Kisah Tsa”labah Binasa Akibat Harta

Dan diantara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah,”Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh”. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka, Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib?” [QS. At-Taubah (9): 75-78].

TSA’LABAH dengan nama lengkap Tsa’labah Ibnu Hathib Al-Ansyari adalah seorang lelaki Ansar, sosok manusia engkar yang hidup di zaman Rasulullah, yang tinggal di Kota Madinah, semula hidup ‘biasa-biasa’ saja, lalu meminta kepada Rasulullah untuk didoakan kepada Allah agar memiliki harta kekayaan melimpah, dan setelah Rasul mendoakan, jadilah ia sosok yang kaya raya dengan usaha peternakan (kambing) yang tiada tandingannya kala itu.

Lalu pemuda yang semula taat beribadah itu, setelah disibukkan dengan harta bendanya, seketika berbalik menjadi orang yang lalai beribadah dan engkar/tidak mau membayar zakat atas amanah harta yang Allah titipkan dari hasil usahanya itu.

Ulama Tafsir diantaranya Ibnu Abbas dan Al-Hasan Al-Basri, menyebut bahwa ayat yang mulia ini [QS. At-Taubah (9): 75 – 78] diturunkan berkenaan dengan sikap Tsa’labah ibnu Hatib Al-Ansyari.

Menurut para mufassirin Asbabun Nuzul ayat ini yang dijelaskan dalam Al Hidayah [Al-Qur’an Tafsir per Kata, Hal.200], bahwa Abu Umamah mengatakan, suatu ketika Tsa’labah bin Hathib berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku harta berlimpah. ”Rasulullah menjawab,”Celaka kamu Tsa’labah, sesungguhnya harta yang sedikit tetapi tetapi disyukuri lebih baik daripada harta yang banyak tetapi tidak kamu syukuri”.

Tsa’labah berkata,”Demi Allah, jika Allah memberiku harta berlimpah, aku pasti akan memenuhi hak atas harta itu”. Kemudian atas do’a beliau, kambing milik Tsa’labah berkembang dengan biak sangat pesat, hingga memenuhi dan membuat sempit kota Madinah. Akhirnya ia pindah dan menungsikan peternakan kambingnya jauh dari Madinah.

Akibat sibuk mengurus peternakannya, ia tidak lagi sholat berjamaah di masjid bersama Rasul dan para sahabat yang lain. Tak lama kemudian, turun ayat yang mewajibkan seorang muslim yang kaya untuk menunaikan zakatnya [QS. 9:103]. Kemudian Rasulullah mengutus dua orang sahabat kepada Tsa’labah agar membayar zakat. Atas hal itu turunlah keempat ayat ini yang secara tegas mengancam muslim yang ingkar membayar zakat.

Ibnu Jarir, ibnu Mardawiyah, dan Baihaqi mengeluarkan riwayat dari Ibnu Abbas tentang firman Allah ini juga menjelaskan, “bahwa seorang lelaki Ansar bernama Tsa’labah datang ke suatu majelis. Dia meminta kesaksian kepada mereka, seraya berkata,”Sekiranya Allah memberikan kepada ku sebagian dari karunia-Nya, niscaya aku memberikan kepada setiap orang yang berhak, bersedekah, dan menjadikan sebagiannya untuk kaum kerabat.”

Kemudia Allah mengujinya, maka dia memberikan sebgaian dari karunia-Nya kepadanya. Namun kemudian dia mengkhianati janjinya. Allah mengisahkan keadaannya dalam Al-Qur’an (ayat ini) [dikutib dari Kitab Tafsir Al-Maraghi, Asbabun Nuzul QS. At-Taubah: 75 – 78]

Kisah Tsa’labah ini juga diterangkan [dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir]; ketika peternakan Tsa’labah sudah berkembang pesat, ia pindah kesuatu lembah di pinggiran kota Madinah, sehingga ia hanya dapat menunaikan sholat berjama’ah pada waktu zuhur dan asyar, sedang sholat-sholat yang lain tidak. Kemuadian ternak kambingnya berkembang hingga bertambah banyak, lalu ia menjauh lagi dari Madinah, sehingga tidak sempat lagi shalat berjam’ah, kecuali hanya sholat jum’at.

Akhirnya karena ternaknya makin berkembang pesat, shalat Jum’at pun ia tinggalkan. Ketika sahabat menceritakan kepada Rasulullah semua yang dialami Tsa’labah, maka Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah Tsa’labah, celakalah Tsa’labah”. Dan Allah SWT menurunkan firman-Nya,”Ambillah zakat dari sebagian harta mereka”. [At-Taubah (9): 103].

Kesudahan hidup Tsa’labah setelah dicap oleh Allah dalam ayat tersebut, sebagaimana dinukilkan dalam Kitab Tafsir Jalalain, “Dan ketika ia (Tsa’labah) datang menghadap Rasulullah SAW sambil membawa zakatnya, akan tetapi Rasulullah berkata kepadanya,”Sesungguhnya Allah telah melarang aku menerima zakatmu.”

Setelah itu Rasulullah SAW lalu menaburkan tanah diatas kepalanya. Setelah Rasulullah wafat, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra. ia datang membawa zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, akan tetapi Khalifah tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a, iapun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Umar r.a. juga tidak mau menerimanya.

Dan ketika pemerintahan dijabat oleh Khalifah Ustman, Tsa’labah bin Hathib pun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Ustman pun tidak mau menerimanya. Dan nasib tragis menimpa Tsa’labah bin Hathib, hingga ia meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Usman r.a, hartanya tidak pernah dizakatkan.

Allah SWT telah mengancam orang-orang yang bakhil dari berzakat dengan ancaman adzab yang pedih sebagaimana firman-Nya “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu,” (Q.S. At-Taubah:34-35).

Maka berhati-hatilah! Semoga Allah merahmati kita dan terjauh dari sikap bakhill terhadap apa yang Allah wajibkan, dan bersegeralah menunaikan zakat harta-harta yang dimiliki jika telah sampai nisab dan haul-nya (telah sampai 1 tahun), sesuai dengan ketentuan syari’ah yang telah ditatapkan Allah dan Rasul-Nya (baik berupa emas, perak, harta perniagaan, ternak, hasil usaha pertanian/perkebunan, dan lainnya yang telah ditetapkan). []

By Saad Saefullah islampos.com

Akhir Cerita 12 Anak Thailand yang Terjebak dalam Gua

Tim sepak bola U-16 terperangkap di dalam gua Tham LuangTim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)

Meski telah ditemukan sejak Senin (2/7), 12 anak dan seorang pelatih sepak bolanya masih belum bisa dikeluarkan dari Gua Tham Luang, Thailand. Pasalnya saat ini gua tersebut masih dalam kondisi terendam banjir dan ketiga belas orang tersebut tidak bisa berenang maupun menyelam.
12 anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu telah terjebak di dalam gua yang berlokasi di provinsi Chiang Rai itu selama 12 hari, tepatnya sejak Sabtu (23/6) sore. Tim sepak bola itu memasuki gua tersebut usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak di dalam gua karena air hujan tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Lalu bagaimana jika banjir yang merendam gua tersebut tak kunjung surut? Apa cara yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan nyawa 12 bocah dan seorang pelatihnya itu?

Menurut Richard Black, penyelam gua sekaligus instruktur di Florida Dive Connection, AS, anak-anak tersebut membutuhkan pelatihan dasar teknik selam scuba (scuba diving) dengan cepat. Scuba diving sendiri merupakan kegiatan menyelam di bawah permukaan air menggunakan alat bantu pernapasan dengan tabung udara.
Jadi, menurut Black yang kini juga menjabat sebagai anggota dewan di ADM Exploration Foundation di Florida dan anggota tim penyelam Karst Underwater Research, kunci untuk menyelamatkan anak-anak Thailand itu adalah dengan mengajarkan mereka cara untuk menyelam.

Tidak mudah menyelam di dalam gua
Sialnya, untuk bisa menyelam di dalam gua bukanlah suatu hal yang mudah. Dilansir Live Science, cave diving adalah salah satu bentuk scuba diving yang lebih berbahaya dan lebih rumit. Cave Divers Association of Australia mencatat, ada 368 korban jiwa dilaporkan antara 1969 dan 2007 akibat melakukan kegiatan cave diving.
Dengan scuba diving biasa, “jika ada yang salah, Anda bisa langsung ke permukaan,” kata Black kepada Live Science. “Dalam cave diving, tidak seperti itu. Kamu berada di dalam terowongan yang dipenuhi air. (Pilihannya), Kamu harus melanjutkan (menyelam) atau kembali ke tempat kamu memulai.”
Banyak penyelam gua meninggal ketika mereka kehabisan oksigen atau tersesat atau terperangkap dalam sistem gua yang sempit.

Gua yang gelap
Selain karena berupa lorong sempit yang dipenuhi air, gua juga seperti labirin gelap sehingga mencari jalan keluar dari gua dengan menyelam bisa menjadi perkara yang rumit.
“Ketika kamu berada di dalam gua, kamu mengalami kegelapan seperti yang belum pernah kamu alami sebelumnya. Ini benar-benar kegelapan, itu artinya tidak adanya cahaya,” kata Black.
Selain itu, Gua Tham Luang baru-baru ini banjir sehingga airnya sangat keruh dan dipenuhi dengan lumpur, tambah Black. Itu berarti, bahkan dengan bantuan cahaya yang kuat, “pada dasarnya penglihatan seseorang (di dalam air) kini berkurang menjadi nol.”
Biasanya untuk mengatasi permasalahan ini, penyelam gua menggunakan tali panduan, biasanya hanya berupa tali tipis yang dipasang dari pintu masuk gua, yang kemudian mereka pegang agar bisa menjadi penunjuk arah saat kembali dari dalam gua.
Dalam situasi ini, tali yang tebal dan berat mungkin diperlukan agar 12 anak laki-laki yang terjebak di dalam gua dan baru akan merasakan pengalaman pertama kali menyelam, bisa memiliki sesuatu yang sangat jelas dan kuat untuk mereka genggam di dalam air yang deras, kata Black.

Tim sepak bola U-16 yang terperangkap di dalam gua Tham Luang menerima perawatan dari seorang dokter di Chiang Rai, Thailand. (Foto: Navy Seal / Handout Thailand melalui REUTERS)
Perlu pakaian khusus
Selain alat bantu pernapasan dan tabung oksigen, anak-anak ini tampaknya juga perlu wet suit, pakaian khusus untuk menyelam. Sebab, suhu di bawah air akan menjadi masalah juga bagi orang-orang yang hendak menyelam
Meski Thailand yang berada di wilayah tropis memang memiliki suhu yang lebih hangat dari beberapa tempat lainnya, anak-anak tersebut nantinya tetap akan berada di bawah air.
“Anda kehilangan panas di bawah air, 25 kali lebih cepat daripada di udara. Jadi, anak-anak harus mengenakan wet suit agar tubuh mereka tetap hangat selama menuju jalan keluar,” kata Black.

Keuntungan menjadi anak-anak
Berdasarkan laporan berita, Black menuturkan bahwa tali jangkar sudah ditempatkan di mulut gua dan peralatan selam telah mulai diangkut ke dalam gua.
Black menganjurkan para penyelam berpengalaman untuk memberikan 12 anak laki-laki itu sebuah kursus kilat cepat cara menyelam. Kursus bisa dilakukan sesingkat 15 sampai 20 menit atau selama satu jam, tergantung pada seberapa nyaman anak-anak itu. Dan berdasarkan laporan Reuters, anak-anak itu memang akan mendapatkan kursus singkat penyelaman dalam gua.
Kuncinya, menurut Black, adalah mengajari mereka untuk tidak panik. “Mereka tidak membutuhkan semua keterampilan, mereka hanya perlu bernapas nyaman di bawah air,” katanya.

Menurut Black, adalah sebuah keuntungan bahwa yang terjebak di dalam gua itu anak-anak laki-laki yang mungkin tidak merasakan ketakutan yang sama seperti orang tua.
“Mereka adalah anak-anak berusia 13 tahun, mereka tidak memahami kematian mereka sendiri, mereka pikir mereka tak terkalahkan,” kata Black. “Itu akan menguntungkan mereka.”

sumber kumparanSAINS
Kamis 05 Juli 2018 – 20:02

Romantisme Kisah Cinta Legendaris Laila dan Majnun

Ilustrasi
Muslimahdaily – Dahulu kala, hiduplah seorang pemuda yang bernama Qais. Ia anak tunggal dari seorang kepala suku yang terkemuka. Qais tampan, gagah dan dicintai semua orang. Ia juga memiliki segudang keterampilan, tetapi hanya syair yang paling ia gemari.

Setelah cukup umur, Qais bersekolah di sekolah yang paling prestisius di zamannya. Hanya mereka dari keluarga terpandang yang dapat bersekolah di sana, termasuk sang putri dari kepala suku tetangga, Laila. Cantik jelita, ramah mempesona. Banyak yang melamarnya, tapi hanya pulang dengan tangan hampa.

Takdir telah ditetapkan, Qais dan Laila ternyata teman sekelas. Mereka langsung saling mencinta sejak pandangan pertama. Percikan cinta berubah menjadi gelora membara, membuat sekolah yang mulanya tempat belajar menjadi jumpa sang kekasih.

Masyarakat menggunjing, perihal Qais dan Laila yang semakin menjadi-jadi. Dunia seakan milik berdua, menafikan segala eksistensi lain di sekitarnya. Orangtua Laila yang malu, menarik anaknya dari sekolah, menyisakan Qais yang hampa tanpa belahan jiwa. Ia menggila, meninggalkan rumah dan sekolah demi mencari sang pelita. Syair-syair mengiringi rasa rindu dan gundah, membuat orang-orang di sekitar berpikir, “Qais sudah gila (Majnun)!”

Majnun kini tinggal di puncak bukit, dekat desa Laila. Semuanya demi memuaskan rindu terhadap sang kekasih. Berbulan-bulan lamanya, ia kedatangan tamu juga, teman dekatnya. Mereka yang peduli terhadapnya, membantu Majnun untuk mempertemukannya dengan Laila.

Demi cinta, segalanya dilakukan, termasuk menyamar menjadi pelayan wanita dan menyusup ke dalam kediaman sang gadis tercinta. Laila yang merasakan getaran batin Majnun yang menggebu-gebu, segera menghias diri dengan pakaian indah nan menawan. Benar saja, ia akhirnya bertemu lagi dengan sang pangeran hati. Tak perlu kata, degup jantung sudah dapat berbicara. Kedua mata mereka saling merekam keindahan dari pelabuhan cintanya. Sayang, sang penjaga tiba-tiba datang dan memaksa mereka pulang. Orang tuanya pun memperketat penjagaan, menjauhkan sang malam dari rembulannya.

Majnun semakin gila. Orangtuanya berniat untuk menghiburnya dengan wanita-wanita cantik lainnya, tapi justru sia-sia. Majnun pun kabur dari rumah dan tinggal di alam bebas, demi hidupnya, demi cintanya. Di sebrang sana, Laila semakin gundah gulana. Terpenjara dalam kamar, hanya dapat bersahabat dengan sepi dan mencintai yang tak tampak.

Suatu ketika, seorang bangsawan yang terkemuka melihatnya di taman. Serta merta hatinya segera tunduk pada kecantikannya. Orangtua Laila yang mengetahuinya, segera melangsungkan pernikahan keduanya. Tentu, Laila menolak dengan sejuta alasan, tapi keputusan telah ditetapkan dan mereka berdua pun menikah.

Hati Majnun hancur, namun ia berhasil menguatkannya dengan ketulusan cinta. Ia menulis surat untuk Laila. Mendoakan pernikahannya dan hanya meminta satu tanda bukti cinta Laila kepadanya; mengingat nama Qais dalam hatinya. Laila semakin luluh, ia membalasnya dengan sepucuk surat cinta yang terdapat anting di dalamnya, sebagai tanda pengabdian jiwa kepada sang kasih.

Bertahun-tahun berlalu, Majnun masih tinggal bersama alam yang kian menemaninya siang dan malam. Sementara Laila yang sudah bersuami, tak juga menampakkan kegoyahan pada pendirianny. Hatinya tetap untuk Qais, padahal sang suami sudah berusaha membahagiakannya selama ini. Akhirnya, suami Laila jatuh sakit dan meninggal. Laila menangis sejadi-jadinya, tapi bukan suaminya yang ia tangisi, melainkan Majnun yang selama ini tidak juga ada kabarnya. Ia takut, kekasihnya sudah berpulang ke akhirat mendahuluinya.

Hal ini membuat Laila hidup secara tidak teratur; enggan makan, tidak pernah tidur dan banyak melamun. Kondisi kejiwaan Laila yang semakin parah membuatnya jatuh sakit. Hingga pada suatu malam di musim dingin, di tengah sakitnya, Laila meninggal dunia sambil terus bergumam, “Majnun,” berkali-kali.

Berita duka ini akhirnya sampai ke telinga Majnun. Betapa sedih hatinya, mengetahui kekasihnya sudah pergi mendahuluinya, sampai-sampai ia pingsan tak sadarkan diri selama berhari-hari. Setelah ia siuman, ia langsung bergegas menuju kuburan Laila. Di tengah perjalanan, karena lelah yang tak terkira, ia terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Dengan susah payah, ia menyeret tubuhnya tanpa henti sampai di tanah tempat Laila kekasihnya dikuburkan.

Demi menawar rindu, ia menempelkan kepalanya di atas tanah kubur Laila dan kembali tak sadarkan diri. Di saat itulah, malaikat maut menjemput ruhnya dan membawanya ke langit. Jasad Majnun ditemukan kurang dari setahun setelah kematian Laila. Kerabat yang menemukan jasad Majnun dapat segera mengenali karena keadaan tubuhnya yang sama sekali tidak membusuk, seolah baru meninggal kemarin. Ia pun dikuburkan di samping Laila. Kini, dua insan yang sejak bertahun-tahun lamanya terpisah oleh takdir, akhirnya berjumpa lagi di kehidupan yang selanjutnya.

By Mazza Fakkar Alam  July 19, 2016  muslimahdaily.com

Kisah Ummul Mundzir dan Khasiat Kurma Muda

Ilustrasi
Muslimahdaily – Ummul Mundzir merupakan satu dari sekian wanita yang masuk Islam di era awal dakwah. Wanita Anshar tersebut memeluk Islam begitu dakwah dikenalkan di kota nabi. Ia juga masih berkerabat dengan Rasulullah dari jalur ibu.

Nama lengkapnya yakni Ummul Mundzir binti Qais bin ‘Amr Al Anshariyyah An Najjariyyah. Ia satu keluarga dengan ibunda Rasulullah, Aminah, yakni dari Bani An Najjar. Karena itulah, ia memiliki hubungan dekat dengan Rasullah dan keluarga beliau.

Suatu hari, Rasulullah berkunjung ke rumah Ummul Mundzir Rhadiyyallahu ‘anha. Saat itu, beliau ditemani Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit. Di dalam rumah sang shahabiyyah tergantung setandan kurma muda yang segar. Rasulullah pun diberi sajian dengannya.

Nabiyullah begitu menikmati kurma muda milik Ummul Mundzir. Sampai-sampai Ali berkeinginan untuk memakannya pula. Ia pun menjulurkan tangannya untuk mengambil kurma muda tersebut.

Namun Rasulullah mencegah Ali seraya bersabda, “Tunggu Ali, engkau baru saja sembuh dari sakit.” Dengan perhatian, Rasulullah mencegah Ali untuk memakan kurma muda itu. Faedahnya, kurma muda tak baik disantap oleh seorang yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ali pun menuruti. Ia duduk dan menahan diri dari keinginan memakan kurma muda. Adapun Rasulullah masih memakan sajian kurma muda tersebut. Sementara itu, Ummul Mundzir tengah sibuk di dapur.

Begitu melihat Rasulullah dan Ali ada di rumahnya, Ummul Mundzir segera mengolah bahan makanan. Ia ingin menyajikan hidangan yang ia buat dengan tanggannya sendiri. Lalu dicampurnya gandum dengan sayuran lezat bernama silq. Hasilnya, hidangan lezat nan sehat pun tersedia di hadapan Rasulullah dan Ali.

(Nabi begitu senang melihat hidangan sajian Ummul Mundzir. Kepada Ali, beliau berkata, “Nah, ini cocok untukmu, Ali.” Dengan nikmat, Ali pun menyantap hidangan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir pun senang dapat menyajikan hidangan yang cocok dan disukai Rasulullah serta Ali bin Abi Thalib. Apalagi Rasulullah menyebutnya sangat cocok untuk Ali yang baru saja sehat setelah sakit. Sang shahabiyyah begitu gembira.

Shalat Bersama Rasulullah

Ummul Mundzir sangat menyukai shalat bersama Rasulllah. Ia sangat giat untuk turut serta dalam jamaah beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam. Saking giatnya, Ummul Mundzir juga mengalami momen berpindahnya arah kiblat. Ia menjadi saksi saat Rasulullah diberi wahyu untuk memindahkan arah shalat dari Baitul Maqdis di Yerusalem, ke arah Ka’bah di Makkah.

Itu terjadi di tahun kedua hijriyyah. Ummul Mundzir pun menjadi satu dari sekian shahabat yang menyaksikan dan mengabarkan peristiwa besar tersebut.

Keluarga Ummul Mundzir

Ummul Mundzir memiliki keluarga yang juga menjadi shahabat Rasullah. Mereka selalu melindungi dan mendukung dakwah nabi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih keutamaan pahala jihad karena turut serta di perang Badr.

Ialah Salith bin Qais, saudara kandung Ummul Mundzir, yang bergabung dengan pasukan muslimin menuju Badr. Dengan gagah berani, ia membela agama Allah dan berharap syahid di medan jihad. Bersama Ummul Mundzir, Salith menjadi salah dua shahabat Rasulullah yang dekat dengan beliau.

Adapun keluarga inti Ummul Mundzir yakni seorang suami bernama Qais bin Sha’sha’ah dan anaknya Al Mundzir. Karena itulah ia dikenal dengan nama kunyah Ummul Mundzir.

Suami Ummul Mundzir juga berasal dari Bani An Najjar. Artinya, ia juga berkerabat dengan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Keluarga Ummul Mundzir adalah penduduk asli Madinah dan menjadi shahabat Anshar yang terkenal sangat dermawan. Teringat firman Allah tentang kaum Anshar,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9).

Ummul Mundzir binti Qais, semoga Allah meridhainya dan memberikan kenikmatan surga bersama para shahabat Anshar dan Muhajirin yang lebih dahulu beriman.

By Afriza Hanifa  July 17, 2018 muslimahdaily.com

Ummu Mahjan, Nenek Tua yang Dirindukan Rasulullah

Ilustrasi

Muslimahdaily – Di suatu pagi, Rasulullah nampak sibuk mencari seseorang. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam kehilangan sesosok nenek yang biasanya nampak di pelataran masjid. Ialah nenek tua bernama Ummu Mahjan yang dicari nabiyullah.

“Ia telah meninggal dan dikubur, wahai Rasulullah,” ujar shahabat.

“Mengapa kalian tak memberitahuku tentangnya?” sabda Rasulullah.

Para shahabat saling berpandangan bingung. Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan merupakan hal sepele.”

Para shahabat menganggap kematian seorang tua adalah perkara yang biasa dan lumrah terjadi sehingga Rasulullah tak perlu diberi kabar. Belum lagi, kematian Ummu Mahjan terjadi di malam hari saat Rasulullah tengah beristirahat.

“Kami telah mendatangi Anda dan kami dapatkan Anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah” ujar seorang hahabat.

“Mari kita pergi! Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya,” ajak Rasulullah bergegas menuju lokasi pemakaman Ummu Mahjan.

Sesampainya di sana, yakni di pemakanan Baqi Al Ghardad, Beliau berdiri hendak menunaikan shalat jenazah. Para shahabat lalu segera memosisikan diri sebagai jamaah. Rasulullah bersama sederet shaf shahabat pun menunaikan shalat dengan takbir empat kali tanpa ruku dan sujud.

Seusai shalat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

Masya Allah, kubur Ummu Mahjan diberi penerangan oleh Allah. Rasulullah memberikan hadiah spesial kepada si nenek tua. Apakah keutamaan Ummu Mahjan hingga Rasulullah merasa sangat kehilangan?

Beliau merupakan wanita Madinah yang berkulit hitam lagi miskin. Tak ada yang tahu siapa nama asli si nenek tua. Orag-orang memanggilnya dengan kunyah Ummu Mahjan.

Meski berislam di usia senja, Ummu Mahjan tetap mendapat perhatian Rasulullah. Hingga sang shahabiyyah merasa ingin turut serta melakukan sesuatu untuk agama. Tapi apa daya, tubuhnya sangat lemah seiring usianya yang telah renta. Ia tak bisa turut berkiprah untuk umat. Ia pula tak bisa turut belajar apalagi berjihad.

Namun kelemahan fisik tak serta merta menyurutkan semangat Ummu Mahjan untuk berbuat kebaikan dan mengambil kiprah di tengah umat. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Di lihatnya suatu hari, masjid kotor tak ada yang membersihkan. Ummu Mahjan pun bergegas membersihkannya. Ia membuang setiap kotoran hingga Masjid Rasulullah menjadi sangat bersih.

Sejak itu, Ummu Mahjan pun melakukannya setiap hari. Ia giat membersihkan masjid hingga Rasululah dan para shahabat merasakan kenyamanan karenanya. Ummu Mahjan telah selesai dari kegiatan rutinnya sebelum rumah Allah menjadi tempat beribadah, tempat belajar, tempat bermusyawarah, hingga tempat menjalankan pemerintahan Islam.

Pantaslah Rasulullah merasa kehilangan ketika Ummu Mahjan tak muncul seperti hari-hari biasa. Sifat sang nabi pula sangat pengasih kepada rakyat miskin dan orang tua. Ummu Mahjan hanyalah salah satu nenek yang diperhatikan dan dihormati Rasulullah.

Karena Rasulullah sangat menghormati yang lebih tua, para shahabat pun meniru sikap beliau. Ketika Ummu Mahjan meninggal, para shahabat mengurus jenazahnya dan menguburkannya dengan kasih sayang. Namun mereka enggan mengganggu Rasulullah hanya karena kematian seorang nenek tua.

Padahal di mata Rasulullah, setiap umat beliau, setiap rakyat beliau, harus dilayani dengan baik. Karena itulah Rasulullah pergi ke kubur Ummu Mahjan kemudian memberikan hadiah yang akan sangat disukai sang nenek. Yakni seberkas cahaya terang benderang di alam kubur. Semoga Allah meridhai setiap amal baik Ummu Mahjan radhiyallahu ‘anha.

Berperan Meski Sedikit

Dari kehidupan Ummu Mahjan, muslimah mendapati hikmah yang sangat berharga. Yakni tentang kiprah dan mengambil peran untuk umat. Tengoklah sikap Ummul Mahjan. Seorang nenek tua renta saja masih berkeinginan untuk mengambil peran di tengah umat.

Dengan tenaga terbatas, ia pun memilih caranya dengan membersihkan masjid. Jika nenek Mahjan saja sanggup, bagaimana dengan muslimah yang masih belia?

Di mana pun muslimah berada, carilah peran yang bisa dikerjakan untuk kebaikan orang lain meski itu nampak amat sangat ringan di mata manusia.

By Afriza Hanifa  July 2, 2018 muslimahdaily.com

Mengapa 12 Anak di Thailand Bisa Bertahan Hidup Begitu Lama dalam Gua?

kumparanSAINS
Rabu 04 Juli 2018 – 18:10
12 anak ditemukan di gua Thailand

Kabar berhasil ditemukannya 12 anak dan seorang pelatih bola di dalam Gua Tham Luang di Thailand merupakan berita yang menggembirakan sekaligus mengejutkan. Pasalnya, mereka semua berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah dinyatakan hilang selama 9 hari.
Dalam rekaman sebuah video yang menunjukkan detik-detik penemuan 12 anak dan pelatih bola itu, terlihat mereka yang memakai baju berwarna merah dan biru sedang duduk di tanah di samping hamparan air dalam gua.
Sebelumnya anak-anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu hilang pada Sabtu (23/6) sore setelah memasuki gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak air hujan yang tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Mereka pertama kali ditemukan dalam kondisi hidup oleh dua penyelam Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, pada Senin (2/7). Keesokan harinya, Selasa (3/7), satuan khusus Angkatan Laut Thailand, Navy Seals, mengunggah video penemuan 12 anak dan seorang pelatihnya itu.
Penemuan 12 anak dalam kondisi masih hidup setelah terjebak 9 hari di dalam gua itu menimbulkan pertanyaan tersendiri: mengapa dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama itu? Sebenarnya seberapa lama manusia bisa bertahan hidup di dalam gua?
Andrea Rinaldi, ahli biokimia di Universitas Cagliari di Italia yang pernah meneliti bagaimana manusia beradaptasi dan hidup di gua, mengatakan seberapa lama seseorang bisa bertahan hidup di dalam suatu gua adalah tergantung pada jenis dan lokasi gua tersebut.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Udara
Hal terpenting yang dibutuhkan manusia untuk bisa bertahan hidup adalah udara. Untungnya, biasanya manusia tetap bisa mendapatkan udara meski hidup di dalam gua bawah tanah.
“Oksigen biasanya berlimpah di gua, bahkan ratusan meter di bawah tanah,” kata Rinaldi, dikutip dari Live Science. Ia mengatakan, udara dapat mengalir melalui retakan di bebatuan, dan melalui batu kapur yang keropos.
Rinaldi menambahkan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, ada gua-gua yang memiliki bagian area yang menjadi tempat karbon dioksida menumpuk sehingga membuat oksigen tidak bisa mengalir. Namun menurutnya, area seperti itu sangat berbeda dengan area gua tempat ditemukannya tim sepak bola di Thailand itu.
Jika kondisi gua sangat kering, misalnya, bisa ada banyak debu di udara. Dan di beberapa gua tropis, pengendapan kotoran kelelawar dapat melepaskan uap amonia ke udara, dan mungkin juga menyebarkan spora jamur, yang jika terhirup dapat menyebabkan masalah pernapasan.
Namun “terlepas dari kasus-kasus khusus ini, bagaimanapun, udara di dalam gua benar-benar bisa digunakan untuk bernapas,” kata Rinaldi.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Air dan Makanan
Setelah udara, hal terpenting lainnya yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup adalah air dan makanan.
Manusia membutuhkan makanan dan air untuk bertahan hidup di mana pun. Dilaporkan, tim sepak bola itu masih punya sedikit makanan sebelum tim penyelamat tiba.
Namun jikapun mereka tidak memiliki makanan, mereka tetap masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Rinaldi mengatakan, “Seorang manusia dalam kesehatan yang baik bisa bertahan hidup berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tanpa makanan.”
Adapun terkait kebutuhan air, kebetulan di gua tempat terjebaknya anak-anak itu memang ada banyak air yang menggenang sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Namun begitu, menurut Rinaldi, jika orang-orang yang terdampar di gua tidak memiliki alat untuk menyaring air, akan “lebih bersih dan lebih aman” bagi mereka untuk menyesap air yang menetes dari langit-langit dan dinding gua.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Suhu
Selain kurangnya pasokan udara, air, dan makanan, hal lain yang bisa mengancam keselamatan nyawa manusia adalah suhu udara yang ekstrem. ketika manusia menghadapi suhu yang terlalu dingin bagi tubuhnya, maka ia bisa mengalami hipotermia dan akhirnya meninggal.
Hipotermia ini adalah kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Rinaldi mengatakan, “Hipotermia adalah musuh berbahaya lainnya.”
Akan tetapi menurutnya, karena dalam kasus di Thailand ini anak-anak tersebut terjebak di dalam gua tropis, maka kemungkinan besar suhu di dalam gua tersebut masih di atas 20 derajat Celcius. Tidak terlalu dingin bagi tubuh manusia.
Jadi, faktor-faktor itulah yang menjadi alasan mengapa 12 bocah dan seorang pelatih bolanya itu bisa bertahan hidup begitu lama di dalam gua tersebut.

Ja’far Bin Abi Thalib, Sang Politisi Terkenal

Setiap membuka lembar emas periode sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, selalu saja membuat hati tersentuh betapa mereka pribadi mulia yang gigih membela Islam. Hingga Rasul-Nya mewasiatkan umat Islam agar menjaga hak-hak mereka, mengetahui keutamaan mereka dan melarang mencela para sahabat.

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu berkata, “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam Sesungguhnya kedudukan salah seorang di antara mereka lebih baik dari amal kalian seluruhnya” (Ash Sharimul Maslul’ala Syatimir Rasul, hal : 570).

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dalam bab keutamaan-keutamaan para Sahabat, dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan, pent) infak mereka, tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, bab Fadhailush shahabahFathul Bari 7/21 hadits No. 3673 dan Muslim: Fadhailush shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222).

Diantara sosok yang lekat di hati beliau adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sangat mirip dengan  beliau. Ja’far bin Abi Thalib diasuh oleh Abu Bakar Ash Shidiq sebelum Rasulullahshallallahu’alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Saat intimidasi kafir Quraisy bertambah gencar, Ja’far bin Abi Thalib  bersama istrinya Asma’ binti ‘Umais serta serombongan kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Mereka mendapat perlindungan Raja Najasyi hingga dapat beribadah kepada Allah dengan tenang. Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keberadaan mereka, mereka mengutus ‘Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memprovokasi sang raja agar mengusir kaum muslimin. Berkat taufiknya serta kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib raja membenarkan keyakinan kaum muslimin.

Di hadapan majelis para pejabat dan uskup dengan percaya diri dan penuh kesopanan Ja’far berkata, “Tuanku, dahulu kami adalah suatu kaum yang bodoh, kami menyembah patung-patung berhala, memakan bangkai dan tidak segera melakukan berbagai kejahatan. Kami biasa memutus hubungan kekerabatan, tidak mau ambil peduli dengan kerepotan tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Dalam keadaan demikian, Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami kenal baik keramahan keluarganya serta terjamin kejujuran, ketulusan dan amanahnya. Kami diajak untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap batu-batu dan patung. Beliau menyuruh kami jujur dalam berbicara, menyampaikan amanah, menyambung tali persaudaraan dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami berbuat keji, menghindari pertumpahan darah, tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba atau berdusta. Beliau juga melarang memakai harta anak yatim atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dengan keburukan, mengabdi kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya kami percaya adanya dan mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan. Ketika kaum kami melihat kami beriman kepadanya, mereka menyiksa kami dengan sewenang-wenang untuk mengembalikan pada kebodohan, yaitu penyembahan berhala. Penindasan mereka semakin menjadi-jadi seiring keteguhan kami untuk membenarkan ajaran Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Tak ada satu pun mereka lewatkan untuk menganiaya kami. Bahkan mata pencaharian kami pun dihalang-halangi. Ketika sudah tidak tahan lagi dizalimi, ditindas dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini daripada lainnya, karena kami telah mendengar kebijaksanaan Anda. Kami berharap bisa bernaung di bawah pemerintah Tuan” (Dibawah Naungan PedangAbu Royhan, hal. 387 – 388).

Demikianlah untaian kata-kata Ja’far yang membuat Negus Ashamah kagum. Terlebih lagi ketika beliau membaca surat Maryam ayat 1-15, penguasa itu menangis terharu dan membenarkannya. Akhirnya ia melindungi kaum muslimin dan mereka tinggal di Habasyah dengan penuh kedamaian serta mampu melaksanakan ajaran Islam. Utusan Quraisy itupun akhirnya kembali dengan terhina dan semua hadiah dikembalikan.

Ada lagi keistimewaan Ja’far, beliau sangat penyayang dan menyantuni orang-orang miskin. Beliau pun mujahid tangguh yang berjihad dalam menegakkan kalimat tauhid hingga ke Roma. Mereka berhadapan dengan Raja Hercules yang memiliki tentara ± 200 ribu. Beliau bertempur habis-habisan hingga gugur sebagai syuhada. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: Sungguh aku melihat Ja’far bin Abu Thalib di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. (Sirah Sahabat, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, halaman: 424).

Demikianlah akhir kisah Ja’far, pribadi yang fasih tutur katanya, tepat argumentasinya dan sosok rendah hati yang juga sigap dalam berperang. Semoga kisah ini menginspirasi generasi muslim untuk lebih fokus meneladani para sahabat.

Isruwanti Ummu Nashifa July 2, 2018

sumber muslimah.or.id

Kecintaan dan Kerinduan Seorang Ibu

Ibu, sosok istimewa yang memiliki kedudukan mulia sehingga Islam menempatkannya secara mengagumkan. Ibu yang bertaqwa dan shalihah akan selalu mencintai anak-anaknya, merindukannya ketika jarak memisahkan mereka bahkan sering kali ia memiliki harapan besar demi kebahagiaan buah hatinya meski sang anak terkadang membuatnya gundah gulana. Bahkan di dunia hewan pun perasaan kasih sayang pun Allah tumbuhkan sebagaimana hadits berikut.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu, ia menuturkan: “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam hendak buang hajat. Tiba-tiba kami melihat seekor burung yang sedang bersama anaknya. Lalu kami mengambil kedua anaknya, induknya kemudian datang sambil membentangkan kedua sayapnya. Mendadak Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam muncul lalu berkata : “Siapa yang membuat burung ini risau karena anaknya diambil? Kembalikan lagi anak-anak burung itu kepada induknya!” (HR. Ibnu Majah no. 2329, dishahihkan Al Albani dalamAs-Silsilah Ash-Shaiihah no. 487).

Secara fitrah pun hubungan ibu dengan anaknya sangat erat, bahkan terkadang ada kontak batin yang sangat kuat seperti ketika seorang ibu merasakan hatinya gelisah atau berbagai perasaan dan suasana hati tertentu tatkala anaknya yang tidak didekatnya tengah sakit atau ada perkara yang tidak mengenakkan.

Sejatinya Allah memberi kelembutan hati dan rasa cinta mendalam seorang ibu. Itulah perasaan keibuan yang akan membuatnya gembira, sabar dalam menghadapi cobaan hidup dan ia menderita tatkala dipisahkan dari anaknya.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu bahwa seorang wanita berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini akulah yang mengandung, menyusui, dan mengasuhnya, sedangkan ayahnya telah menceraikan aku dan ingin merebutnya dari tanganku”. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

آَنْتَ أَحَقُّ بِهِ مَالَمْ تَنْكِحِىْ

“Kamu lebih berhak terhadap anakmu itu selama kamu belum menikah (lagi).”

(HR. Abu Daud no. 1991, dishaihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

Ada sebuah kisah menggetarkan jiwa betapa seorang ibu lembut hatinya dan sangat mencintai seseorang yang mirip sekali dengan anaknya. Syaih At-Thanthawi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah nyata seorang temannya yang bekerja sebagai pengacara di sebuah kantor kehakiman besar di India. Ia berkata, ”Temanku itu menceritakan kepadaku, suatu hari aku memasuki sebuah pasar. Aku melihat seorang wanita tua, yang rumahnya berada di dalam pasar tersebut. Wanita tua itu memegang tanganku dan membawaku ke rumahnya. Ia menjamuku sebagai tamu istimewa yang belum pernah aku mendapati sepertinya. Setelah selesai bertamu, maka aku meminta izin untuk pergi, wanita itu berkata : ‘Tak mengapa, wahai Nak, saya mohon jangan segan mengunjungiku setiap engkau pergi ke pasar ini’”.

Temanku itu kembali bercerita. “Aku bertanya kepada wanita tua itu. ‘Wahai Bibi, apa yang telah mendorongmu menjamu dan menghormati seseorang yang antara dirimu dan dirinya tidak saling kenal dan tak ada hubungan apapun?’ Wanita itu menjawab, ‘Wahai Nak, sesungguhnya salah seorang anakku dan belahan jiwaku itu wajahnya seperti wajahmu, warna kulitnya seperti warna kulitmu dan cara berjalannya seperti jalanmu. Ia telah menghilang sejak lama di negeri asing. Saat aku melihatmu maka aku teringat dengan anakku itu. Cinta kasih terhadap anakku yang ada di hati inilah yang telah mendorongku. Aku tak mampu menahan diri hingga aku mengundangmu ke rumahku. Lalu, aku menjamumu seperti yang engkau lihat. Demi Allah wahai nak, jangan segan-segan engkau mengunjungiku untuk kedua kali, ketiga kali dan seterusnya.’ Maka setiap kali aku memasuki pasar itu, akupun mengunjungi wanita tua itu, untuk mengikat hatinya, wanita tua itu begitu menghormatiku. Seperti waktu-waktu sebelumnya” (Dinukil dari buku Tata Busana Para Salaf, Abu Thalhah bin Abdus Sattar, hal 25-26).

Ya Rabbi … mudahkanlah langkahku, lunakkan hatiku dan berilah kami kekuatan iman untuk selalu berbakti pada kedua orang tua kami. Tunjukilah kami pada jalan keselamatan agar kami pun mampu mencintai dan mengasihi buah hati kami demi menjalankan perintah Allah. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang kami cintai di surga-Mu. Amin.

Isruwanti Ummu Nashifa muslimah.or.id

Wudhulah, Jika Hendak Mengulang

Salah satunya adalah berhubungan dengan pasangan yang sah dalam Islam merupakan ibadah juga. Karena ibadah,  maka hubungan juga hendaklah dilakukan dalam kondisi suci. Artinya tidak tengah menanggung hadats besar.

Masalahnya kemudian, bagaimanakah jika seseorang hendak berhubungan untuk yang kedua kali, padahal ia belum mandi untuk hubungan yang pertama? Bagaimana hukumnya? haruskah orang itu mandi terlebih dahulu kemudian hubungan untuk kedua kali?

Jika seseorang telah usai hubungan dan berkeinginan untuk mengulanginya lagi, hendaklah ia berwudhu terlebih dahulu. Karena jika tidak diselengi dengan wudhu hukumnya makruh. Maka hilangkanlah kemakruhan itu dengan istinja’ dan wudhu dan tidak harus mandi terlebih dahulu.
Bahkan disebutkan bahwa selagi kita belum mandi maka makruh hukumnya, makan, minum, demikian pula tidur. Jadi sekurang-kurang menghilangkan kemakruhan adalah wudhu.

Alhafidzul Iroqy mempunyai nadzam yang menerangkan beberapa hal dari pada tujuh puluh delapan perkara yang disunnatkan berwudhu. Diantaranya; “Dan sunnat wudhu jika orang yang junub itu memilih makan atau tidur, minum dan mengulang jima’ yang diperbaharui.”

Ini juga yang diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Abi Said dari Nabi saw beliau bersabda: “Barang siapa telah mempergauli istrinya, kemudian bermaksud mengulanginya lagi (untuk kedua kali) maka hendaklah ia berwudhu.”

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, menerangkan bahwa berwudhu sebelum jima’ dapat menambah semangat: “Bahwasannya wudhu itu dapat menambah semangat untuk mengulangi (jima’).”

Alhafidz selanjutnya menerangkan:
”Hal ini diperkuat dengan hadits Anas dalam Shahihain, bahwa Nabi sa. berkeliling mempergauli isteri-isterinya dengan mandi yang satu.” []
Demikianlah islam mengatur tata cara dalam hubungan suami isteri. Maka hendaknya kita mentaatinya

Sumber: Taudlihul Adillah/Karya: Muallim KH. Syafi’i Hadzami

islampos.com

Iska Randy Si Cewek Punk Ini Tuai Doa dan Pujian Setelah Putuskan Berhijab

Putuskan Hijrah dan Berhijab, Penampilan Iska Randy si Anak Punk ini Tuai Pujian dan Doa Warganet
Iska Randy, cewek bertato yang kini hijrah dan jadi inspirasi warganet
cewek punk hijrah via https://www.instagram.com
Beberapa waktu terakhir, warganet dikejutkan dengan penampilan seorang cewek berkerudung namun memiliki tato di bagian wajahnya. Banyak yang menyangka jika ini adalah editan, sedangkan yang lain mengira ini adalah sensasi belaka. Padahal, foto yang tersebar tersebut memang benar adanya.

Dialah Iska Randy, cewek asal Solo yang viral setelah dia mengunggah foto-fotonya yang kini berhijab. Sebelumnya Iska merupakan anak Punk atau yang sering berkeliaran di jalan. Bukan hanya di bagian jidatnya saja, sekujur tubuh Iska juga dipenuhi tato. Namun, hidayah memang nggak pernah pandang buluh atau dari mana mereka berasal. Ketika Tuhan memberikan hidayah, maka siapa pun bisa kembali ke jalan-Nya.

ADVERTISEMENT

 

Iska adalah salah satunya. Sejak bulan lalu, dia memantapkan hatinya untuk menutup penampilannya layaknya seorang muslimah. Cerita hijrahnya Iska sebagai anak Punk ini pun mencuri perhatian publik. Dia menunjukkan bagaimana kuasa Tuhan terhadap siapa pun yang diinginkan-Nya.

1. Iska Randy mulai mengenakan hijab sekitar pertengahan April lalu. Dia pun meminta doa warganet agar bisa tobat sepenuhnya

mulai berhijab via www.instagram.com

2. Keinginannya untuk mengenakan hijab sebenarnya sudah dari akhir 2017 lalu, namun baru bisa terwujud beberapa bulan kemarin

dapat dukungan via www.instagram.com

3. Iska Randy menjadi sorotan karena ada tato besar di bagian dahi kanannya dan masih terlihat meskipun sudah berkerudung

dibilang cari sensasi via www.instagram.com

4. Kenakan jilbab, dia malah dikira cari sensasi. Padahal Iska sudah mencoba meninggalkan masa lalunya, dengan menghapus semua foto yang nggak berjilbab

menghapus foto lama via www.instagram.com

5. Tato Iska ini pun menuai kontroversi. Banyak warganet yang menyatakan dirinya hanya mencari sensasi, sebagian lagi memaksa dirinya untuk menghapus semua tatonya

menghapus foto lama via www.instagram.com

6. Cerita hijrahnya dari seorang anak punk ini menjadi viral, bahkan Iska pun sempat diundang ke salah satu program televisi swasta

sempat viral via www.instagram.com

7. Bukan cuma tatonya, paras cantik Iska juga menarik perhatian warganet. Namun sayang cewek tersebut ternyata sudah memiliki suami bernama Randi Antoni Putra yang juga memiliki tato di sekujur tubuhnya

sudah bersuami

8. Nggak bisa dimungkiri, cerita inspiratif mantan anak jalanan ini juga membawanya pada rezeki. Sejak berhijab, Iska mendapat banyak endorse dari berbagai online shop

dapat rezeki via www.instagram.com

9. Perjalan hijrah Iska ini sudah pasti nggak mulus. Banyak yang mempertanyakan keseriusannya untuk tobat karena tato yang masih menempel di tubuhnya

persoalan tato via www.instagram.com

10. Tapi Iska sepertinya nggak ambil pusing soal komentar warganet. Dia berharap bisa istikamah dan mendoakan warganet lain agar dilimpahkan rezeki

jadi contoh baik via www.instagram.com

11. Iska yang dikabarkan tengah hamil anak pertamanya ini menjadi inspirasi masyarakat, khususnya di bulan Ramadan. Ya, hidayah nggak mengenal siapa pun

tetap sabar dan istiqomah via www.instagram.com

Meski mengaku masih belajar tentang ilmu agama lebih dalam, sosok Iska ini nyatanya mampu menginspirasi banyak orang. Masa lalunya nggak menghalangi Iska untuk hijrah dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Meski kini tubuhnya masih bertato, tentu itu menjadi pengingatnya akan masa lalunya. Kita nggak berhak menghakimi sosoknya yang berusaha menjadi lebih baik itu. Semoga Iska tetap istikamah dan mampu jadi contoh bagi kita semua, ya. Semangat!
https://www.instagram.com

sumber https://www.hipwee.com/hiburan/putuskan-hijrah-dan-berhijab-penampilan-iska-randy-si-anak-punk-ini-tuai-pujian-dan-doa-warganet/