Bunda Wajib TahuTips Menghadapi Batita yang Selalu Berkata “Tidak”!

Batita Anda sering menolak berbagai hal yang Anda minta? Berikut ini adalah cara cerdas dalam menyikapi si Kecil yang senang “melawan”.

Klikdokter.com, Jakarta Anda sering  mendapat penolakan dari si Kecil dengan berkata tidak? Mungkin saja, batita Anda sedang ada dalam fase senang “melawan”. Tenang saja, hal tersebut merupakan hal yang normal dan semua anak pasti mengalaminya. Karena sejatinya, fase ini disebut toddler refusal syndrome dan merupakan bagian dari proses tumbuh kembang anak. Fase perlawanan ini kerap datang tiba-tiba dan membingungkan orang tua atas sikap anak yang sering melawan hampir semua permintaan orang tua. Pada fase ini, batita akan berkata “tidak” karena merasa bisa. Mereka juga baru menemukan bahwa dirinya memiliki keinginan dan ingin mengungkapkannya.

Hadapi dengan cara ini

Fase toddler refusal syndrome memang akan menghilang dengan sendirinya. Namun, menunggu fase ini berlalu tanpa melakukan apa-apa hanya akan mengisi hari-hari Anda dengan rasa kesal. Akibatnya hubungan Anda dan si Kecil pun menjadi tidak sehat.

Pada prinsipnya, bagi Anda dengan batita yang baru saja memasuki fase ini, hindari berdebat dengannya. Sebab, ujung-ujungnya semua pertentangan yang ada akan diakhiri dengan tangisan, baik Anda maupun si Kecil. Oleh sebab itu, silakan coba beberapa strategi berikut untuk menyiasati anak batita yang kerap berkata “tidak”.

1. Beri tanggung jawab dengan menawarkan pilihan

Berikan si Kecil dua pilihan, dimana keduanya tidak menjadi masalah bagi Anda. Sebagai contoh, Anda bisa tawarkan, “Dimas, kamu mau telur atau nasi untuk sarapan? Minumnya mau susu atau yoghurt?” Cara ini dapat membantu Anda menghindari kata “tidak” dari si Kecil sejak awal.

Anda dapat menggunakan cara ini untuk mengatasi semua hal terkait rutinitas sehari-hari, mulai dari pemilihan pakaian, makanan, permainan, dan sebagainya. Mungkin lama-lama Anda akan bosan, namun selama fase ini berlangsung, memberikan pilihan yang terbatas merupakan cara terbaik untuk menghindari perdebatan dengan si Kecil.

Bagaimana bila si Kecil tidak bisa memutuskan? Mulailah berhitung. Katakan, “Mama hitung ya, dari satu sampai sepuluh, setelah itu Dimas harus memilih. Atau, Mama yang pilihkan untuk kamu.

Biasanya, anak akan segera membuat keputusan setelah Anda mulai berhitung mundur. Meski cukup efektif, gunakan cara ini sebagai upaya terakhir bila cara-cara lain sudah tidak mempan.

2. Ajarkan si Kecil cara merespon yang lain

Salah satu alasan si Kecil sering berkata “tidak” adalah karena ia tidak tahu kata lain untuk menolak hal yang Anda tawarkan. Oleh sebab itu, bantu ia memperbanyak kosakatanya dengan mengajak si Kecil ke dalam sebuah permainan tanya-jawab.

Misalnya, “Apa lawan dari kata ‘tidak’?” (Tentu saja, “ya”). “Kata apa yang berada di antara ‘tidak’ dan ‘ya’?” (jawabannya adalah “mungkin”, “barangkali”, dan “bisa jadi”). Pertanyaan selanjutnya, “Apa cara yang lebih baik untuk mengatakan ‘tidak’?” (jawabannya “Tidak, terimakasih”).

3. Buat anak agar jangan langsung berkata “tidak”

Anda dapat mengurangi respon “tidak” dari si Kecil dengan mengondisikannya terlebih dahulu. Anda bisa mulai dengan candaan seperti, “Dimas, kalau anjingnya Mama kasih makan nasi, dimakan tidak ya?”.

Bila si Kecil menjawab “Ya!” segera lanjutkan dengan bertanya, “Nah, kalau Dimas mau makan nasi, tidak?” Pada titik ini, bisa saja si Kecil kemudian berhenti menolak untuk makan.

4. Kurangi penggunaan kata “tidak”

Alasan lain si Kecil kerap melawan bisa jadi karena ia sering mendengar kata “tidak” dalam kesehariannya. Bila ini akar masalahnya, Anda harus mengurangi penggunaan kata “tidak” dan gunakan alternatifnya sebisa mungkin.

Anda bisa mengganti kata tersebut dengan frase yang lebih spesifik untuk suatu situasi, misalnya, “Main di tangga berbahaya, Dimas. Ayo kita mainnya di karpet saja.” Atau, di saat anak menolak dengan berteriak, sampaikan, “Ayo, bagaimana cara bicara yang baik?”.

5. Coba strategi pura-pura mengabaikan

Melalui cara ini, Anda diminta untuk mengabaikan perilaku yang tidak diinginkan sembari mengalihkan perhatian Anda ke tempat lain. Perlu diingat bahwa cara ini mungkin tidak berhasil saat anak mengalami tantrum di muka umum. Namun, cara ini dapat membantu perubahannya dalam jangka panjang.

6. Jangan langsung bereaksi

Bila anak sedang mengalami tantrum, hindari tawar-menawar atau memaksanya berhenti. Anda hanya perlu diam sesaat untuk meredakan situasi. Setelah itu, segera tinggalkan situasi tersebut dan lanjutkan dengan melakukan aktivitas yang lain.

7. Alihkan perhatiannya

Bila cara-cara lain belum berhasil, alihkan dengan permainan, misalnya seperti petak umpet. Tak perlu malu untuk terlihat konyol di depan anak. Si Kecil akan tertawa melihat kekonyolan dan kelucuan Anda, dan segera lupa dengan situasi sebelumnya. Anda pun akhirnya tidak jadi marah atau emosi.

8. Biarkan si Kecil membantu Anda

Batita ingin sekali menjadi seperti orang dewasa. Untuk memenuhi keinginannya, buat si Kecil merasa dianggap penting dengan diberikan tanggung jawab. Ia pun akan merasa senang saat berhasil menyelesaikannya.

Anda bisa memberikan tanggung jawab yang ringan dan mudah seperti membantu memasukkan pakaian ke dalam mesin cuci, menjemur baju atau mencuci piring makannya sendiri. Nantinya, Anda akan sering melihat si Kecil tersenyum lebar dan menyambut baik permintaan tolong Anda.

Bantuan yang diberikan si Kecil mungkin hanya berlangsung singkat, tetapi itu sudah cukup untuk membuat semuanya senang dan bangga.

9. Sesekali penuhilah permintaannya

Untuk hal-hal yang berbahaya dan prinsipil, Anda tetap harus konsisten mengatakan “tidak”. Namun, bila itu bukan sesuatu yang esensial, seperti saat anak tidak mau memakai baju yang Anda pilihkan untuknya, biarkan saja. Izinkan si Kecil yang memilih. Dengan demikian, anak akan merasa memiliki kontrol akan dirinya dan kekesalannya pun hilang.

Ada kalanya, kesabaran Anda menghilang dan akhirnya harus berseteru dengan si Kecil meski sudah berusaha menghindar atau mengalihkannya. Bagaimanapun, sebagai orang tua Anda tetap harus menjaga wibawa dan otoritas.

Tetapi, jangan pernah malu untuk meminta maaf pada si Kecil jika kata-kata atau perilaku Anda dirasa menyakitkan. Anak akan memahami, meski marah, Anda tetap sayang kepadanya.

Bagaimanapun juga, fase perlawanan ini akan berlalu. Namun, Anda perlu menyiasati batita yang kerap berkata “tidak” dengan strategi yang baik, agar terbentuk hubungan yang positif antara Anda dengan si Kecil. Selamat mencoba!

[NP/ RVS]

sumber dr. Fiona Amelia MPH klikdokter.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *