Bermain Sambil Belajar, atau Belajar Sambil Bermain

Diseluruh dunia ini, anak-anak bermain.

Di dunia Pendidikan Anak Usia Dini kata Belajar sambil Bermain atau Bermain seraya Belajar, sudah tidak asing lagi, karena memang dunia anak adalah masa emas (golden age) maka anak-anak disarankan untuk bermain-bermain saja tetapi ada unsur yang terkandung yaitu belajar, sehingga anak-anak tidak menjadi bosan.

Pada dasarnya memang dalam PAUD, TK atau RA semua pembelejaran menggunakan metode bermain. Metode bermain adalah adalah metode yang menerapkan permainan atau mainan tertentu sebagai wahana pembelajaran bagi anak-anak, bermain adalah salah satu kesukaan anak usia dini karena secara normal tidak ada seorang anak pun yang tidak suka bermain. Semua anak suka bermain, meskipun sifatnya hanya sederhana. Oleh karenanya, metode bermain ini sangat cocok bila diterapkan dalam pembelajaran anak usia dini, dengan cara ini anak-anak dapat mengembangan minat bakat, serta keterampilan dan kreativitas anak-anak tersebut dengan bermain. Dengan bermain anak-anak juga bisa mengembangkan 6 aspek perkembangan.

Pada masa anak-anak mengalami 6 aspek perkembangan yang sangat pesat, baik pertumbuhan fisik dan motoriknya, perkembangan moral atau kebiasaan, perkembangan otak atau kecerdasan anak (kognitif) serta sosial-emosionalnya. Dan pada usia ini juga, anak mulai belajar mengembangkan kemampuan berbicara atau berbahasa, anak dapat mengenal kata atau kalimat-kalimat baru dengan permainan yang diberikan oleh orangtua atau guru-gurunya. Anak juga lebih mengenal banyak teman, lingkungan baru dengan cara bermain, sehingga sosial-interaksi si anak berkembangan dengan baik. Dengan bermain juga anak-anak dapat merangsang stimulusi kecerdasan yang dapat dikembangan, mengembangan kepribadian dan potensi diri.

Bermain merupakan cara yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan anak TK sesuai kompetensinya. Melalui bermain, anak memperoleh dan memproses informasi mengenai hal-hal baru dan berlatih melalui keterampilan yang ada. Bermain disesuaikan dengan perkembangan anak. Permainan yang digunakan di TK merupakan permainan yang merangsang kreativitas anak dan menyenangkan. Untuk itu bermain sambil belajar dan belajar sambil bermain merupakan prinsip pokok dalam pembelajaran di TK dan sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Prinsip belajar sambil bermain membantu menghilangkan kebosanan pada anak. (Depdiknas, 2006).

Ibu, Ini 8 Cara Menyenagkan Ajari Anak Callistung

Tak sedikit ibu yang khawatir karena anaknya belum bisa membaca, menulis dan menghitung (calistung). Situasi ini menjadi dilematis karena beberapa sekolah menyeleksi calon siswa baru dengan tes calistung.

Sebetulnya, kapan saat yang tepat mengajarkan calistung pada anak? Benarkah jika mengajarkan calistung terlalu dini, saat remaja anak justru enggan membaca?

Mengenai hal ini, Direktur Pembinaan PAUD Kemendikbud R. Ella Yulaelawati Ph.D mengatakan, Kementerian Pendidikan melarang anak usia Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) diajarkan calistung.

Jadi, kemampuan calistung bukanlah suatu kecakapan yang harus diajarkan pada anak-anak usia dini. Justru pembelajaran calistung dilakukan pada tingkat SD.

Baca: Mempersiapkan Si Kecil Masuk TK

Perlu kita tahu, membaca adalah suatu proses yang terdiri dari dua bagian penting, yaitu decoding dan comprehension. Yang pertama, decoding atau penerjemahan penglihatan yang merupakan sebuah kecakapan.

Yang kedua, comprehension atau pemahaman yang tergantung sepenuhnya pada kosakata dan pengetahuan yang dimiliki anak sebelumnya.

Intinya, kemampuan seorang anak itu ada tahapannya. Dimulai dari kemampuan mendengar, kemampuan berbicara, lalu kemampuan membaca, dan terakhir kemampuan menulis.

Jadi, anak perlu dilatih kemampuan mendengarkan terlebih dahulu. Kemudian, ia berbicara atas apa yang didengarnya. Nah, bila sejak dini anak hanya dipacu belajar membaca saja tanpa memiliki pemahaman, ia tidak bisa menulis dalam konteks yang lebih luas.

Baca: Wajib Tahu, Ini Ciri Anak yang Bahagia di Sekolahnya

Belajar Sambil Bermain

Lalu, seperti apa bentuk pembelajaran yang perlu diberikan pada anak usia TK?  Sebenarnya, pembelajaran untuk anak TK bukan dengan cara membaca teks atau bahkan menulis sebuah kata. Akan tetapi, anak usia ini dapat dilatih atau diberi pengetahuan mengenai kata-kata melalui pendengarannya.

Secara konkret, yang boleh dilakukan pada anak usia TK adalah dengan mengajarkan lebih banyak kosa kata, mendongeng, menggambar, mewarnai, membacakan buku cerita yang kreatif dengan ekspresi, bernyanyi, mendengarkan musik, dan melakukan permainan atau games yang edukatif dan kreatif.

Tak kalah penting, pembelajaran atau kegiatan di tingkat TK ini tidak boleh sampai membebani pikiran anak, tapi justru harus dengan suasana yang menyenangkan. Dengan begitu, anak akan melakukannya secara sukarela.

Jadi, konsepnya adalah membantu anak mengenal bahasa tapi tidak dengan belajar membaca apalagi dengan cara memaksa. Belajar sambil bermain dan membuat anak tidak cepat bosan.

Baca: 3 Ciri Orangtua Cerdas di Era Digital, Anda kah Salah Satunya?

Yang penting juga diberikan pada anak usia prasekolah adalah mempersiapkan kemampuan skolastik, perkembangan sosial emosional, kognitif dan motorik.

Ya, pendidikan anak usia dini memang diselenggarakan untuk mengembangkan seluruh potensi anak secara optimal, melalui kegiatan bermain yang bermakna dalam suasana ramah, aman, nyaman, dan menyenangkan. Kemudian, anak dididik dengan cara bemain secara kelompok maupun individu.

Alhasil, berbagai kegiatan yang dilakukan mampu merangsang seluruh potensi kecerdasan anak agar dapat berkembang secara optimal. Maka diharapkan anak-anak yang mengikuti pendidikan dini lebih siap dalam menghadapi pendidikan di SD.

Baca: Umur Berapa Anak Boleh Pakai Kalkulator untuk Belajar Matematika?

Nah, berikut contoh cara mengajarkan pengenalan huruf pada anak:

Tunjukan gambar atau barang-barang yang dimulai dengan huruf/bunyi tersebut. Misalnya jika kita ingin mengajarkan huruf ”b” yang bunyinya ”beh” (dengan ”e” pepet) maka yang diperkenalkan mula-mula bukan bentuk hurufnya tetapi benda-benda yang mulai dengan huruf tersebut.

Misalnya, kita tunjukkan benda atau gambar  ”buku”, ”balon”, ”bebek”, ”botol”, dan seterusnya. Lalu sebutkan benda tersebut dengan penekanan pada bunyi awal ”beh” tadi. Setelah anak memahami ternyata semuanya dimulai dengan bunyi ”beh” baru ditunjukkan hurufnya.

Selain dapat dikenalkan dengan menunjukkan benda atau gambar, pengenalan huruf juga dapat dilakukan dengan teknik lain seperti teknik asosiasi bunyi, yaitu mengaitkan bunyi huruf dengan bunyi-bunyi di sekeliling kita.

Misalnya, untuk huruf b dengan bunyi ”beh” tadi dikaitkan dengan bunyi suara mesin motor jenis vespa yang sedang jalan (beh beh beh…..) dengan gerakan naik vespa sambil berboncengan keliling ruangan. Atau, huruf a (bunyi ”a”) diperkenalkan dengan suara orang kesakitan karena tangannya tertusuk duri mawar misalnya ”aaaaa.…”, huruf i untuk rasa geli melihat ulat.

Nah, setelah anak paham bunyinya, baru tunjukan seperti apa, sih, hurufnya. Kemudian, pengenalan huruf yang baru diajarkan dengan berbagai aktivitas permainan, misalnya pasel dan sebagainya.

Baca: 4 Tips Sukses untuk Orangtua Saat Ajari Anak Matematika

Selain itu, terdapat 8 hal penting yang perlu diperhatikan saat mengenalkan huruf pada anak adalah:

  • Ingat bahwa mereka adalah anak-anak yang berbeda dari kita, jadi pengajaran disesuaikan dengan kapasitas mereka.
  • Gunakan teknik yang menarik anak.
  • Hindari hal-hal yang dapat menganggu konsentrasi, seperti suara teve.
  • Berikan pujian untuk usahanya sehingga memberinya semangat dalam belajar.
  • Gunakan tokoh kartun yang sedang tren atau yang digemari anak untuk alat bantu mengajar.
  • Berhenti sebelum anak merasa bosan
  • Jadilah teman belajar anak; menyanyi bersama, menari bersama dan lain-lain. Bukan hanya jadi ”guru” yang hanya memerintah ini dan itu.
  • Cara belajar yang menyenangkan. Bila tidak menyenangkan, dampak psikologisnya, kelak mereka bisa membaca maupun menulis. Tapi saat mereka remaja atau dewasa mereka tidak suka membaca.

Hilman Hilmansyah/Tabloid NOVA

BAGAIMANA MENDIDIK ANAK AGAR MENJADI SHOLEH


Saya mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anak saya agar mereka menjadi anak saleh. Saya jadi sering marah dan memukul mereka. Mohon nasehatkan saya dalam masalah ini, juga beritahukan saya buku yang bermanfaat tentang hal ini.

Published Date: 2012-08-30

Alhamdulillah.

Pendidikan anak merupakan kewajiban orang tua. Allah Ta’ala telah memerintahkan dalam Al-Quran, begitupula Rasululllah shallallahu alaihi wa sallam dalam haditsnya.

Firman Allah Ta’ala,

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم ناراً وقودها الناس والحجارة عليها ملائكة غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم ويفعلون ما يؤمرون (سورة التحريم: 6)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Imam Ath-Thabari dalam tafsirnya tentang ayat ini berkata,

“Wahai orang yang benar keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, ‘Peliharalah diri kalian,’ Hendaklah satu sama lain saling mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung dan terhindar dari neraka, yaitu apabila mereka beramal dalam ketaatan kepada Allah. Sedangkan firman-Nya ‘Dan (lindungi) keluarga kalian dari neraka.’ Maksudnya adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi mereka dari api neraka.

(Tafsir Ath-Thabari, 28/165)

Al-Qurthubi berkata,

“Muqatil berkata, ini merupakan hak yang menjadi kewajiban terhadap dirinya, anaknya, keluarganya dan budaknya. Ilkia berkata, ‘Kita wajib mengajakan agama dan kebaikan terhadap anak-anak kita, atau adab apa saja yang tidak dapat mereka tinggalkan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وأْمُر أهلك بالصلاة واصطبر عليها (سورة طه: 132)

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (QS. Thaha: 132)

Atau juga sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

وأنذر عشيرتك الأقربين (سورة الشعراء: 214)

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (QS. Asy-Syuara: 214)

Juga terdapat dalam hadits

مروهم بالصلاة وهم أبناء سبع

“Perintahkan mereka (anak-anak kalian) untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh tahun.”

(Tafsir Al-Qurthubi, 18/196)

Seorang muslim, siapapun dia, adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta’ala, maka jadikanlah orang yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya, kemudian orang-orang berikutnya. Allah Ta’ala, saat menugaskan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat,” (QS. Asy-Syuara: 214), karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan kasih sayangnya.

 

وجعل الرسول صلى الله عليه وسلم مسؤولية رعاية الأولاد على الوالدين وطالبهم بذلك :

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan menuntut mereka untuk itu.

Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته الإمام راع ومسئول عن رعيته والرجل راع في أهله وهو مسئول عن رعيته والمرأة راعية في بيت زوجها ومسئولة عن رعيتها والخادم راع في مال سيده ومسئول عن رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول عن رعيته وكلكم راع ومسئول عن رعيته ” . رواه البخاري ( 853 ) ومسلم ( 1829 )

“Semua kalian adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin. Kepala negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya, seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap harta masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap kepemimpinannya” (HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829)

Di antara kewajiban anda menumbuhkan sejak dini kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta mencintai ajaran Islam. Hendaknya anda kabarkan bahwa Allah memiliki neraka dan surga. Neraka Allah sangat panas, bahan bakarnya dari manusia dan batu.

Berikut ini sebuah kisah yang memiliki pelajaran;

Ibnu Al-Jauzi berkata,

“Ada seorang raja yang memiliki banyak harta. Dia memiliki anak tunggal wanita, tidak ada lagi anak selainnya, karenanya dia sangat mencintainya dan sangat memanjakannya dengan berbagai mainan. Hal tersebut berlangsung sekian lama. Suatu saat ada seorang ahli ibadah yang bermalam di rumah sang raja. Maka di malam hari dia membaca Al-Quran dengan suara keras, dia membaca, “Wahai orang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka, bahan bakarnya dari manusia dan batu.” Sang puteri mendengar bacaannya, lalu dia berkata kepada para pembantunya, ‘Hentikan dia.’ Tapi para pembantunya tidak menghentikannya sehingga orang tersebut terus mengulang-ulang bacanya. Maka dia masukkan tangannya ke bajunya dan merobeknya. Lalu para pembantunya melaporkan kejadian tersebut kepada sang bapak. Maka sang bapak menemuinya seraya berkata dan memeluknya, “Apa yang engkau alami malam ini anakku sayang.” Sang anak berkata, “Aku bertanya kepadamu demi Allah wahai ayah, apakah Allah Azza wa Jalla memiliki neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu?” Dia berkata, “Ya,” Maka sang anak berkata, “Apa yang menghalangimu untuk memberitahu aku hal ini. Demi Allah, aku tidak akan memakan makanan lezat dan tidur di tempat yang empuk sebelum aku mengetahui dimana tempatku, di surga atau neraka.”

(Shofwatu Ash-Shafwah, 4/437-438)

Selayaknya anda menjauhkan mereka dari tempat-tempat keburukan dan kelalaian. Jangan biarkan mereka dididik dengan cara yang buruk, baik melalui televisi atau selainnya dan kemudian anda mengharapkan kesalehannya. Orang yang menanam duri tidak akan memanen anggur. Hendaknya pendidikan tersebut telah ditanam sejak kecil agar mudah baginya ketika dia sudah besar untuk memerintah dan melarangnya, dan mudah baginya untuk mentaati anda.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallah alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkan anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila berusia sepuluh tahun, lalu pisahkan ranjang di antara mereka.” (HR. Abu Daud, no. 495, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 5868)

Akan tetapi hendaknya bagi pendidik untuk bersikap lembut dan santun, memudahkan dan akrab, tidak berkata kasar, berlaku keras dan mendiskusikan dengan cara yang baik. Hindari celaan dan caci maki hingga pukulan. Kecuali jika sang anak durhaka dan menganggap remeh perintah bapaknya, meninggalkan perkara yang diwajibkan dan melakukan perkara yang diharamkan. Ketika itu diutamakan bersikap namun tidak sampai menimbulkan bahaya.

Al-Manawi berkata,

“Seseorang yang mendidik anaknya ketika dia berusia balig dan telah berakal dengan pendidikan yang dapat mengantarkannya pada akhlak orang-orang saleh dan melindunginya agar tidak bergaul dengan orang-orang rusak, kemudian mengajarkannya Al-Quran, adab, bahasa Arab, kemudian dia memperdengarkan sang anak kisah-kisah dan ucapan para salaf, lalu mengajarkannya ajaran agama yang tidak boleh ditinggalkan, kemudian dia mengancam memukulnya apabila sang anak tidak shalat, semua itu lebih baik baginya daripada dia bersadaqah satu sha’. Karena jika dia mendidiknya, maka perbuatannya termasuk shadaqah jariyah, sementara sadaqah satu sha’, pahalanya akan terputus. Sementara yang pertama tetap terus mengalir selama sang anak masih ada. Dan adab adalah makanan jiwa dan pendidikannya untuk akhirat kelak ‘Jagalah diri kamu semua dan keluargamu dari api neraka.’ SQ. At-Tahrim: 6.

Penjagaan anda dan anak anda diantaranya dengan menashati dan mengingatkan api neraka. Meluruskan adabnya dengan berbagai macam pendidikan. Diantara adanya adalah memberi nasehat, hukuman, ancaman, pukulan, menyendirikan, memberikan pemberian, hadian dan kebaikan. Sehingga pendidikan jiwa agar menjadi (jiwa) yang bersih dan mulia bukan mendidik jiwa yang tidak disuka lagi tercela. ‘Faidul Qadir, 5/257.’

Pukulan hanyalah sarana agar anak istiqamah, dia bukan merupakan tujuan, akan tetapi hanya digunakan jika sang anak terus menerus membandel dan menentangnya.

Syariat telah menetapkan peraturan sanksi dalam Islam, dan hal itu banyak dalam Islam, seperti hukum zina, mencuri, menuduh berzina (tanpa bukti) dan sebagainya. Semuanya itu disyariatkan agar manusia istiqamah dan menghindari perbuatan buruk.

Dalam hal inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berpesan untuk mengajarkan seorang bapak agar anak menurutinya.

Dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

” علقوا السوط حيث يراه أهل البيت ، فإنه أدب لهم ” . رواه الطبراني ( 10 / 248 ) . والحديث : حسّن إسنادَه الهيثمي في ” مجمع الزوائد ” ( 8 / 106 ) .

“Gantungkan pecut di tempat yang dapat dilihat keluarga, karena itu merupakan pendidik bagi mereka.” (HR. Thabrani, 10/248)

Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma Zawaid (8/106) Al-Albany menyatakan dalam shahih Al-Jami, no. 4022, hadits ini hasan.

Pendidikan anak hendaknya berimbang antara anjuran dan peringatan. Yang lebih penting dari itu semua adalah memperbaiki lingkungan tempat anak tinggal dengan mewujudkan sebab-sebab hidayah bagi mereka, yaitu dengan komitmennya pendidik dan pengasuh mereka yang tak lain adalah kedua orang tua mereka.

Diantara metoda sukses para pendidik dalam mendidik anaknya adalah dengan mempergunakan alat rekaman untuk mendengarkan nasehat, kaset Al-Qur’an, khutbah, pelajaran para ulama’ dimana hal banyak sekali.

Adapun buku-buku yang anda tanyakan untuk dijadikan referensi dalam mendidik anak, maka kami rekomendasikan beberapa buku berikut;

1-      Tarbiyatul Athfal Fi Rihabil Islam (Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhammad Nashir dan Khaulah Abdul Qadir Darwisy.

2-      Kaifa Yurabbi Al-Muslim Waladahu (Bagaimana Seorang Muslim Mendidik Anaknya), karangan Muhammad Said Al-Maulawi)

3-      Tabiyaul Abna Fil Islam (Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhamad Jamil Zainu.

4-      Kaifa Nurabbi Athfaalana (Bagaimana Kita Mendidik Anak-anak Kita), karangan Mahmud Mahdi Al-Istambuli.

Wallahua’lam.

TIPS ANAK SEHAT: Pola Hidup Sehat Anak

Tips anak sehat, banyak orang tua berjuang dengan mengajar anak-anak ereka bagaimana untuk makan sehat dan terhindar dari penyakit. Anak-anak belajar dari lingkungan disekitar mereka. Bagian dari tumbuh dewasa adalah menciptakan kebiasaan-kebiasaan yang akan mengikuti anak-anak Anda dan membentuk kepribadian serta jati dirinya.

Menanamkan pola hidup sehat anak ketika mereka masih muda dapat membantu membangun pondasi yang baik untuk seumur hidup. Untuk itu, agar si kecil tumbuh sesuai dengan yang diinginkan dan terhindar dari segala penyakit, berikut tips anak sehat yang bisa Anda lakukan.

  1. Jika anak hanya melihat keluarganya selalu makan keripik kentang, burger, permen, kue, dan lain-lain, bagaimana ia dapat mengembangkan rasa untuk makanan sehat? Mungkin sudah waktunya untuk mengubah perilaku makan Anda.
  2. Bermain bola dengan anak-anak Anda atau melibatkan mereka dalam olahraga tidak hanya membantu menanamkan pola hidup sehat anak, tetapi juga membantu untuk mengembangkan koordinasi dan keterampilan sosialnya.
  3. Berbicara positif dan memberikan semangat anak-anak Anda akan membantu memperkuat perilaku yang baik dan pola hidup sehat anak. Hal ini membantu membangun kepercayaan diri anak Anda dan dapat membantu menciptakan pemimpin masa depan yang kuat.
  4. Mengembangkan keterampilan membaca yang kuat merupakan komponen penting dari keberhasilan anak Anda di sekolah sekarang, dan di tempat kerja di kemudian hari. Pilih buku anak-anak yang menraik sehingga mereka melihat membaca sebagai hal yang menyenangkan.
  5. Jika anak-anak mencuci tangan sebelum makan, setelah menggunakan kamar mandi, setelah memegang hewan peliharaan, dan ketika tangan mereka kotor, maka secara signifikan dapat mengurangi risiko penyakit perut, pernapasan dan infeksi serius seperti meningitis.
  6. Tidur memberikan energi pada tubuh dan otak. Selain itu, anak-anak lebih cenderung memiliki masalah pada mood, gangguan belajar, dan kesulitan berkonsentrasi di sekolah akibat kruangnya berisitirahat. Penting bahwa kamar dan tempat tidurnya dibuat secara nyaman dan bersih, agar pola hidup sehat anak dapat berjalan baik.

Salah satu cara terbaik untuk menanamkan pola hidup sehat anak adalah untuk lakukan pada diri Anda terlebih dahulu. Anak-anak selalu meniru kebiasaan dan perilaku orang tua yang dipandang sebagai model peran yang patut dicontoh. Pastikan bahwa Anda aktif, sehat, dan juga mengeksplorasi kegiatan, bersosialisasi sebagai cara agar tips anak sehat bisa si kecil lakukan. Pilihan makanan sehat, kegiatan di luar dan tantangan mental yang menarik dapat membantu mereka menjadi individu yang lebih positif sebagai pola hidup sehat anak.