangat berbagisemangat.com

BISAKAH KITA MERUBAH TAKDIR?

Suatu ketika, Ada seorang Santri yang gagal terus dalam berusaha.

– Mau kuliah, tidak lulus tes.
– Mau kerja, tidak diterima.
– Mau nikah, ditolak calon mertua.
– Mau Buka usaha, malah ditipu.
dan berbagai masalah lain.

Hingga akhirnya, ia silaturahim lagi kepada kyainya.
untuk menanyakan apakah takdir nya seperti itu.
Atau sebenarnya karena diuji saja.

Setibanya di rumah kyai, dan duduk di ruang tamu.
obrolan pun dimulai.

Santri : “Pak kyai, kenapa ya, saya sudah berusaha, saya sudah berikhtiar, kenapa masih saja gagal? Apakah takdirku memang begini?”

Pak Kyai pun menjawab dengan bijaknya…

Kyai : “Santriku, apakah kamu sudah berdoa, minta sama Allah?”

Santri : “Sudah pak kyai, saya sudah berdoa dan masih saja gagal”

Kyai : “Sebenarnya, kalau sudah berusaha, kamu sudah semakin dekat dengan kesuksesan, jangan menyerah dan jangan berhenti berdoa.

Disaat seperti ini lah, iblis mendorong kamu untuk putus asa”

Santri pun menjawab : “Insya Allah pak Kyai, saya akan terus berusaha.

Mohon doanya mudah-mudahan hajat saya diijabah sama Allah”

Karena masih penasaran, Santri itupun bertanya lagi…

“Tapi pak Kyai, apakah sebenarnya takdir saya seperti ini? bisa nggak kita mengubahnya? Saya amat sangat ingin berhasil pak Kyai”

Lalu, Kyai yang bijak itu terdiam…
Lalu tiba-tiba dia berkata:

Kyai : “Begini deh, sekarang kamu ikut saya ke kebun mangga di belakang rumah saya”

Santri pun heran, kenapa malah diajak ke kebun mangga, apakah dia akan diajak makan mangga untuk menghibur dirinya.

Dia masih penasaran, tapi segan untuk bertanya.

Lalu Pak kyai itu menjelaskan : “coba kamu lihat buah mangga di kebun saya ini, ada yang beda nggak?”

Santri penjawab : “Kalau aneh di buahnya si nggak pak kyai, tapi yang beda dari pohon mangga lainnya ada”

Kyai : “Apa yang beda?”

Santri : “Yang beda, di setiap buah, ada sebuah kertas, yang dibungkus plastik, dan didalamnya ada dua tanggal”

Kyai : “Nah, sekarang coba kamu lihat lagi setiap kertas di setiap buah. kira kira jaraknya berapa lama?”

Santri : “Sebentar ya pak kyai, saya ambil kalkulator dulu, hehehe…”

Lalu santri tersebut menghitung, dan membandingkan dengan tanggal pada buah mangga lainnya.
Kemudian dia berkata:

“Ternyata semua sama Pak kyai, yaitu 120 hari. Di buah yang ini, tertulis 1 Februari sampai 31 Mei

Sedangkan di buah yang itu, tertulis 10 Februari, dan disebelahnya tertulis 10 Juni ”

Kyai : “Jadi, saya menulis di tulisan setiap mangganya, agar semua mangga tersebut matang disaat yang tepat.
tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua”

Pak kyai pun melanjutkan…

“Saya menulis tanggal pertama untuk tanggal tepat saat berbunga, dan saya memperkirakan 120 hari kemudian, buah ini saya panen”

Santri : “oooh begitu, jadi, mangga yang disebelah njenengan akan dipetik 3 hari lagi ya pak kyai???”
Tanya santri dengan penasarannya…

Lalu Pak Kyai pun melihat mangga tersebut, dan menciumnya…

kemudian Pak kyai pun berkata : “hm… kayaknya sekarang waktu yang pas buat dipetik. ”

Santri : “Loh, kan harusnya 3 hari lagi pak Kyai? Jadi nggak sesuai dengan tulisan itu dong?”

Pak Kyai menjawab : “Nggak apa-apa, toh setelah saya cium baunya, sudah matang kok, jadi ya saya petik sekarang aja, sekalian kita makan bareng abis ini di ruang tamu.

Nah, sekarang tolong ambilkan pisau di dapur ya, saya tunggu di ruang tamu”

Sesampainya di ruang tamu, sambil menikmati buah mangga yang manis, pak Kyai pun melanjutkan nasehatnya ke muridnya.

“Jadi, takdir itu seperti dua tanggal yang kamu lihat tadi,
Allah sudah menetapkan kapan kamu ketemu jodoh, berapa rezekimu, dan kapan ajal menjemputmu”

“Semua sudah Allah tetapkan di awal, jauh sebelum kamu diciptakan”

“Tapi, ketika kamu hidup, kamu diberikan hak untuk memilih, mau bermalas-malasan atau rajin.

Mau berdoa atau tidak, mau menyantuni fakir miskin atau mengabaikannya

Sehingga, dari pilihan yang kamu pilih, Allah Maha Melihat, Mana hambaNya yang terbaik”

Pak Kyai berhenti sejenak karena dia tidak makan sambil berbicara.
Lalu setelah habis dia melanjutkan…

“Terus, kalau Allah melihat ada kepantasan dari Hamba Nya, dia berhak untuk mengubah takdir”

Santri pun langsung bertanya : “Jadi, takdir bisa diubah ya Pak Kyai?”

“Bisa, bukan kita yang mengubah, tapi Allah lah yang mengubah takdirmu.

Allah itu, Laa roiba fiiih, atau tidak bisa diumpamakan dengan segala sesuatu,

Tapi biar kamu paham, kamu saya ajak tadi ke kebun mangga saya.

Bukan berarti saya dimiripkan dengan Allah, tapi seperti yang saya lakukan tadi,

Kalau saya melihat mangga sudah masak, walaupun belum waktunya, ya saya petik.

Jadi, saya petik mangga di kebun, kalau sudah waktunya. bukan menurut tanggal yang tertulis.

Kadang sudah waktunya dipetik, nggak saya petik karena belum matang

Kadang saya petik jauh sebelum waktunya.”

Santri pun mengangguk, tanda paham…

Pak Kyai pun melanjutkan…

“Jadi, bisa jadi, Allah melihat kamu belum pantas untuk kuliah tahun ini, siapa tau kalau kamu kuliah sekarang malah ketemu pacar dan malah berujung zina.

mungkin juga Allah melihat kamu nggak cocok kerja di perusahaan yang kamu lamar soalnya Allah siapin perusahaan yang lebih baik buat kamu.

Gitu juga kenapa kamu nggak jadi nikah sama itu, mungkin Allah siapkan jodoh yang lebih baik.

Dan kenapa kamu pernah buka usaha dan bangkrut, ditipu, Itu mungkin kode dari Allah untuk bisnis lain yang lebih baik.

Jadi, Allah itu ngasih ke kamu sampai kamu PANTAS menerimanya.

Bisa jadi kamu pengen sesuatu karena menurutmu itu baik, Padahal Allah Yang Maha Tahu kalau yang terbaik bukan itu.

Teruslah berusaha sampai kamu merasa PANTAS menerima yang kamu inginkan, dan terus berdoa, jangan sampai nyerah.
Kamu ingat kan, hadist yang dulu pernah saya sampaikan saat ceramah?”

Santri pun menjawab: “Hehehe.. maaf pak Kyai, udah lupa”

Lalu Pak kyai pun menyampaikan satu hadist :

Rasulullah SAW Bersabda : “Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan)Allah ta’aala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065).

sumber Afikcanggih jagojualan

©SUAMI ISTRI DI USIA SENJA©

Bismillaah….

Yang membaca jangan menangis ya?

Saya suka postingan ini, meski sudah berulang kali membacanya… 😊

Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja.
Pasangan ini dikaruniai dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mapan.

Sang suami merupakan seorang pensiunan, sedangkan istrinya seorang ibu rumah tangga.

Suami istri ini lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, mereka menolak ketika putra-putri mereka, menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.

Jadilah mereka, sepasang suami istri yang hampir renta itu, menghabiskan waktu mereka yang tersisa, di rumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa, dalam keluarga itu.

Suatu senja ba’da Isya di sebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang istri tidak menemukan sandal yang dikenakannya ke masjid tadi.

Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra :
“Kenapa Bu?”
Istrinya menoleh sambil menjawab: “Sandal Ibu tidak ketemu, Pak”.
“Ya sudah pakai ini saja”, kata suaminya, sambil menyodorkan sandal yang dipakainya.

Walau agak ragu, sang istri tetap memakai sandal itu, dengan berat hati.

Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.

Jarang sekali ia membantah, apa yang dikatakan oleh sang suami.

Mengerti kegundahan istrinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan istrinya.

“Bagaimanapun usahaku untuk ber terima kasih pada kaki istriku, yang telah menopang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya”.

Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untuk-ku, saat aku pulang kerja,

Kaki yang telah mengantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai kebutuhanku dan anak-anakku”.

Sang istri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus, dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah, tempat bahagia bersama….

Karena usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang istri mulai mangalami gangguan penglihatan.

Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut, mengambil gunting kuku dari tangan istrinya.

Jari-jari yang mulai keriput itu, dalam genggamannya mulai dirapikan, dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut, dan bergumam :

“Terima kasih ya Bu ”.

“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu”, tukas sang istri tersipu malu. 😊

“Terimakasih untuk semua pekerjaan luar biasa, yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub, betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai kapanpun”, kata suaminya tulus.

Dua titik bening menggantung di sudut mata sang istri ……

“Bapak kok bicara begitu?

Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama, adalah sesuatu yang luar biasa.

Ibu selalu bersyukur, atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.

Semuanya dapat kita hadapi bersama”.

Hari Jum’at yang cerah, setelah beberapa hari hujan.

Siang itu, sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Shalat Jum’at,

Setelah berpamitan pada sang istri, ia menoleh sekali lagi pada sang istri, menatap tepat pada matanya, sebelum akhirnya melangkah pergi.

Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang istri, hingga saat beberapa orang mengetuk pintu, membawa kabar yang tak pernah diduganya…….

Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.

Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya, ketika sedang menjalankan ibadah Shalat Jum’at, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.

Masih dalam posisi duduk sempurna, dengan telunjuk ke arah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.

“Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji’uun”

“Subhaanallaah….

sungguh akhir perjalanan hidup yang indah”, demikian gumam para jama’ah, setelah menyadari ternyata dia telah tiada, di akhir shalat Jum’at….

Sang istri terbayang, tatapan terakhir suaminya, saat mau berangkat ke masjid.

Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan, pengganti ucapan “Selamat Tinggal …”.

Ataukah suaminya khawatir, meninggalkannya sendiri, di dunia ini.

Ada gundah menggelayut di hati sang istri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya,

Tapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun, cukup membuatnya terguncang.

Namun ia tidak mengurangi sedikitpun, keikhlasan dihatinya, yang bisa menghambat perjalanan sang suami, menghadap Sang Khalik.

Dalam do’a, dia selalu memohon kekuatan, agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan, pada tempat yang layak.

Tak lama setelah kepergian suaminya, sang istri bermimpi bertemu dengan suaminya.

Dengan wajah yang cerah, sang suami menghampiri istrinya dan menyisir rambut sang istri, dengan lembut.

“Apa yang Bapak lakukan?”, tanya istrinya senang bercampur bingung.

“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang…

» Bapak tidak bisa tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir sekalipun.

» Bapak selalu butuh Ibu.
» Saat disuruh memilih pendamping, Bapak bingung, kemudian bilang “Pendampingnya tertinggal”, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu”.

Istrinya menangis, sebelum akhirnya berkata :

“Ibu ikhlas Bapak pergi, tapi Ibu juga tidak bisa bohong, kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian….

Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, dan untuk selamanya, tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan.”

Sang istri mengakhiri tangisannya, dan menggantinya dengan senyuman.

Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya….

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“Istri mu itu adalah ‘Bajumu’ dan Suamimu itu adalah ‘Bajumu’ pula”

QS Al-Baqarah : 187

Semoga bisa mempererat cinta kasih yang sejati pasutri (pasangan suami istri), … karena Allaah…

Aamiin.

😭😭😭

“_”__________🥀🥀🥀

Yaa Ilaahi Rabb…

Jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, wafatkan kami dalam keadaan HUSNUL KHOTIMAH…

Aamiin..

sumber Ikhwanto Abu Fahimma facebook

Kisah Abu Nawas yang ingin memindahkan masjid

Mereka heran dan berpikir bagaimana bisa Abu Nawas menerima permintaan Baginda Raja Harun al Rasyid untuk memindahkan masjid.
Suatu hari Raja Harun al Rasyid berbicara di depan rakyatnya, “Setelah menghadiri shalat Jumat besok kalian jangan pulang ke rumah, saya akan membuat pengumuman yang sangat penting.”

Orang-orang yang hadir pun saling kasak-kusuk mencari tahu pengumuman apa yang akan diberikan oleh Raja Harun al Rasyid. Kegaduhan terjadi hingga akhirnya Raja Harun al Rasyid melanjutkan pengumumannya.

“Tempat di sekitar masjid kita ini sudah sangat ribut. Jadi saya akan memindahkan masjid kita ke lokasi lain. Siapa pun yang dapat memindahkan masjid ini akan saya beri hadiah sekarung emas.”

Tak seorang pun yang mengajukan dirinya menyanggupi permintaan Baginda Raja hingga Raja mengulangi pengumumannya beberapa kali. Harun al Rasyid memandang para rakyat yang datang. Ia menyisir mereka dengan matanya. Hingga akhirnya pandangannya terhenti pada sosok yang ia cari-cari.

“Abu Nawas, bagaimana denganmu?” tanya Raja Harun al Rasyid. Abu Nawas terkejut, tapi akhirnya ia menjawab, “Saya akan memindahkan masjid, tapi saya punya satu syarat, Baginda.”

“Apa itu? katakanlah!” jawab Baginda Raja. “Sebelum saya memindahkan masjid ini Jumat depan, Baginda harus mengadakan pesta makan untuk kami,” terang Abu Nawas.

Semua orang yang hadir terdiam. Mereka heran dan berpikir bagaimana bisa Abu Nawas menerima permintaan Baginda Raja Harun al Rasyid untuk memindahkan masjid ini. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana bisa seorang pria dapat mengangkat dan membawa sebuah masjid besar dari satu tempat ke tempat lainnya.

Hari yang ditunggu pun datang. Semua orang berkumpul di depan masjid. Mereka baru selesai menunaikan shalat Jumat. Mereka lalu mengikuti pesta yang menjadi syarat Abu Nawas itu. Selesai pesta dilakukan, mereka yang hadir menanti apa yang akan dilakukan Abu Nawas.

“Abu Nawas, kini saatnya kau melakukan pekerjaanmu!” kata Raja Harun al Rasyid. “Kalian semua akan menyaksikan sesuatu yang luar biasa hari ini. Abu Nawas akan memindahkan masjid ke tempat yang baru,” kata Raja Harun al Rasyid.

“Baik Baginda, masjid ini akan saya pikul di pundak saya,” kata Abu Nawas.

Orang-orang yang hadir pun terdiam, mereka menanti dengan penasaran apa yang akan dilakukan Abu Nawas. Abu Nawas melangkah ke depan, menuju orang-orang yang ada di hadapannya. Di berhenti, membungkuk, mengangkat celana panjangnya kemudian menggulung lengan kemejanya, lalu dia berjalan ke masjid. Ratusan orang, termasuk baginda Raja Harun al Rasyid, mengikutinya.

Ketika Abu Nawas sampai di sisi masjid, dia berhenti dan bergumam tanpa suara. Abu Nawas lalu berjalan lagi mendatangi orang-orang yang mengelilinginya dan berkata, “Saudara-saudaraku, biasanya ketika saya membawa sesuatu yang berat, saya akan meminta seseorang untuk meletakkannya di atas pundakku. Masjid ini sangat berat, jadi tolong bantu saya untuk mengangkat dan meletakkannya di atas pundakku.”

Semua orang yang hadir tekejut. Mereka saling berpandangan tanpa mengeluarkan suara. “Tuan-tuanku, jumlah kalian sanggat banyak, seluruhnya lebih dari dua ratus orang. Kalian baru saja mengadakan pesta besar, kalian harusnya kuat. Tolong bantu saya mengangkat masjid ini ke pundakku.”

Seorang warga pun berkata, “Abu, apa kau gila? Kami tidak akan dapat mengangkatnya!” Orang-orang lainnya secara bergantian juga menyerukan hal yang sama.

“Baginda, bukan salahku tidak memindahkan masjid, orang-orang tidak mau membantuku dengan mengangkatkan masjid ini ke pundakku,” kata Abu Nawas kepada Harun al Rasyid.

Raja pun tersenyum masam ketika mendengar kata-kata Abu Nawas. Tapi ia memberikan acungan jempol atas cara yang digunakan Abu Nawas untuk berkelit.

sumber kisahmuslimcom

Abu Nawas Menangkap dan Memenjarakan Angin

Al kisah…
Abu Nawas kaget bukan main saat seorang utusan Baginda Raja datang ke rumahnya.
Ia diharuskan menghadap Baginda secepatnya.
Pikiran Abu Nawas bertanya-tanya, permainan apalagi yang akan dihadapi kali ini.Setelah tiba di istana, Baginda Raja menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.
GR langsung tuh Abu Nawas…“Akhir-akhir ini aku sering mendapt gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku terkena serangan angin,” kata Baginda memulai pembicaraan.
“Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil,” tanya Abu Nawas.
“Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya,” kata Baginda.Abu Nawas hanya diam.
Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Ia tidak memikirkan cara menangkap angin nanti tetapi ia masih bingung bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.

Karena angin tidak bisa dilihat.
Tida ada benda yang lebih aneh dari angin.
Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat.
Sedangkan angin tidak.

Parahnya lagi, Baginda hanya memberi waktu tidak lebih dari 3 hari.
Abu nawas pulang dengan membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja.
Namun Abu Nawas tidak begitu sedih.

Karena berpikir adalah sudah merupakan bagian dari hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan.
Ia yakin bahwa dengan berfikir akan terbentanglah jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihadapi.
Dan dengan berfikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang membutuhkan terutama orang-orang miskin.
Karena tak jarang Abu Nawas menggondol sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.

Akan tetapi sudah 2 hari ini si Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap angin apalagi memenjarakannya.
Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah ditetapkan oleh Baginda Raja.
Abu Nawas hampir putus asa.
Abunawas benar-benar tidak bisa tidur walaupun hanya sekejap.

Mungkin sudah takdir, kayaknya kali ini Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda.
Ia berjalan gontai menuju istana.

Nah…
Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia teringat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
“Bukankah jin itu tidak terlihat?” guman Abu Nawas.
Ia langsung kegirangan dan segera berlari pulang.

Sesampainya di rumah, ia secepat mungkin segala sesuatunya kemudian menuju istana.
Di pintu gerbang istana, si Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena Baginda sedang menunggu kehadirannya.

Dengan tidak sabar Baginda langsung bertanya kepada Abu Nawas.
“Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin hai Abu Nawas?” tanya Baginda.
“Sudah Paduka yang mulia.” jawab Abu Nawas dengan wajah berseri-seri.

Abu Nawas kemudian mengeluarkan botol yang sudah disumbat.
Kemudian botol tersebut diserahkan kepada Baginda.
Baginda Raja menimang-nimang botol itu sebelum bertanya lebih lanjut.

“Mana angin itu hai Abunawas?” tanya Baginda.
“Di dalam, Tuanku yang mulia,” jawab Abu Nawas.
“Aku tak melihat apa-apa,” kata Baginda.
“Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, tetapi bila paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu,” kata Abu Nawas menjelaskan.

Setelah tutup botol dibuka, Baginda mencium bau busuk.
Bau busuk yang sangat menyengat hidung.
“Bau apa ini, hai Abu Nawas?” tanya Baginda marah.
“Ampun Tuanku yang mulia, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol.
Karena hamba takut, angin yang hamba buang itu keluar.
Maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol,” jelas Abu Nawas.

Akan tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal.
Untuk kesekian kalinya Abu Nawas selamat.

sumber kisahmuslim.com