Kisah Ummul Mundzir dan Khasiat Kurma Muda

Ilustrasi
Muslimahdaily – Ummul Mundzir merupakan satu dari sekian wanita yang masuk Islam di era awal dakwah. Wanita Anshar tersebut memeluk Islam begitu dakwah dikenalkan di kota nabi. Ia juga masih berkerabat dengan Rasulullah dari jalur ibu.

Nama lengkapnya yakni Ummul Mundzir binti Qais bin ‘Amr Al Anshariyyah An Najjariyyah. Ia satu keluarga dengan ibunda Rasulullah, Aminah, yakni dari Bani An Najjar. Karena itulah, ia memiliki hubungan dekat dengan Rasullah dan keluarga beliau.

Suatu hari, Rasulullah berkunjung ke rumah Ummul Mundzir Rhadiyyallahu ‘anha. Saat itu, beliau ditemani Ali bin Abi Thalib yang baru saja sembuh dari sakit. Di dalam rumah sang shahabiyyah tergantung setandan kurma muda yang segar. Rasulullah pun diberi sajian dengannya.

Nabiyullah begitu menikmati kurma muda milik Ummul Mundzir. Sampai-sampai Ali berkeinginan untuk memakannya pula. Ia pun menjulurkan tangannya untuk mengambil kurma muda tersebut.

Namun Rasulullah mencegah Ali seraya bersabda, “Tunggu Ali, engkau baru saja sembuh dari sakit.” Dengan perhatian, Rasulullah mencegah Ali untuk memakan kurma muda itu. Faedahnya, kurma muda tak baik disantap oleh seorang yang baru saja sembuh dari penyakit.

Ali pun menuruti. Ia duduk dan menahan diri dari keinginan memakan kurma muda. Adapun Rasulullah masih memakan sajian kurma muda tersebut. Sementara itu, Ummul Mundzir tengah sibuk di dapur.

Begitu melihat Rasulullah dan Ali ada di rumahnya, Ummul Mundzir segera mengolah bahan makanan. Ia ingin menyajikan hidangan yang ia buat dengan tanggannya sendiri. Lalu dicampurnya gandum dengan sayuran lezat bernama silq. Hasilnya, hidangan lezat nan sehat pun tersedia di hadapan Rasulullah dan Ali.

(Nabi begitu senang melihat hidangan sajian Ummul Mundzir. Kepada Ali, beliau berkata, “Nah, ini cocok untukmu, Ali.” Dengan nikmat, Ali pun menyantap hidangan Ummul Mundzir.

Ummul Mundzir pun senang dapat menyajikan hidangan yang cocok dan disukai Rasulullah serta Ali bin Abi Thalib. Apalagi Rasulullah menyebutnya sangat cocok untuk Ali yang baru saja sehat setelah sakit. Sang shahabiyyah begitu gembira.

Shalat Bersama Rasulullah

Ummul Mundzir sangat menyukai shalat bersama Rasulllah. Ia sangat giat untuk turut serta dalam jamaah beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam. Saking giatnya, Ummul Mundzir juga mengalami momen berpindahnya arah kiblat. Ia menjadi saksi saat Rasulullah diberi wahyu untuk memindahkan arah shalat dari Baitul Maqdis di Yerusalem, ke arah Ka’bah di Makkah.

Itu terjadi di tahun kedua hijriyyah. Ummul Mundzir pun menjadi satu dari sekian shahabat yang menyaksikan dan mengabarkan peristiwa besar tersebut.

Keluarga Ummul Mundzir

Ummul Mundzir memiliki keluarga yang juga menjadi shahabat Rasullah. Mereka selalu melindungi dan mendukung dakwah nabi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang meraih keutamaan pahala jihad karena turut serta di perang Badr.

Ialah Salith bin Qais, saudara kandung Ummul Mundzir, yang bergabung dengan pasukan muslimin menuju Badr. Dengan gagah berani, ia membela agama Allah dan berharap syahid di medan jihad. Bersama Ummul Mundzir, Salith menjadi salah dua shahabat Rasulullah yang dekat dengan beliau.

Adapun keluarga inti Ummul Mundzir yakni seorang suami bernama Qais bin Sha’sha’ah dan anaknya Al Mundzir. Karena itulah ia dikenal dengan nama kunyah Ummul Mundzir.

Suami Ummul Mundzir juga berasal dari Bani An Najjar. Artinya, ia juga berkerabat dengan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Keluarga Ummul Mundzir adalah penduduk asli Madinah dan menjadi shahabat Anshar yang terkenal sangat dermawan. Teringat firman Allah tentang kaum Anshar,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin).

Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9).

Ummul Mundzir binti Qais, semoga Allah meridhainya dan memberikan kenikmatan surga bersama para shahabat Anshar dan Muhajirin yang lebih dahulu beriman.

By Afriza Hanifa  July 17, 2018 muslimahdaily.com

Ummu Mahjan, Nenek Tua yang Dirindukan Rasulullah

Ilustrasi

Muslimahdaily – Di suatu pagi, Rasulullah nampak sibuk mencari seseorang. Beliau Shallallahu‘alaihi wa sallam kehilangan sesosok nenek yang biasanya nampak di pelataran masjid. Ialah nenek tua bernama Ummu Mahjan yang dicari nabiyullah.

“Ia telah meninggal dan dikubur, wahai Rasulullah,” ujar shahabat.

“Mengapa kalian tak memberitahuku tentangnya?” sabda Rasulullah.

Para shahabat saling berpandangan bingung. Abu Hurairah berkata, “Seolah-olah mereka menganggap bahwa kematian Ummu Mahjan merupakan hal sepele.”

Para shahabat menganggap kematian seorang tua adalah perkara yang biasa dan lumrah terjadi sehingga Rasulullah tak perlu diberi kabar. Belum lagi, kematian Ummu Mahjan terjadi di malam hari saat Rasulullah tengah beristirahat.

“Kami telah mendatangi Anda dan kami dapatkan Anda masih dalam keadaan tidur sehingga kami tidak ingin membangunkan Anda, wahai Rasulullah” ujar seorang hahabat.

“Mari kita pergi! Tunjukkanlah kepadaku di mana kuburnya,” ajak Rasulullah bergegas menuju lokasi pemakaman Ummu Mahjan.

Sesampainya di sana, yakni di pemakanan Baqi Al Ghardad, Beliau berdiri hendak menunaikan shalat jenazah. Para shahabat lalu segera memosisikan diri sebagai jamaah. Rasulullah bersama sederet shaf shahabat pun menunaikan shalat dengan takbir empat kali tanpa ruku dan sujud.

Seusai shalat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kubur ini terisi dengan kegelapan atas penghuninya dan Allah meneranginya bagi mereka karena aku telah menyalatkannya.”

Masya Allah, kubur Ummu Mahjan diberi penerangan oleh Allah. Rasulullah memberikan hadiah spesial kepada si nenek tua. Apakah keutamaan Ummu Mahjan hingga Rasulullah merasa sangat kehilangan?

Beliau merupakan wanita Madinah yang berkulit hitam lagi miskin. Tak ada yang tahu siapa nama asli si nenek tua. Orag-orang memanggilnya dengan kunyah Ummu Mahjan.

Meski berislam di usia senja, Ummu Mahjan tetap mendapat perhatian Rasulullah. Hingga sang shahabiyyah merasa ingin turut serta melakukan sesuatu untuk agama. Tapi apa daya, tubuhnya sangat lemah seiring usianya yang telah renta. Ia tak bisa turut berkiprah untuk umat. Ia pula tak bisa turut belajar apalagi berjihad.

Namun kelemahan fisik tak serta merta menyurutkan semangat Ummu Mahjan untuk berbuat kebaikan dan mengambil kiprah di tengah umat. Ia pun mendapatkan kesempatan untuk melakukannya. Di lihatnya suatu hari, masjid kotor tak ada yang membersihkan. Ummu Mahjan pun bergegas membersihkannya. Ia membuang setiap kotoran hingga Masjid Rasulullah menjadi sangat bersih.

Sejak itu, Ummu Mahjan pun melakukannya setiap hari. Ia giat membersihkan masjid hingga Rasululah dan para shahabat merasakan kenyamanan karenanya. Ummu Mahjan telah selesai dari kegiatan rutinnya sebelum rumah Allah menjadi tempat beribadah, tempat belajar, tempat bermusyawarah, hingga tempat menjalankan pemerintahan Islam.

Pantaslah Rasulullah merasa kehilangan ketika Ummu Mahjan tak muncul seperti hari-hari biasa. Sifat sang nabi pula sangat pengasih kepada rakyat miskin dan orang tua. Ummu Mahjan hanyalah salah satu nenek yang diperhatikan dan dihormati Rasulullah.

Karena Rasulullah sangat menghormati yang lebih tua, para shahabat pun meniru sikap beliau. Ketika Ummu Mahjan meninggal, para shahabat mengurus jenazahnya dan menguburkannya dengan kasih sayang. Namun mereka enggan mengganggu Rasulullah hanya karena kematian seorang nenek tua.

Padahal di mata Rasulullah, setiap umat beliau, setiap rakyat beliau, harus dilayani dengan baik. Karena itulah Rasulullah pergi ke kubur Ummu Mahjan kemudian memberikan hadiah yang akan sangat disukai sang nenek. Yakni seberkas cahaya terang benderang di alam kubur. Semoga Allah meridhai setiap amal baik Ummu Mahjan radhiyallahu ‘anha.

Berperan Meski Sedikit

Dari kehidupan Ummu Mahjan, muslimah mendapati hikmah yang sangat berharga. Yakni tentang kiprah dan mengambil peran untuk umat. Tengoklah sikap Ummul Mahjan. Seorang nenek tua renta saja masih berkeinginan untuk mengambil peran di tengah umat.

Dengan tenaga terbatas, ia pun memilih caranya dengan membersihkan masjid. Jika nenek Mahjan saja sanggup, bagaimana dengan muslimah yang masih belia?

Di mana pun muslimah berada, carilah peran yang bisa dikerjakan untuk kebaikan orang lain meski itu nampak amat sangat ringan di mata manusia.

By Afriza Hanifa  July 2, 2018 muslimahdaily.com

Mengapa 12 Anak di Thailand Bisa Bertahan Hidup Begitu Lama dalam Gua?

kumparanSAINS
Rabu 04 Juli 2018 – 18:10
12 anak ditemukan di gua Thailand

Kabar berhasil ditemukannya 12 anak dan seorang pelatih bola di dalam Gua Tham Luang di Thailand merupakan berita yang menggembirakan sekaligus mengejutkan. Pasalnya, mereka semua berhasil ditemukan dalam keadaan hidup setelah dinyatakan hilang selama 9 hari.
Dalam rekaman sebuah video yang menunjukkan detik-detik penemuan 12 anak dan pelatih bola itu, terlihat mereka yang memakai baju berwarna merah dan biru sedang duduk di tanah di samping hamparan air dalam gua.
Sebelumnya anak-anak berusia 11-16 tahun dan pelatih bola berusia 25 tahun itu hilang pada Sabtu (23/6) sore setelah memasuki gua Tham Luang di provinsi Chiang Rai usai latihan bola. Diduga, mereka terjebak air hujan yang tiba-tiba membanjiri bagian dalam gua sepanjang 10 kilometer itu.
Mereka pertama kali ditemukan dalam kondisi hidup oleh dua penyelam Inggris, Rick Stanton dan John Volanthen, pada Senin (2/7). Keesokan harinya, Selasa (3/7), satuan khusus Angkatan Laut Thailand, Navy Seals, mengunggah video penemuan 12 anak dan seorang pelatihnya itu.
Penemuan 12 anak dalam kondisi masih hidup setelah terjebak 9 hari di dalam gua itu menimbulkan pertanyaan tersendiri: mengapa dan bagaimana mereka bisa bertahan hidup selama itu? Sebenarnya seberapa lama manusia bisa bertahan hidup di dalam gua?
Andrea Rinaldi, ahli biokimia di Universitas Cagliari di Italia yang pernah meneliti bagaimana manusia beradaptasi dan hidup di gua, mengatakan seberapa lama seseorang bisa bertahan hidup di dalam suatu gua adalah tergantung pada jenis dan lokasi gua tersebut.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Udara
Hal terpenting yang dibutuhkan manusia untuk bisa bertahan hidup adalah udara. Untungnya, biasanya manusia tetap bisa mendapatkan udara meski hidup di dalam gua bawah tanah.
“Oksigen biasanya berlimpah di gua, bahkan ratusan meter di bawah tanah,” kata Rinaldi, dikutip dari Live Science. Ia mengatakan, udara dapat mengalir melalui retakan di bebatuan, dan melalui batu kapur yang keropos.
Rinaldi menambahkan, dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, ada gua-gua yang memiliki bagian area yang menjadi tempat karbon dioksida menumpuk sehingga membuat oksigen tidak bisa mengalir. Namun menurutnya, area seperti itu sangat berbeda dengan area gua tempat ditemukannya tim sepak bola di Thailand itu.
Jika kondisi gua sangat kering, misalnya, bisa ada banyak debu di udara. Dan di beberapa gua tropis, pengendapan kotoran kelelawar dapat melepaskan uap amonia ke udara, dan mungkin juga menyebarkan spora jamur, yang jika terhirup dapat menyebabkan masalah pernapasan.
Namun “terlepas dari kasus-kasus khusus ini, bagaimanapun, udara di dalam gua benar-benar bisa digunakan untuk bernapas,” kata Rinaldi.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Air dan Makanan
Setelah udara, hal terpenting lainnya yang dibutuhkan manusia untuk bertahan hidup adalah air dan makanan.
Manusia membutuhkan makanan dan air untuk bertahan hidup di mana pun. Dilaporkan, tim sepak bola itu masih punya sedikit makanan sebelum tim penyelamat tiba.
Namun jikapun mereka tidak memiliki makanan, mereka tetap masih bisa bertahan hidup selama beberapa hari. Rinaldi mengatakan, “Seorang manusia dalam kesehatan yang baik bisa bertahan hidup berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan, tanpa makanan.”
Adapun terkait kebutuhan air, kebetulan di gua tempat terjebaknya anak-anak itu memang ada banyak air yang menggenang sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Namun begitu, menurut Rinaldi, jika orang-orang yang terdampar di gua tidak memiliki alat untuk menyaring air, akan “lebih bersih dan lebih aman” bagi mereka untuk menyesap air yang menetes dari langit-langit dan dinding gua.
12 anak yang terjebak di gua Thailand ditemukan.

Suhu
Selain kurangnya pasokan udara, air, dan makanan, hal lain yang bisa mengancam keselamatan nyawa manusia adalah suhu udara yang ekstrem. ketika manusia menghadapi suhu yang terlalu dingin bagi tubuhnya, maka ia bisa mengalami hipotermia dan akhirnya meninggal.
Hipotermia ini adalah kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Rinaldi mengatakan, “Hipotermia adalah musuh berbahaya lainnya.”
Akan tetapi menurutnya, karena dalam kasus di Thailand ini anak-anak tersebut terjebak di dalam gua tropis, maka kemungkinan besar suhu di dalam gua tersebut masih di atas 20 derajat Celcius. Tidak terlalu dingin bagi tubuh manusia.
Jadi, faktor-faktor itulah yang menjadi alasan mengapa 12 bocah dan seorang pelatih bolanya itu bisa bertahan hidup begitu lama di dalam gua tersebut.

Ja’far Bin Abi Thalib, Sang Politisi Terkenal

Setiap membuka lembar emas periode sahabat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, selalu saja membuat hati tersentuh betapa mereka pribadi mulia yang gigih membela Islam. Hingga Rasul-Nya mewasiatkan umat Islam agar menjaga hak-hak mereka, mengetahui keutamaan mereka dan melarang mencela para sahabat.

Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu berkata, “Janganlah kalian mencela sahabat Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam Sesungguhnya kedudukan salah seorang di antara mereka lebih baik dari amal kalian seluruhnya” (Ash Sharimul Maslul’ala Syatimir Rasul, hal : 570).

Al Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dalam bab keutamaan-keutamaan para Sahabat, dari Abu Hurairah dia berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: “Janganlah kalian mencela para Sahabatku. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidaklah sampai (menyamai) satu mudd (satu cakupan dua tangan, pent) infak mereka, tidak pula setengahnya” (HR. Al-Bukhari, bab Fadhailush shahabahFathul Bari 7/21 hadits No. 3673 dan Muslim: Fadhailush shahabah 4/1967 hadits nomor 221 dan 222).

Diantara sosok yang lekat di hati beliau adalah Ja’far bin Abi Thalib. Dia sangat mirip dengan  beliau. Ja’far bin Abi Thalib diasuh oleh Abu Bakar Ash Shidiq sebelum Rasulullahshallallahu’alaihi wa sallam masuk ke Darul Arqam. Saat intimidasi kafir Quraisy bertambah gencar, Ja’far bin Abi Thalib  bersama istrinya Asma’ binti ‘Umais serta serombongan kaum muslimin berhijrah ke Habasyah. Mereka mendapat perlindungan Raja Najasyi hingga dapat beribadah kepada Allah dengan tenang. Ketika orang-orang Quraisy mengetahui keberadaan mereka, mereka mengutus ‘Amr bin Al Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk memprovokasi sang raja agar mengusir kaum muslimin. Berkat taufiknya serta kecerdasan Ja’far bin Abi Thalib raja membenarkan keyakinan kaum muslimin.

Di hadapan majelis para pejabat dan uskup dengan percaya diri dan penuh kesopanan Ja’far berkata, “Tuanku, dahulu kami adalah suatu kaum yang bodoh, kami menyembah patung-patung berhala, memakan bangkai dan tidak segera melakukan berbagai kejahatan. Kami biasa memutus hubungan kekerabatan, tidak mau ambil peduli dengan kerepotan tetangga, dan yang kuat menindas yang lemah. Dalam keadaan demikian, Allah mengutus kepada kami seorang Rasul yang kami kenal baik keramahan keluarganya serta terjamin kejujuran, ketulusan dan amanahnya. Kami diajak untuk menyembah Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap batu-batu dan patung. Beliau menyuruh kami jujur dalam berbicara, menyampaikan amanah, menyambung tali persaudaraan dan berbuat baik kepada tetangga. Beliau melarang kami berbuat keji, menghindari pertumpahan darah, tidak menyebarkan kata-kata fitnah, mengadu domba atau berdusta. Beliau juga melarang memakai harta anak yatim atau menuduh orang-orang yang tidak bersalah dengan keburukan, mengabdi kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Itu sebabnya kami percaya adanya dan mau mengikuti ajaran yang dibawanya. Kami menghalalkan apa yang dihalalkan dan mengharamkan yang diharamkan. Ketika kaum kami melihat kami beriman kepadanya, mereka menyiksa kami dengan sewenang-wenang untuk mengembalikan pada kebodohan, yaitu penyembahan berhala. Penindasan mereka semakin menjadi-jadi seiring keteguhan kami untuk membenarkan ajaran Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Tak ada satu pun mereka lewatkan untuk menganiaya kami. Bahkan mata pencaharian kami pun dihalang-halangi. Ketika sudah tidak tahan lagi dizalimi, ditindas dan dihalang-halangi dalam beragama, kami lari ke negeri Tuan. Kami mengutamakan negeri ini daripada lainnya, karena kami telah mendengar kebijaksanaan Anda. Kami berharap bisa bernaung di bawah pemerintah Tuan” (Dibawah Naungan PedangAbu Royhan, hal. 387 – 388).

Demikianlah untaian kata-kata Ja’far yang membuat Negus Ashamah kagum. Terlebih lagi ketika beliau membaca surat Maryam ayat 1-15, penguasa itu menangis terharu dan membenarkannya. Akhirnya ia melindungi kaum muslimin dan mereka tinggal di Habasyah dengan penuh kedamaian serta mampu melaksanakan ajaran Islam. Utusan Quraisy itupun akhirnya kembali dengan terhina dan semua hadiah dikembalikan.

Ada lagi keistimewaan Ja’far, beliau sangat penyayang dan menyantuni orang-orang miskin. Beliau pun mujahid tangguh yang berjihad dalam menegakkan kalimat tauhid hingga ke Roma. Mereka berhadapan dengan Raja Hercules yang memiliki tentara ± 200 ribu. Beliau bertempur habis-habisan hingga gugur sebagai syuhada. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda: Sungguh aku melihat Ja’far bin Abu Thalib di surga. Ia memiliki dua sayap yang berlumuran darah. (Sirah Sahabat, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, halaman: 424).

Demikianlah akhir kisah Ja’far, pribadi yang fasih tutur katanya, tepat argumentasinya dan sosok rendah hati yang juga sigap dalam berperang. Semoga kisah ini menginspirasi generasi muslim untuk lebih fokus meneladani para sahabat.

Isruwanti Ummu Nashifa July 2, 2018

sumber muslimah.or.id

Kecintaan dan Kerinduan Seorang Ibu

Ibu, sosok istimewa yang memiliki kedudukan mulia sehingga Islam menempatkannya secara mengagumkan. Ibu yang bertaqwa dan shalihah akan selalu mencintai anak-anaknya, merindukannya ketika jarak memisahkan mereka bahkan sering kali ia memiliki harapan besar demi kebahagiaan buah hatinya meski sang anak terkadang membuatnya gundah gulana. Bahkan di dunia hewan pun perasaan kasih sayang pun Allah tumbuhkan sebagaimana hadits berikut.

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu‘anhu, ia menuturkan: “Kami pernah bersama Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Di tengah perjalanan, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam hendak buang hajat. Tiba-tiba kami melihat seekor burung yang sedang bersama anaknya. Lalu kami mengambil kedua anaknya, induknya kemudian datang sambil membentangkan kedua sayapnya. Mendadak Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam muncul lalu berkata : “Siapa yang membuat burung ini risau karena anaknya diambil? Kembalikan lagi anak-anak burung itu kepada induknya!” (HR. Ibnu Majah no. 2329, dishahihkan Al Albani dalamAs-Silsilah Ash-Shaiihah no. 487).

Secara fitrah pun hubungan ibu dengan anaknya sangat erat, bahkan terkadang ada kontak batin yang sangat kuat seperti ketika seorang ibu merasakan hatinya gelisah atau berbagai perasaan dan suasana hati tertentu tatkala anaknya yang tidak didekatnya tengah sakit atau ada perkara yang tidak mengenakkan.

Sejatinya Allah memberi kelembutan hati dan rasa cinta mendalam seorang ibu. Itulah perasaan keibuan yang akan membuatnya gembira, sabar dalam menghadapi cobaan hidup dan ia menderita tatkala dipisahkan dari anaknya.

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhu bahwa seorang wanita berkata: ”Wahai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini akulah yang mengandung, menyusui, dan mengasuhnya, sedangkan ayahnya telah menceraikan aku dan ingin merebutnya dari tanganku”. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadanya :

آَنْتَ أَحَقُّ بِهِ مَالَمْ تَنْكِحِىْ

“Kamu lebih berhak terhadap anakmu itu selama kamu belum menikah (lagi).”

(HR. Abu Daud no. 1991, dishaihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud).

Ada sebuah kisah menggetarkan jiwa betapa seorang ibu lembut hatinya dan sangat mencintai seseorang yang mirip sekali dengan anaknya. Syaih At-Thanthawi rahimahullah menyebutkan sebuah kisah nyata seorang temannya yang bekerja sebagai pengacara di sebuah kantor kehakiman besar di India. Ia berkata, ”Temanku itu menceritakan kepadaku, suatu hari aku memasuki sebuah pasar. Aku melihat seorang wanita tua, yang rumahnya berada di dalam pasar tersebut. Wanita tua itu memegang tanganku dan membawaku ke rumahnya. Ia menjamuku sebagai tamu istimewa yang belum pernah aku mendapati sepertinya. Setelah selesai bertamu, maka aku meminta izin untuk pergi, wanita itu berkata : ‘Tak mengapa, wahai Nak, saya mohon jangan segan mengunjungiku setiap engkau pergi ke pasar ini’”.

Temanku itu kembali bercerita. “Aku bertanya kepada wanita tua itu. ‘Wahai Bibi, apa yang telah mendorongmu menjamu dan menghormati seseorang yang antara dirimu dan dirinya tidak saling kenal dan tak ada hubungan apapun?’ Wanita itu menjawab, ‘Wahai Nak, sesungguhnya salah seorang anakku dan belahan jiwaku itu wajahnya seperti wajahmu, warna kulitnya seperti warna kulitmu dan cara berjalannya seperti jalanmu. Ia telah menghilang sejak lama di negeri asing. Saat aku melihatmu maka aku teringat dengan anakku itu. Cinta kasih terhadap anakku yang ada di hati inilah yang telah mendorongku. Aku tak mampu menahan diri hingga aku mengundangmu ke rumahku. Lalu, aku menjamumu seperti yang engkau lihat. Demi Allah wahai nak, jangan segan-segan engkau mengunjungiku untuk kedua kali, ketiga kali dan seterusnya.’ Maka setiap kali aku memasuki pasar itu, akupun mengunjungi wanita tua itu, untuk mengikat hatinya, wanita tua itu begitu menghormatiku. Seperti waktu-waktu sebelumnya” (Dinukil dari buku Tata Busana Para Salaf, Abu Thalhah bin Abdus Sattar, hal 25-26).

Ya Rabbi … mudahkanlah langkahku, lunakkan hatiku dan berilah kami kekuatan iman untuk selalu berbakti pada kedua orang tua kami. Tunjukilah kami pada jalan keselamatan agar kami pun mampu mencintai dan mengasihi buah hati kami demi menjalankan perintah Allah. Dan kumpulkanlah kami bersama orang-orang yang kami cintai di surga-Mu. Amin.

Isruwanti Ummu Nashifa muslimah.or.id

Wudhulah, Jika Hendak Mengulang

Salah satunya adalah berhubungan dengan pasangan yang sah dalam Islam merupakan ibadah juga. Karena ibadah,  maka hubungan juga hendaklah dilakukan dalam kondisi suci. Artinya tidak tengah menanggung hadats besar.

Masalahnya kemudian, bagaimanakah jika seseorang hendak berhubungan untuk yang kedua kali, padahal ia belum mandi untuk hubungan yang pertama? Bagaimana hukumnya? haruskah orang itu mandi terlebih dahulu kemudian hubungan untuk kedua kali?

Jika seseorang telah usai hubungan dan berkeinginan untuk mengulanginya lagi, hendaklah ia berwudhu terlebih dahulu. Karena jika tidak diselengi dengan wudhu hukumnya makruh. Maka hilangkanlah kemakruhan itu dengan istinja’ dan wudhu dan tidak harus mandi terlebih dahulu.
Bahkan disebutkan bahwa selagi kita belum mandi maka makruh hukumnya, makan, minum, demikian pula tidur. Jadi sekurang-kurang menghilangkan kemakruhan adalah wudhu.

Alhafidzul Iroqy mempunyai nadzam yang menerangkan beberapa hal dari pada tujuh puluh delapan perkara yang disunnatkan berwudhu. Diantaranya; “Dan sunnat wudhu jika orang yang junub itu memilih makan atau tidur, minum dan mengulang jima’ yang diperbaharui.”

Ini juga yang diterangkan dalam sebuah hadits riwayat Abi Said dari Nabi saw beliau bersabda: “Barang siapa telah mempergauli istrinya, kemudian bermaksud mengulanginya lagi (untuk kedua kali) maka hendaklah ia berwudhu.”

Bahkan dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan al-Hakim, menerangkan bahwa berwudhu sebelum jima’ dapat menambah semangat: “Bahwasannya wudhu itu dapat menambah semangat untuk mengulangi (jima’).”

Alhafidz selanjutnya menerangkan:
”Hal ini diperkuat dengan hadits Anas dalam Shahihain, bahwa Nabi sa. berkeliling mempergauli isteri-isterinya dengan mandi yang satu.” []
Demikianlah islam mengatur tata cara dalam hubungan suami isteri. Maka hendaknya kita mentaatinya

Sumber: Taudlihul Adillah/Karya: Muallim KH. Syafi’i Hadzami

islampos.com

Iska Randy Si Cewek Punk Ini Tuai Doa dan Pujian Setelah Putuskan Berhijab

Putuskan Hijrah dan Berhijab, Penampilan Iska Randy si Anak Punk ini Tuai Pujian dan Doa Warganet
Iska Randy, cewek bertato yang kini hijrah dan jadi inspirasi warganet
cewek punk hijrah via https://www.instagram.com
Beberapa waktu terakhir, warganet dikejutkan dengan penampilan seorang cewek berkerudung namun memiliki tato di bagian wajahnya. Banyak yang menyangka jika ini adalah editan, sedangkan yang lain mengira ini adalah sensasi belaka. Padahal, foto yang tersebar tersebut memang benar adanya.

Dialah Iska Randy, cewek asal Solo yang viral setelah dia mengunggah foto-fotonya yang kini berhijab. Sebelumnya Iska merupakan anak Punk atau yang sering berkeliaran di jalan. Bukan hanya di bagian jidatnya saja, sekujur tubuh Iska juga dipenuhi tato. Namun, hidayah memang nggak pernah pandang buluh atau dari mana mereka berasal. Ketika Tuhan memberikan hidayah, maka siapa pun bisa kembali ke jalan-Nya.

ADVERTISEMENT

 

Iska adalah salah satunya. Sejak bulan lalu, dia memantapkan hatinya untuk menutup penampilannya layaknya seorang muslimah. Cerita hijrahnya Iska sebagai anak Punk ini pun mencuri perhatian publik. Dia menunjukkan bagaimana kuasa Tuhan terhadap siapa pun yang diinginkan-Nya.

1. Iska Randy mulai mengenakan hijab sekitar pertengahan April lalu. Dia pun meminta doa warganet agar bisa tobat sepenuhnya

mulai berhijab via www.instagram.com

2. Keinginannya untuk mengenakan hijab sebenarnya sudah dari akhir 2017 lalu, namun baru bisa terwujud beberapa bulan kemarin

dapat dukungan via www.instagram.com

3. Iska Randy menjadi sorotan karena ada tato besar di bagian dahi kanannya dan masih terlihat meskipun sudah berkerudung

dibilang cari sensasi via www.instagram.com

4. Kenakan jilbab, dia malah dikira cari sensasi. Padahal Iska sudah mencoba meninggalkan masa lalunya, dengan menghapus semua foto yang nggak berjilbab

menghapus foto lama via www.instagram.com

5. Tato Iska ini pun menuai kontroversi. Banyak warganet yang menyatakan dirinya hanya mencari sensasi, sebagian lagi memaksa dirinya untuk menghapus semua tatonya

menghapus foto lama via www.instagram.com

6. Cerita hijrahnya dari seorang anak punk ini menjadi viral, bahkan Iska pun sempat diundang ke salah satu program televisi swasta

sempat viral via www.instagram.com

7. Bukan cuma tatonya, paras cantik Iska juga menarik perhatian warganet. Namun sayang cewek tersebut ternyata sudah memiliki suami bernama Randi Antoni Putra yang juga memiliki tato di sekujur tubuhnya

sudah bersuami

8. Nggak bisa dimungkiri, cerita inspiratif mantan anak jalanan ini juga membawanya pada rezeki. Sejak berhijab, Iska mendapat banyak endorse dari berbagai online shop

dapat rezeki via www.instagram.com

9. Perjalan hijrah Iska ini sudah pasti nggak mulus. Banyak yang mempertanyakan keseriusannya untuk tobat karena tato yang masih menempel di tubuhnya

persoalan tato via www.instagram.com

10. Tapi Iska sepertinya nggak ambil pusing soal komentar warganet. Dia berharap bisa istikamah dan mendoakan warganet lain agar dilimpahkan rezeki

jadi contoh baik via www.instagram.com

11. Iska yang dikabarkan tengah hamil anak pertamanya ini menjadi inspirasi masyarakat, khususnya di bulan Ramadan. Ya, hidayah nggak mengenal siapa pun

tetap sabar dan istiqomah via www.instagram.com

Meski mengaku masih belajar tentang ilmu agama lebih dalam, sosok Iska ini nyatanya mampu menginspirasi banyak orang. Masa lalunya nggak menghalangi Iska untuk hijrah dan mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa. Meski kini tubuhnya masih bertato, tentu itu menjadi pengingatnya akan masa lalunya. Kita nggak berhak menghakimi sosoknya yang berusaha menjadi lebih baik itu. Semoga Iska tetap istikamah dan mampu jadi contoh bagi kita semua, ya. Semangat!
https://www.instagram.com

sumber https://www.hipwee.com/hiburan/putuskan-hijrah-dan-berhijab-penampilan-iska-randy-si-anak-punk-ini-tuai-pujian-dan-doa-warganet/

kisah Zainab binti Jahsy -radhiallaahu ‘anha-

Dia adalah Ummul mukminin, Zainab binti Jahsy bin Rabab bin Ya’mar. Ibu beliau bernama Ummyah Binti Muthallib, Paman dari paman Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam . Pada mulanya nama beliau adalah Barra’, namun tatkala diperistri oleh Rasulullah, beliau diganti namanya dengan Zainab.

Tatkala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam melamarnya untuk budak beliau yakni Zaid bin Haritsah (kekasih Rasulullah dan anak angkatnya), maka Zainab dan juga keluarganya tidak berkenan. Rasulullah bersabda kepada Zainab, “Aku rela Zaid menjadi suamimu”. Maka Zainab berkata: “Wahai Rasulullah akan tetapi aku tidak berkenan jika dia menjadi suamiku, aku adalah wanita terpandang pada kaumku dan putri pamanmu, maka aku tidak mau melaksanakannya.

Maka turunlah firman Allah (artinya): “Dan Tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan–urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata”. (Al-Ahzab:36).

Akhirnya Zainab mau menikah dengan Zaid karena ta’at kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, konsekuen dengan landasan Islam yaitu tidak ada kelebihan antara orang yang satu dengan orang yang lain melainkan dengan takwa.

Akan tetapi kehidupan rumah tangga tersebut tidak harmonis, ketidakcocokan mewarnai rumah tangga yang terwujud karena perintah Allah yang bertujuan untuk menghapus kebiasaan-kebiasaan dan hukum-hukum jahiliyah dalam perkawinan.

Tatkala Zaid merasakan betapa sulitnya hidup berdampingan dengan Zainab, beliau mendatangi Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengadukan problem yang dihadapi dengan memohon izin kepada Rasulullah untuk menceraikannya. Namun beliau bersabda: “Pertahankanlah istrimu dan bertakwalah kepada Allah”.

Padahal beliau mengetahui betul bahwa perceraian pasti terjadi dan Allah kelak akan memerintahkan kepada beliau untuk menikahi Zainab untuk merombak kebiasaan jahiliyah yang mengharamkan menikahi istri Zaid sebagaimana anak kandung. Hanya saja Rasulullah tidak memberitahukan kepadanya ataupun kepada yang lain sebagaimana tuntunan Syar’i karena beliau khawatir, manusia lebih-lebih orang-orang musyrik, akan berkata bahwa Muhammad menikahi bekas istri anaknya.

Maka Allah ‘Azza wajalla menurunkan ayat-Nya: “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya:”Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih kamu takuti. Maka tatkala Zaid yang telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk mengawini ( istri-istri anak-anak angkat itu ) apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi”. (Al-Ahzab:37).

Al-Wâqidiy dan yang lain menyebutkan bahwa ayat ini turun manakala Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam berbincang-bincang dengan ‘Aisyah tiba-tiba beliau pingsan. Setelah bangun, beliau tersenyum seraya bersabda:”Siapakah yang hendak memberikan kabar gembira kepada Zainab?”, Kemudian beliau membaca ayat tersebut. Maka berangkatlah seorang pemberi kabar gembira kepada Zainab untuk memberikan kabar kepadanya, ada yang mengatakan bahwa Salma pembantu Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang membawa kabar gembira tersebut. Ada pula yang mengatakan bahwa yang membawa kabar gembira tersebut adalah Zaid sendiri. Ketika itu, beliau langsung membuang apa yang ada di tangannya kemudian sujud syukur kepada Allah.

Begitulah, Allah Subhanahu menikahi Zainab radliallâhu ‘anha dengan Nabi-Nya melalui ayat-Nya tanpa wali dan tanpa saksi sehingga ini menjadi kebanggaan Zainab dihadapan Ummahatul Mukminin yang lain. Beliau berkata:”Kalian dinikahkan oleh keluarga kalian akan tetapi aku dinikahkan oleh Allah dari atas ‘Arsy-Nya”. Dan dalam riwayat lain,”Allah telah menikahkanku di langit”. Dalam riwayat lain,”Allah menikahkan ku dari langit yang ketujuh”. Dan dalam sebagian riwayat lain,”Aku labih mulia dari kalian dalam hal wali dan yang paling mulia dalam hal wakil; kalian dinikahkan oleh orang tua kalian sedangkan aku dinikahkan oleh Allah dari langit yang ketujuh”.

Zainab radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita shalihah, bertakwa dan tulus imannya, hal itu ditanyakan sendiri oleh sayyidah ‘Aisyah radliallâhu ‘anha tatkala berkata:”Aku tidak lihat seorangpun yang lebih baik diennya dari Zainab, lebih bertakwa kepada Allah dan paling jujur perkataannya, paling banyak menyambung silaturrahmi dan paling banyak shadaqah, paling bersungguh-sungguh dalam beramal dengan jalan shadaqah dan taqarrub kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Beliau radliallâhu ‘anha adalah seorang wanita yang mulia dan baik. Beliau bekerja dengan kedua tangannya, beliau menyamak kulit dan menyedekahkannya di jalan Allah, yakni beliau bagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Tatkala ‘Aisyah mendengar berita wafatnya Zainab, beliau berkata:”Telah pergi wanita yang mulia dan rajin beribadah, menyantuni para yatim dan para janda”. Kemudian beliau berkata: “Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para istrinya: ‘Orang yang paling cepat menyusulku diantara kalian adalah yang paling panjang tangannya…’ “.

Maka apabila kami berkumpul sepeninggal beliau, kami mengukur tangan kami di dinding untuk mengetahui siapakah yang paling panjang tangannya di antara kami. Hal itu kami lakukan terus hingga wafatnya Zainab binti Jahsy, kami tidak mendapatkan yang paling panjang tangannya di antara kami. Maka ketika itu barulah kami mengetahui bahwa yang di maksud dengan panjang tangan adalah sedekah. Adapun Zainab bekerja dengan tangannya menyamak kulit kemudian dia sedekahkan di jalan Allah.

Ajal menjemput beliau pada tahun 20 hijriyah pada saat berumur 53 tahun. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab turut menyalatkan beliau. Penduduk Madinah turut mengantar jenazah Ummul Mukminin, Zainab binti Jahsy hingga ke Baqi’. Beliau adalah istri Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali wafat setelah wafatnya Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wa sallam, semoga Allah merahmati wanita yang paling mulia dalam hal wali dan wakil, dan yang paling panjang tangannya.

sumber ahlulhadist.wordpress.com

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila… Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”

Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

M. Haromain,
Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri;
Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo

sumber nu.or.id

 

KECERDIKAN ABUNAWAS MENJEBAK PENCURI

Alkisah, seorang saudagar kaya mengalami nasib sial. suatu malam, pencuri berhasil menggondol 100 keping lebih uang emasnya. karena merasa kehilangan maka keesokan harinya dia segera lapor kepada tuan hakim dan berharap pencuri itu bisa di tangkap. lebih penting lagi, uang emas itu kembali dengan utuh .

Hari berlalu dan seminggu pun terlampaui. tetapi tuan hakim tidak bisa menangkap si pencuri. padahal dia telah berusaha keras dengan berbagai cara. Saudagar sedih, kecewa dan nyaris putus asa. tak mau kehilangan uangnya, dia lalu membuat pengumuman “siapa saja yang mencuri hartanya, dia merelakan separuh jumlah itu menjadi milik si pencuri bila bersedia mengembalikannya”.
Anehnya, meski sudah diiming-imingi separuh hasil curian, pencuri itu lebih memilih diam seribu bahasa. saudagar tambah pusing. Akhirnya, Saudagar itu mengadakan sayembara “barangsiapa berhasil meringkus pencuri itu ia berhak memiliki seluruh harta tersebut.”

Tidak sedikit orang kampung yang mengikuti sayembara. Tetapi semua kandas. Pencuri itu pun merasa aman karena tidak ada satu pun orang yang bisa menangkap dirinya. yang lebih menjengkelkan, ternyata dia sendiri pura-pura ikut sayembara.
setelah semua cara gagal seseorang mengusulkan kepada tuan hakim,”kenapa tidak minta bantuan kepada Abu Nawas?” Sayang.Abu Nawas saat itu sedang bertugas. ia mendapat undangan dari pangeran Damaskus dan baru kembali kemesir tiga hari kemudian.
Tiga hari kemudian, saat yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Abu Nawas kembali dari Damaskus Hati si pencuri berdebar tak karuan mendengar Nama Abu Nawas disebut-sebut. ia resah. sebab selama ini Abu Nawas di kenal amat cerdik. karena itu, Dia berencana ingin meninggalkan kampung. tetapi setelah dipikir-pikir, dia membatalkannya karena tindakan itu sama dengan membuka kedoknya sendiri. ia memutuskan tetap tinggal di kampung dan menerima apapun yang akan terjadi.

Esoknya,tuan hakim meminti kepada semua penduduk berkunoul di depan gedung pengadilan Abu Nawas hadir dengan membawa tongkat dalam jumlah bayak. tongkat-tongkat itu mempunyai ukuran yang sama panjangnya yang kemudian di bagi-bagikan. setelah semua penduduk mendapat tongkat, Abu Nawas berpidato,”Tongkat-tongkat itu telah Aku beri mantra. Besok pagi kalian kembali kesini membawa tongkat itu. jangan khawatir, tongkat yang dipegang oleh pencuri akan bertambah panjang satu jari telunjuk. sekarang, pulanglah!”

Orang-orang yang tidak merasa mencuri, tetu tidak mempunyai pikiran apa-apa sebbaliknya, sang pencuri ditikam resah. sampai larut malam ia tidak bisa memejamkan mata. ia terus berpikir keras bagaimana supaya tongkatnya tidak bertambah panjang. Akhirnya, ia memutuskan memotong tongkatnya satu jari telunjuk dengan demikian, tongkat yang dibawanya itu akan kelihatan seperti ukuran semula.
Pagi harinya semua penduduk berkumpul lagi didepan pengadilan. si pencuri merasa tenang karena merasa yakin tongkatnya tidak akan bisa diketahui karena dia telah memotong sepanjang satu jari tulunjuk. Dalam hati, ia memuji akalnya krena kali ini dapat mengelabui Abu Nawas.

Antrian panjangpun mulai terbentuk. setelah Abu Nawas datang, segera ia memeriksa satu per satu tongkat yang di bagikan kemarin tiba datang giliran si pencuri, Abu Nawas segera tahu bahwa orang inilah yang selama ini dicari-cari. sebab tongkat yang di bawanya telah berkurang satu jari telunjuk sang pencuri itu telah memotong tongkatnya karena takut bertambah panjang satu jari telunjuk.

Akhirnya, pencuri itu diadili dan di hukum sesuai dengan kesalahannya. seratus keping lebih uang emas kini ber pindah ke tangan Abu Nawas. Tetapi dia bijaksana. sebagai dari hadiah itu di serahkan kembali kepada keluarga si pencuri, sebagian lagi kepada orang-orang miskin dan sisanya untuk keluarga Abu Nawas

sumber deidari.blogspot.com